Anarkisme dalam Nalar Perusuh (Bagian 2) - Analisis - www.indonesiana.id
x

Samroyani

Penulis Serabutan
Bergabung Sejak: 28 Juli 2022

Jumat, 12 Agustus 2022 13:07 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Anarkisme dalam Nalar Perusuh (Bagian 2)

    Kekeliruan dalam memandang Anarkisme sudah mengakar pada sudut pandang masyarakat. Anggapan-anggapan buruk terhadap Anarkisme sudah melekat sangat dalam. Lalu bagaimana sebenarnya kedudukan Anarkisme dalam terjangan pengasingan ini?

    Dibaca : 328 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Anarkisme Dalam Nalar Perusuh (Bagian 2)

    Anarki diartikan sebagai prinsip yang berhubungan dengan hal-hal yang bernuansa destruktif, huru-hara, kekacauan, kerusuhan, keruwetan, pemberontakan, dan sering juga ketegangan fisikal yang berlaku dalam masyarakat mudah dikonotasikan dengan Anarkisme. Terlebih di Indonesia sendiri Anarkisme juga kerap diposisikan berseberangan dengan kekuasaan/pemerintahan. 

    Pemahaman yang terlanjur terbelokan itu sudah menjadi kebenaran publik, meski sebenarnya pengertian dari Anarkisme itu sendiri jauh lebih dalam dan bersifat sangat falsafah. Pemahaman seperti itu muncul begitu saja dari masyarakat mengenai Anarkisme, hal ini juga karena minimnya literatur yang ada, baik mengenai sejarah, pemikiran filsafat maupun kajiannya dalam berbagai aliran filsafat dan pemikiran-pemikiran ilmu sosial.

    Kata “anarki” berasal dari bahasa Yunani, awalan “an” (atau “a”), berarti “tidak”, “ingin akan”, “ketiadaan”, atau “kekurangan”, ditambah “archos” yang berarti “suatu peraturan”, “pemimpin”, “kepala”, “penguasa”, atau “kekuasaan”. Atau, seperti yang dikatakan Peter Kropotkin, anarki berasal dari kata Yunani yang berarti “melawan penguasa”. Kemudian disambung penjelasan dari P.J. Prudhon yang mengatakan bahwa Anarkisme adalah teori politik yang bertujuan menciptakan anarki, ketiadaan tuan, tanpa raja yang berkuasa (Cahya, 2016). Dalam kata lain, Anarkisme adalah teori dan paham politik yang bertujuan untuk menciptakan suatu masyarakat yang di dalamnya individu bebas berkumpul bersama secara sederajat. Anarkisme macam itu melawan semua bentuk kontrol hierarkis - baik konrol oleh negara maupun kapitalis karena merugikan individu dan individualitas mereka.

    Prinsip dasar Anarkisme adalah bahwa bentuk-bentuk otoritas hirarkis (dapat berupa negara, institusi agama, sistem ekonomi, dll), bukan saja tidak diperlukan, melainkan juga merusak maksimalisasi potensi-potensi kemanusiaan (Miller, 1984). Kaum anarkis secara umum mempercayai, bahwa setiap manusia mampu mengatur urusannya sendiri, dengan berlandaskan asas kreativitas, kerjasama, dan saling menghormati. Kaum anarkis percaya, bahwa kekuasaan merupakan sebentuk kejahatan, dan otoritas, dan merupakan suatu pengabdian diri, ketimbang pengabdian kepada rakyat (Suissa, 2010). Kaum anarkis umumnya menjaga etika pada ranah personal, dan etika macam inilah yang menjadi dasar bagi kolektif anarki, dan dasar dari kesejahteraan massa rakyat. Mereka tidak mempercayai kerangka etik yang dipaksakan oleh sebentuk otoritas, seperti institusi keagamaan (dengan sistem surga – neraka), dan negara (dengan sistem hukumnya). Anarkisme menganggap, bahwa setiap individu bertanggungjawab atas segala perbuatannya.

    Banyak faktor yang menyebabkan disalahartikan oleh masyarakat hanya sebagai tindakan ricuh saja. Media juga mendorong persepsi publik bahwa Anarkisme hanya sebatas tindakan-tindakan kontra produktif. Hal ini akhirnya menjadikan tren Anarko di Indonesia salah arah. Sering juga masyarakat dan bahkan kaum akademis salah memahami Anarkisme, mereka seling mencampur adukannya dengan paham-paham lain. Menurut Hardian (2015) dalam penelitiannya ada beberapa paham yang sebenarnya tidak bisa disamakan dengan Anarkisme, diantaranya adalah:

     

    • Komunisme

    Meskipun kaum anarkis mempraktikan komunalisme dalam kolektif-kolektif mereka, kaum anarkis menolak paham-paham totaliterian yang dianut oleh marxisme/leninisme (Miller, 1984). Keretakan hubungan antara marxis, dan anarkis dapat ditelusuri sejarahnya hingga tahun 1870-an, ketika kaum anarkis mulai menyadari, bahwa gagasan-gagasan kaum marxis hanya merupakan sebentuk lain dari otoritas. Kaum marxis/leninis secara tradisional menekankan pentingnya partai tunggal, kediktatoran proletariat, dan banyak gagasan-gagasan lain yang bertentangan dengan Anarkisme yang menekankan pada perjuangan penentangan kekuasaan, dan maksimalnya kebebasan individual. Anarkisme yang menolak hal-hal tadi sudah jelas bertolak belakang dengan Komunisme.

    • Libertarianisme

    Kaum awam seringkali sulit untuk membedakan libertarianisme dengan Anarkisme. Memang, faktanya terdapat banyak hal yang bertumpangtindih di antara kedua paham ini. Keduanya menekankan pada kebebasan individual, dan keinginan untuk mengenyahkan negara (Miller, 1984). Perbedaan antara keduanya, mungkin nampak pada pemahaman akan kekuasaan. Kaum anarkis cenderung menentang segala bentuk dominasi, pun dominasi individual. Pada praktiknya, kaum anarkis cenderung berhaluan ‘sosialis’, dengan menumbuhkan kebersamaan melalui kolektif-kolektif kecil yang berlandaskan rasa saling menghormati. Di lain sisi, kaum libertarian lebih condong pada penekanan kebebasan individual berlebihan, utamanya lewat ekonomi, yang mana dengan demikian membenarkan dominasi individu-individu tertentu pada sektor perekonomian. Anarkisme yang memanda permasalhan itu secara berbeda jelas bertolak belakang dengan libertarianisme.

    • Liberalisme

    Iklim politik di Indonesia paska 1998, kerap berkecenderungan untuk menyamakan Anarkisme dengan ideologi ‘kiri’, dan ideologi ‘kiri’ dengan liberalisme. Meskipun demikian, terdapat perbedaan yang sangat nyata, baik secara kuantitatif, maupun kualitatif antara keduanya. Ideologi yang dianggap ‘kiri’ paska reformasi 1998, sangatlah problematik, karena pandangan politik moderen di Indonesia cenderung berada di luar spektruk tradisional kiri (liberal) atau kanan (konservatif). Kaum liberal cenderung mendukung upaya untuk mereformasi sistem yang ada, melalui lobi-lobi politik yang demokratis. Sementara di sisi lain, kaum anarkis justru memiliki pandangan yang lebih radikal, yang berkeinginan untuk menghancurkan segala bentuk politik kelembagaan dengan memperjuangkan cita-cita secara langsung melalui tindakan, alih-alih bergantung pada bentuk-bentuk intervensi statis (Suissa, 2010). Kaum anarkis mempercayai, bahwa dominasi hubungan hirarkis dengan otoritas haruslah diberangus, baik secara perlahan, melalui tindakan evolusioner, maupun secara langsung dengan tindakan revolusioner, hal-hal inilah yang nampaknya jauh dalam pewacanaan kaum liberal. Dari sini kita melihat bahwa Anarkisme bertolak belakang dengan liberalisme (Hardian, 2015).

    • Nihilisme

        Berbeda dengan paham ‘anti segalanya’ yang dianut para nihilis, yang mana merujuk pada sebentuk ‘anarki diri’ yang sebentuknya individualis, kaum anarkis masih mempercayai pentingnya organisasi, dan tindakan yang terorganisir. Persepsi umum yang menyamakan Anarkisme dengan segala bentuk kekacauan merupakan kesalahpahaman yang tersebar secara luas, akibat penanaman kesadaran oleh otoritas, agar massa rakyat merasa, bahwa pihak otoritas diperlukan untuk menjaga ketertiban. Kaum anarkis percaya, bahwa sebentuk massa rakyat yang efisien, dan terorganisir, hanya dapat dicapai dengan tatanan non-hirarkis; desentralisasi; dan partisipatif. Hal ini menujukan perbedaan dan betapa bertolak belakngnya Anarkisme dengan nihilisme (Hardian, 2015).

     

    Anarkisme pada hakikatnya memang berdiri sendiri, kokoh eksistensinya secara teoritikal. Namun, seperti yang dibahas tadi, banyak kesalahpahaman yang mendorong Anarkisme ke sudut gelap di mata masyarakat. Anarki terkait namun juga tidak sama dengan paham-paham lainnya. Selain kesalahpahaman di atas, faktanya kini Anarkisme di Indonesia lebih mirip sebuah brand daripada sebuah ide ataupun teori revolusioner untuk menghadapi alienasi dari kehidupan sehari-hari.

     

    Jikalau di negara-negara kapitalisme liberal, Anarkisme mendapatkan tempatnya di dalam liberalisme modern, seperti para libertarian maupun “anarcho-cappies” (sebuah sebutan untuk kaum anarkis yang mempercayai ide kapitalisme tanpa Negara), di Indonesia, di dalam budaya timurnya, Anarkisme teradaptasi dan terdistorsi, bahkan dikompromikan (Setyawan, 2015). Hal ini perlu dipahami karena pada kini praktek Anarkisme yang dilakukan kaum Anarko di Indonesia ternyata sudah banyak menyimpang dari kaidah-kaidah yang sebenarnya. Terlebih banyak kesalahpahaman dan minimnya bahan literasi membuat Anarkisme di Indonesia akhirnya hanya dianggap sebagai kelompok perusuh.



    [Bersambung...]

     

    ***

    Tulisan ini disadur dari karya tulis (skripsi) saya.

     

    Daftar Referensi:

     

    Buku

    Adrianus, M. (2000). Angkatan Perusush. Jakarta: Marjin Kiri.

    Burton, G. (2008). Media dan Budaya Populer. Yogyakarta: Jalasutra.

    Cohen, B. J. (1992). Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.

    Dolgoff, S. (2002). Bakunin on Anarchism. New York: Black Rose Books.

    Goldman, E. (1963). Anarchism and Other Essays. New York: Dover Publications Inc.

    Hanurawan, F. (2011). Psikologi Sosial. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

    Harper, C. (1987). Anarchy: A Graphic Guide. London: Camden Press.

    Hutagalung, D. (2006). Pengantar Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan. Jakarta: Marjin Kiri.

    Miller, D. (1984). Modern Ideologies: Anarchism. Oakland: J.M. Dent & Sons Ltd.

    Piliang, Y. A. (2004). Dunia Yang Dilipat. Yogyakarta: Jalasutra.

    Sarwono, S. W. (2010). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers.

    Sheehan, S. M. (2003). Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan. Jakarta: Marjin Kiri.

    Soekanto, S. (1985). Sosiologi: Ruang Lingkup dan Aplikasinya. Jakarta: Remadja Karya.

    Suissa, J. (2010). Anarchism and Education: A Philosophical Perspective. London: PM Press.

    Wittel, A. (2015). The Conversation. Nottingham: Nottingham Trent University.

    Jurnal

    Cahya, M. F. (2016). Fenomenologi Anarkisme. Jurnal Pergerakan Sosial Vol. 5.

    Hardian, S. (2015). Memahami Anarkisme Sebagai Seni Perlawanan. Jurnal ITB Seri Mengkaji Anarkisme.

    Rama, H. (2015). Anarki: Anti-Utopia. Jurnal Anti-Otoritsriaan Edisi 1.

    Rasyidin. (2005). Anarkisme. Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 6, No. 3, 88.

    Setyawan, E. (2015). Intro Doktrinasi Anarkisme. Jurnal Anti-Otoritsriaan Edisi 1.

    Zumaro, A. (2011). Perilaku Kolektif dan Penyimpangan. Jurnal Psikologi Sosial, 133.

    Skripsi

    Pratiwi, F. D. (2013). Benih Anarkisme Mahasiswa dan Media Sosial. Yogyakarta: Fishum UIN Yogyakarta.

    Artikel

    Dhyaksa, A. (2019). Anarko - Iman Anarkisme Dalam Tubuh Provokator. Retrieved from Lokadata: https://lokadata.id/artikel/anarko-iman-anarkisme-dalam-tubuh-provokator

    Marto. (2019). Menggali Akar Anarkisme di Indonesia. Retrieved from Historia: https://historia.id/politik/articles/menggali-akar-anarkisme-di-indonesia-vgXG7

    Rizky, P. A. (2020). Anarkisme dan Hal-Hal Yang Mereka Tuntut. Retrieved from Matamatapolitik.com: https://www.matamatapolitik.com/sejarah-anarkisme-dan-hal-hal-yang-mereka-tuntut-editorial/

    Ikuti tulisan menarik Samroyani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.