Menjadikan Seni Sebagai Media Katarsis - Analisis - www.indonesiana.id
x

Kesenian Topeng Ireng, Magelang. Foto: Tulus Wijanarko

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Jumat, 16 September 2022 11:50 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Menjadikan Seni Sebagai Media Katarsis

    Masalah dalam kehidupan bisa menimbulkan efek negatif dalam hati dan jiwa. Maka setiap orang membutuhkan metoda membersihkan efek negatif itu. Seni memiliki potensi sebagai pembersih hati dan jiwa alias bisa menjadi medium katarsis. Ini diyakini banyak kalangan termausk para pelaku seni, mulai dari dalang Ki Narto Sabdo hingga pelukis Pablo Piccaso.

    Dibaca : 730 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

     Art washes away from the soul the dust of everyday life.  (Pablo Picasso)

    Pablo Picasso adalah seorang pelukis besar dari Spanyol yang menganut aliran yang aneh dalam pandangan saya.  Gaya melukisnya memang unik, beda dengan pelukis lain.  Lukisannya tidak indah dalam pandangan saya, tapi terasa gregetnya.

    Lukisannya terasa enerjinya.  Ada daya pesonanya. Pasti dia melukis dengan ‘tenaga dalam’.  Orang sekaliber Picasso ini tidak hanya memiliki ketrampilan teknis tapi juga memiliki perenungan mendalam yang layak kita simak.  Salah satunya adalah quote di atas.

    Seni membersihkan jiwa dari kotoran yang berasal dari kehidupan sehari hari.  Ada sebuah istilah yang cocok yaitu katarsis.  Ini adalah tindakan untuk membersihkan jiwa dari emosi negatif.  Tindakannya bisa bermacam macam, ada olah raga, menulis dan bisa juga kegiatan seni.  Seorang dalang wayang kulit terkenal dari Semarang bernama Narto Sabdo memiliki kalimat menarik.  Menurut dia kegiatan seni itu adalah kinaryo langen pribadi  artinya menghibur diri sendiri.  Ketika menyanyi, bermain musik, joged dll sejatinya pelakunya sendirilah yang paling terhibur.  Kalau ketrampilannya sudah tinggi orang lain jadi ikut menikmati keindahan seni yang terpancar.   Jadi orang lain pun ikut terhibur.

    Itulah titik temu antara Picasso dengan Narto Sabdo.  Saya yakin keduanya benar.  Maka mari kita melakukan suatu kegiatan seni untuk membersihkan jiwa kita dari sampah yang mengotori.  Pilih salah satu kegiatan seni yang paling cocok.  Kalau saya menulis adalah katarsis yang sangat bermanfaat untuk menjaga kebersihan da kesehatan jiwa. Seni menulis atau seni sastra ini sangat saya nikmati.  Tentu saja membaca juga karena menulis dan membaca ini pasangan kegiatan yang tak terpisahkan.  Monggo temukan seni yang pas untuk anda agar sehat jiwa raga. 

    Bagaimana seni dalam doa?  Adakah ?  Pasti adalah.  Ada seni dalam zikir. Bukabkah muslim diajarkan berdoa dengan indah.  Berdoa diajurkan dengan memakai kalimat yang penuh tata krama.  Kita harus mengagungkan Alllah swt.  Kita harus memuja dan memuji dengan indah, antara lain dengan asmaul husna, nama nama Allah yang indah.  Dengan demikian maka kita akan tenggelam dalam keindahan zikir dan cinta dengan sang pencipta.  Hubungan mahluk dengan khalik (ciptaan dan pencipta) adalah hubungan yang saling menyayangi.

    Itu adalah katarsis spiritual.  Anda membersihkan dosa dengan doa.  Kalau dilakukan dengan baik dan benar akan berhasil.  Manusia akan naik derajatnya menjadi muttaqin – dan mendapat keuntungan besar baik di dunia maupun di akherat.

    Mari nikmati seni agar sehat jiwa, raga sembari mendekatkan diri pada Allah.

     

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.