Cerita Guru Ngaji, Tetap Mengajar Meski Tak Digaji - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Tetap mengajar ngaji meskipun tak digaji. Itulah guru ngaji.

Wahyu Tanoto

Penyuka kopi hitam dan jadah goreng, senang menulis, namun ngapak.
Bergabung Sejak: 4 Agustus 2022

Kamis, 24 November 2022 21:00 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Cerita Guru Ngaji, Tetap Mengajar Meski Tak Digaji

    Disadari atau tidak, dalam proses-proses kehidupan yang dijalani sampai hari ini pasti ada jasa dan kebaikan orang lain. Mungkin saja belum bisa membalas kebaikan orang lain tersebut, namun setidaknya ingatlah kebaikan mereka terhadap sembari berharap bisa menjadi pribadi yang mampu menghargai kebaikan orang lain.

    Dibaca : 451 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hari Guru Nasional yang selalu diperingati setiap 25 November hampir selalu dibarengi dengan pertanyaan dan rasa empati terhadap kehidupan guru di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, pada momen spesial hari guru ini saya ingin berbagi cerita tentang para guru ngaji di desa tempat kelahiran saya yaitu Desa Kemiri, Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

    Hemat saya, selain kedua orang tua dan keluarga terdekat, perjalanan dan proses kehidupan diri saya dalam bidang pendidikan agama memiliki catatan kenangan atas kebaikan dan jasa orang lain.

    Saya ingin berbagi cerita pengalaman ngaji dengan para guru yang telah berjasa mendidik, mengenalkan ilmu agama, adab dan ilmu-ilmu lainnya. Cerita ini sifatnya personal dan mungkin tidak bisa menggambarkan keseluruhan pengalaman ngaji saya. Karena, apa yang akan saya ceritakan ini adalah kisah ketika saya masih umbelen dan beleren.

    Para guru ngaji saya adalah orang-orang yang tidak mengenal lelah dalam mendidik dan membimbing kami agar lebih memahami ajaran-ajaran dan tuntunan agama Islam melalui ilmu menulis hijaiyah, membaca huruf arab, doa sehari", tata cara sholat beserta artinya, ushul fiqh, syari'at dan hukum-hukum dalam agama serta tarikh nabi & rosul.

    Para guru saya ini bukanlah termasuk orang yang memiki gelar akademis mentereng seperti zaman sekarang. Akan tetapi, bagi saya mereka adalah pribadi" luar biasa yang telah merelakan waktu, tenaga, energi bahkan materi untuk mendidik saya dan teman-teman saya.

    Bapak Saliman. Orang yang mengenalkan ngaji turutan atau membaca huruf hijaiyah. Jaman saya ngaji dulu ketika membaca huruf hijaiyah masih dieja, misalnya alif fat-hah-a alif-kasroh-i alif dhomah-u dibaca a-i-u dan seterusnya.

    Waktu itu pada dekade tahun 80-an akhir ngajinya dibantu dengan penerangan lampu senthir minyak tanah. Jika tertiup angin byar-pet. Meskipun ada keterbatasan penerangan tidak mengurangi antusiasme kami untuk ngaji. Kebetulan pada awal 90an listrik baru masuk di desa.

    Mbah Syafa'at atau mbah Pangat (alm). Beliau ini satu-satunya ahli tafsir di desa. Saya pertama kali mengenal arab tanpa harokat ya dari mbah Pangat. Kebetulan mbah Pangat mulang ngaji tafsir di rumah saya setiap seminggu 2 kali.

    Jadi, secara tidak langsung terkadang saya bisa ikut nimbrung mendengarkan. Biasanya, setelah selesai mengaji saya terkadang iseng membuka kitab yang beliau ajarkan. Nah, inilah momen pertama kali saya mengenal tulisan arab gundul dan arab pegon.

    Ibu Aminah. Beliau ini guru ngaji yang memiliki kekhususan untuk mengajari kami do'a panjang. Misalnya do'a nifsu sya'ban, do'a setelah sholat tahajjud, sholat bakda sholat dzuha dan do'a lainnya yang kalo saya baca saya bikin minder karena saking panjangnya.

    Beliau ini pembawaannya sangat kalem namun teliti. Ketika mengajari kami sangat tenang, sabar, serius tapi santai. Beliau ini selalu bisa memaklumi jika kami belum hafal do'a yang telah diajarkan.

    Bapak Mustofa (alm). Saya dan teman-teman menyebutnya sebagai bapak kordinator pengajian. Karena, hampir semua pengajian yang ada di desa kami setahu saya karena inisiatif beliau. Selain juara bela diri pencak silat (sempat menjadi atlet PON) beliau juga ahli dalam bidang penerbangan alias mahir menabuh terbang, yang dibuat dari kulit domba/kambing yang sudah dikeringkan lalu dikreasikan sedemikian rupa.

    Masih terekam jelas ketika beliau sedang mulang mengaji tata cara menulis arab kepada para kakak senior seperti Dwi Cahyono, Kamal Darojat, Radiono, Sunar, Nislam alias Khozin, Porahmi, Nurjanah, dll... saya sering mengintip dari balik pintu jendela rumah mbah Hadi (alm), lalu diminta masuk untuk duduk dan mengikuti pelajaran (meskipun saya belum paham, hehehe).

    Selain mangajari tata cara menulis arab yang benar, beliau juga mendidik kami agar menjadi orang yang percaya diri dan berani tampil di depan umum-istilah sekarang disebut public speaking. Kharismatik adalah gambaran untuk beliau. Ia merupakan sosok guru ngaji tanpa pamrih yang rela mengeluarkan materi dan uang pribadinya agar anak didiknya tidak buta huruf hijaiyah.

    Satu hal lagi, setiap sabtu malam setelah Isya’, bapak Mustofa juga mengajarkan syair barzanzi (perjanjen) kepada kami. Sedangkan pada Selasa malam mengajarkan menabuh terbang dan beladiri pencak silat. Menurut saya, beliau adalah orang yang kami anggap paling berjasa dalam bidang keagamaan di desa kami.

    Bapak Parso atau Habib. Ngajinya setelah Maghrib sampai Isya di rumah mbah Marjono. Ngajinya juga pakai senthir, hehehe. Beberapa teman ngaji saya antara lain; Tuti, Suradin, Ernawati, Rahayu Utami, Sobirin, Rusmanto, Dul Holim dan Dul Rochim (alm).

    Di rumah pak Habib inilah saya dikenalkan bagaimana tata cara melafadzkan huruf hijaiyah dan ilmu tajwid. Pak Habib ini orangnya sabar dan telaten mengajari kami satu persatu, serta selalu menganggap kami semua sudah bisa membaca al-qur'an meskipun masih terbata-bata.

    Bapak Muchlas (alm). Beliau mendidik kami mengenal nada-nada melantunkan nada qiro'ah setiap hari Selasa dan Jum'at setelah Ashar hingga menjelang Maghrib. Beliau ini suaranya enak, empuk dan merdu sekali. Apagi kalau beliau sudah membaca surah al-waqi'ah, rasanya gak pingin cepat selesai ngajinya. Sampai hari ini jebul saya tetap nggak mahir qiro'ah, namun tetap bangga meskipun nggak bisa.

    Biasanya, setelah selesai mengaji kami disuguhi singkong rebus yang dicampur garam, terkadang opak telo goreng, cimplung dan makanan ndeso lainnya. Saya masih ingat betul kalau pak Muchlas ini yang memopulerkan nyanyian panggilan sholat.

    Bapak Abdul Roif. Seingat saya beliau ini yang sering mengajari kami do'a sholat; mulai dari niat, iftitah, takbiratul ihram sampai salam lengkap beserta artinya (berbahasa Jawa). Bagi saya ndak mudah, bisa hafal doanya saja saya sudah senang. Lah ini malah dengan artinya.

    Dulu beliau pernah berpesan agar belajar sholat yang khusyuk. Beliau ini termasuk guru yang tegas dalam mendidik, jika belum bagus bacaannya akan diminta mengulang berkali-kali sampai benar-benar paham.

    Bapak Fatahuddin. Beliau ini guru bahasa Arab pertama saya. Orangnya lucu, murah senyum dan sangat rapih kalo mulang ngaji, istilahnya necis alias besus. Jarang sekali pakai sarung. Lebih sering pakai celana panjang, dipadukan dengan hem warna putih/baju batik dan datang lebih awal daripada anak didiknya.

    Biasanya beliau mengajar pada hari Jum'at. Jangan dibayangkan bahwa bahasa arab yang diajarkan beliau seperti kurikulum di sekolah" formal berbasis agama. Seingat saya beliau ini mengajarkan bahasa arab yang sifatnya umum, misalnya fi'il, fa'il, isim, dhomir, jamak dan mufrod.

    Bapak Subandi. Guru ngaji saya dalam bidang ceramah atau jaman sekarang disebut public speaking. Beliau ini terkenal dengan gaya "thas-thes" (baca tanpa kompromi) dan tidak mau menunda sesuatu. Beliau ini mengajarkan kami untuk cuek terhadap pendapat orang lain.

    Biasanya, beliau mengajar pada hari Rabu bersama Bapak Saebani. Nah kalo bapak Saebani ini terkenal alim dan cenderung tidak banyak bicara kalo tidak perlu (baca kalem), namun memiliki hafalan surah-surah panjang di dalam al-Qur'an. Bapak Saebani ini kalo adzan subuh atau menjadi imam sholat suaranya nyaman sekali di dengar.

    Ibu Mumdiyati, guru sejati saya. Wong ini simbok saya. Orangnya disiplin, cenderung galak kalau mengajari ngaji anaknya, maaf ya mbok hehe. Beliau ini rela berlama-lama kalo ngajari ngaji agar anaknya bisa membaca Al-Qur'an. "Ko nek ora teyeng ngaji wong tuwane sing melas" (Kamu kalo sampai gak bisa ngaji orang tuamu yang kasihan), begitu pesan yang beliau sampaikan kepada saya ketika suatu waktu mogok ngaji.

    Itulah cerita singkat para guru ngaji saya di desa. Dari merekalah saya akhirnya bisa mengetahui banyak hal tentang nilai ajaran-ajaran dalam agama Islam. Bagi saya, mereka adalah contoh nyata orang" ikhlas yang dengan senang hati membagikan ilmu yang mereka miliki tanpa mengharapkan imbalan materi.

    Menurut saya, disadari atau tidak, dalam proses-proses kehidupan yang dijalani sampai hari ini pasti ada jasa dan kebaikan orang lain. Mungkin saja belum bisa membalas kebaikan orang lain tersebut, namun setidaknya ingatlah kebaikan mereka terhadap sembari berharap bisa menjadi pribadi yang mampu menghargai kebaikan orang lain.

    Teruntuk para guru ngaji saya di desa, baik yang masih hidup maupun telah wafat, saya sungguh rela jika setiap huruf yang panjenengan ajarkan menjadi amal jariyah yang kebaikannya mengalir deras tidak pernah putus. Amin. Selamat hari Guru ngaji!

    Ikuti tulisan menarik Wahyu Tanoto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.