x

Iklan

G. Yadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Desember 2022

Senin, 5 Desember 2022 19:00 WIB

Strategi Menaklukkan Tantangan Awal Kuliah di Belanda


Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Minat untuk kuliah di Belanda bagi calon mahasiswa Indonesia relatif cukup tinggi. Animo tersebut dibangkitkan oleh beberapa faktor antara lain kedekatan hubungan historis, kultural dan emosional Indonesia-Belanda, negerinya kecil sehingga mudah ke mana-mana, infrastruktur transportasi sangat terkoneksi dan teratur, semakin banyak program studi yang berbahasa Inggris, peluang ekstensi izin tinggal untuk mencari kerja setelah studi usai (zoekjaar), serta perguruan tingginya berkualitas. Sebagian besar universitas riset Belanda menempati peringkat 100 besar universitas terbaik dunia baik menurut Times Higher Education Ranking, Shanghai Jiao Tong University Ranking, TopUniversities Ranking, ataupun  U.S. News & World Report Ranking.

Meskipun demikian, menurut Statista (2022) Belanda hanya menempati urutan kedelapan sebagai destinasi mahasiswa Indonesia studi di luar negeri. Sedangkan secara agregat menurut UNESCO (2022) mahasiswa Indonesia di luar negeri mencapai 53.604 orang. Merujuk pada data UNESCO dan Statista tersebut maka hanya 2,6% mahasiswa Indonesia yang studi di Belanda (Statista) atau 2,8% menurut data KBRI Den Haag. Meskipun secara global jumlahnya kecil, tetapi Belanda menempati peringkat ketiga destinasi utama kuliah bagi mahasiswa Indonesia di Eropa. Hal itu disebabkan biaya kuliah yang relatif lebih mahal dibandingkan di Jerman, atau alokasi program beasiswa penuh dari penyandang beasiswa, lembaga, industri atau kampus cenderung lebih sedikit dibandingkan di Inggris. Keunggulan lain Inggris ialah kelesaan memilih program studi berbahasa Inggris.

Destinasi Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri (Statista, 2022)

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Di manapun berkuliah, baik di dalam maupun di luar negeri, tujuan antaranya adalah untuk mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan kreatif, inovatif bahkan disruptif sehingga memiliki kemampuan dan kompetensi prima untuk berkarya, berkreasi serta berkembang pada instansi, lembaga, industri atau usaha mandiri. Intinya ialah untuk dapat mencapai tahap berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi dan kehidupan sebagai anggota masyarakat dengan berbagai skalanya. Karenanya, kesuksesan dalam menyelesaikan kuliah dalam tempo yang proporsional dan merit yang tinggi sangatlah penting.

Keberhasilan tadi tergantung pada banyak faktor. Salah satu variabel utamanya ialah kemampuan untuk mengatasi berbagai hambatan dan permasalahan saat memulai dan menempuh pendidikan. Untuk menjaga optimisme bersama, mari kita maknai hal-hal yang problematis itu sebagai tantangan.

Sumber Informasi Terpercaya

Tantangan pertama untuk kuliah ke perguruan tinggi di Belanda ialah mencari informasi yang relevan dari sumber yang handal tentang program studi dan perguruan tinggi di Belanda. Sumber informasi yang direkomendasikan adalah Study in NL yang digagas Nuffic—organisasi independen yang berperan mengembangkan kerjasama internasional pendidikan tinggi dan riset Belanda—dan dikelola NESO Indonesia di Jakarta. Disamping itu, jika sudah terbetik keinginan untuk kuliah di Belanda, maka segeralah mencari informasi yang lengkap sehingga keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan informasi dan data. Setelah tekad bulat sigaplah menyiapkan dan melengkapi persyaratan mengingat setiap tahapan memerlukan upaya dan waktu.

Pengakuan Ijazah SMA

Persyaratan kemampuan berbahasa Inggris sudah lazim untuk studi ke negara mana pun seperti TOEFL atau IELTS dengan skor tertentu sehingga tantangannya tidak bersifat spesifik seperti—khusus bagi yang ingin mengambil program sarjana—rekognisi tingkat ijazah SMA dari Indonesia. Menurut Nuffic, ijazah SMA setara dengan ijazah tamatan havo (hoger algemeen voortgezet onderwijs) di Belanda. Havo merupakan program sekolah menengah umum—SMP gabung SMA—selama lima tahun. Menurut aturan umum, pemegang ijazahnya dapat kuliah pada program studi sarjana di hogeschool atau universitas sains terapan yang di Indonesia mungkin lebih dikenal dengan politeknik; bukan ke program sarjana di universitas riset.

Normalnya, untuk mengambil program studi sarjana di universitas riset, calon mahasiswa menggunakan ijazah vwo (voorbereidend wetenschappelijk onderwijs) yaitu sekolah menengah persiapan ke universitas yang masa pendidikannya enam tahun. Akan tetapi dalam kasus tertentu universitas riset memiliki privilese dalam—terkadang dengan syarat atau kualifikasi tambahan—penerimaan calon mahasiswa dengan ijazah SMA sebagaimana yang diatur dalam Wet op het Hoger onderwijs en Wetenschappelijk Onderzoek, 1992, pasal 7.29 (‘colloquium doctum’ - diploma beneden vwo niveau).

Sedangkan untuk melanjutkan ke program magister dan doktor, ijazah sarjana dan magister dari universitas di Indonesia biasanya diterima tanpa kendala oleh universitas riset di Belanda.

Universitas Riset atau Universitas Sains Terapan?

Masih dalam konteks kuliah jenjang sarjana, perlu menentukan mengambil program sarjana pada universitas riset atau universitas sains terapan. Universitas riset biasanya menyiapkan lulusannya berorientasi akademis, riset, muatannya lebih teoritis dan konseptual; sedangkan universitas sains terapan berorientasi pada tenaga profesional siap pakai. Beban kreditnya pun berbeda. Yang pertama biasanya 180 ECTS* disusun untuk tiga tahun kuliah program sarjana; yang kedua biasanya 240 ECTS dengan masa kuliah empat tahun. Pola perkuliahannya juga agak berlainan. Di universitas riset lebih banyak belajar dan menyelesaikan tugas kuliah secara mandiri karena sasarannya melahirkan peneliti yang independen, porsi menyimak kuliah dari dosen atau profesor di kelas relatif lebih sedikit. Sedangkan pada universitas sains terapan, peran dosen mirip dengan fungsi guru di sekolah menengah dimana lebih banyak pendampingan dan mahasiswa berkelompok mengerjakan proyek-proyek riil dari dunia bisnis, industri dan dunia profesional lainnya, serta lebih banyak praktek.

Pilihan tergantung pada passion dan rencana ke depan. Di Belanda, gelar sarjana di universitas riset dan universitas sains terapan setara. Sepertinya Kemdikbud RI juga memberikan rekognisi demikian. Hanya saja untuk melanjutkan ke jenjang magister di universitas riset, sarjana lulusan universitas sains terapan biasanya disyaratkan mengikuti program pra-magister dua semester.

Beasiswa atau Biaya Mandiri?

Tantangan berikutnya setelah diterima kuliah di Belanda adalah aspek pembiayaan. Biaya kuliah di Belanda cenderung agak mahal bagi mahasiswa asing karena tidak mendapat subsidi dari pemerintah sebagaimana mahasiswa warga negara Belanda, Uni Eropa, European Economic Area dan Swiss, orang Indonesia yang lahir atau yang akan tinggal di Belanda secara permanen. SPP per tahun berkisar antara Rp 79 - Rp 245 juta untuk program sarjana, dan antara Rp 130 - Rp 326 juta untuk program magister. Angka tadi ditambah biaya hidup sekitar Rp 13 juta per bulan bagi mahasiswa singel. Karenanya, tidak banyak yang memilih opsi kuliah dengan biaya mandiri meskipun beberapa mengambil alternatif ini. Beberapa tahun silam untuk program sarjana hanya opsi terakhir ini yang tersedia karena langka sekali beasiswa yang tersedia bagi mahasiswa asing di Belanda.

Kabar gembiranya, kini pemerintah Indonesia telah menyediakan skema Beasiswa Indonesia Maju untuk program sarjana di perguruan tinggi di luar negeri. Di Belanda syaratnya diterima di empat universitas riset berikut: Technische Universiteit Delft, Universiteit van Amsterdam, Universiteit Utrecht dan Wageningen University & Research. Agar bisa mengikuti skema BIM ini, maka fokus untuk diterima tanpa syarat pada program studi sarjana di 4 universitas riset Belanda tersebut.

Untuk program magister dan doktor tersedia cukup banyak pilihan beasiswa baik dari pemerintah Indonesia dan Belanda atau langsung dari universitas. Tingkat kompetisi skema ini cukup ketat. Bahkan untuk program doktor tersedia skema—meskipun tidak banyak dan sifatnya sangat kompetitif—dimana kandidat doktor bekerja sebagai pegawai dan peneliti serta digaji universitas.

Pemondokan Mahasiswa

Sudah beberapa tahun terakhir, Belanda kekurangan pemondokan mahasiswa. Mahasiswa Belanda pun menghadapi persoalan ini apatah lagi oleh mahasiswa asing. Angka terakhir kekurangan kamar mencapai 26.500. Meskipun pemerintah Belanda berupaya menanggulangi misalnya akan menambah 16.500 kamar hingga 2025, tetapi korbannya sudah banyak. Di Groningen, Tilburg, Nijmegen ada mahasiswa asing yang sempat tinggal di tenda. Universiteit van Amsterdam dan Universiteit Utrecht bahkan sempat menyerukan agar mahasiswa asing yang sudah diterima untuk tidak datang ke Belanda sebelum mendapatkan kamar. Informasi yang kami dapatkan, kondisi kesulitan mendapat kamar di kalangan mahasiswa Indonesia ini terjadi di Utrecht dan Delft.

Diantara opsi penyelesaian mungkin dengan kesiapan mental untuk mencari kamar yang lokasinya agak pinggiran yang berpotensi menjauh dari kampus. Tantangan ini bisa diatasi dengan mengeluarkan biaya transportasi yang lebih besar karena mahasiswa asing biasanya tidak mendapat subsidi transportasi umum dari pemerintah Belanda atau bersepeda. Sekedar masukan kepada LPDP atau sponsor beasiswa bagi mahasiswa Indonesia kiranya perlu mempertimbangkan tunjangan tambahan transportasi umum ini bagi para awardee-nya yang kuliah di Belanda.

Solusi jangka menengah dan panjang, tampaknya perlu perhatian juga para angel investors untuk menjajaki kemungkinan berinvestasi menyediakan rumah atau rusun yang berizin khusus untuk pemondokan bagi mahasiswa Indonesia dan asing di kota-kota yang tinggi tingkat kebutuhannya. Siapa tahu upaya ini bisa mengubah tantangan manjadi peluang.

* 1 ECTS setara 0,6 SKS, atau 1 SKS setara 1,75 ECTS

Ikuti tulisan menarik G. Yadi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler