Jika Hari Ini Aku Sedih - Analisis - www.indonesiana.id
x

image: HelpGuide.org

afiyah annida

Mahasiswi Prodi KPI STIBA Ar Raayah
Bergabung Sejak: 18 September 2022

Selasa, 27 September 2022 22:39 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Jika Hari Ini Aku Sedih

    Seakan pohon bambu yang menancap kuat di bumi, meskipun angin sering menerjangnya tanpa henti. Daun-daunnya pun terus berjatuhan, tetapi sama sekali tidak merobohkannya dan tidak mencerabut akarnya.

    Dibaca : 443 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Di zaman sekarang, beragam musibah dan bencana saling bersahutan menyapa bangsa tercinta kita, bangsa Indonesia. Mulai dari gempa yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Selatan, sampai jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu.

    Sabar termasuk ajaran dalam Islam yang begitu penting sehingga porsinya separuh dari kesempurnaan kualitas dan tingkat keimanan penganutnya. Di saat menerima cobaan ataupun musibah, menuntut setiap mukmin untuk lebih mempertebal keimanannya dengan bersabar di dalamnya.

    Pentingnya kedudukan sabar, Allah Subhanahu Wata’ala menjadikannya sebagai salah satu dari banayknya sebab untuk mendapatan pertolongan-Nya. Sebagaimana yang telah dituangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 153,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

    "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

    Dan yang juga telah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  sabdakan dalam Hadits Riwayat Abu Na’im dan Al-Khatib yang artinya: “Sabar adalah separuh dari Iman.”

    Seorang mukmin yang memiliki kesabaran saat ditimpa musibah tidak akan mengguncangkan keimanannya sedikitpun sebab keimanan pada Allah Subhanahu Wata’ala-lah yang merupakan pegangannya dari menghadapi musibah. Seakan pohon bambu yang menancap kuat di bumi, meskipun angin sering menerjangnya tanpa henti. Daun-daunnya pun terus berjatuhan, tetapi sama sekali tidak merobohkannya dan tidak mencerabut akarnya.

    Salah satu contoh seorang mukminah yang memiliki kepribadian seperti pohon bambu itu adalah Shafiyyah binti Abdul Muththalib bin Hasyim Al-Quraisyiyyah Al-Hasyimiyyah Radhiyallahu ‘Anha, Ibunda Hawari (Pengawal Setia) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau adalah muslimah pertama yang membunuh orang musyrik dan muslimah inspiratif yang mencetak sejarah penting tentang peranan perempuan dalam suatu kebaikan. Perempuan yang suci, jujur, mulia, dan penuh perjuangan.

    Shafiyyah binti Abdul Muththalib Radhiyallahu ‘Anha, lahir di Mekah pada tahun 53 sebelum Hijrah (kira-kira 10 tahun sebelum Tahun Gajah). Terlahir dari Bani Hasyim, bangsa Quraisy. Beliau merupakan ibu dari sang sahabat besar, Zubair bin 'Awwam Radhiyallahu ‘Anhu. Ia tumbuh di rumah seorang pembesar Quraisy, pemilik kekuasaan, kehormatan, dan keagungan, yaitu Abdul Muththalib, yang mampu membentuk kepribadian yang kokoh pada dirinya. Oleh karena itu, tak mengherankan jika bibi Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini tumbuh menjadi perempuan yang berlidah fasih, ahli qira'ah, alim, pemberani, dan berjiwa ksatria. Ibunya bernama Hallah binti Wahab yang merupakan saudara perempuan dari Aminah binti Wahab, ibu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ia juga saudari kandung Asadullah wa Asadu Rasulihi (Singa Allah dan Rasul-Nya), Hamzah bin Abdul Muththalib Radhiyallahu ‘Anhu.

    Shafiyyah Radhiyallahu ‘Anha menikah dengan suami pertamanya yang bernama Haris bin Harb, saudara Abu Sufyan bin Harb Radhiyallahu ‘Anhu, pemimpin Bani Umayyah. Lalu yang kedua dengan Al-Awwam bin Khuwailid, yang merupakan saudara laki-laki Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu ‘Anha, ummul mukminin pertama. Dari pernikahan yang kedua ini, Allah ‘Azza Wajalla karuniakan salah seorang anak yang bernama Zubair bin ‘Awwam Radhiyallahu ‘Anhu.

    Setelah suaminya yang kedua meninggal, ia tidak menikah lagi dan lebih memilih untuk mendidik anaknya, Zubair, yang pada waktu itu usianya masih sangat kecil. Shafiyyah Radhiyallahu ‘Anha mendidik Zubair dengan penuh kedisiplinan dan ketegasan. Ia mengajari anaknya tentang bagaimana bermain pedang, memanah, dan juga berkuda yang tidak lain dan tidak bukan supaya kelak anaknya menjadi pemuda yang pemberani seperti para leluhurnya.

    Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa dibalik lelaki sukses ada wanita hebat di belakangnya. Betapa tidak, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dan setiap muslimah yang memiliki hati yang bersih, tulus dan ikhlas dalam setiap perbuatannya, maka tidak ada yang diharapkannya selain keshalihan putra-putri yang dibesarkannya. Dengan iman, keringat, air mata, bahkan darah pun  mereka korbankan demi mencetak generasi-generasi yang siap berjuang untuk meninggikan kalimat Allah.

    Shafiyyah Radhiyallahu ‘Anha, betapa mulianya ia. Allah pancarkan di hatinya cahaya iman dan hidayah Islam yaitu mengakui kenabian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada masa awal dakwah. Beliau menyaksikan tersebarnya Islam secara luas ke seluruh penjuru dunia dan ia sendiri ikut andil dalam menyebarkannya. Semangat jihad begitu mengakar dalam hatinya dan selalu terpatri di dalam dadanya.

    Bahkan dalam Perang Uhud, ia berjalan di barisan paling depan di antara para perempuan yang ikut pergi untuk membantu para tentara. Tugasnya adalah mengobati yang terluka dan memberi minum kepada mereka yang kehausan.

    Ketika kekalahan dan musibah menimpa kaum muslimin, mereka berhamburan dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendapatkan serangan secara terbuka dari kaum musyrikin. Pada saat seperti itu, Shafiyyah Radhiyallahu ‘Anha bangkit dengan kemarahannya dan di tangannya tergenggam sebuah tombak, lalu berteriak kepada mereka, “Kalian lari meninggalkan Rasulullah.”

    Tragedi tersebut amat berat dan sangat menyayat hati kaum muslimin terutama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, karena banyaknya para sahabat yang wafat syahid itu dipotong-potong tubuhnya oleh para musyrikin. Salah satunya Hamzah Radhiyallahu ‘Anhu, paman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang tak lain adalah saudara Shafiyyah Radhiyallahu ‘Anha. Putranya yang mendapat perintah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menghalanginya karena khawatir beliau tidak akan kuat melihat musibah tersebut, akan tetapi ternyata beliau adalah sesosok wanita tegar yang hanya berharap pahala di sisi Allah serta rela terhadap takdir-Nya. Hanya dengan kesabaran, ketabahan, dan ketegaran, yang beliau lakukan saat melihat jasad saudaranya yang dipotong-potong, kemudian mengucapkan kalimat istirja’, -inna lillahi wa inna ilaihi raji’un- lalu memohon ampun untuknya. Beliau benar-benar mengamalkan sebuah ayat dari firman Allah yang tertuang dalam Qur’an Surah Al-Baqarah : 156 yang berbunyi,

    الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

    “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.”

    Perannya yang menakjubkan tersebut tidak cukup sampai di situ. Pada saat Perang Khandaq, Shafiyyah Radhiyallahu ‘Anha dan para wanita yang lain dititipkan bersama Hasan bin Tsabit Radhiyallahu ‘Anhu, Sang Pemilik Benteng yang bangunannya terletak di tempat yang tinggi dan berpagar kuat yang bernama Fari’. Karena di setiap kali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pergi berperang, beliau selalu meninggalkan para wanita, orang tua, dan anak-anak di tempat yang aman.

    Lalu di saat kaum muslimin sibuk di Khandaq, kaum Yahudi dari Bani Quraizhah yang telah melanggar perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutus seorang dari mereka untuk memata-matai para wanita.

    Melihat ada orang yang mengendap-endap mendekati benteng, Shafiyyah Radhiyallahu ‘Anha berkata kepada Hasan bin Tsabit, “Pergilah dan bunuh orang itu!” Hasan menjawab, “Wahai Binti Abdul Muththalib, engkau tahu bahwa aku tidak berani melakukannya.”

    Mendengar jawaban Hasan, beliau berpaling dan pergi mengambil sebuah tiang lalu keluar dari benteng. Ia memukul kepala orang Yahudi itu dengan tiang tersebut sampai mati. Kemudian kembali ke benteng dan menemui Hasan bin Tsabit sambil berkata, “Penggallah kepala Yahudi itu dan buanglah ke bawah!” Namun jawaban Hasan tetaplah sama seperti semula, “Aku tidak berani.”

    Keluarlah Shafiyyah Radhiyallahu ‘Anha dan memenggal sendiri kepala Yahudi itu dan melemparnya ke bawah bukit. Melihat kepala temannya menggelinding turun dari atas benteng, nyali orang-orang Yahudi menjadi ciut dan berkata, “Sekarang kami tahu bahwa orang ini (maksudnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) tidak akan meninggalkan keluarganya tanpa ada yang menjaga mereka.”

    Maa syaa Allah, telah kita saksikan bersama kesabaran dan ketegaran Shafiyyah Radhiyallahu ‘Anha di Perang Uhud juga keberanian serta kepahlawanannya di Perang Khandaq, sebagaimana yang telah digoreskan oleh tinta emas sejarah.

    Shafiyyah Radhiyallahu ‘Anha adalah hamba Allah, bukan hamba dari para hamba-Nya.  Karenanya, dia tetap istiqamah menggenggam erat ajaran nabinya walaupun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah berpulang ke Rahmatullah.

    Beliau hidup pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘Anhuma sebagai seorang wanita mulia dan terhormat. Sampai akhirnya ia berpulang ke Rahmatullah pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu pada tahun 20 H saat usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Jenazahnya dimakamkan di Tanah Baqi' Asy-Syarif.

    Shafiyyah Radhiyallahu ‘Anha merupakan salah seorang peranan penting dalam sejarah Islam yang merupakan contoh terbaik bagi pengorbanan dan jihad di jalan Allah dalam membela agama yang benar. Semoga Allah ‘Azza Wajalla merahmatinya, Sang Mukminah Pejuang Sejati.

    Itulah madrasah Shafiyyah  Radhiyallahu ‘Anha yang darinya kita belajar kekuatan tekad dalam menghadapi persoalan, keteguhan dalam menghadapi musibah, dan kesabaran atas berbagai peristiwa yang terjadi.

    Semoga Allah Subhanahu Wata’ala menjadikan kita, para muslimah dan mukminah yang berjiwa mujahidah, sebagai Shafiyyah-Shafiyyah masa kini.

     

    Referensi :

    https://arrahim.id/jazil/shafiyyah-binti-abdul-muthalib-muslimah-yang-ikut-dalam-perang-khandaq/

    diakses pada 01 Maret 2022 Pukul 14.23 WIB

    https://id.wikishia.net/view/Shafiyah_binti_Abdul_Mutthalib

    diakses pada 02 Maret 2022 Pukul 16.38 WIB

    https://kisahmuslim.com/2050-shafiyyah-binti-abdul-muththalib.html

    diakses pada 02 Maret 2022 Pukul 16.50 WIB

    https://muslim.okezone.com/read/2019/12/19/614/2143883/shafiyah-binti-abdul-muthalib-bibi-rasulullah-yang-ikut-berjuang-di-perang-uhud?page=4

    diakses pada 28 Februari 2022 Pukul 12.57 WIB

    https://muslimah.or.id/657-shafiyyah-binti-abdul-muththalib.html

    diakses pada 28 Februari 2022 Pukul 13.55 WIB

    https://www.wattpad.com/189372265-hikayat-muslimah-teladan-shafiyyah-binti-abdul

    diakses pada 01 Maret 2022 Pukul 13.40 WIB

    Ikuti tulisan menarik afiyah annida lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.