Memori Ungu Diari Kalbu: Sebuah Kisah Anak Manusia - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Cerpen Slice of Life

Aqeera Danish

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 November 2021

Senin, 22 Agustus 2022 18:37 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Memori Ungu Diari Kalbu: Sebuah Kisah Anak Manusia

    Memori Ungu Diari Kalbu, sebuah kumpulan cerpen tentang slice of life karya Aqeera Danish yang terinspirasi momen dan peristiwa kehidupan sehari-hari

    Dibaca : 367 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

               “Anak yang kehilangan bapaknya disebut apa?” suara Pak Kadis lirih memecah keheningan dalam mobil. Di tasik ramainya kemacetan jalanan Kota Bandung dan riuhnya jeritan anak-anak jalanan, kendaraan berpenumpang empat orang ini terasa amat sunyi. Ditemani arakan awan kelabu dan rintik-rintik hujan, siang ini kami baru saja pulang dari pengajian di rumah orang nomor satu di Jawa Barat. Ia dan keluarga besarnya tengah dirundung mendung.

     

                Mereka mengadakan doa untuk keselamatan sulung kesayangan yang hanyut di perairan negeri orang. Ia hilang ditelan jernih dan dinginnya air sungai. Memiliki tanggung jawab besar sebagai orang penting di Bumi Parahyangan, keluarga terpaksa meninggalkannya di antara kilauan permukaan air yang memantulkan cahaya permata. Mereka kembali ke Tanah Air dengan tubuh tegap dan dada lapang yang penuh pengharapan dan kecemasan tiada terkira.

     

                “Yatim,” buru-buru kujawab pertanyaan Pak Kadis dengan merujuk syariat Islam dan bahasa Arab. Jauh di lubuk hati terdalam, aku penasaran dengan pembahasan inklusifnya. Sudah menjadi rahasia umum di kalangan pegawai, laki-laki berusia jelang kepala lima ini selalu melihat setiap hal yang terjadi dalam kehidupan dengan perspektif berbeda dan mendalam. Ia percaya, bahkan daun jatuh pun merupakan sebuah pembelajaran yang takdirnya telah disuratkan.

     

                Ia kembali melontarkan pertanyaan, “kalau anak yang kehilangan ibunya?”

     

                Pak Edi yang tengah fokus di belakang kemudi dengan santai menimpali, “piatu, Pak.”

     

                “Kalau anak yang kehilangan bapak dan ibunya?” Beliau kembali bertanya tentang hal yang semua orang tahu. Sekilas, pertanyaan cerdas-cermat ini sungguh menyebalkan bagi orang dewasa seperti kami yang memiliki rentang usia antara 20 hingga 40-an. Kendati demikian, aku justru semakin penasaran dengan arah pembicaraan Pak Kadis kali ini. Lewat pertanyaan sederhana, beliau seolah ingin membuka mata dan hati kami pada suatu misteri kehidupan.

     

                Pak Willy yang duduk di sebelah kiriku dan tepat dibelakang punggung Pak Kadis menjawab dengan cengengesan khasnya, “anak yang ditinggal meninggal sama orang tuanya disebut yatim piatu. Istri yang ditinggal suami secara cerai atau meninggal disebut janda, suami yang ditinggal istri secara cerai atau meninggal disebut duda. Hafal ‘kan saya sebutannya.”

     

                Sejenak, kami semua terdiam.  Merasa bersalah karena melontarkan candaan di waktu dan kondisi yang tidak tepat, Pak Willy menyikut lenganku. Sejurus kemudian, pertanyaan Pak Kadis menyambar bak halilintar indera pendengaran kami, “Terus, orang tua yang kehilangan anaknya disebut apa?” Datar namun menyesakkan. Aku, Pak Edi, dan Pak Willy tak mampu berkata-kata lagi. Tetesan hujan semakin memenuhi setiap inci bagian luar kaca mobil.

     

                “Gak ada, karena rasa sakit dan perihnya gak bisa diungkapkan oleh kata-kata,” suaraku tercekat bahkan hampir hilang ditelan derasnya hujan.

     

                Bukan hanya terbawa suasana, tapi aku selalu membayangkan betapa perihnya saat duniku dan dunia Ibuku tidak sama lagi. Perempuan paruh baya yang sekarang hidup sebatang kara di kampung itu, adalah satu-satunya alasanku hidup dan berjuang di kota besar ini. Begitupun sebaliknya dengan Ibu, aku adalah alasannya untuk tetap kuat di dunia yang sungguh tidak ramah ini. Sekali lagi, hening menyapa. Roda-roda mobil membawa kami membelah jalanan Kota Bandung yang mulai dibanjiri air.

     

                Aku ingat, bukan kali ini saja kami menyaksikan orang tua yang harus kehilangan sang buah hati terkasih untuk selama-lamanya. Kisahnya beragam, mulai dari kecelakaan bus study tour, hanyut saat susur sungai, atau menjadi korban berbagai bentuk kekerasan. Kami melihat dengan detil wajah-wajah orang tua itu. Dari menangis meraung-raung, menangis sesenggukan, hingga menangis dalam diam tanpa suara dan air mata. Semuanya memilukan.

     

                Bertahun-tahun bergelut di dunia pendidikan, aku sudah melihat berbagai ekspresi dan mendengar banyak bahasa cinta orang tua kepada anaknya. Pikiranku terbuka, ternyata, menjadi orang tua itu tak mudah dan penuh tantangan serta pertanggungjawaban. Dari mereka, aku faham bila orang tua pun memiliki rasa patah hati bak seorang kekasih yang ditinggalkan belahan jiwa. Tingkatannya beragam, tergantung dari peristiwa apa yang menimpa mereka.

     

                Mereka bilang, sakit terasa kala tak mampu memenuhi atau menolak permintaan anak. Namun mereka harus tega, entah karena tidak memiliki uang atau sengaja mengajarkan anak bahwa tak semua hal di dunia ini bisa didapatkan secara mudah. Mereka mengadu, nelangsa melihat buah hati yang biasanya ceria harus terdiam menahan kesakitan. Jika boleh, mereka saja yang sakit. Terakhir, patah hati terbesar adalah saat mereka hanya bisa melangut dalam diam memandangi tubuh sang anak terbujur kaku. Kesedihan itu tak terkira berlipat-lipat rasanya.

     

                Bagaimana tidak patah hati, sepasang ayah dan ibu harus mengantarkan hingga menutup ‘rumah’ terakhir sang anak yang mereka buai sejak dalam kandungan. Bagi sebagian orang tua, hati mereka akan semakin pedih dan teriris saat kehilangan anak dalam sebuah tragedi yang terjadi secara tiba-tiba. Apalagi jika tubuh sang buah hati tidak diketahui jelas dimana rimbanya. Dunia beserta segala isinya seakan runtuh berkeping-keping di depan pelupuk mata mereka.

     

                Selepas menunaikan salat dzuhur, aku bersimpuh sejenak sembari berdzikir dan meresapi peristiwa yang baru saja terjadi. Sambil memejamkan mata merunduk serta menyerahkan diri di hadapan Sang Pencipta, aku berpikir bahwa semakin kuselami sebuah tragedi, semakin pula aku yakin dan sadar bahwa hidup itu sendiri adalah hadiah dari Tuhan yang patut dan memang seharusnya disyukuri. Setiap helaan nafas dan detakan jantung adalah anugerah dari-Nya.

     

                Tak bisa dimungkiri, terkadang saat mengalami musibah, manusia normal dengan segala kelebihan dan kekurangannya akan menggerutu tak karuan. Di momentum kritis tersebut, Tuhan Yang Maha Esa sebenarnya bukan membenci para makhluknya. Namun, justru mencurahkan kasih sayang dengan cara ‘ujian naik kelas’. Bagi siapa yang dapat melewatinya dengan hati lapang dan keimanan, Dia menjanjikan manusia balasan yang sungguh luar biasa indah dan tak terduga.

     

                Namun sebaliknya, saat manusia mengikuti ego dan emosi, ‘ujian’ tersebut justru menjadikan mereka semakin menjauhi Tuhan-nya. Mereka bisa saja bertransformasi menjadi zombie yang ‘memangsa’ manusia lainnya. Alih-alih bijak menyikapi dengan mencari tabir dan hikmah di balik tragedi atau musibah, manusia malah menyalahkan diri sendiri, orang lain, kehidupan beserta takdirnya, dunia seisinya, dan bahkan Tuhan mereka sendiri.

     

                Dari jutaan kisah orang tua yang harus kehilangan anaknya, goresan cerita kali ini mengajarkan setiap manusia bahwa level tertinggi dalam mencintai adalah saat kita ikhlas melepas sesuatu yang teramat dicintai pergi. Ya, ikhlas, sebuah kata yang mudah diucapkan namun amat sulit dilakukan. Ikhlas adalah seutas ikatan antara cinta, hidup, mati, dan bahkan semua peristiwa yang terjadi di alam semesta. Aku teringat dengan seuntai kalimat dari penulis ternama Kahlil Gibran. Ia menyebut, “anakmu bukanlah anakmu.”

     

                Orang tua memang menjadi medium yang membawa anak ke dunia. Namun, setiap anak manusia yang terlahir ke muka bumi rupanya memiliki ‘pemilik’ sah yang sebenarnya. Saat Dia meminta sang anak pulang ke pangkuan-Nya, orang tua, baik terpaksa maupun tidak, harus rela melepaskannya. Toh, bak daun jatuh, takdir setiap manusia telah jelas tertulis sebelum ia hadir ke dunia. Tugas setiap orang tua adalah menemani dan mengantarkan anak-anak menjemput takdirnya. Sementara anak memberi bahagia dan melipur lara ayah dan ibunya.

     

                Di ujung hari, kusadari, usia manusia tidak hanya diukur dari sisi biologis saja. Seorang putra bangsa telah mengetuk hati setiap orang bahwa usia singkat bukanlah penghalang dalam melewati berbagai petualangan kehidupan dan melakukan banyak kebaikan. Ia memanusiakan manusia tanpa sorotan kamera dan tatapan mata. Sesuai pepatah lama, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan kebaikan.

     

                Jauh di bawah radar dan tak berharap tepuk-sorak, ia mengamalkan hubungan baik dengan Tuhan dan sesama tanpa orang lain tahu siapa atau bagaimana dirinya. Memang benar, durasi hidup manusia di dunia fana ini singkat, dan harus dilalui dengan jiwa bersih serta berpeka nurani. Bukan sombong jumawa karena merasa diciptakan sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna. Life is gone with just a spin of the wheel, di akhir perjalanan, aku mengerti, manusia hanya ‘pulang’ membawa amal baik yang dilakukannya selama menapaki hidup di dunia.

    Ikuti tulisan menarik Aqeera Danish lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.