Mengenal Smartphone Refurbished dan Rekondisi yang Diklaim Lebih Ramah Lingkungan - Urban - www.indonesiana.id
x

Luna Septalisa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Agustus 2022

Jumat, 16 September 2022 18:25 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Mengenal Smartphone Refurbished dan Rekondisi yang Diklaim Lebih Ramah Lingkungan

    Sekitar 85%-95% emisi karbon yang dihasilkan oleh industri teknologi, terutama industri ponsel pintar, berasal dari proses produksi. Sementara itu, dari 40-50 juta ton sampah elektronik yang dihasilkan setiap tahun, yang dapat didaur ulang tidak lebih dari 16% jumlah sampah elektronik tersebut. Demi mengurangi risiko pencemaran lingkungan dari bahan kimia penyusun komponen gawai, salah satu solusi yang dapat dicoba adalah dengan membeli ponsel pintar refurbished atau rekondisi. Apa bedanya? Manakah yang daya tahannya lebih baik? Bagaimana kiat memilih smartphone refurbished dan rekondisi?

    Dibaca : 576 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perubahan iklim menimbulkan anomali pada cuaca, angin, suhu udara dan sebagainya. Salah satu dampak dari perubahan iklim yang paling nyata kita rasakan adalah pemanasan global. Berbicara tentang perubahan iklim dan pemanasan global, tidak afdol rasanya jika tidak menyebut emisi karbon atau emisi gas rumah kaca (GRK) sebagai biang keroknya.

    Industri pertambangan (terutama batu bara, minyak bumi dan gas) dan asap kendaraan bermotor kerap dituding sebagai biang keladi produksi emisi karbon yang mencemari lingkungan. Namun, industri teknologi juga menghasilkan emisi karbon yang tidak kalah tinggi dengan industri pertambangan.

    Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menyebabkan emisi karbon meningkat dalam kurun 13 tahun sebanyak 3 kali lipat, yaitu dari 1% pada tahun 2007 menjadi 3,5% pada 2020. Kontribusi industri teknologi terhadap emisi karbon global pun diperkirakan meningkat hingga 14% pada 2040 mendatang.

    Sekitar 85%-95% emisi karbon yang dihasilkan oleh industri teknologi, terutama industri ponsel pintar, berasal dari proses produksi. Proses yang dimulai dari penambangan bahan baku (seperti kobalt untuk bahan baku baterai lithium ion) hingga manufaktur gawai, menghasilkan rata-rata 55 kg emisi karbon untuk satu unit ponsel pintar.

    Tidak hanya proses produksi sebuah gawai, sampahnya pun sama-sama menjadi masalah bagi lingkungan. Dari 40-50 juta ton sampah elektronik yang dihasilkan setiap tahun, yang dapat didaur ulang tidak lebih dari 16% jumlah sampah elektronik tersebut.

    Demi mengurangi risiko pencemaran lingkungan dari bahan kimia penyusun komponen gawai, salah satu solusi yang dapat dicoba adalah dengan membeli ponsel pintar refurbished atau rekondisi. Apa bedanya? Manakah yang daya tahannya lebih baik? Bagaimana kiat memilih smartphone refurbished dan rekondisi?

    Refurbished vs Rekondisi

    Pada dasarnya ponsel pintar refurbished dan rekondisi itu sama-sama produk daur ulang. Bedanya adalah ponsel refurbished hanya diperbarui pada beberapa komponen. Biasanya perbaikan ini dilakukan karena kerusakan-kerusakan kecil, seperti memoles layar (monitor) atau beberapa bagian yang penuh goresan-goresan sehingga tampak lebih mulus, membersihkan port, mengemas kembali sehingga tampak baru dan tidak ada perubahan atau perbaikan perangkat keras. Oleh karena itu, dari luar, ponsel refurbished akan tampak seperti ponsel baru tapi dalamnya (baik perangkat keras maupun perangkat lunaknya) tetap sama seperti ponsel lama.

    Sementara ponsel rekondisi diperbarui secara total oleh pabrik pembuatnya karena komponen yang hendak diganti harus diganti dengan yang original. Ponsel rekondisi akan mengalami serangkaian pengecekan ulang untuk memastikan apakah penggantian komponen secara total akan membuat kinerja ponsel pintar berubah atau tidak.

    Lalu, manakah yang lebih baik?

    Dari segi harga, ponsel refurbished lebih murah. Namun, kurang tahan lama dibandingkan ponsel rekondisi karena ponsel refurbished pada dasarnya adalah ponsel yang sudah pernah digunakan, hanya dipercantik dan dikemas kembali sehingga tampak baru.

    Meski harganya lebih tinggi dibandingkan ponsel refurbished, ponsel rekondisi punya daya tahan dan masa pakai yang lebih panjang. Garansinya pun bisa 1-2 tahun, sama halnya dengan gawai keluaran baru.

    Kiat Memilih Ponsel Refurbished dan Rekondisi

    Sebagaimana dikutip dari situs harianlenteraindonesia.co.id, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih ponsel refurbished dan rekondisi, antara lain.

    1. Perhatikan apakah baterai ponsel yang mau dibeli itu masih bagus atau cepat terkuras.
    2. Periksa apakah ada tanda-tanda kerusakan pada port pengisian daya atau tidak, karena port pengisian daya adalah salah satu komponen yang mudah rusak.
    3. Jangan lupa untuk memeriksa semua tombol
      Pastikan semua tombol berfungsi dengan baik dengan cara menekannya tidak terlalu keras. Tombol yang rusak akan membuat ponsel sulit digunakan dan biaya perbaikannya mahal.
    4. Periksa kunci jaringan (network lock)
      Periksa apakah provider ponsel Anda dapat berfungsi pada ponsel yang akan beli. Sebab, ada beberapa ponsel pintar yang dijual dalam keadaan terkunci ke provider sehingga harus dibuka dulu sebelum digunakan
    5. Periksa apakah suku cadang yang digunakan asli atau bajakan
    6. Hindari menggunakan model lama yang tidak lagi dapat menerima pembaruan karena rentan terhadap peretasan
      Cari tahu dulu kapan ponsel tersebut pertama kali dirilis dan berapa lama ia mampu menerima pembaruan. Dilansir dari Which, iPhone cenderung mampu menerima pembaruan sekitar 5-6 tahun sejak pertama dirilis, sedangkan Android hanya 2-3 tahun, tapi terdapat pengecualian untuk jenis ponsel tertentu
    7. Berhati-hatilah jika membeli dari penjual pribadi karena perlindungan hukum dan keamanannya beda dengan kalau Anda membeli di gerai resmi
      Penjual pribadi atau preloved, seringkali tidak memberikan garansi. Namun, Anda masih akan dilindungi oleh garansi pabrik dengan syarat jangka waktu garansinya masih berlaku. Jika merasa ragu dengan informasi yang diberikan penjual, tanyakan apa yang ingin Anda ketahui, terutama terkait pengembalian atau permintaan perbaikan kalau ada kerusakan.
    8. Kembalikan pengaturan pada factory reset
      Hal ini perlu dilakukan untuk menghapus data dan pengaturan pemilik sebelumnya, seperti pesan, kontak, gambar, riwayat penelusuran, kode WiFi, kata sandi dan aplikasi apapun yang pernah diinstalnya.

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Luna Septalisa lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.