Manggala (Bag. II) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Minggu, 25 September 2022 06:31 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Manggala (Bag. II)

    Namun berita telah megah menyebar ke seluruh penjuru daerah. Itu tidak akan membuat segala yang terjadi dapat dihapus; kejadian masa lalu bukan catatan yang dengan mudah dapat tersentuh oleh tombol delete. Kedua matanya menyisir jalanan yang masih sangat gelap. Sesekali, kening kernyit terhantam kilau tajam lampu kendaraan dari arah berlawanan. Untuk rute kelok, kantuk sembunyi pada kabut kebun-kebun di jalur bertebing.

    Dibaca : 654 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bayangannya kembali mengingat akhir dari hal-hal yang tidak begitu menyenangkan. Namun berita telah megah menyebar ke seluruh penjuru daerah. Itu tidak akan membuat segala yang terjadi dapat dihapus; kejadian masa lalu bukan catatan yang dengan mudah dapat tersentuh oleh tombol delete. Kedua matanya menyisir jalanan yang masih sangat gelap. Sesekali, kening kernyit terhantam kilau tajam lampu kendaraan dari arah berlawanan.

    Untuk rute kelok, kantuk sembunyi pada kabut kebun-kebun di jalur bertebing.

    Mora memang lebih menikmati perjalanan darat. Dirinya membayangkan, jika sesampainya di kota Pangandaran setelah pukul tujuh pagi. Tujuan pertamanya, menunggu akang gorengan keliling yang sering berguna menjadi wekker alami untuk mengurutnya.

    “Pak, sudah sampai di rumah.”

    Mora terbangun. Perlahan membuka kedua matanya dan seketika cahaya surya menerobos lelapnya jalan panjang antara Jakarta Pangandaran. Akhirnya, di hadapannya tampak sebuah rumah bergaya klasik kolonial tanpa pagar dengan susunan batuan kemerahan yang terselimuti lumut dengan warna dindingnya yang gading. Dirinya langsung keluar dan mengambil tasnya yang tersimpan di dalam bagasi travel. “Haturnuhun akang.” Mora melangkahkan kedua kakinya menuju pintu belakang.

    Saat membuka pintu, tiba-tiba saja, seekor tikus besar meyelinap di anata kedua kakinya dan terbirit ke atas selokan kecil di jalan samping rumahnya. Matanya mengintip ke arah samping rumah yang melapangkan pandangnya menuju kebun karet di belakang rumahnya. Dirinya memang mendengar kabar jika tetangga meninggal dua bulan lalu. Namun, selama dirinya tinggal di rumah istirahat ini, memang jarang sekali bertemu dengan pemilik rumah sebelah, selain pekerjanya yang menjaga toko bangunan.

    *

    “Ih si e mas mah, diceritain beneran, malah dibilang takhayul. Besok deh, saya antar ke sana, hari ini istirahat aja, ini betisnya keras semua. Itu tempatnya bagus, tapi warga gak ada yang berani ke sana kalau malem.”

    “Hari gini masih aja percaya mitos. Mending cerita yang laennya, akanggg...”

    “Aduh, eta mah beneran, banyak kepala potong dibuangnya ke sana, udah kayak apaan tau. Katanya orang-orang tua sih, saya kan beloman lahir. Kalau mas mau ke sana, mending dari pagi, mumpung kemarau gini, jadi aernya bening, banyak batu-batu kali kayak permata, kelip-kelip warna-warni.”

    *

    Sore yang berbeda dengan pemandangan hutan karet dan kopi susu. Rintik hujan perlahan jatuh di tepian atap rumah yang menyerong. Sumur tua tepat di halaman belakang rumah Mora masih tetap berdiri menyimpan kisah-kisah masa lalu tentang bajak laut.

     

    (Bersambung)

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.