Memori Ungu Diari Kalbu: Surga Satu Menara - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Cerpen Slice of Life

Aqeera Danish

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 November 2021

Senin, 22 Agustus 2022 18:38 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Memori Ungu Diari Kalbu: Surga Satu Menara

    Memori Ungu Diari Kalbu, sebuah kumpulan cerpen slice of life karya Aqeera Danish yang terinspirasi momen dan peristiwa kehidupan sehari-hari

    Dibaca : 336 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                Halo, apa kabar?

                Satu bait kalimat itu yang muncul dari benakku kala mengingatmu. Tak terasa, tepat sepuluh tahun lalu, kita bersua untuk pertama kalinya. Saat perdana memandangmu, kamu begitu kokoh, dingin, angkuh, dan tak tersentuh. First impression yang lumayan tidak menyenangkan itu bertahan bahkan hingga aku mulai beranjak jauh darimu. Tak hanya diriku, ribuan orang di muka bumi yang pernah mengenalmu pun memiliki pandangan dan perasaan yang sama.

                Tapi apa daya, kita harus melewati puluhan purnama bersama. Tepatnya enam puluh! Waktu yang cukup lama apalagi dilalui dengan kebisuan. Kamu amat pendiam. Tapi saat bersuara, kamu berhasil membuat orang-orang disekitarmu terduduk merunduk dalam ketakutan. Belum lagi kebisinganmu di subuh buta sangat memekakkan telinga dan mengganggu buaian mimpi-mimpi indahku yang seandainya tak harus berurusan denganmu. Oh, dulu, aku sangat-sangat membencimu.

                Aku ingat! Aku pernah berdiri pasrah dihadapanmu bak seorang pesakitan di ruangan peradilan. Entah apa yang membuatku harus seperti itu. Aku tak pernah melanggar satu pun titahmu. Hanya karena remaja-remaja tanggung itu adalah anak asuhanku, kesalahan mereka dengan mudahnya kamu limpahkan padaku. Kamu bilang, salah atau benar perbuatan mereka, merupakan tanggung jawabku. Ahh, tidak adil rasanya bila harus menjalani hukuman yang bukan hasil perbuatan alfaku.

                Tapi aneh, aku selalu berlari ke arahmu saat terjatuh, mengadu padamu saat kehilangan arah, atau memeluk dan menciummu saat bersuka cita maupun berduka. Jutaan kali aku berkata membencimu, jutaan kali pula aku kembali padamu. Meski aku tahu, setiap curahan rasa dan tangisan yang aku kemukakan, kamu tidak akan merespons dengan kehangatan. Hubungan kita memang tidak berjalan dengan indah, tapi cukup membuat perjalanan hidupku berwarna cerah.

                Bagaimana tidak, kamu adalah saksi bisu setiap kegagalan dan keberhasilanku. Kamu pelipur lara saat aku harus terpisah ribuan kilometer jauhnya dari rumah. Kamu alarm nyaring yang mengingatkan langkah remajaku yang mudah tersandung dan limbung. Kamu adalah teman duduk yang mendengar dalam diam setiap keluh kesahku. Kamu merupakan ‘nyawa’ yang detak jantungnya menghidupkan milieu kehidupan dalam iringan keharmonisan dan keselarasan.

                Bagiku, dapat bertemu denganmu di usia rawan sebagai remaja menuju dewasa yang tengah kebingungan mencari pendirian, adalah satu-satunya alasan yang menjadi sebuah kesyukuraan. Dulu aku begitu naif, hingga tak peduli bila kehidupan dunia ini berjalan manipulatif. Karenamu, aku merasa menjadi burung dara dalam sangkar emas. Kamu sangat mengekang kebebasanku sebagai anak muda yang penuh nafsu gairah dan ekspektasi indah.

                Dengan peluh perjuangan, akhirnya tiba masa dimana aku lepas dari cengkeramanmu. Meninggalkanmu dengan kebahagiaan dan keceriaan. Melenggang pergi dari jangkauanmu dengan hati berbunga-bunga. Sekali lagi, kamu hanya memandangiku dengan diam membisu. Akhirnya, aku bisa menghirup udara kebebasan sebagai manusia menjelang dewasa yang siap menyongsong masa depan. Tanpa tahu jalan terjal berbatu di depan sana menanti dengan ganasnya. Tanpa mengerti bila ombak lautan yang harus kulalui akan teramat sulit ditaklukan.

                Satu, dua, tiga bulan pertama tak masalah. Satu tahun tanpa kehadiranmu, aku mulai gundah. Tepat di purnama keenam puluh, aku kelimpungan mencari jalan pulang. Hey kamu, ternyata, dunia ini begitu kejam dan tak ramah bagi kaki-kaki kecilku. Ada fase dimana aku bertangisan setiap membuka dan menutup mata. Ada masa dimana aku menjalani hari tanpa senyum, tawa, dan nyawa. Ahh, meski malu tapi harus kuakui, aku begitu merindukanmu.

                Di hari pertama musim semi, melalui sambungan video, kucurahkan segala resah pada Ibu yang berada jauh di belahan bumi lain. Jarak kami berdua tak berbilang, hingga Ibu yang tengah memasak makan siang harus terganggu dengan obrolan tengah malamku yang panjang. Ibu bilang, petualanganku yang tanpa pulang sudah terlampau lama dan jauh dari rumah. Perempuan paruh baya itu mengeluh jika kini tak mengenali sosok yang selama ini ia sebut sebagai putri kesayangan.

                Aku murka mendengar kalimatnya. Setelah susah payah berjuang hingga titik darah penghabisan, Ibu ‘menyuruh’-ku berhenti di tengah persimpangan jalan. Tapi, ia dengan sabar menunjukkan makna lain soal pulang yang baru aku pahami setelah menuntaskan berang. Ibu benar, terkadang kita pulang bukan untuk menemui orang-orang lama yang pernah kita kenal sebelumnya. Namun, kita pulang untuk mengembalikan fitrah diri yang sempat terkikis setelah jauh berkelana.

                Di ujung pembicaraan berintesitas tinggi itu, Ibu berkata, "mungkin, kamu harus beristirahat sejenak. Merenungi apa yang kamu lakukan selama ini, untuk mengingat kembali hal-hal yang kamu mulai dan rencanakan dulu, agar kamu bisa menyelesaikan dan mempertanggungjawabkannya, sekaligus membuat jiwamu penuh dengan kesyukuran. Karena hidup yang kamu jalani, itu sendiri sebuah hadiah dari Sang Pencipta."

                Dan Ibu juga bilang, perjalanan hidupku dimulai dari sana, sosok 'ibu' keduaku, yang aku kenali sebagai surga berhias satu menara. Jadi, ketika aku mulai merasa kehilangan arah, aku harus kembali ke sana. Ya, ia benar... Nun jauh di sana, lima tahun lalu aku meninggalkan setitik surgawi yang selama ini menjadi alarm pengingat dan hijab pelindung dari kerasnya kehidupan duniawi. Di negeri asing ini, di tempat yang amat berbeda dari tempat asalku, rupanya aku merindukanmu. Sangat rindu...

                Aku rindu membasahi dinginnya lantai keramik putihmu yang berkilauan bak mutiara dengan air mata. Aku rindu memeluk pilar-pilarmu yang menjulang gagah saat berbahagia. Aku rindu akan mimbarmu yang selalu dipenuhi petuah-petuah yang menentramkan jiwa. Aku rindu suara nyaring TOA-mu yang menggaungkan ayat-ayat suci Sang Khalik dari atas menara. Bahkan, aku rindu berdiri di hadapanmu untuk menjalani hukuman yang bukan kesalahanku.

                Selama ini tak kusadari, kamu menjagaku agar tetap berjiwa bersih dan berpeka nurani, melindungi karsaku agar tetap lembut meski digempur kejamnya realita hidup, mengingatkanku untuk kembali pulang saat jalanku terlarang. Sesuai julukan yang aku dan ribuan saudaraku sematkan, kamu memang Surga Satu Menara. Kamu sebentuk kecil surga di dunia fana yang menghiasi kisah perjalanan hidup kami dengan kehangatan dan kasih sayang seperti seorang ibu.

                Kamu, Surga Satu Menara...
                Surga yang damai, di tengah polemik yang ramai
                Surga yang tenang, di tengah politik yang mengguncang
                Surga yang indah, di tengah alam yang tertatah
                Surga yang teduh, di tengah jiwa yang runtuh
                Surga yang kokoh, di tengah nilai yang roboh
                Surga yang nyaman, di tengah hidup yang rawan
                ~ID Gen~

                Setelah semua hal-hal hebat yang kamu lakukan, hanya bait-bait itu yang mampu kami berikan. Enam puluh purnama tanpa sosokmu cukup membuat kami, terutama diriku kehilangan rambu kehidupan. Di ujung hari kusadari, kini, aku adalah orang yang berbeda. Mungkin benar, aku harus pulang sejenak dan mengistirahatkan si kaki-kaki kecil yang telah mengitari separuh bola bumi. Entah kapan...

     

               

                 Aqeera Danish
                 Quinobequin - MA, 2022

    Ikuti tulisan menarik Aqeera Danish lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.