Tujuh Puluh Enam [1] - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Rabu, 31 Agustus 2022 12:43 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Tujuh Puluh Enam [1]

    Pagi dan langit yang biru sambil meneguk dingin kopi sisa tadi malam. Kedua mata Mozza tertutup perlahan. Semuanya yang tampak dalam kedua matanya turut memudar, bagaikan percikan api serupa sisa-sisa unggun yang bersiap menghilang. Terdengar suara dengan lamat-lamat, bersamaan vibrasi selular di dalam genggaman Mozza, jatuh tergeletak sebelum terangkat. --Mozza mendesah lirih, mengingat Berlin. “Serbia..... Serbia..... Musim gugur akan tiba.”

    Dibaca : 503 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    konon, jemari jemari bergetar

    di dalam, pun pernah tersentuh

    yang begitu kelam untuk tangisan

    takkan ada simpul karikatur ingatan

    tetapi, pertahanannya sungguh goyah

    lorong tanpa jejak berjalan melepaskan

    tikaian janji janji hidupnya yang patah

    nuklir nuklir bersemayang laser laser

    Dalam pandangannya, hanyalah langit yang tersisa dalam gagap gumam. Suaranya tertahan di ujung tenggorokan yang mulai menciptakan kerak-kerak lendir akibat infeksi yang meradang di tubuhnya. Namun itu tidak seberapa. Hidupnya masih berjalan, hidupnya masih terlihat wajar. Kehidupan pun tidak ada yang benar-benar berubah, selain senyum yang hilang untuk selamanya.

    Mozza mengambil langkah yang salah dengan mengijinkan hatinya mencintai Blu. Kota kota akan segera hancur, manusia manusia akan hidup dalam anatomi yang cacat, dan menghindari cahaya surya selamanya. Kesepakatan dalam pekerjaan telah dilupakannya. Mozza larut dalam perasaan cinta, bahkan, dirinya dengan suka rela memasang badan untuk seorang agen intelejen Amerika.

    Penyebaran yang tidak pernah diperhitungkan telah menampar wajahnya begitu keras. Di langit biru pagi ini, Mozza sedang menatap kematian yang menunggunya dengan ketidakpastian. Perang dunia telah dimulai dan masa lalu kota kota mati kembali ditutup untuk kelanjutan penelitian.

    “Pergilah! Untuk hapus identitasmu, dan kembali setelah kau siap. Aku menjagamu dari sini.”

    Pesan singkat yang diterima Mozza pagi ini, seorang agen intelejen Rusia yang kini sedang berada di India Utara. Di pesan terakhir, Ivan mengirim sebuah dokumen terbaru melalui email, yang saat ini, Mozza enggan membukanya. Mozza semakin kehilangan akal sehatnya. Dirinya dan jejak-jejak photo yang hendak disebarkan oleh kekasihnya, yang adalah seorang agen intelejen Amerika, kini membuatnya pada satu-satunya pilihan; bunuh diri.

    “Jangan bocorkan apapun kepadanya, tetaplah bersikap seperti biasa, jangan sampai dia curiga. Aku sudah mengingatkanmu sejak awal! Jangan pernah larut dalam perasaan, dan khususnya kepadanya. Aku akan segera terbang ke China, aku akan menjagamu namun aku tidak bisa langsung masuk ke negaramu. Aku tahu bagaimana kondisi ini telah mengacaukan prinsip Liberty di negaraku. China membuat kesalahan besar dengan membangun kota bangkai yang baru. Aku akan ada di sana, untuk beberapa saat sebelum mengunjungimu di Tenggara”

    Telpon dari kawan Mozza, yang adalah seorang veteran perang teluk pun ditutup. Selama ini, Drei dan dirinya sangat jarang berkomunikasi semenjak Mozza menjalin percintaan dengan Blu. Namun, hanya kepada Drei, Mozza menyerahkan kepasrahannya dalam kondisi tergenting, dan kepercayaan dirinya kepada Drei tidak berubah.

    “Hentikan pengirimannya!”

    “Bagaimana mungkin? Lepra di Yaman masih genting!”

    “Hentikan pengirimannya, sekarang!”

    “Tidak bisa! Sangat tidak mungkin. Cherbonyl pelajaran untuk dunia.”

    * * *

    Pagi dan langit yang biru sambil meneguk dingin kopi sisa tadi malam. Kedua mata Mozza tertutup perlahan. Semuanya yang tampak dalam kedua matanya turut memudar, bagaikan percikan api serupa sisa-sisa unggun yang bersiap menghilang. Terdengar suara dengan lamat-lamat, bersamaan vibrasi selular di dalam genggaman Mozza, jatuh tergeletak sebelum terangkat.

    Mozza mendesah lirih, mengingat Berlin. Serbia..... Serbia..... Musim gugur akan tiba.

     

     

    (Bersambung)

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.