Metafora Togog Dalam Wayang Jawa - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Jumat, 11 November 2022 19:11 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Metafora Togog Dalam Wayang Jawa

    Wayang mengandung banyak sekali metafora. Baik dalam ceritanya maupun dalam boneka kulitnya. Inilah paparan metafora boneka wayang Togog dalam wayang Jawa.

    Dibaca : 704 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono

    Dalam cerita wayang Jawa ada beberapa tokoh unik yang disebut punakawan.  Uniknya karena dua di antaranya memiliki identitas ganda. Semar dan Togog aslinya adalah dewa. Tapi mereka menjadi punakawan, maksudnya menjadi pengasuh dan penghibur untuk keluarga raja.

    Togog memiliki nama asli Sang Hyang Antogo. Sedangkan Semar nama aslinya Sang Hyang Ismoyo. Mereka bersaudara. Togog adalah yang tertua. Semar nomor dua. Nomor tiganya adalah Sang Hyang Guru atau Betoro Guru yang menjadi raja dewa di Kahyangan Jonggring Saloko.

    Meskipun Togog paling tua dia tidak menduduki jabatan raja dewa. Dia memilih menjadi punakawan raja. Tapi dia berada di pihak raja yang kurang baik. Dia dan anaknya yang bernama Sarawita alias mBilung bekerja di istana Ngestino (Hastinapura).

     

    Semar memilih bekerja di pihak yang baik. Dia menjadi punakawan keluarga Pendowo Limo di istana Ngamarto.  Semar memiliki anak Gareng, Petruk dan Bagong. Mereka berempat ini selalu muncul dalam adegan goro goro, yaitu episode bercanda dalam pertunjukan wayang kulit dan wayang wong.

     

    Keunikan lain adalah pada raga mereka. Togog,  Semar dan Bagong memiliki bentuk fisik yang gemuk. Fisiknya Gareng kecil. Matanya juling dan kakinya pincang. Sedangkan Petruk bebadan tinggi. Hidungnya mancung. Rambutnya panjang dikucir di belakang.

     

    Selain berbadan gendut Togog memiliki wajah yang berbeda dengan tokoh lain. Matanya besar melotot. Mulutnya lebar dan maju ke depan. Sejatinya ini bukan pelecehan kepada siapapun.

     

    Bentuk fisik demikian itu mengandung metafora.  Mata melotot menggambarkan   sikap mental yang hanya melihat sisi buruk pada orang lain. Jadi ini adalah gambaran sifat buruk orang yang hanya mau memusatkan perhatian pada kesalahan liyan. Orang yang memiliki sikap mental demikian tidak akan pernah mampu melihat sisi buruk liyan. Dari dalamnya dia memang meniatkan melihat satu sisi saja dari orang lain. Dia hanya mau berfokus mencari kesalahan liyan. Maka sisi baik orang lain tidak nampak.

     

    Mulut yang monyong dan lebar juga merupakan metafora. Ini adalag gambaran orang yang suka ghibah. Orang seperti ini sangat suka menebar gossip, adu domba dan berkata buruk.

    Tidak heran kalau Togog bekerja di pihak raja yang zalim. Dia adalah punakawan keluarga raja Ngestino (Hastinapura). 

     

    Itulah tafsiran atas tokoh Togog dalam wayang Jawa. Sejatinya karya sastra itu terbuka untuk banyak tafsir. Beda dengan karya akademik yang tidak boleh ditafsirkan dengan berbagai tafsiran.   Jadi kalau Anda punya tafsir lain, ya sah saha saja. Monggo saja kalau Anda mau menafsirkan sendiri.  Karya sastra memang diharapkan punya interaksi dan dampak kepada penggemarnya.

     

    Di akhir pertunjukan wayang kulit ketika fajar sudah hampir terbit ada sebauh adegan unik. Sebelum menutup pertunjukannya ki dalang menarikan wayang golek.  Kata golek dalam bahas Jawa artinya mencari. Jadi pesan ki dalang adalah carilah pelajaran atau pesan tersembunyi dari kisah yang baru saja digelar.

     

    Pengemar wayang diharapkan menarik pelajaran. Pertanyaannya, pelajaran apa yang bisa ditarik dair metafora Togog? Saya kira kita sebaiknya menghindari sifat buruk Togog.  Ghibah, adu domba, bekata buruk, mencela liyan adalah perbuatan buruk yang dilarang agama.

     

    Idealnya kita selalu memperbaiki diri setiap saat. Upaya perbaikan diri ini tidak butuh tahu kelemahan liyan. Tapi kita buruh tahu kelemahan sendiri.  Semoga kita bisa menggeser fokus perhatian kita dari mencari kesalahan orang lain menjadi mencari kesalahan sendiri. Informasi ini adalah bahan untuk upaya perbaikan diri.

     

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.