Mesin Potong Rumput - Fiksi - www.indonesiana.id
x

SUmber ilustrasi: popularmechanics.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 23 Desember 2022 06:50 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Mesin Potong Rumput

    Aku sadar sepenuhnya bahwa rumput semakin tinggi di sudut belakang halaman, bahkan terlihat mulai berbiji. Tidak terlalu buruk di halaman depan, tapi cukup lusuh sehingga tetangga mengeluh selama seminggu terakhir. Dalam sebulan aku belum menyiang atau menyiram, tetapi kami mengalami beberapa badai musim kemarau yang bagus, cukup untuk menjaga agar rumput tetap tumbuh. Sekarang sudah cukup tebal sehingga aku tahu itu akan merepotkan untuk dipotong.

    Dibaca : 710 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Aku sadar sepenuhnya bahwa rumput semakin tinggi di sudut belakang halaman, bahkan terlihat mulai berbiji. Tidak terlalu buruk di halaman depan, tapi cukup lusuh sehingga tetangga mengeluh selama seminggu terakhir.

    Dalam sebulan aku belum menyiang atau menyiram, tetapi kami mengalami beberapa badai musim kemarau yang bagus, cukup untuk menjaga agar rumput tetap tumbuh. Sekarang sudah cukup tebal sehingga aku tahu itu akan merepotkan untuk dipotong.

    Aku memotong dua atau tiga kali, dan kemudian mengemas semua rumput itu dan membuangnya ke tong sampah di gang, dan itu harus selesai dalam suhu tiga puluh tiga derajat celsius atau lebih panas dengan kelembapan delapan puluh persen, karena itulah yang terbaik yang bisa kita dapatkan di sini sepanjang tahun ini, bahkan di pagi hari.

    Terlepas dari semua itu, sebenarnya tidak masalah buatku. Aku tidak takut bekerja kasar, tidak keberatan sedikit berkeringat. Dan aku berharap untuk melihat halamanku terbentang rapi dan mulus di samping semua halaman rumput tetangga lainnya di sepanjang jalan. Sungguh.

    Senang rasanya bisa menonjol di tepi jalan dan bertukar gosip lingkungan lagi, mendapatkan pujian atas lansekapku, alih-alih bersembunyi di dalam rumah dengan tirai tertutup. Hanya ada satu hal yang menghentikanku untuk mendapatkan kembali kendali atas hutan belantara berbulu yang saat ini mengepung rumah, menampung kucing liar dan entah binatang lainnya. Hanya satu hal yang menghentikanku, dan itu adalah mesin pemotong rumput.

    Benda terkutuk itu menolak untuk bekerja.

    Akutahu, aku tahu. Kedengarannya seperti alasan yang payah. Namun percayalah, aku telah mencoba segalanya untuk membuatnya hidup.

    Aku yakin telah menarik tali itu ribuan kali selama beberapa akhir pekan terakhir. Mesin akan terbatuk-batuk  dan seperti akan lepas landas, lalu mati begitu saja.

    Aku sudah memeriksa bahan bakar, mengganti busi, mengganti oli dan filter udara. Tidak ada yang membantu.

    Kita bukan berbicara tentang roket yang akan membawa umat manusia ke planet Mars. Ini adalah mesin dua tak sederhana, tidak ada yang rumit tentangnya.

    Aku sudah membongkar dan memasang kembali lusinan mesin seperti ketika aku masih kecil memperbaiki go-cart. Sungguh tidak masuk akal.

    Mesin itu bekerja dengan baik beberapa minggu yang lalu, mendengkur halus seperti anak kucing, memotong rumput seperti agar-agar. Tapi sekarang hanya mengeluarkan beberapa kepulan asap biru lalu menyerah.

    Membuatku senewen. Sahabatku di kantor mengatakan saatnya aku harus menyerah, buang saja ke pasar loak dan kemudian beli yang baru.

    Aku tidak tahu apa yang salah dengan itu. Ini mesin pemotong rumput yang sangat bagus, baru berumur tiga atau empat tahun. Aku memang membelinya di Ikea saat diobral, tetapi sebelumnya tidak pernah mengecewakanku, dan aku merawatnya dengan sangat baik. Mencucinya dari waktu ke waktu, menyimpannya di dalam garasi jauh dari cuaca.

    Sulit bagiku untuk menerima pengkhianatan tanpa penjelasan semacam ini. Kembali pada hari-hari sebelum hutan mengambil alih halaman belakang, aku biasa duduk di teras setiap malam musim kemarau, menyeruput minuman kaleng dingin dan menonton serangga melayang. Tetapi akhir-akhir ini aku membawa kaleng sodaku ke garasi, tempat aku duduk di atas kaleng cat dua puluh lima liter kosong terbalik dan menatap mesin pemotong rumput.

    Aku mencoba memikirkan semuanya, mencoba mencari tahu apa yang salah, mencoba memahami bagaimana ini bisa terjadi padaku. Tapi saat aku duduk dan berpikir, aku hampir bisa mendengar rerumputan tumbuh di luar, mengejekku.

    Aku meminum soda perlahan, mencoba menemukan petunjuk yang hilang. Jika aku berkonsentrasi cukup keras, aku yakin akan dapat menemukan jawabannya. Aku yakin dapat menghidupkan kembali mesin pemotong rumputku, dan rumput akan berguguran, dan akhirnya ketertiban dan keharmonisan akan dipulihkan ke alam semesta.

     

     

    Bandung, 22 Desember 2022

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.