Cinta Bersemi di KKN - Humaniora - www.indonesiana.id
x

With Love everything is Done

dudung solahudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 November 2021

Rabu, 30 November 2022 16:10 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Cinta Bersemi di KKN

    ini adalah kisah dari perjalanan hidup seseorang yang bersambung

    Dibaca : 467 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Saya terima nikah dan kawinnya Roisatun NF SAM binti DR.H. Ar. SAM dengan mas kawin uang tunai 200 dollar dan cincin dari emas seberat 2 gram dibayar tunai.” sontak para hadirin mengatakan “sah” yang disusul dengan riuh tepuk tangan.

    Tanggal 3 Juli 2022 adalah hari kebahagiaanku setelah kurang lebih delapan tahun menyandang status duda. Aku mengucapkan kalimat sakral dalam salah satu ibadah mengikuti sunah rasul yaitu nikah. Sebuah ikatan suci antara pria dan wanita. Pernikahan yang menurutku sangat dimudahkan oleh yang maha berkehendak setelah melalui jalan panjang dan berliku-liku dan penuh memeras pikiran.

    Pernikahan itu terjadi setelah uminya kedua anakku meninggal tahun 2014 silam, Aku diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mengasuh, mengurus dan membesarkan kedua anakku. Kini, mereka sudah kelas 5 SD dan kelas 8 MTs.

    Jodoh adalah rahasia Tuhan. Itulah kalimat yang sering terdengar ketika para orangtua sedang memberikan nasihat kepada anaknya yang sudah mendekati usia nikah.

    Sebuah chat dari teman lamaku melalui WhatsApp masuk ke androidku. Chat tersebut masuk ketika aku sedang mengikuti kegiatan zoom webinar yang di adakan oleh salah satu perguruan tinggi dibawah naungan sebuah ormas sosial keagamaan terbesar di Indonesia.

    “Kang, ada seseorang yang sedang mencari sosok suami.” ucapnya.

    “Yang mana mas? Minta nomornya dong.” timpalku

    “Oke, nanti saya kasih setelah minta ijin dulu kepada yang empunya.” jawabnya.

    Perkenalan aku dan dia dimulai akhir tahun 2021 melalui WhatsApp setelah temanku memberikan nomor beberapa hari setelah kegiatan zoom sebuah webinar berakhir.

    Webinar merupakan akronim dari kata web dan seminar. Arti webinar adalah seminar yang dilakukan secara online. Umumnya webinar online dihadiri oleh orang-orang yang tidak berada dalam satu tempat yang sama, namun saling terhubung melalui aplikasi dengan bantuan internet.

    Ketika awal tahun 2020, wabah pandemi koronavirus (coronavirus disease 2019/covid-19)  melanda seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Kegiatan yang sifatnya mengumpulkan banyak orang resmi dibatasi oleh pemerintah untuk mencegah pergerakan wabah menular tersebut. Kegiatan Belajar Mengajar pun ditutup tidak menggunakan model tatap muka diganti dengan model daring (dalam jaringan).

    Termasuk kegiatan diskusi dan seminar pun dibatasi kegiatannya tidak boleh ada perkumpulan yang berada dalam satu ruangan. Maka salah satu alternatif agar kegiatan diskusi dan seminar tetap berjalan sesuai rencana, maka webinar menjadi solusinya sehingga kegiatan tetap berjalan ditengah pandemi berlangsung.   

    Setelah beberapa minggu kami berkenalan dan sekedar ngobrol melalui WhatsApp, hingga suatu saat saya ada keperluan ke daerah Bogor untuk mengambil sertifikat pelatihan. Setelah selesai mengambil sertifikat dan menuju pulang, aku chat dia dan setelah nyambung, kami janjian ketemuan di salahsatu mall tidak jauh dari salahsatu universitas ternama di kota Bogor.

    Sebenarnya ada rentetan yang panjang hingga aku sampai di detik itu (pernikahan). Aku sendiri tidak pernah mengatakan kata cinta kepadanya. Perasaan yang tidak menentu antara siap dan tidak siap, antara nekad menjadikan isteri atau hanya sebagai seorang adik saja, antara berani mengambil resiko dan hawatir berlebihan. Semuanya berakhir dengan komitmen saling melupakan.

    “Seorang laki-laki sejati pantang mempermainkan wanita”. Kalimat itu yang selalu terngiang di telingaku ketika terpikirkan untuk menikahi seorang wanita. Bagiku menikah bukan sebuah permainan yang gampang cerai. Pernikahan itu sebuah ibadah yang di awali dengan ucapan sakral; ijab Kabul dalam akad nikah.

    “Mau nikah kapan?” sebuah pertanyaan dari calon mertua membuatku kaget yang tidak pernah ada dalam fikiranku. Sebuah pertanyaan yang membuat ciut nyali seorang laki-laki apabila berkunjung ke rumah seorang wanita.

    Aku bingung dan diam tidak berkutik. Hanya termangu dan terasa kedua kakiku tidak menempel ke lantai. Belum aku jawab pertanyaan itu langsung dicecar pertanyaan kedua.

    “Bagaimana kalau akad nikahnya di tempat ibu saya di Madura?”

    Aku makin panik mendengar pertanyaan kedua itu. Terasa panas dingin sekujur tubuhku. Pertanyaan yang sulit aku jawab karena selain terasa di paksa, waktu tersebut adalah waktu yang sibuk di tempat aku bekerja. Akhirnya aku menolak tawaran menikah di Madura dan calon mertua hanya menerima keputusan itu.

    Tidak lama selang beberapa menit, calon mertua menawarkan lagi di hari yang lain pada bulan yang sama. Dengan menyebutkan bahwa di hari itu ada pernikahan anaknya adik dari calon mertua di Bandung. Selain itu calon mertua dengan sedikit memohon agar dikabulkan permintaannya itu dikarenakan ingin dihadiri oleh ibunya (nenek dari calon isteriku dari pihak papa mertua ). Aku tak bisa berbuat apa-apa dan aku langsung menyanggupinya karena luluh hatiku ketika mendengar ingin dihadiri oleh ibunya papa mertua.

    Besoknya aku langsung mengurus berkas untuk persiapan administrasi nikah dan selanjutnya aku mengantar calon isteriku ke KUA di daerah tempat tinggalnya.

     

    -----------------------------------bersambung--------------------------------------

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik dudung solahudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.