Refleksi Filosofis Ki Hajar Dewantara, antara Pengetahuan dan Pengalaman - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

keadaan kelas dalam pembelajaran, sumber website SMA Negeri 5 Mataram

Nugroho Wibowo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 November 2021

Selasa, 8 November 2022 12:46 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Refleksi Filosofis Ki Hajar Dewantara, antara Pengetahuan dan Pengalaman

    Filosofi Ki Hajar Dewantara (KHD), Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani dengan makna sederhana di depan memberi contoh atau menjadi panutan, di tengah membangun semangat atau ide, dari belakang memberikan dorongan. Konsep KHD selanjutnya sekolah itu dijadikan sebagai taman siswa, yang artinya sekolah harus bisa membuat rasa aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik, mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik tersebut, menjadikan sekolah itu sebagai rumah kedua mereka dan gurunya adalah orang tua kedua mereka selama berada disekolah dan teman-temannya adalah sebagai saudaranya atau mereka adalah kakak beradik selama berada disekolah.

    Dibaca : 1.042 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dalam sebuah pembelajaran terdapat dua buah unsur yang tidak bisa dipisahkan, murid dan guru. Murid sebagai seorang pembelajar terlibat dan berinteraksi dengan siswa lainnya serta guru, dan diharapkan berpartisipasi dalam kegiatan yang ada kelas, sedangkan guru merupakan sutradara yang mengatur kelas. Seorang guru harus menjaga, mengarahkan dan membimbing agar siswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat dan bakatnya.

    Konsep mengembangkan potensi, minat dan bakat siswa terkadang dilupakan oleh seorang guru, kebanyakan mereka hanya sekedar tahu bahwa ada seorang anak mempunyai minat bakat di bidang seni, olahraga atau yang lain tetapi guru tersebut tidak mengembangkanya. Terdapat situasi yang sering berbenturan antara pembelajaran dengan pengembangan minat dan bakat seorang siswa, terkadang guru mempunyai idealisme bahwa siswa harus ikut pelajaranya yang pada akhirnya anak menjadi binggung untuk menentukan mana yang diikutinya.

    Kebingungan anak tersebut merupakan suatu hal yang wajar, hal tersebut sebenarnya bukan menjadi suatu permasalahan jika guru mempunyai pemikiran yang berlandaskan filosofi Ki Hajar Dewantara (KHD), filosofi Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani dengan makna sederhana di depan memberi contoh atau menjadi panutan, di tengah membangun semangat atau ide, dari belakang memberikan dorongan.

    Konsep selanjutnya sekolah itu dijadikan sebagai taman siswa, yang artinya sekolah harus bisa membuat rasa aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik, mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik tersebut, menjadikan sekolah itu sebagai rumah kedua mereka dan gurunya adalah orang tua kedua mereka selama berada disekolah dan teman-temannya adalah sebagai saudaranya atau mereka adalah kakak beradik selama berada disekolah. 

    Konsep taman siswa sebenarnya memberikan kebebasan siswa untuk berekspresi sesuai minat dan bakatnya termasuk dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru dikelasnya, seorang siswa dapat mengerjakan tugas dengan berbagai tipe atau berbagai media. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada di lapangan, kebanyakan guru memberikan tugas dengan sifat instruksi yang hanya bisa diselesaikan dengan satu cara, sebenarnya secara tidak langsung instruksi tersebut mematikan kreatifitas yang ada pada diri siswa.

    Pengembangan minat bakat pada masa ketiga yaitu umur 14 sampai dengan 21 tahun dapat dilakukan secara maksimal dengan dua perlakuan, yang pertama adalah tindakan (laku, zelfberheersching, zelfdiscipline), dan yang kedua adalah pengalaman lahir dan batin (nglakoni, ngrasa, beleving). (Ki Hajar Dewantara, Dasar-Dasar Pendidikan. Keluarga, Th. I No.1,2,3,4., Nov, Des 1936., Jan, Febr. 1937).

    Setelah mempelajari Modul 1.1. Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional-Ki Hajar Dewantara, beberapa hal yang bisa dilakukan guru dalam rangka mengejawantahkan konsep pemikiran KHD dalam proses pembelajaran di sekolah anatara lain:

    1.    Kenali potensi siswa

    Potensi, minat dan bakat siswa berbeda-beda, seorang guru sebaiknya menggali apa yang dimiliki siswa dengan baik. Sebelum melakukan pembelajaran, guru terlebih dahulu mengenali peserta didik yang diajarnya. Beberapa cara yang dapat dilakukan guru diantaranya melakukan asesmen tahap awal untuk mendapatkan peta kemampuan-kemampuan awal masing-masing peserta didik. Selain dari segi akademik seorang guru terutama wali kelas juga dapat melaksakan kegiatan home visit, dalam kegiatan tersebut selain mengenal orang tua siswa juga akan diketahui tentang taraf ekonomi keluarga siswa, jarak antara rumah dengan sekolah, dan keadaan sosio kultural yang melekat di daerah tersebut. Manfaat yang diperoleh dari kegiatan tersebut akan terjalin komunikasi yang baik antara keluarga dengan sekolah dalam hal ini guru yang nantinya akan digunakan sebagai acuan bagi guru untuk pelaksanaan pembelajaran dan mengatasi masalah-masalah yang timbul dari proses pembelajaran yang dilakukannya.

    2.    Buat sebuah ruang untuk berkomunikasi di awal semester

    Di minggu-minggu pertama memulai pembelajaran, berfokus kepada pengenalan pada anak terlebih dahulu, guru sebaiknya mengadakan sebuah ruang khusus untuk berkomunikasi dengan siswa tentang hal-hal dasar proses belajar yang dilakukannya, diantaranya: kapan dan dengan siapa dia belajar?, tugas apa yang dia sukai, bidang seni apa yang dia sukai?, apa yang ia harapkan dari mata pelajaran yang diajarkan?, dan prestasi apa yang sudah kamu peroleh selama ini?. Ruang komunikasi itu penting untuk menjembatani apa yang menjadi tujuan pembelajaran di kelas tersebut, sehingga diharapkan menjadi sebuah kesepakatan awal bagaimana mencapai tujuan yang diharapkan. Guru mencatat semua apa yang disampaikan siswa sebagai dasar penentuan metode pembelajaran yang akan dilakukannya, informasi dari kegiatan home visit juga bisa dikolaborasikan dengan data ini sehingga menjadi sebuah data awal yang representatif.

    3.    Berikan kebebasan dalam menuangkan ide/gagawan siswa

    Kebebasan siswa dalam menuangkan ide/gagasan dalam menyelesaikan tugas menjadi sesuatu yang berbeda dari biasanya, tradisi kolot guru dengan memberi tugas kepada siswa dengan satu cara/metode penyelesaian masih sering kita temukan dikelas, tradisi tersebut tentunya akan mematikan kreatifitas yang ada pada siswa. Minat merupakan keinginan atau dorongan dalam diri seseorang untuk mempelajari hal tertentu, sedangkan bakat merupakan kemampuan dasar yang dimiliki seseorang yang dapat dipelajari dalam waktu lebih singkat dibandingkan dengan orang lain. Di sinilah peran guru sangat dibutuhkan, di mana guru bukan hanya menjelaskan materi, tetapi memberikan motivasi yang dapat meningkatkan dan menumbuhkan minat, bakat serta kreativitas siswa. 

    Pemberian kebebasan kepada siswa untuk menyelesaikan suatu tugas dapat dilakukan guru dengan memberikan keleluasaan kepada siswa untuk menggunakan berbagai metode penyelesaiannya, sebagai contoh tugas dapat diselesaikan siswa dengan membuat artikel dengan tulisan tangan atau diketik, membuat video, ataupun dengan memanfaatkan media sosial yang dimiliki siswa. Pemberian keleluasaan tersebut sesuai dengan filosofi KHD tentang kodrat alam dan kodrat zaman, dimana seorang guru dalam proses mengajarnya harus memperhatikan dimana siswa berada, pada kondisi apa dan masa/zaman apa mereka belajar. 

     

    Ikuti tulisan menarik Nugroho Wibowo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.