Pay Later dan Jalan Tikus Hidup Hedonisme - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Mulai bisnis online dengan menggunakan gadget handphone dan memasarkannya via social media yang biasa digunakan sehari-hari.

Dwi Komariah Putri Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Desember 2022

Minggu, 4 Desember 2022 07:47 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Pay Later dan Jalan Tikus Hidup Hedonisme

    Fitur PayLater merupakan metode pembayaran kredit yang banyak diminati. Semua e-commerce pun berlomba-lomba menciptakan fitur yang dapat memanjakan penggunanya tersebut. Namun kini fungsinya sudah bergeser dari semula untuk memenuhi kebutuhan mendesak, jadi memenuhi keinginan sesaat. Tentu karena tergiur tawaran menarik di sana.

    Dibaca : 675 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh : Dwi Komariah Putri

    Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan


    Sudah dua tahun sejak pandemik melanda Indonesia transaksi yang dulu kebanyakan cash beralih menjadi non tunai (cashless) dengan alasan supaya tidak menularkan virus melalui uang. PayLater dengan tagline “beli sekarang, bayar belakangan” kini semakin marak digunakan oleh masyarakat. Data menjelaskan mengapa konsumen menggunakan payLater saat transaksi di e-commerce yaitu karena alasan untuk membeli kebutuhan yang mendesak. Selain itu, ada juga responden yang beralasan ingin belanja dengan cicilan jangka pendek alias kurang dari setahun dan mendapatkan lebih banyak promo menarik.

    Fitur PayLater merupakan metode pembayaran kredit, dapat melakukan pembayaran bulan depan atau bahkan dapat dicicil selama 3 bulan, 6 bulan, hingga 12 bulan. PayLater telah menjadi perbincangan sejak dua tahun belakangan ini, semua e-commerce belanja online berlomba-lomba menciptakan fitur yang dapat memanjakan penggunanya. Namun kini fitur ini bergeser fungsi yang awalnya untuk memenuhi kebutuhan mendesak, namun sekarang berbeda. Masyarakat mengandalkan PayLater untuk memenuhi keinginan sesaat karena tergiur dengan penawaran yang menarik dari e-commerce.

    Banyak e-commerce dari berbagai perusahaan menghadirkan fitur PayLater. Namun seiring dengan meningkatnya kebutuhan sehari-hari, PayLater beralih fungsi menjadi jalan tikus kehidupan hedonisme, contoh hedonisme ialah membeli baju yang sedang tren, membeli sepatu yang lucu serta membeli hal-hal yang tidak terlalu dibutuhkan, ada pula yang menggunakan layanan PayLater untuk membeli makanan dan minuman yang kekinian seperti kopi yang sedang hits. Sikap tersebut cenderung membuat orang memiliki sikap yang konsumtif, hal itu disebut dengan sikap hedon.


    Hedonisme secara mudah ialah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Seperti, bersenang-senang, pesta dan jalan-jalan merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Contoh sederhana dari hedonisme dalam kehidupan sehari-hari yaitu perilaku berbelanja secara boros dengan membeli apa yang di inginkan, kebiasaan membeli makanan fast food yang tidak sehat, dan lain sebagainya.


    Selain karena ingin menikmati hidup penawaran menarik PayLater nyatanya mampu menarik perhatian kalangan masyarakat menengah karena dirasa bermanfaat dan menguntungkan. Penawaran menarik seperti mendapatkan limit belanja yang dapat mencapai jutaan rupiah, ada yang menawarkan bebas bunga dalam jangka waktu tertentu, dan penawaran-penawaran yang lainnya. Pengguna PayLater juga beralasan bahwa “beli sekarang, bayar belakangan” tidak terlalu merepotkan dalam mengurus syarat-syarat untuk mendapatkannya, lain hal seperti peminjaman online yang harus menyiapkan berkas-berkas penting.


    Sebuah riset yang dilakukan oleh Data boks menyebutkan, layanan fitur PayLater menduduki posisi ketiga di dalam layanan belanja online. Pengguna PayLater terbanyak ada di layanan belanja online shoope, shoope PayLater menduduki peringkat pertama terbanyak penggunanya dalam memakai fitur PayLater. Namun tidak sedikit seorang yang belum menggunakan. Konsumen tersebut memiliki beberapa alasan mengapa belum mencoba fitur PayLater, alasan hampir mayoritas responden adalah tidak ingin menambah hutang. Memiliki hutang dirasa sama saja menambah beban hidup, terlebih ketika hutang yang sudah jatuh tempo bernominal besar. Ketika tagihan tidak segera dilunasi ternyata ada sanksi yang diberikan oleh pihak PayLater, akan dikenai denda sebesar 5% perbulan dari seluruh total tagihan.

    Tagihan akan diberitahukan seminggu sebelum tanggal jatuh tempo, pada saat tanggal jatuh tempo namun konsumen belum membayar maka debt collector PayLater akan melakukan seluruh prosedur penagihan yang sudah ada diketentuan perusahaan. Jika konsumen tidak kunjung melakukan transaksi pelunasan maka debt collector akan mendatangi alamat rumah yang tertera dalam akun. Fitur yang digunakan kebanyakan masyarakat Indonesia adalah shopee PayLater, shopee PayLater ini banyak peminatnya dikarenakan memang sebuah fitur yang legal. Di awasi oleh badan OJK (Otoritas Jasa Keuangan), sehingga segala bentuk transaksi yang dilakukan dengan shopee PayLater dijamin aman.

    Walaupun sudah dijamin aman tentu saja PayLater memiliki bahaya jika tidak diperperhitungkan dengan baik. Bahaya tersebut dapat berdampak pada layanan kredit di kehidupan yang akan datang. Jika konsumen tidak membayar tepat waktu maka tagihan itu akan membekas pada catatan reputasi konsumen itu sendiri, dampaknya akan sangat beresiko ditolak ketika melakukan pengajuan kredit atau pimjaman lain yang diperkirakan akan lebih penting untuk kehidupan, misalnya akan melakukan sebuah pengajuan kredit properti atau kendaraan.

    Kredit properti dan kendaraan dirasa lebih membantu meringankan beban kehidupan dari pada menggunakan kredit PayLater hanya untuk memiliki kehidupan yang hedon. Hedonisme tentu memiliki dampak yang kurang baik, salah satunya ialah membuat pengeluaran keuangan seseorang menjadi tidak teratur. Manajemen keuangan yang tidak baik menjadikan uang yang dimiliki terasa cepat habis. Sikap konsumtif dan hedonisme membuat seseorang menghalalkan segala cara supaya mendapatkan hal yang di inginkan, menghalalkan segala cara tersebut cenderung menggiring seseorang ke tindak kejahatan. Setiap fitur selalu memiliki kekurangan dan kelebihan, tergantung masyarakat menyikapi perkembangan kemajuan teknologi tersebut bagaimana.

    Kemajuan dan teknologi ini sangat bermafaat bagi kehidupan, jika di kulik dari sisi sejarahnya, fitur ini sebetulnya merupakan bagian dari kebaruan jasa keuangan dari puluhan tahun yang lalu. Perkembangan teknologi yang dapat menciptakan fitur dengan mendorong perusahaan belanja online untuk selalu memperbarui pelayanan yang ada. Supaya segala kebutuhan terpenuhi, e-commerce membentuk layanan kredit sehingga masyarakat dapat membeli berbagai produk yang dibutuhkan tanpa melihat kondisi keuangan mereka.

    Perkembangan ini alangkah baiknya disikapi dengan bijaksana, karena layanan ini membuat seseorang ketagihan untuk melakukan hutang yang berawal dengan nominal kecil lama-lama akan mencoba dengan nominal lebih besar. Ketika telah menjadi besar, kita sendiri akan kewalahan untuk menyetorkan tagihan yang sudah jatuh tempo.

    Ikuti tulisan menarik Dwi Komariah Putri Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.