Pasar Barang Antik - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: tripsavvy.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 15 September 2022 19:42 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Pasar Barang Antik

    Kios barang antik serupa puisi yang banyak dikunjungi orang, terutama ketika tidak ada kegiatan yang lebih baik. Aku punya bibi yang suka duduk di sana pada hari hujan, di dekat jendela yang menghadap ke sonokeling yang murung, berpura-pura bahwa teman masa kecilnya, Lusi, dan akhirnya meninggalkan masa kecil jauh di masa depan.

    Dibaca : 535 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ini adalah langit yang menjauh tinggalkan kita. Ini adalah puisi yang tertinggal di ujung lidah, setetes racun disuling menunggu untuk disimpan di bait yang tepat. Ini adalah puisi yang tidak ditulis karena ia menulis sendiri. Inilah tulisan yang menjadi arloji yang memutarbalikkan puisi.

    Pergi ke kios barang antik mengambil foto dengan kamera yang tidak ada lagi suku cadangnya. Sebuah suara memintaku untuk menghadap cermin. Dapat kulihat wajahku butuh perbaikan. Seorang penambang menjulurkan kepalanya melalui tirai tebal kotor, bertanya-tanya apakah aku akan berada di sini lebih lama lagi? Dia terburu-buru memasuki ruangan di mana satu-satunya cahaya berasal dari lampu yang dipasang di dahinya. Ada sesuatu yang bisa dikatakan tentang menunggu lama, kataku padanya, tapi aku tidak akan mengatakannya padamu.

    Dia tersenyum. Giginya mengingatkanku pada hewan pengerat. Haruskah aku mengendus bau ketiak untuk mencari petunjuk?

    Kios barang antik serupa puisi yang banyak dikunjungi orang, terutama ketika tidak ada kegiatan yang lebih baik. Aku punya bibi yang suka duduk di sana pada hari hujan, di dekat jendela yang menghadap ke sonokeling murung, berpura-pura itu teman masa kecilnya, Lusi, dan akhirnya meninggalkan masa kecil jauh di masa depan.

    Dalam puisi lirik yang dibacakan kemarin, seorang martir mengikatkan dirinya ke pohon kersen tua sesaat sebelum para penumpang tiba di halte bus terdekat. Seorang wanita muda tanpa tudung kepala memangku sepasang rebana. Seorang pria menggaruk apa yang masih tersisa dari kulit kepalanya. Tangisan risau lirih terdengar. Bukan tangis syuhada yang tak seorang pun ingat pernah melihatnya.

    Ini tidak lebih dari tempuyung pengalih perhatian. Dengar, petarung. Apakah ada yang ingat mengapa martir adalah landasan konsepsi penyair tentang kesedihan? Ingat, Kabayan bekerja di sebuah kafe sushi yang trendi, tetapi tidak membantunya untuk menaikkan kepercayaan dirinya yang seperti kereta odong-odong yang andal. Ayo, tempelkan bilah dayung di lumpur tipu daya dan bencana hari ini dan jelaskan tentang dirimu, mulai dari awal.

     

    Bandung, 14 September 2022

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.