Telah Habis Air Mata, Meski

Sabtu, 30 Juli 2022 06:25 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Lagu apa yang akan menjadi senandung harian di tahun ketiga wabah yang belum kunjung reda? Ratapan apa yang mungkin bisa menyelami kedalaman virus yang menghantui spesies manusia? Dan bagaimana jika lagu seperti itu sudah ada di sini? Bagaimana jika lagu itu mungkin pernah dirilis bertahun-tahun lalu, oleh bintang pop bermata bulat sendu rambut sebahu dengan suara basah mendayu, tetapi tak seorang pun tahu?

Lagu apa yang akan menjadi senandung harian di tahun ketiga wabah yang belum kunjung reda? Ratapan apa yang mungkin bisa menyelami kedalaman virus yang menghantui spesies manusia? Dan bagaimana jika lagu seperti itu sudah ada di sini? Bagaimana jika lagu itu mungkin pernah dirilis bertahun-tahun lalu, oleh bintang pop bermata bulat sendu rambut sebahu dengan suara basah mendayu, tetapi tak seorang pun tahu?

Apa yang ingin kukatakan adalah bahwa himne yang ditunggu-tunggu pandemi ini, bisa saja berjudul “Telah Habis Air Mata”.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Saripati dari "Telah Habis Air Mata" adalah: sang penyanyi senang karena dia begitu sedih hingga kehabisan air mata. Itu dia, itu judulnya. Namun, jika kita menggali jauh lebih dalam ke paradoks ini, kita mulai melihat kerja pedih logika.

Lirik yang menggambarkan kegembiraan sang biduanita kira-kira:

Menunggu sesuatu yang tak pasti
Kembalilah, kembalilah kasih
Kembalilah ku ingin engkau di sini
hingga akhir nanti

Sejauh ini, tafsir kita ini tentang ditinggal pergi kekasih. Tapi itulah yang muncul selanjutnya—pertanyaan tentang dari mana asalnya kegembiraan penyanyi itu—yang diungkapkan dengan:

Berlarut-larut kau meraju
Berlarut-larut ku merindu
Sampai habis air mataku

Tubuh yang dihampakan oleh penderitaan, dibuat asing melalui cobaan yang berkepanjangan. Bisakah kamu membayangkan harus menangis agar dirimu benar-benar kehabisan air mata? Dapatkah kamu membayangkan kesedihan yang begitu menghancurkan dan membuatmu menjadi tunggul kering lapuk, musafir tanpa air di padang pasir? Sketsa horor tubuh yang melakukan dosa yang bahkan lebih parah dari dosa mematikan: putus asa.

Putus asa hingga tak ada air mata yang tersisa untuk menangis, berarti membiarkan dirimu terjatuh ke titik nadir sehingga kamu tak lagi membutuhkan harapan. Dengan melakukan itu, kamu juga meninggalkan iman pada Tuhan untuk menyelamatkanmu.

Dan kawan, itu adalah bid'ah.

Tapi katakanlah lagu itu memiliki pandangan berbeda tentang keputusasaan. Di sana keputusasaan bukanlah lubang tak berdasar hingga kita jatuh dan terus jatuh. Keputusasaan adalah awal.

Kata terpenting dari lagu tersebut justru kata ‘meski’ yang menjadi jangkar refrain:

Siang malam kunanti
Sebuah jawaban atas perhatianku

Berlari-lari kau kucari
Terbayang-bayang kau pun datang
Meski ‘ku me-reka-reka

Kehancurannya itulah menjadi utuh dan akhirnya tidak dapat dipecahkan.

Tapi mungkin, pada akhirnya, alasanku tidak bisa berhenti menggumamkan lagu ini pada dasarnya karena egoisme diri: lirik yang mengingatkan pada sesuatu yang lumrah dikatakan oleh penyair pemula kepada kekasih. Atau pada asisten apoteker yang bagai terapis jiwa biasa menyarankan obat migrain dan vertigo yang kualami.

Lagi pula, lagu itu dirilis pada tahun-tahun yang sama di mana aku melepaskan ode sumpah serapahku, saat aku mengalami sakit kepala berhari-hari menahan meraung jerit sakit.

Intensitas rasa sakit akan meningkat jam demi jam, dan pada hari ketiga, rasa sakit itu terlalu berat untuk ditanggung. Aku tidak tahu bagaimana lagi mengatakannya untuk dapat dimengerti selain: terlalu berat untuk ditanggung.

Pada saat-saat itu, terapis bayangan akan mengatakan kepadaku bahwa aku hanya harus ... menyerah.

Katanya, “Kamu berjuang melawan rasa sakit. Kamu akan menangis, kamu akan pingsan, kamu akan muntah lagi dan lagi karena sakit kepala dan gamang. Tapi kemudian, ketika tidak ada yang tersisa di tubuhmu—tak ada suar atau bunyi, tidak ada muntah berlendir, tak ada air mata—kamu tidak punya pilihan selain menerima sensasi nyeri di kepalamu. Menerimanya bukan sebagai serangan yang harus dilawan, tetapi fakta yang harus diungkap dan dipertimbangkan, dan untuk diabaikan.

Dan, sialnya, dia benar.

Ketika aku menyerah, sering kali bertepatan dengan saat sakit kepala menghilang. Aku pikir sebabnya adalah, dalam pasrah berserah seperti itu lahir kekuatan tersendiri. Sebuah kekuatan yang tidak akan pernah kamu pikirkan sebelum terjun dan ditinggalkan.

Omong-omong, yang ingin kukatakan adalah:

Semua yang biduan itu coba katakan—adalah bahwa keputusasaan adalah akhir dari sesuatu, tetapi itu bukan akhir dari-mu. Keputusasaan bukan sekadar stasiun jalur kehidupan yang membawa kita semua tanpa henti antara senang dan sedih, suka dan duka.

Apa artinya jika putus asa adalah habisnya air matamu untuk menangis?

Matamu akan jernih bening tak bernoda.

 

Bandung, 29 Juli 2022

Catatan: lirik lagu terinspirasi "Sampai Habis Air Mataku" Novita Dewi

Bagikan Artikel Ini
img-content
Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Anak-anak Malam Minggu

Sabtu, 2 September 2023 17:05 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua