x

Iklan

Rivaldi Anwar

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juni 2022

Jumat, 15 Juli 2022 10:03 WIB

Prespektif Politik Mmasa Orde Baru dalam Puisi Peringatan karya Widji Thukul; (Pembacaan Heuristik)

Dalam puisinya yang diciptakan beliau yang berjudul Peringatan menceritakan tentang masa Orde Baru, yaitu ketika rakyat harus tunduk pada penguasa dan dilarang mengkritik tentang pemerintahan sebab bila rakyat menyampaikan suaranya yang berupa kritikan maka akan dianggap subversif sehingga rakyat yang melakukan kegiatan tersebut akan dihilangkan atau diasingkan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

“Peringatan”

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

(Widji Thukul, 1986)

 

Widji Thukul, nama asli Widji Widodo, lahir pada 26 Agustus 1963 di Surakarta, Jawa Tengah. Dia meninggal di tempat dan waktu yang tidak diketahui dan telah hilang sejak dia diculik pada tahun 1998. Widji Thukul adalah seorang penulis Indonesia, aktivis hak asasi manusia dan salah satu orang yang berjuang melawan penindasan era Orde Baru. Widji Thukul tidak diketahui sejak tahun 1998 dan dilaporkan hilang karena dicurigai diculik oleh orang tak dikenal. Dalam puisinya yang berjudul Peringatan, ia berbicara tentang era Orde Baru di mana orang harus tunduk pada penguasa dan dilarang mengkritik pemerintah.

Di sepanjang puisi ini, Widji Thukul ingin menggambarkan keadaan masyarakat yang sebenarnya tertekan karena pemerintah dan penguasa tidak mendengar suara mereka. Jika orang tidak dapat menerima situasinya, satu-satunya cara adalah bertarung. Widji Thukul juga menggunakan bahasa yang padat dan lugas dalam puisinya, ditujukan langsung kepada mereka yang benar-benar masuk akal. Widji Thukul dapat meningkatkan semangat masyarakat dan melakukan perubahan yang diinginkan. Puisi berjudul Peringatan karya Widji Thukul dianggap sebagai tanda, tanda semiotik. Menurut Riffaterre, karya sastra harus dilakukan dalam pembacaan semiotik, yang dapat dibagi menjadi dua tingkatan, pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik. Dengan membaca semiotika, Dalam hal ini, penulis berfokus pada membaca heuristik. Menurut Riffatere, membaca heuristik adalah membaca berdasarkan konvensi linguistik untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan membaca sebuah karya sastra. Membaca heuristik juga disebut sebagai langkah awal dalam memahami teks sastra. Pada tingkat inilah interpretasi pertama terjadi saat membaca. Berdasarkan teori Riffaaterre, membaca didasarkan pada praktik kebahasaan teks puisi berjudul Peringatan karya Widji Thukul.

Dalam puisinya tersebut, pengkajian dilakukan dengan pembacaan secara heuristik. Widji menuliskan judul “Peringatan” mungkin beliau ingin mengingatkan kepada pemerintah pada masa Orde Baru dengan pemimpin yang tirani karena rakyat sudah tidak mau dengan sistem pemerintahan yang tirani.

Pembacaan heuristik puisi Peringatan karya Widji Thukul ialah sebagai berikut; Jika rakyat (banyak yang) pergi ketika penguasa pidato (bohong tentang pro rakyat) (maka) kita harus hati-hati (dengan keadaan ini) barangkali mereka (sudah) putus asa (dengan kalau rakyat)(banyak yang) bersembunyi dan berbisik-bisik (satu sama lain) ketika (rakyat sudah) membicarakan masalahnya sendiri (maka) penguasa harus waspada dan belajar mendengar (dengan keadaan rakyatnya) bila rakyat (sudah) berani mengeluh (tentang penguasa yang tirani) itu artinya (keadaan) sudah gawat dan bila omongan (bohong) penguasa (tirani) tidak boleh dibantah (oleh rakyat) (maka) kebenaran pasti terancam (karena terus dibohongi penguasa) apabila usul (dari rakyat) ditolak tanpa ditimbang (isi dari usul itu) (dan) suara (rakyat) dibungkam (serta) kritik (mereka pun )dilarang (oleh pemerintah) tanpa alasan (yang jelas) (sehingga mereka) dituduhi (pemerintah) subversif dan mengganggu keamanan (penguasa tiran) maka (rakyat) hanya ada satu kata (yaitu): lawan!

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa puisi karya Widji Thukul yang berjudul Peringatan merupakan sebuah apresiasi karya sastra yang menggunakan makna dan bahasa yang tegas dan lugas, langsung mengarah pada siapa yang sebenarnya dimaksud, sehingga puisi yang dibuat oleh Widji Thukul tersebut lebih menekankan kritik yang pedas dan mengecam pemerintahan pada masa saat itu yaitu terhadap kepemimpinan Soeharto. Untuk itu dalam analisis puisi menggunakan menggunakan teori Riffaterre agar lebih mudah memahami makna dengan berdasarkan pembacaan secara heuristik.

Sehingga dapat disimpulkan puisi karya Widji Thukul yang berjudul Peringatan tentang masa Orde Baru, yaitu ketika rakyat harus tunduk pada penguasa dan dilarang mengkritik tentang pemerintahan sebab bila rakyat menyampaikan suaranya yang berupa kritikan maka akan dianggap subversif sehingga rakyat yang melakukan kegiatan tersebut akan dihilangkan atau diasingkan. Puisi itu juga menjelaskan apa yang banyak terjadi di pemerintahan, yang merupakan ruang yang sangat gelap bagi negara. Ketika orang tidak bisa mendengar pemimpin, ketika orang tidak bisa mempercayai pemimpin, ketika mulut orang selalu diam, ketika orang tidak dapat mendengar, dan kebenaran dapat ditemukan di mana saja. Krisis akan memecah belah Indonesia, memecah belahnya dan membuatnya tidak berarti sebagai sebuah bangsa. Jadi puisi ini membuka jalan. Siapapun itu, kita harus terus memerangi semua oknum-oknum yang ingin merusak negara.

 

 

Ikuti tulisan menarik Rivaldi Anwar lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler