Sforeuita - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Minggu, 14 Agustus 2022 05:39 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Sforeuita

    Sebelum tangannya menggapai dekoder yang menyimpan seluruh berkas hasil penelitiannya, tiba-tiba terdengar suara asing dari telepromternya dalam gelombang radar yang demikian teracak, juga sangat tidak jelas. Cahaya kelemayar mendadak menjaring tubuhnya hingga membuat jaringan peta yang mengunci seluruh organ anatomi tubuh Domma. Seketika, dirinya jatuh pingsan. Ruangan pun menghilang untuk beberapa detik sebelum signal memberi tanda melalui flash drive di gedung Ei45.

    Dibaca : 387 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    II

     

     

    Surya perlahan merayap di antara suara air mancur yang mengalir di sudut For5t477. Sebuah waduk dalam ukuran mini dengan ranting-ranting pancuran yang terbuat dari bahan timah air, sebuah karya inovasi dalam pendidikan “goxtbk” menjadikan serambi di gedung Ei45 menyimpan luhur falsafah Liyan, sebuah falsafah yang merangkum sifat-sifat dalam plural filsafat timur dan filsafat barat sebagai kemuliaan mengingat perjalanan di masa kuno dengan penerimaan.

    Duduklah. Waktu telah dibekukan sementara.”

    Ada apa dengan pembekuan hari ini? Bukankah kau dengan timmu menyatakan penemuan baru sebagai penawarnya?”

    Aku rasa ada yang masih terlewatkan. Beberapa teknologi mengalami kemelekatan walaupun, ini dalam hitungan jam, jadi ami sepakat untuk melakukan penelitian dari awal kami memulai.”

    Tidakkah untuk akan sia-sia? Dan pembekuan waktu akan memicu kekacauan baru, menurutku.”

    Kami sudah membicarakan semuanya semalam, hingga resiko paling buruk.”

    Baiklah. Jika membutuhkan timku, jangan ragu untuk itu.”

    Terima kasih, tentu. Aku akan menghubungimu. Ah, apa itu kopi terbaru?”

    Oh, ya, ini kopi yang diendapkan dengan fermentasi tabung kristal. Cukup kuat dan tidak terlalu pahit, jadi aku tidak perlu menambahkan sari tebu untuk mengecap rasa manisnya. Cobalah!”

    Mungin untuk jam istirahat kedua, aku akan memesannya.”

    Pukul menunjukkan angka 08:55 pagi. Percakapan terhenti dan masing-masing meninggalkan gelas yang terbuat dari fiber batang pisang. Suasana hari ini tidak memperlihatkan akan datangnya badai tropis. Namun di setiap sudut di kota ini, hingga gedung-gedung, telah kembali menancapkan tiang-tiang yang lebih menyerupai bentuk kerucut dalam visual yang bening dan transparan sebagai tanda pengingat akan datangnya bencana dari angin alobar.

    Domma kembali ke dalam ruang kerjanya. Bola matanya telah menangkap sesuatu dari balik rak di perpustakaan mininya. Ada pendar kelemayar berwarna gading tercampur lembayung yang seketika meresahkan dirinya. Ini adalah warna yang sangat jarang hadir untuk sekian lama, namun dirinya tidak dapat mengingat, kapan dan di mana Domma pernah melihatnya. Dirinya coba memberanikan diri untuk mendekat sumber cahaya itu dengan langkah kaki yang diringankan. Tubuhnya memang terlatih untuk beradaptasi dengan berbagai nuansa, bahkan untuk keadaan yang paling mengejutkan.

    Sebelum tangannya menggapai dekoder yang menyimpan seluruh berkas hasil penelitiannya, tiba-tiba terdengar suara asing dari telepromternya dalam gelombang radar yang demikian teracak, juga sangat tidak jelas. Cahaya kelemayar mendadak menjaring tubuhnya hingga membuat jaringan peta yang mengunci seluruh organ anatomi tubuh Domma. Seketika, dirinya jatuh pingsan. Ruangan pun menghilang untuk beberapa detik sebelum signal memberi tanda melalui flash drive di gedung Ei45.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.