x

Profesor Maksum Radji

Iklan

Khairur Rasyid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2019

Jumat, 2 September 2022 20:55 WIB

Pemanasan Global Picu Munculnya Wabah Baru? Ini Penjelasan Ahli Mikrobiologi Universitas Esa Unggul

Guru Besar Mikrobiologi dari Prodi Farmasi, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul, Prof. Dr. Maksum Radji, M. Biomed., mengatakan bahwa betul terdapat kaitan yang sangat erat antara pemanasan global dengan munculnya berbagai jenis mikroba patogen penyebab wabah penyakit menular.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Beberapa bulan terakhir ini banyak dibicarakan oleh para ahli tentang hubungan antara perubahan iklim dan pemanasan global dengan ancaman munculnya wabah baru penyakit menular. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan juga Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyatakan pentingnya untuk terus mempertahankan kenaikan suhu maksimal 1,5 derajat Celsius, guna mencegah dampak bencana kesehatan terkait dengan perubahan iklim.

Guru Besar Mikrobiologi dari Prodi Farmasi, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul, Prof. Dr. Maksum Radji, M. Biomed., mengatakan bahwa betul terdapat kaitan yang sangat erat antara pemanasan global dengan munculnya berbagai jenis mikroba patogen penyebab wabah penyakit menular.   

Menurut Prof. Maksum, pemanasan global yang disebabkan oleh adanya peningkatan emisi gas rumah kaca, pemanasan atmosfer, gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, curah hujan ekstrem, banjir, badai, kenaikan permukaan laut, pengundulan hutan dan hilangnya kawasan lahan hijau, mengakibatkan dampak buruk terhadap ketidakseimbangan alam atau ekosistem.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Pemanasan global”, tambah dia. “memunculkan berbagai jenis strain dan varian baru bakteri dan virus, terutama mikroorganisme yang tergolong zoonosis”.

Prof. Maksum menjelaskan bahwa berdasarkan hasil berbagai studi yang telah dilakukan merebaknya wabah baru atau munculnya kembali wabah, sekitar 70 persen dibawa oleh vektor atau zoonosis yang ditularkan oleh binatang ke manusia. Salah satu contohnya, misalnya peningkatan suhu dapat memperpanjang umur vektor nyamuk, sedangkan kekeringan dapat membawa vektor binatang pengerat masuk ke dalam lingkungan pemukiman penduduk, manakala binatang pengerat pembawa bakteri atau virus patogen ini mencari makanan.

“Penelitian terbaru menemukan bahwa perubahan iklim mempercepat penyebaran virus antar spesies yang menyebabkan semakin sering munculnya wabah penyakit manular melalui vektor nyamuk, burung, kelelawar, tupai, musang dan binatang pengerat lainnya”, kata Prof. Maksum.

“Sebagai contoh misalnya”, dia menambahkan, “wabah pandemi COVID-19 yang telah menyebabkan lebih dari 6,4 juta kematian dari lebih dari 607,5 juta kasus seluruh dunia, awalnya diduga berasal dari kelelawar yang terinfeksi di Wuhan, China. Demikian pula wabah penyakit lainnya seperti SARS, MERS dan Ebola, Zika, Flu burung, dll. merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus patogen yang telah berpindah dari hewan ke manusia”, tandasnya.

Menurut Prof Maksum, berdasarkan berbagai studi telah disimpulkan bahwa munculnya berbagai mutasi virus patogen, melompatnya virus binatang ke manusia dapat dipengaruhi oleh perubahan iklim. Sebagaimana dilansir dari https://asianews.network/ tanggal 23 Agustus 2022 yang lalu, disebutkan bahwa selama beberapa dekade terakhir, pemanasan global yang dipicu oleh emisi gas rumah kaca telah meningkatkan penyebaran dan keparahan dari sekitar 100 penyakit di seluruh dunia.

Dampak pemanasan global terhadap sebaran mikroba patogen.

Menjawab pertanyaan tentang faktor apa saja yang dapat menyebabkan meningkatkan penyakit menular selama ini, Prof. Maksum menjelaskan bahwa pemanasan global dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases).

 

Mengutip laman https://theconversation.com/58-of-human-infectious-diseases tanggal 8 Agustus 2022 yang lalu, Prof. Maksum menambahkan bahwa, perubahan iklim membawa mikroba patogen lebih dekat pada manusia. Misalnya, pemanasan atau perubahan pola genangan air dapat mengubah distribusi nyamuk, yang merupakan vektor berbagai mikroba patogen pada manusia. Dalam beberapa dekade terakhir, perubahan geografis wabah penyakit yang dibawa nyamuk seperti malaria dan demam berdarah telah dikaitkan dengan bahaya perubahan iklim ini. Selain itu, perubahan iklim dapat mengubah pola perilaku manusia. Misalnya, selama gelombang panas, orang sering menghabiskan lebih banyak waktu di air. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan wabah penyakit yang ditularkan melalui air, antara lain penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Vibrio yang menyebabkan wabah diare meningkat secara signifikan di beberapa negara setelah gelombang panas di Skandinavia utara beberapa tahun yang lalu.

Faktor lainnya, kata Prof. Maksum adalah “pemanasan global berkaitan erat dengan perubahan kondisi lingkungan yang dapat meningkatkan patogenisitas mikroorganisme sehingga menyebabkan penyakit yang lebih parah. Sebagai contoh misalnya, banjir, hujan lebat dan genangan air serta buruknya pembuangan limbah dan terganggunya pasokan air minum, menyebabkan wabah kolera, diare, hepatitis A, hepatitis E, leptospirosis, acanthamoebiasis, kriptosporidiosis, siklosporiasis, giardiasis, rotavirus, shigellosis, dan demam tifoid. Genangan air juga dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, yang menyebabkan peningkatan penularan penyakit seperti demam kuning, demam Lembah Rift, deman berdarah Dengue, chikungunya, malaria, demam West Nile, ensefalitis St. Louis, dan leishmaniasis. Demikian pula kenaikan suhu juga dapat membantu virus menjadi lebih tahan terhadap panas, sehingga meningkatkan keparahan penyakit karena virus mampu beradaptasi dengan demam dalam tubuh manusia”.

“Perubahan iklim dapat mempengaruhi sistem kemampuan tubuh manusia dalam mengatasi mikroba patogen. Bencana yang disebabkan oleh pemanasan global, seperti banjir, pengunsian, kerusakan akibat bencana lainnya menyebabkan orang-orang tinggal dalam kondisi padat yang mungkin kekurangan sanitasi yang baik, sehingga menyebabkan manusia lebih rentan terhadap paparan mikroba patogen. Selain itu penurunan respon imunitas tubuh juga dapat disebabkan karena malnutrisi, peningkatan stres akibat bencana alam, sehingga dapat menyebabkan penurunan respons kekebalan tubuh”, paparnya.

Penyakit yang perlu diwaspadai akibat pemanasan global.

Prof. Maksum menjelaskan bahwa penyakit yang paling rentan terjadi di Indonesia akibat perubahan iklim adalah penyakit degeneratif dan penyakit menular. Penyakit ini dapat dengan cepat berkembang pada masyarakat yang kondisi gizinya kurang baik dan kondisi lingkungan yang kurang sehat. Ada beberapa jenis penyakit infeksi yang mungkin timbul kembali akibat perubahan iklim, antara lain kolera, antraks, virus zika, ebola, flu burung, cacar monyet, demam berdarah dengue, dan virus corona serta beberapa virus yang belum dikenal.

“Para peneliti penyakit menular sepakat bahwa wabah kolera berada dalam peringkat teratas di daftar penyakit yang harus diwaspadai karena perubahan iklim. Kolera mudah mewabah pada suhu hangat. Jadi semakin panas bumi, semakin berbahaya. Kolera disebabkan oleh infeksi bakteri Vibrio cholerae. Penyakit ini menular lewat makanan dan minuman yang telah terkontaminasi. Penderita umumnya mengalami diare dan dehidrasi parah yang dapat mengakibatkan kematian jika tidak ditangani dengan tepat”, katanya.

“Selain itu”, inbuh Prof Maksum, virus Zika yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti pada suhu yang terus meningkat akibat pemanasan global khususnya di daerah tropis, nyamuk ini akan lebih luas jangkauan penyebarannya. Demikian juga dengan penyebaran virus West Nile yang dibawa oleh nyamuk Culex dan beberapa jenis virus lainnya yang dibawa oleh nyamuk sebagai vektornya”.

Menurut Prof. Maksum munculnya kembali virus-virus yang dulu pernah menjadi wabah akibat perubahan iklim, antara lain virus ebola, virus flu burung, virus chikunguya, virus nipah yang dibawa kelelawar pemakan buah, virus Hendra yaitu virus yang menyerang kuda dan dapat menular pada manusia, merupakan jenis virus yang penlu diwaspadai.

“Virus monkeypox atau cacar monyet yang saat ini sedang melanda kembali di beberapa negara di dunia, juga diduga akibat adanya pemanasan global. Istilah cacar monyet diberikan ketika virus pertama kali diidentifikasi pada primata (monyet) yang dipelihara untuk tujuan penelitian di Denmark pada tahun 1958. Pada tahun 1970, kasus pertama cacar monyet pada manusia ditemukan menginfeksi seorang anak berusia sembilan bulan di Republik Demokratik Kongo, di tengah gencarnya upaya kampanye untuk memberantas penyakit cacar”, ungkapnya.

Prof. Maksum menjelaskan bahwa, “kini cacar monyet tengah merebak kembali di beberapa negara termasuk di Indonesia. Ditengarai penyebaran wabah cacar monyet saat ini erat kaitannya dengan perubahan iklim”, paparnya.

“Saat ini, hingga 26 Agustus 2022 yang lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat mencatat 47.652 kasus cacar monyet yang teridentifikasi di 98 negara. Bahkan kasus cacar monyet saat ini lebih banyak berkembang di negara-negara non-endemik”, tambahnya.

Flu Tomat

Selain itu, Prof. Maksum menambahkan bahwa perlu terus diwaspadai munculnya kembali virus virus lainnya yang terbangun dari tidurnya akibat pemanasan global.

“Munculnya wabah baru yang disebabkan oleh adanya mutasi virus akibat pemanasan global yang mnyebabkan peningkatan penyebaran virus antar spesies, baik di daerah endemik maupun non-endemik perlu terus diwaspadai.  Munculnya wabah virus flu Tomat, yang menimpa anak di bawah usia 5 tahun di negara bagian Kerala dan Odisha India sejak 6 Mei 2022, kini telah menyebar beberapa kota lainnya. Gejala umum flu tomat ini adalah munculnya lepuhan merah yang menyakitkan di seluruh tubuh dan secara bertahap terus membesar hingga seukuran tomat. Anak-anak yang terkena demam tomat mengalami serangkaian gejala seperti flu, demam, dan nyeri seluruh badan. Para peneliti menyebutkan flu tomat ini sangat menular, namun hingga saat ini belum diketahui dari mana flu tomat berasal.  Oleh sebab itu, sangat mendesak adanya protokol uji laboratorium standar untuk mengonfirmasi spesies virus penyebab flu tomat ini”, jelas Prof. Maksum.  

Pola penyebaran penyakit manular

Menjawab pertanyaan tentang bagaimana pola penyebaran mikroba patogen secara global, mengutip laman https://www.nature.com/articles/s41586-022-04788-w tanggal 28 April 2022 yang lalu, Prof. Maksum menjelaskan bahwa para peneliti memprediksi ada sekitar 10.000 galur virus beredar diam-diam beredar di antara mamalia liar dimana virus-virus ini kemungkinan besar dapat berpindah ke manusia.

“Sebagian besar pertemuan lintas spesies hewan dan transmisi virus antar vektor hewan virus tersebut berada di hutan tropis. Namun, perubahan iklim dan penggunaan lahan yang berlebihan akan membuka peluang untuk terjadinya transmisi virus di antara spesies satwa liar yang sebelumnya terisolasi secara geografis. Pemanasan global akan mendorong hewan-hewan tersebut menuju daerah yang lebih dingin di mana pertemuan pertama mereka dengan spesies lain kemungkinan besar dapat meningkatkan risiko munculnya varian virus baru yang dapat menginfeksi manusia”. jelasnya

Prof. Maksum menyebutkan, berdasarkan model filogeografi dari virus mamalia, para peneliti memprediksi bahwa proyeksi pergeseran geografis dan penyebaran besar-besaran dari sekitar 3.139 spesies mamalia, dan ribuan jenis virus baru yang menyebar di antara hewan tersebut akan terjadi pada sekitar tahun 2070 mendatang. Para peneliti juga menyebutkankan bahwa kontak pertama terjadinya penyebaran berbagai jenis virus zoonosis ini akan terjadi di berbagai negara di dunia, terutama terjadi di negara tropis yaitu Afrika dan Asia Tenggara.

“Berbagai penelitian menyebutkan bahwa pemanasan global juga akan menyebabkan kontak pertama terjadi di daerah yang lebih padat penduduknya, di mana orang cenderung rentan, dan beberapa virus akan dapat menyebar secara global dari lingkungan yang padat penduduknya ini. Kemungkinan hot spot nya adalah Sahel, dataran tinggi Ethiopia dan Lembah Rift, India, China timur, Indonesia, Filipina dan beberapa negara Eropa. Hasil studi juga menyebutkan bahwa pandemi wabah Covid-19 diperantarai oleh kelelawar. Sebagai satu-satunya mamalia yang bisa terbang, kelelawar dapat menempuh jarak yang jauh dan bertanggung jawab atas sebagian besar potensi penyebaran virus lintas mamalia lainnya”, ungkapnya.

Prof. Maksum juga menambahkan bahwa para peneliti memprediksi bahwa tahap pertama terjadinya transmisi silang antar spesies ini adalah antara 2011 hingga 2040. Penyebaran mikroba patogen lintas spesies ini sulit untuk dicegah.

“Untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya wabah baru akibat perubahan iklim ini kita perlu membangun infrastruktur kesehatan yang kuat guna melindungi manusia dan hewan, khususnya mamalia dan hewan lain yang menjadi vektor virus zoonosis. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang ancaman serius yang ditimbulkan oleh global warming di masa depan, karena perubahan iklim dan pemanasan global menjadi pendorong terbesar munculnya berbagai wabah penyakit menular. Semoga para pemangku kepentingan dan masyarakat dapat mempersiapkan diri dan waspada dalam menghadapi meningkatnya ancaman penyakit menular di muka bumi ini, khususnya di Indonesia”, pungkas Prof. Maksum mengakhiri perbincangan ini.

 

Ikuti tulisan menarik Khairur Rasyid lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terkini

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB