Sejarah Singkat Amboina

Selasa, 10 Januari 2023 19:43 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Demikian tulisan-tulisan ini bermaksud menjadi postulat atau kajian terhadap sejarah Kota Ambon-Manise secara sederhana dan mendalam. Guna memberikan pengetahuan yang lebih baik atas masa lalu, masa kini dan masa depan. Sekaliduagus membuat kita memahami arah mana yang akan di tuju dengan lebih baik sebagai warga kota.

[A Short History of Amboina]

Sejarah kota-kota di di Indonesia punya relevansi langsung dengan Indonesia dan Belanda. Komposisi etnis pada populasi berubah akibat dekolonialisasi. Namun juga karena ada pengaruh dari orang-orang pedalaman. Ekspansi di daerah-daerah  pedesaan membuat kian banyak jumlah pribumi yang tinggal di kota. Hal ini yang meyebabkan orang-orang pribumi menjadi sangat terwakili dan meningkat dalam populasi kota karena mereka telah menjadi warga baru di sana.

Sejarah kota adalah elemen ruang dalam analisa dan perenungan kita akan perubahan atau transformasi masyarakat dari masa ke masa. Kota menjadi tempat persinggahan dan tujuan dalam aspek pembentukan dan pertukaran pengetahuan, kebudayaan dan perdagangan. Kota memiliki sejarah dan proses pembentukan yang dapat dilacak dan dianalisa secara jelas.

Setiap bangsa pasti akan memiliki prespektifnya masing-masing untuk membangun sebuah narasi historiografis. Sejarah sebagai narasi, selalu merupakan perwujudan dari subjektivitas yang memanfaatka fakta dari masa lalu, keberadaan masa kini, dan keinginan masa depan.

Tulisan ini saya tujukan untuk membahas lagi lebih lanjut mengenai sejarah kota. Hal ini tidak terlepas dari adanya kenyataan yang menarik dari berbagai aspek history, story, mistery dan dinamika perubahan yang menyertai terbentuknya kota.

Kuntowijowo (1994) dalam buku Metodologi Sejarah mengungkapkan apa yang dimaksud dengan sejarah kota. Dengan sensitifnya yang khas akan fenomena sosial dan peranan ilmu sosial dalam penulisan sejarah, Kuntowijoyo menekankan pada lima bidang garapan sejarah kota yakni ;  ekologi kota, transformasi sosial-ekonomi, sistem sosial, problema sosial, dan mobilitas sosial.

Secara jitu Kuntowijoyo menunjuk pada aspek sosial dari transformasi kota sentral dalam penulisan sejarah kota. dengan melihat aspek sosial ini, kita dapat lebih mudah memahami bahwa kota bukanlah sebuah entitas alamiah (yang terjadi tanpa intervensi manusia) melainkan sebuah entitas sosial (yang sarat dinamika lembaga maupun relasi sosial).

Pertumbuhan dan perkembangan kota juga bisa dilihat dari bentuk fisik kota maupun keadaan serta kondisi masyarakat di dalamnya. Aspek sejarah perkembangan kota, unsur manusia atau masyarakat sebenarnya menduduki peranan penting dalam mendorong kemajuan dan kemunduran kota. ukuran demikian memang tidak dapat hanya dilihat dari satu aspek saja melainkan harus dari banyak variabel.

Akan tetapi saya mencoba secara sederhana menunjukan kemajuan dan kemunduran kota bisa diketahui dari tingkat kualitas dan harapan hidup dari masyarakat kota itu sendiri. Lalu apakah Kota Ambon sudah memenuhi ketentuan standar diatas? Mari kita analisa secara bersama.

Demikian tulisan-tulisan ini bermaksud menjadi postulat atau kajian terhadap sejarah Kota Ambon-Manise secara sederhana dan mendalam. Guna memberikan pengetahuan yang lebih baik atas masa lalu, masa kini dan masa depan. Sekaliduagus membuat kita memahami arah mana yang akan di tuju dengan lebih baik sebagai warga kota.

 

Kota Manise sebagai sejarah Kota

Ambon memiliki sejarah yang begitu panjang untuk menjadi sejarah kota, banyak peristiwa sejarah yang terjadi di kota ini mulai dari penjelajah bangsa eropa terhadap pencarian Spice Island sampai konflik Agama di tahun 1999, mewarnai kota Ambon sebagai sejarah Kota. perdagangan, perkawinan, penjajahan dan konflik Horizontal menghiasi peristiwa yang telah terjadi di kota ini. Peleburan budaya dari waktu ke waktu tak dapat terhindarkan, olehnya itu saya dengan berani menerjemahkan kota ini sebagai Kosmopolitan, keterbukaan dan keramahan terhadap budaya asing menjadi karakter orisinil warga kota Amboina.

Sejak Abad 16 hingga empat abad setelahnya Maluku secara langsung terlibat dalam ajang pergumulan orang-orang eropa. Ambon dan Banda menjadi pusat kegiatan para pendatang ini, Berawal dari penemuan jalur menuju Spice Island oleh bangsa portugis. Menurut Horace St. Jhon orang-orang portugis datang ke daerah ini adalah korban kapal karam di Maluku,  António de Abreu beserta awak kapalnya, mereka diselamatkan oleh nelayan dan dibawa ke Ambon. “Mereka di terima oleh penduduk setempat yang bersahabat dengan keramah-tamahan khas suku Maluku.”

Soal pelayaran ini dan respond positif terhadap de Abreu bukanlah suatu yang sepele karena hal tersebut membantu membentuk pola kebiasaan pada sejumlah besar kunjungan berikutnya, kesan baik  yang ditujukan penduduk local didukung dengan keindahan alam yang dimiliki daerah ini, Tambah St. Jhon “Membuka mata orang-orang Eropa terhadap kisah yang telah lama mereka dengar melalui kabar angin, romansa dan cerita-cerita dari pengelana Arab. Bahwa daerah dengan aroma harum rempah dan pemandangan yang memikat dengan berbagai macam keindahannya sungguh membuat mereka terpukau, Asalkan mereka mau berlayar dengan santai mengarungi selat berkelok-kelok dan melewetai monster-monster laut yang memisahkan kepulauan mereka.” 

Sedangkan dalam Buku Suma Orietal , Menurut Tome Pires “Para pelaut dari barat daya Eropa ini merapatkan kapalnya pada tahun 1512, setelah setahun sebelumnya memastikan penguasaan Malaka. Para penjelajah portugis tiba di bawah pimpinan Fransisco Serrao, salah satu kapten kapal dalam ekspedisi António de Abreu. Dia sebagai orang eropa pertama yang menginjakan kaki pertama di Maluku.”

* * *

 

Awal-mula Kota Ambon

Ambon adalah kota yang juga menjadi ibukota Provinsi Maluku sampai saat ini. Cikal bakal kota ini dimulai setelah para penjelajah Portugis datang ke Kepulauan Maluku pada 1512.  Sejak saat itu, muncul perkampungan yang lambat laun berkembang dan menjadi sebuah kota. 
Asal-usul nama Ambon sebenarnya cukup sulit untuk bisa dipastikan. Tetapi menurut keterangan penduduk lokal, nama Ambon muncul dari kata ombong yang merupakan bentukan lokal dari kata embun. Pasalnya, puncak-puncak gunung di Pulau Ambon kerap tertutup oleh embun yang tebal. Meski saat ini istilah Ambon merujuk pada Kota Ambon, Pulau Ambon, atau suku Ambon. 

Sejarah Kota Ambon Era penjajahan Portugis. Sejarah Kota Ambon dimulai saat kedatangan Portugis pada 1512. Mereka lantas membangun benteng di wilayah tersebut sebagai tempat beraktivitas dalam perdagangan dan penyebaran agama. Sebagai penduduk Eropa pertama yang datang, bangsa Portugis mengerahkan penduduknya untuk membangun benteng yang disebut Benteng Kota Laha atau Ferangi di Dataran Honipopu. Benteng ini mulai dibangun pada 1575. Dalam proses pembangunannya, masyarakat pekerja Portugis juga mendirikan perkampungan yang disebut soa, yakni kesatuan kekerabatan dari beberapa keluarga. Di antaranya soa Keling, Ema, Soya, Hutumuri, Halong, Hative, Selale, Urimessing, dan Batu Merah.  Kelompok masyarakat inilah yang menjadi cikal bakal Kota Ambon dan pada tahun 1575 ditetapkan sebagai tahun lahirnya Kota Ambon.

 

* * *

Pada Awal Abad 17, Seratus tahun setelah awal kedatangan dan penguasaan bangsa portugis selama satu Abad. Belanda berhasil mengambil alih kekuasaan atas perdagangan rempah dan mendominasi politik di daerah Maluku. Awalnya Belanda mereka merebut Ambon (Amboina) dimana Portugis banyak mendirikan benteng. Pada 1605, Benteng-benteng utara milik portugis jatuh  ke tangan Belanda. Dan pada 1609 Banda mengalami nasib serupa.

Belanda berhasil mengusir Spanyol dan memukul mundur Portugis ke daerah koloni mereka yaitu sunda kecil. Solor, Flores  dan Timoer. Belanda menguasai Ambon dengan dibantu oleh pasukan dari Ternate, Luhu, Hitu, Jawa, dan Gowa.  Setelah berhasil mengusir Portugis, kekuasaan atas Ambon dikendalikan sepenuhnya oleh Belanda, yang kemudian Belanda menerapkan berbagai kebijakan yang menyengsarakan rakyat.

Pada masa VOC berkuasa di Ambon, sempat terjadi beberapa kali pergantian gubernur. Salah satunya Adrian Martensz Block, gubernur otoriter yang menerapkan kerja paksa perluasan Benteng Victoria.  Selain itu, ada juga Gubernur Herman van Speult yang menyiksa rakyat dengan perubahan monopoli perdagangan rempah-rempahnya. Membuat rakyat Maluku semakin menutup hatinya untuk berhubungan dengan para Kompeni. Rakyat semakin yakin bahwa orang-orang ini tidak lebih baik dari bangsa Portugis dan Spanyol. Akibat dari pengusiran Portugis dan Spanyol oleh Belanda, membuat rakyat Maluku harus menuruti segala permintaan Belanda, termasuk melarang rakyat Maluku menjual rempah-rempah kepada bangsa lain. Semua perdagangan rempah diatur dengan menempatkan Belanda sebagai prioritas.  Namun rupanya ketenangan dalam proses monopoli ini tidak begitu saja didapat. Meski belanda telah menguasai Ambon, Belanda kembali dipusingkan dengan keberadaan orang-orang Inggris. Pasukan Raja James itu telah menempati perairan Maluku sejak 1605.  Tetapi mereka tidak ikut serta dalam konflik Portugis-Spanyol. Melainkan Inggris sibuk membangun wilayah koloninya, seperti terlihat di pulau Run.

 

* * *

Kekejaman Belanda bukan hanya terjadi pada rakyat Maluku saja melainkan sistem ini berlaku bagi kepada setiap orang yang bermukim di Maluku, dan pada tahun 1623 terjadi peristiwa yang dikenal dengan “Pembantaian Amboina” kala itu 10 pedagang inggris dan 10 pedagang jepang ditangkap, diadili dan dihukum pancung di Ambon atas tuduhan konspirasi politik melawan Belanda. Peristiwa ini menjadi catatan emosional bagi pihak inggris selama masa persaingan mereka dengan belanda di Hindia hingga 200 tahun kemudian.

Namun di  Tahun 1667. Belanda dan Inggris meredam persaingannya selama beberapa tahun-tahun di Hindia dengan membuat perjanjian, yang dikenal sebagai Traktat Breda atau Perjanjian Breda yang ditandatangani pada 31 Juli 1667, surat perjanjian dikirim ke masing-masing negara yang terlibat untuk diratifikasi. Proses ratifikasi baru selesai pada 24 Agustus 1667 dan diikuti dengan perayaan publik di Breda. Dengan bertukar New Netherland dan Pulau Run, Perjanjian Breda dapat menghapus dua permasalahan utama yang sejak lama tidak dapat diatasi Inggris dan Belanda. Selain itu, Perjanjian Breda menjadi titik di mana Inggris dan Belanda mulai memandang Perancis sebagai ancaman yang lebih besar daripada satu sama lain.

Penguasaan Belanda selama bertahun-tahun dan memegang monopoli kuat atas perdagangan rempah di Maluku. Belanda sangat berhati-hati terhadap kemungkinan respond terhadap bangsa lain. Catatan ini bisa di lihat dalam catatan perjalanan yang di tulis Banks, Luis de Bouganville dan Forrest. Namun pada tahun 1770 monopoli Belanda tumbang, ketika seorang berkebangsaan Prancis Pierre Poivre berhasil menyeludupkan tanaman rempah dari kepulauan Halmahera ke daerah koloni Prancis di Isle de France (Mauritius), tempat tanaman rempah berhasil di budidayakan.

 

* * *

Gempa bumi pernah mengguncang Ambon dan sekitarnya malam tanggal 17 Februari 1674. Gempa disusul tsunami dari Laut Banda yang dicatat oleh Georg Eberhard Rumpf (Rumphius) (1627-1702) seorang ilmuwan Eropa yang pernah tinggal di Ambon. Gempa dan tsunami berdampak pada kerusakan rumah warga dan menelan korban jiwa yang dperkirakan mencapai 2.500 orang meninggal dunia.

 

Gempa yang terjadi pada antara pukul 19.30–20.00 waktu setempat bertepatan dengan suasana perayaan Tahun Baru Cina yang berlangsung cukup meriah di sekitar pasar. Guncangan yang sangat keras melanda seluruh Pulau Ambon dan pulau-pulau di sekitarnya, mengakibatkan 86 orang meninggal dunia tertimpa runtuhan bangunan dan rumah-rumah yang terbuat dari batu mengalami banyak retakan sehingga tidak bisa digunakan lagi.

 

Segera sesudah terjadi gempa bumi gelombang pasang terjadi di seluruh pesisir Pulau Ambon. Pesisir Utara di Semenanjung Hitu menderita kerusakan yang paling parah, terutama di daerah Ceyt di antara Negeri Lima dan Hila. Di daerah ini air naik setinggi 40–50 toises atau sekitar 70–90 meter. Rumphius menjadi salah satu saksi bencana besar yang melanda Ambon masa itu. Korban gempa dan tsunami tercatat diperkirakan mencapai lebih dari 2.500 jiwa, termasuk istri dan anak Rumphius. Catatan sang ilmuwan ini merupakan sebagian dari catatan sejarah gempa dan tsunami terkait bencana rapid onset yang pernah terjadi dan paling mematikan di Maluku serta sekitarnya.

 

 

* * *

Di tahun 1796, terjadi keributan di Ambon. Penduduk dikagetkan dengan kehadiran kapal-kapal berbendera Inggris di sekitar pelabuhan. Rakyat bertanya-tanya tentang situasi yang terjadi.  Bendera Belanda yang tadinya berkibar di benteng Victoria sudah berganti menjadi Union Jack milik Inggris. Ratusan tentara bersenjata lengkap ada di seluruh penjuru Kota. Rupanya, sudah terjadi pergantian kekuasaan antara Belanda dan Inggris atas wilayah Maluku. Perang yang berkecamuk di Eropa antara Inggris dan Prancis memaksa kerajaan Belanda menyerahkan seluruh jajahannya di Afrika dan Asia kepada Inggris. Sejak saat itu, sedikit demi sedikit Inggris mulai membangun pemerintahannya di Maluku. Tanggal 17 Februari 1796, VOC menyatakan menyerah kepada Laksamana Britania Raya Pieter Ramier, sehingga Ambon menjadi bagian dari wilayah Britania Raya. 

Hal ini menyeabkan terjadinya kepanikan baru yang melanda rakyat Maluku. Mereka khawatir tentang nasib dibawah penjajah baru ini. Tindakan nekat akhirnya menjadi pilihan, sejumlah orang mencoba menyerang benteng pertahanan Inggris. Namun pada akhirnya perlawanan tersebut dapat di halau. Sebagai konsekuensi hukuman pada rakyat diterapkan dengan cara yang berbeda. Beberapa peraturan perdagangan yang sebelumnya sangat memberatkan mulai diperlunak. Kerja rodi tetap di pertahankan namun diperingan. Rakyat juga diberi kebebasan dalam berbagai aktifitas. Bahkan Inggris melibatkan penduduk dalam sistem militer mereka dan membentuk kesatuan khusus untuk rakyat.

“Harapan baru akan hidup yang lebih baik timbul kembali. Kebun-kebun cengkeh dan pala memberi harapan besar. Perniagaan menjadi ramai, namun jika Inggris mendapatkan penyeludupan maka Inggris akan bertindak keras juga.”  I.O Nanulaitta

Ketika Inggris (kembali) menjadi penguasa tunggal di Maluku, rakyat diatur dalam suasana kebebasan. Inggris belajar atas kesalahan mereka di masa lalu, juga melihat kebijakan Pemerintah Belanda sebelumnya yang berhasil menyulut reaksi rakyat untuk melawan. Dampak pemerintah baru Inggris di Maluku dinilai cukup baik oleh semua kalangan, rakyat tak merasa tertekan dari penguasa lama yang kembali tersebut. Hal ini dirasakan juga oleh Thomas Mattulesi dan teman-teman seperjuangan di Lease, kepulauan Maluku bagian tengah. Sesekali ia memanfaatkan kelonggaran peraturan Pemeritah Inggris itu untuk berlayar ke Ambon, untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya dari pusat Pemerintah Inggris di Ambon.

Ketika Inggris mengungumkan perekrutan pemuda-pemuda Maluku untuk menjadi bagian dari kesatuan militer mereka, Thomas Mattulesy dan teman-teman segera langsung mendaftar. Mereka sedikitpun tidak ragu menjadi bagian dari barisan asing tersebut. Alasan kuat yang membuat Mattulesy memilih bergabung adalah tugas tentara rakyat ini dibentuk untuk menjaga wilayah kekuasaan Inggris dari pihak luar, atau secara tidak langsung juga turut menjaga rakyat Maluku. Selain itu tidak seperti Belanda yang mengirim tentara rakyat ke Batavia, inggris menempatkan tentara rakyat di Ambon.

Ada syarat-syarat tertentu agara dapat lolos seleksi tentara rakyat. Dua diantaranya adalah tes kesehatan dan uji kemampuan fisik. Setelah seluruh proses selesai dilakukan terpilih 500 orang. Termaksuk Mattulesy, untuk bergabung dalam kesatuan militer Ambon. Mereka dibayar cukup tinggi dan bertempat tinggal di asrama militer di Ambon.

Tentara Inggris cukup baik melatih para perwira baru ini. Berbagai macam pelatihan menggunakan senjata api dipelajari selama berada di sana. Oleh karena perang yang masih terus berkecamuk antara Inggris dan Prancis dibantu Belanda, pemerintahan di Maluku selalu dalam kondisi siaga. Setelah dirasa siap, Mattulesy dan perwira lain disebar ke pulau-pulau di seluruh negeri. Selama pelatihan, Mattulesy menunjukkan keterampilan, kecakapan, dan kemampuan memimpin melebihi teman-temannya yang lain. Ia pun cepat mendapat promosi dan dipercaya menjadi pemimpin bagi angkatannya. Kurang lebih Mattulesi berkarir di militer Inggris selama tujuh tahun. Pangkat terakhir yang diterimanya adalah sersan mayor.

 

Namun pada 19 Agustus 1816, karir militer Mattulesi berakhir. Hasil peperangan di Eropa memaksa Inggris menyerahkan kembali Hindia ke tangan Belanda. Kali ini ada perjanjian internasional yang ditandatangani yaitu, Traktat London, sehingga Inggris tidak mungkin kembali lagi menguasai Indonesia. Pada 18 Maret 1817, kesatuan Ambon dikumpulkan oleh pimpinan militer Inggris. Mereka menjelaskan situasi yang sedang dihadapi kepada Mattulesy dan kawan-kawannya. Sampai tiba waktunya, mereka akan tetap berada pada kesatuan. Dan tugas terakhir yang harus dijalankan adalah menyambut rombongan orang-orang Belanda di Benteng Victoria. 

Dampak penyerahan kekuasaan itu juga dirasa oleh Mattulesy dan kesatuan Ambon. Pada 25 Maret 1817, bersamaan dengan diturunkannya Union Jack (bendera Inggris) di Batavia. Sebenarnya kesatuan Ambon pernah ditawarkan oleh Inggris kepada Belanda. Namun ditolak karena Belanda ingin membangun pasukan baru, yang dilatih oleh militer mereka. Akhirnya dibuatlah keputusan bahwa kesatuan Ambon akan dibebaskan, yang berarti nantinya mereka dapat menentukan sendiri kelanjutan karir militernya masing-masing. Dalam buku Sedjarah Perdjuangan Pattimura, M. Sapija menerangkan penyerahan kembali pemerintah Maluku ke tangan Belanda terjadi pada 21 April 1817. Dengan disaksikan langsung rakyat, proses penyerahan terjadi dalam upacara yang cukup sederhana. Di sana turut hadir J. Churcham sebagai wakil kerajaan Inggris, sementara Belanda diwakili oleh residen Martheze. Sebelum Inggris angkat kaki dari tanah Maluku, kesatuan Ambon dikumpulkan di pusat kota Ambon. Para pembesar militer Inggris mengadakan upacara pembebasan. 

 

Pada 15 Mei 1817, Kapitan Pattimura memimpin penyerangan ke benteng Belanda, Duurstede. Tanggal itu diperingati sebagai Hari Pattimura. Pattimura merupakan gelar yang disandang oleh Thomas Matulessia yang lahir pada 1783 di negeri Haria. Thomas adalah anak kedua dari pasangan Frans Matulessia dan Fransina Silahoi. Kakak Thomas adalah Johannis.

Pengankatan Thomas Mattulesy sebagai panglima perang dan bergelar Pattimura di tetapkan dalam proklamasi Haria pada 29 Mei 1817. Proklamasi ini berisi 14 keberatan atas kekejaman Belanda sehingga rakyat mengangkat senjata. Proklamasi yang ditandatangani oleh 21 Raja ini juga menjadi dasar hukum bagi perang melawan Belanda. Namun perlawanan Pattimura berakhir pada 16 Desember 1817.

Tanggal 16 Desember 1817, tibalah hari eksekusi. Pagi-pagi sekali, empat orang pemimpin itu tekah diperintahkan untuk bersiap. Tidak terlihat raut kecemasan di wajah Matutulesi (Pattimura) dan kawan-kawan seperjuangannya yaitu, Kapitan Anthone Rhebok, Letnan Philip Latumahina, dan Said Perintah (Raja Siri Sori Islam). di lapangan depan benteng Victoria, tiang gantung tela disiapkan. Para algojo pun telah berdiri di sampingnya, menunggu korbannya tiba. Sejumlah besar tentara dipersiapkan, baik disekitar lapangan eksekusi maupun pantai untuk menghalau segala bentrokan yang mungkin terjadi. Masyarakat Ambon-pun telah berkumpul , untuk melihat proses hukuman yang di jalani Pattimuara dan kawan-kawan. Sekitar pukul 7 pagi petugas membacakan putusan dewan hakim di depan seuruh orang yang hadir. Akhirnya Pattimura (Thomas Mattulesy), Kapitan Anthone Rhebok, Letnan Philip Latumahina, dan Said Perintah dihukum gantung secara bertahap di luar benteng Victoria, Ambon.

 

* * *

Pada7 September 1921, masyarakat Kota Ambon diberi hak yang sama dengan Pemerintah Kolonial. Kekalahan politis bangsa penjajah ini menjadi momentum warga Kota Ambon memainkan peranannya di dalam pemerintahan. Karena itu, tanggal 7 September ditetapkan sebagai hari jadi Kota Ambon. tentara Jepang datang ke Indonesia melalui Kota  Ambon. Mereka lantas menjadikan Ambon sebagai pangkalan militer udara utama.  Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, warga Ambon juga mengalami kemiskinan dan kelaparan akibat dampak dari perang. Dengan memperhatikan keinginan rakyat dan perkembangan politik di daerah.

Pertempuran Ambon adalah pertempuran yang terjadi di pulau Ambon yang saat itu merupakan koloni Hindia Belanda pada tanggal 30 Januari - 3 Februari 1942 selama Perang Dunia II. Invasi Jepang dilawan oleh pasukan KNIL dan Australia. Sebuah pertempuran yang kacau dan berdarah, diikuti aksi-aksi kejahatan perang Jepang.

Pada tahun 1941, ketika Sekutu memperhitungkan kemungkinan pecahnya perang dengan JepangAmbon merupakan lokasi yang dianggap strategis, karena potensial menjadi pangkalan udara utama. Pemerintah dan petinggi-petinggi militer Australia melihat bahwa Ambon bisa digunakan sebagai basis penyerbuan ke Australia Utara dan mereka pun memutuskan untuk memperkuat pasukan KNIL yang mempertahankan pulau tersebut. Pada 14 Desember 1941, sebuah konvoi kapal laut yang terdiri dari kapal pengawal HMAS Adelaide dan HMAS Ballarat dengan kapal Belanda Both, Valentijn, dan Patras mengangkut 1.000 1,090 tentara "Gull Force" meninggalkan Darwin dan tiba di Ambon pada 17 Desember. Ketika Perang Pasifik pecah pada 8 Desember 1941, Kota Ambon dijaga oleh 2800 tentara infantri Molukken Brigade dari KNIL, dipimpin oleh Overstee Joseph Kapitz dan terdiri dari tentara kolonial Hindia Belanda, dipimpin perwira Eropa. Garnisun ini berperlengkapan minim dan kurang terlatih, sebagian karena negara induknya, Belanda sudah kalah dan diduduki oleh Nazi Jerman.

Angkatan Darat Australia menempatkan 1100 tentara Gull Force, dipimpin oleh Lt. Col. Leonard Roach, yang tiba pada 17 Desember 1941. Pasukan ini terdiri dari Batalion ke-2/21 dari Divisi 8 Royal Australian Army, dengan dukungan artileri dan unit-unit pendukung lainnya. Kapitz ditunjuk sebagai komandan Sekutu di Ambon. Roach sudah mengunjungi pulau ini sebelum pasukannya tiba dan meminta tambahan artileri dan senapan mesin dari Australia.

Pada 6 Januari 1942, setelah koloni-koloni Belanda dan Inggris di utara jatuh ke tangan Jepang, Ambon menjadi sasaran penyerangan pesawat-pesawat tempur Jepang. Roach mengeluh tentang lambatnya respons atas saran-sarannya, dan justru malah ia digantikan oleh Lt. Col. John Scott pada 14 Januari 1942.

Markas besar Kapitz terletak di pangkalan angkatan laut Halong, di antara Paso dan kota Ambon. Di situ terdapat 4 mobil lapis baja, 1 detasemen senapan anti pesawat udara dan 4 meriam anti pesawat (AA gun) 40mm. Percaya bahwa daratan di pantai selatan Laitimor terlalu tidak bersahabat untuk pendaratan pasukan dan bahwa serangan apapun akan datang dari timur, di sekitar Teluk Baguala, pasukan KNIL terkonsentrasi di Paso, dekat tanah genting, di bawah komando Mayoor H.L. Tieland. Ada beberapa detasemen kecil KNIL di lokasi-lokasi yang potensial untuk pendaratan di utara Hitu.

kompi dari Batalyon 2/21 dan 300 tentara KNIL berada di lapangan terbang Laha, di bawah komando Mayor Mark Newbury. Mereka diperkuat dengan artileri KNIL: 4 artileri medan 75mm, 4 senapan anti tank 37mm, 4 AA gun 75mm, 4 AA gun 40mm, 1 peleton senapan anti pesawat dan 1 baterai artileri. Akan tetapi, Lt Col. Scott, Markas Gull Force dan sebagian besar tentara Australia terkonsentrasi di bagian barat Semenanjung Laitimor Peninsula, untuk menangkal serangan dari Teluk Ambon. Kompi "A" dari Batalyon 2/21 dan 1 kompi KNIL ditempatkan di Eri, di bagian barat daya teluk. Peleton perintis dari Batalyon 2/21 berposisi di plateau di sekitar Gunung Nona (titik tertinggi di Laitimor), dengan 1 detasemen AA gun KNIL. Detasemen-detasemen Australia yang lebih kecil ditempatkan di: Latuhalat, dekat ujung barat daya Laitimor dan di Tanjung Batuanjut, di utara Eri. Markas Gull Force dan pasukan cadangan strategis, Kompi "D", ditempatkan di jalur dari plateau Nona ke pantai Amahusu, antara Eri dan kota Ambon.

Sekutu memiliki beberapa pesawat. Dinas Udara KNIL (ML-KNIL) menempatkan skuadron 2-Vl. G.IV (2 Vlieg Group IV) dari Jawa ke Laha. Dari 4 pesawat Brewster Buffalo yang dikirimkan, 2 jatuh dalam perjalanan ke Ambon.

Gugus Tugas Angkatan Laut Kekaisaran Jepang memerintahkan (Imperial Japanese NavyIJN) untuk invasi ke Ambon, dipimpin oleh Laksamana Muda Ibō Takahashi, termasuk kapal induk Hiryū dan Sōryū, kapal penjelajah berat Nachi dan Haguro, kapal penjelajah ringan Jintsu, 15 kapal perusak, 2 seaplane tender, 4 kapal penyapu ranjau, 4 kapal anti kapal selam dan 2 kapal patroli.

Pasukan darat Jepang terdiri dari 5300 prajurit: Detasemen Itō Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (Imperial Japanese ArmyIJA), di bawah Mayor Jenderal Takeo Ito, terdiri dari Markas Besar Divisi ke-38 dan Resimen Infantri ke-228, bersama marinir dari Special Kure Landing Force ke-1" (bagian dari China Area Fleet), dan 2 peleton Sasebo SNLF di bawah Laksamana Muda Koichiro Hatakeyama.


Sejak 6 Januari, Kota Ambon diserang pesawat-pesawat Jepang. Pesawat-pesawat Sekutu melakukan beberapa sortie terhadap armada Jepang yang akan datang, meski hasilnya kurang menggembirakan. Pada 13 Januari, 2 pesawat Buffalo, dipiloti oleh Lettu Broers dan Sersan Blans, menyergap 10 pesawat tempur Mitsubishi A6M Zero. Pesawat Broers tertembak dan terbakar, namun ia tetap melanjutkan serangan hingga pesawatnya tidak terkontrol lagi, dan ia pun melompat keluar dengan parasutnya dan jatuh di laut. Blans juga tertembak jatuh dan sempat melompat keluar dengan parasutnya, dan mendarat di hutan pulau Ambon. Keduanya selamat, namun Broers menderita luka bakar yang parah sementara Blans luka ringan.

Pangkalan penerbangan angkatan laut di Halong tidak bisa dipergunakan lagi karena rusak akibat serangan udara Jepang, dan ditinggalkan pada pertengahan Januari 1942. Pada 30 Januari, sekitar 1000 marinir dan angkatan darat Jepang mendarat di Hitu-lama di pantai utara. Elemen lain dari Resimen ke=228 mendarat di pantai selatan Semenanjung Laitimor. Meskipun secara jumlah pasukan darat Jepang tidak terlalu banyak dibandingkan dengan pasukan Sekutu, namun Jepang memiliki keunggulan dalam dukungan udara, artileri laut dan medan, dan tank. Sisa-sisa skuadron Sekutu mundur pada hari itu juga, meskipun staf darat RAAF tetap tinggal. Pada hari yang sama dengan pendaratan Jepang, detasemen KNIL di dekat mereka sudah menyerah dan/atau mundur ke Paso. Perusakan jembatan di Hitu tidak dikerjakan sesuai perintah, semakin mempercepat gerak maju Jepang.

Ada gelombang pendaratan ke-2 di Hutumori di tenggara Laitimor, dan di Batugong, dekat Paso. Sebuah peleton infantri Australia ditugaskan untuk memperkuat satuan perintis di plateau Nona. Pertahanan di Paso dirancang untuk menangkal serangan dari utara dan barat dan sekarang dari selatan. 1 peleton KNIL yang dikirim dari Paso untuk menahan serangan di Batugong, membuat ada celah dalam garis pertahanan Belanda. Jepang memanfaatkan peluang ini, dan dibantu oleh kegagalan sambungan telepon KNIL.


Batugong jatuh pada 31 Januari dini hari, memungkinkan Jepang untuk mengepung lambung timur posisi pasukan Sekutu di Paso. Sementara itu, Kapitz memerintahkan kompi Ambon KNIL di Eri untuk mengambil posisi di Kudamati, yang tampaknya lebih rentan diserang.

Pada tengah hari, Kapitz memindahkan markasnya dari Halong ke Lateri, lebih dekat ke Paso. Komunikasi telepon antara Kapitz dan anak buahnya, termasuk Lt.Col. Scott, terputus ketika Jepang memotong kabel telepon. Pasukan Jepang yang sudah mendarat di Hitu-Lama kemudian menyerang pertahanan Paso dari timur laut. Kemudian dalam penuturan sejarahwan resmi Australia: Pada jam 18.00 sebuah sepeda motor dengan sespan terlihat di jalan ke barat posisi Paso mengibarkan bendera putih dan bergerak menuju posisi pasukan Jepang. Tembakan dari batas pertahanan Paso terhenti atas perintah komandan kompi KNIL, dan prajurit diijinkan untuk beristirahat dan makan.

Tidak jelas siapa yang memerintahkan untuk menyerah. Tidak ada respons cepat dari pihak Jepang, dan - dalam rapat dengan para komandan kompi - Kapitz dan Tieland memerintahkan pasukan KNIL untuk tetap bertempur. Akan tetapi, ketika Tieland dan komandan-komandan kompi kembali ke posisi mereka, mereka menjumpai anak buah mereka sudah ditawan musuh, dan mereka dipaksa untuk menyerah.


Serangan darat pertama ke Laha berlangsung pada 31 Januari sore hari. Peleton Australia yang berada di timur laut lapangan terbang diserang oleh pasukan Jepang yang lebih kuat, yang bisa mereka halau. Pasukan Jepang juga mendekati pusat kota Ambon dari arah barat daya. Sekitar pukul 16.00, pasukan Jepang sudah menguasai pusat kota, termasuk menawan unit pertolongan medis Australia.

 

Beberapa serangan Jepang dilancarkan secara simultan pada tanggal 1 Februari, Kapitz dan staf markasnya ditawan di dini hari. Kapitz memerintahkan menyerah kepada pasukan yang tersisa di kawasan Paso dan mengirim pesan tertulis untuk Lt.Col. Scott memerintahkannya untuk melakukan hal yang sama. (Pesan ini tidak sampai ke Scott hingga 2 hari kemudian.) Unit transportasi Australia dan posisi pertahanan KNIL di Kudamati diserang oleh pasukan infantri. Meriam gunung di atas bukit menembaki baterai artileri KNIL di pantai Benteng, yang terpaksa mundur, menambah tekanan terhadap Kudamati. Pasukan infantri Jepang menyerang lambung timur posisi pasukan Australia di Amahusu. Di Plateau Nona, sebuah pijakan dibuat terlepas dari posisi pasukan Australia yang terjepit. Pesawat dan artileri kapal Jepang menembaki posisi Australia dan KNIL di Eri. Posisi pasukan Australia juga menerima sejumlah besar personil pasukan KNIL yang mundur dari Paso. Pada pukul 22:30, Scott memerintahkan mundur pasukan Sekutu di Amahusu dan di barat daya, ke Eri. Posisi di Kudamati secara efektif sudah terkepung.

 

Pada tanggal 2 Februari (beberapa sumber menyebut 1 Februari), Kapal penyapu ranjau Jepang W-9 menabrak ranjau laut yang digelar oleh kapal ranjau Belanda Gouden Leeuw di Teluk Ambon dan tenggelam. Dua kapal penyapu ranjau Jepang lainnya juga rusak akibat ranjau laut. Selepas matahari terbit, pasukan utama Australia di plateau Nona, dipimpin oleh Letnan Bill Jinkins, dalam ancaman bahaya terkepung. Jinkins memerintahkan mundur ke Amahusu, dimana ia baru sadar bahwa Belanda sudah menyerah. Tidak tahu dimana keberadaan pasukan atasannya, Lt.Col Scott, Jinkins memutuskan menemui perwira senior Jepang dengan mengibarkan bendera putih di pusat kota Ambon. Mereka mengijinkannya berbicara dengan Kapitz, yang menulis pesan lainnya yang menghimbau agar komandan pasukan Australia untuk menyerah. Jinkins pergi mencari Lt.Col. Scott.

Sementara itu, pasukan Jepang yang menyerang Laha sudah diperkuat dan serangan yang terkonsentrasi terhadap Sekutu pun dimulai, termasuk artileri kapal laut, pesawat pembom tukik, pesawat pemburu dan serangan menyelidik oleh infantri. Serangan malam Jepang di ilalang tinggi di dekat pantai, di antara 2 posisi pasukan Sekutu, dipukul mundur oleh peleton Australia. Namun, sebuah serangan masif Jepang dilakukan pada saat fajar. Pada pukul 10:00, hanya sekitar 150 prajurit Australian dan beberapa personil KNIL yang masih bertahan dan mampu bertempur di Laha, dan Newbury memerintahkan mereka untuk menyerah.


Di pagi hari tanggal 3 Februari, pasukan Australia di sektar Eri berjuang untuk mengatasi serangan udara dan laut yang meningkat, prajurit Australia yang luka-luka, arus pengungsi personil Belanda, menipisnya persediaan dan kelelahan. Bendera Jepang terlihat sudah berkibar di tepi seberang teluk, di Laha. Saat Jinkins berhasil menemui Lt Col. Scott, Scott sudah memutuskan untuk menemui perwira Jepang dan menyerah. Posisi pasukan Sekutu di Kudamati menyerah secara terpisah saat tengah hari. Jumlah korban jiwa di pihak Sekutu dalam pertemuran relatif kecil. Akan tetapi, malam setelah penyerahan pasukan Sekutu, prajurit IJN memilih lebih dari 300 orang tawanan perang Australia dan Belanda secara acak dan dieksekusi di atau dekat lapangan terbang Laha. Sebagian, ini merupakan balas dendam atas tenggelamnya kapal penyapu ranjau Jepang, lantaran beberapa awak kapal penyapu ranjau tersebut tampak terlibat saat eksekusi. Mereka yang dibunuh termasuk Wing Commander Edward Scott dan Major Newbury. Menurut sejarahwan utama Australian War Memorial, Dr Peter Stanley, setelah tiga setengah tahun, POW yang selamat: Mengalami siksaan dan angka kematian hanya berada di bawah Pembantaian Sandakan (Sandakan Death Marches), pertama di Ambon dan kemudian ada pula yang dikirim ke pulau Hainan [China] di akhir 1942. Tiga perempat tawanan perang Australia di Ambon tewas sebelum perang berakhir. Dari 582 yang ditawan hidup-hidup di Ambon, 405 tewas. Mereka tewas karena bekerja berlebihan, kekurangan gizi, penyakit dan penyiksaan secara terus menerus oleh prajurit-prajurit Jepang.

Pada tahun 1946, insiden yang mengikuti jatuhnya Ambon menjadi subyek dari salah satu pengadilan kejahatan perang terbesar dalam sejarah: 93 prajurit Jepang diadili oleh pengadilan militer Australia di Ambon. Laksamana Muda Hatakeyama yang didapati memerintahkan pembantaian massacres, bagaimanapun telah meninggal sebelum ia bisa diseret ke pengadilan. Komodor Kunito Hatakeyama, yang memberikan perintah langsung pembantaian tersebut, dijatuhi hukuman gantung. Letnan Kenichi Nakagawa dihukum 20 tahun penjara. Tiga perwira Jepang lainnya dieksekusi untuk perlakuan yang tidak manusiawi atas POW dan/atau warga sipil dalam kesempatan yang berbeda, antara 1942–45. (Proses-proses pengadilan ini merupakandasar pembuatan film fitur Australia berjudul Blood Oath (1990), dirilis tahun 1990.)

 

 

* * *

Pada 1950 Kota Ambon dinyatakan sebagai suatu daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumahtangganya sendiri, setingkat dengan Kota-kota Besar. Terjadilah pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) yaitu gerakan yang bertujuan untuk memperjuangkan diri dan ingin menjadi negara sendiri dan tidak ingin terlibat dengan RIS (Republik Indonesia Serikat). Pemberontakan RMS, diproklamirkan pada 25 April 1950 yang berlokasikan di Ambon sebagai markas pusat.

Tokoh yang mendirikan pemberontakan RMS adalah seorang mantan Jaksa Agung di Negara Indonesia Timur, bernama Dr. Christian Robert Steven Soumokil. Pemberontakan ini merupakan kelanjutan dari pertentangan antar golongan unitaris dan federalis yang telah berkembang tahun 1946. Selain itu, pemberontakan ini juga bagian dari pergolakan di Makassar sejak pemberontakan Andi Aziz pada awal 1950. Pemberontakan RMS dilatarbelakangi adanya keinginan mempertahankan negara federal.

Sebelum RMS diproklamasikan, Gubernur Sembilan Serangkai yang beranggotakan pasukan KNIL dan partai Timur Besar terlebih dahulu melakukan propaganda terhadap NKRI untuk memisahkan wilayah Maluku. Di sisi lain, menjelang proklamasi RMS, Soumokil telah berhasil mengumpulkan kekuatan dari masyarakat yang berada di daerah Maluku Tengah. Sementara itu, sekelompok orang yang menyatakan dukungannya terhadap NKRI diancam dan dimasukkan ke penjara karena dukungannya terhadap NKRI dipandang buruk oleh Soumokil.


Pada 25 April 1950, para anggota RMS memproklamasikan berdirinya Republik Maluku Selatan dengan J.H Manuhutu sebagai Presiden, Albert Wairisal sebagai Perdana Menteri dan para menteri yang terdiri atas Mr.Dr.C.R.S Soumokil, D.j. Gasperz, J. Toule, S.J.H Norimarna, J.B Pattiradjawane, P.W Lokollo, H.F Pieter, A. Nanlohy, Dr.Th. Pattiradjawane, Ir.J.A. Manusama, dan Z. Pesuwarissa.
Pada 27 April 1950 Dr.J.P. Nikijuluw ditunjuk sebagai Wakil Presiden RMS untuk daerah luar negeri dan berkedudukan di Den Haag, Belanda. Pada 3 Mei 1950, Soumokil menggantikan Munuhutu sebagai Presiden RMS. Pada 9 Mei 1950, dibentuk sebuah Angkatan Perang RMS (APRMS) dengann Sersan Mayor KNIL, D.J Samson sebagai panglima tertinggi,  sersan mayor Pattiwale sebagai kepala staf dan anggota staf lainnya terdiri dari Sersan Mayor Kastanja, Sersan Mayor Aipassa, dan Sersan Mayor Pieter. Untuk sistem kepangkatannya mengikuti sistem dari KNIL.


Pemerintah mengutus Dr. J. Leimena untuk menyampaikan permintaan berdamai kepada RMS agar tetap bergabung dengan NKRI. Tetapi, langkah pemerintah tersebut ditolak oleh Soumokil. Penolakan ini membuat pemerintah Indonesia memutuskan untuk melaksanakan ekspedisi militer. Kolonel A.E. Kawilarang dipilih sebagai pemimpin dalam melaksanakan ekspedisi militer tersebut. Beliau adalah panglima tentara dan teritorium Indonesia Timur yang dirasa mengerti dan paham bagaimana kondisi Indonesia di wilayah timur.

Akhirnya kota Ambon dapat dikuasai pada awal November 1950. Akan tetapi, ketika melakukan perebutan Benteng Nieuw Victoria, Letnan Kolonel Slamet Riyadi gugur. Namun, perjuangan gerilya kecil-kecilan masih berlanjut di Pulau Seram sampai 1962. Setelah itu, pada tanggal 12 Desember 1963, Soumokil akhirnya dapat ditangkap dan kemudian dihadapkan pada Mahkamah Militer Luar Biasa di Jakarta. Berdasarkan keputusan Mahkamah Militer Luar Biasa, Soumokil dijatuhi hukuman mati. Pada akhirnya pemberontakan RMS berhasil dihentikan oleh pemerintah Indonesia.

 

* * *

Sejarah juga mencatat kejadian gempabumi dan tsunami yang terjadi di Ambon pada 8 Oktober 1950, kejadian bencana tersebut sangat terbatas, karena situasi geopolitik terkait konflik TNI dengan RMS. Hanya catatan kecil yang ada di beberapa surat kabar nasional dan internasional. Selain berita, gempa dan tsunami juga tercatat di arsip United States Geological Survey (USGS). Gempabumi Ambon 1950 terjadi pada hari minggu, tanggal 8 Oktober 1950 pada jam 03.23.13 (UTC) atau pada 12.23.13 waktu setempat. Lokasi gempa di kordinat 4,199 LS dan 128.233 BT pada kedalaman 20 Km dengan magnitude 7,3. Dampak gempa dan tsunami Ambon tahun 1950 dimuat di beberapa surat kabar nasional; di antaranya Kedaulatan Rakyat menulis gempa bumi menghantam 2 kota di Ambon serta merusak ratusan rumah warga (11/10/1950). Kemudian Suara Rakjat Republik Indonesia menulis berita tentang kejadian gempa bumi disertai gelombang besar sejauh 200 meter pada minggu siang sekitar jam 12 dan Gempa dan tsunami merusak beberapa tempat di pesisir pantai. Sedangkan Suara Merdeka mencatat bahwa tinggi gelombang tsunami akibat gempa pada saat itu mencapai 40 meter. Selain surat kabar nasional, surat kabar internasional yaitu The Canbera Times menulis gempa disertai ombak besar dan menyebabkan kerusakan di pesisir Ambon.

 

Beberapa saksi hidup yang menceritakan keadaan pasca gempa dan tsunami yang terjadi pada 8 Oktober 1950. Usia mereka berkisar 68 hingga 85 tahun saat wawancara diadakan pada medio Agustus 2015. Sebagian besar menceritakan ketika 3 kali gempa dengan guncangan disertai 3 kali suara gemuruh dan kemudian 3 gelombang tsunami yang merusak perumahan warga di 3 desa di Ambon. Desa yang terdampak yaitu Hutumuri, Hative Kecil dan Galala. Menurut kesaksian warga, saat gelombang pertama datang tidak dengan skala kecil, kemudian diikuti gelombang kedua dengan intensitas sedikit lebih besar; dan gelombang ketiga terbesar dari dua gelombang sebelumnya. Karena keadaan geopolitik Ambon terkait efek konflik TNI dan RMS, warga lebih menetap di pegunungan dibanding di pesisir/daratan; warga beraktivitas sebagai petani dan pedagang di daratan/pesisir yang dilakukan pada siang hari. Pada waktu kejadian (hari minggu) warga yang sedang beraktivitas di gereja langsung keluar menyaksikan air naik turun dan kemudian lari ke gunung. Sebagian berlindung di atas pohon-pohon.

 

* * *

Konflik  Ambon pada Tahun 1999, yang telah menelan sedikit kurang 5.000 korban jiwa. Pada tanggal 19 Januari 1999, konflik diawali dengan masalah pungutan biaya di terminal Batu Merah antara seorang pemuda muslim dari wilayah Batu Merah dan supir angkutan umum beragama Kristen dari wilayah Mardika. Perseteruan kemudian bertambah memanas dengan dibumbui isu sentimen Agama, perang antar desa dan wilayah pun tak bisa dihindari, saling serang dan bunuh terjadi. Kejadian demi kejadian pun terus bertambah dengan di hiasi isu-isu SARA bahkan politik didalamnya. Warga yang merasa minoritas pun terpaksa harus mengungsi di wilayah yang lain, warga Kristen yang minoritas di kampungnya harus rela mengungsi, begitu pun sebaliknya warga muslim.

Akibatnya konflik yang terjadi kehidupan warga Ambon luluh lantah di berbagai aspek kehidupan bermasyarakat khususnya hubungan lintas agama warga Ambon. Di Ambon sendiri, jumlah masyarakat yang menganut agama Islam dan Kristen jumlahnya hampir berimbang. Hingga saat ini, imbas dari konflik yang terjadi di tahun 1999 menjadikan masyarakat Muslim dan Kristen di Ambon mempunyai trauma dan kewaspadaan yang tinggi.
Segregasi yang di lakukan oleh pemerintah Maluku menjadikan masyarakat Ambon mempunyai sekat antar umat muslim dan kristen.

Dahulu awalnya terjadi konflik di Ambon, target kekerasannya adalah pendatang Muslim dari Bugis, Buton dan Makassar. Setelah eksodus besarbesaran dari para pendatang, konflik menyebar ke wilayah lain Maluku. Konflik yang pecah diperparah oleh desas-desus sekitar simbol keagamaan seperti serangan terhadap mesjid dan gereja. Konflik di Maluku sempat mereda pada Mei 1999 ketika perhatian beralih pada awal kampanye pemilihan umum. Hingga akhirnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memenangkan pemilihan di Ambon. Setelah itu, kekerasan meledak di Ambon pada Juli 1999 ketika kemenangan PDIP diumumkan. Kemenangan PDIP yang diartikan sebagai kemenangan “Kristen”25 membuat rakyat bergerak untuk mempertahankan agamanya dan melakukan kekerasan terhadap siapapun dari agama yang berbeda. Aparat keamanan pun terbagi dengan garis agama. Hal ini menyebabkan aparat tidak dapat melakukan tugasnya dengan benar. Puncak dari konflik adalah serangan terhadap Gereja Silo dan pembantaian Tobelo pada 26 Desember 1999. Gereja Silo ditengah pusat kota Ambon adalah salah satu Gereja Protestan Maluku (GPM) terbesar dan terbakar habis pada hari setelah Natal.

Pada hari yang sama hampir 800 Muslim di mesjid desa Tobelo dibunuh oleh pihak Kristen. Serangan tersebut pada akhirnya membuat pihak Kristen dan Muslim untuk terlibat lebih jauh dalam konflik kekerasan, di mana militer tidak dapat berbuat apa-apa untuk menanganinya.26 Ketidakmampuan pemerintah dalam menangani konflik tersebut menyebabkan kebangkitan Front Kedaulatan Maluku (FKM) pada tahun 2000. FKM adalah sebuah gerakan yang mengangkat warisan Republik Rakyat Maluku 23 Ibid. 24 Bugis, Buton, Makassar adalah kelompok yang posisinya yang dominan dalam pasar kerja dan sektor tenaga kerja informal (contohnya pedagang pasar) sehingga menimbulkan kebencian masyarakat Ambon. Secara historis, PARKINDO didukung oleh komunitas Kristen Ambon, sedangkan PDI-P adalah reformulasi daripada Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang tergabung dengan lima partai politik, termasuk Partai Kristen Indonesia (PARKINDO) dengan demikian PDI-P dianggap sebagai “partai Kristen” di Maluku. November 2011 (RMS), FKM dibentuk tanggal 15 Juli 2000 oleh Alex Manuputti di Kudamati, Ambon.

Pada awalnya dibentuk untuk membangun moral penduduk pada saat puncak konflik di mana peran negara lemah. Namun forum tersebut tidak mendapat banyak dukungan rakyat, hanya beberapa ratus anggota aktif dari populasi provinsi. Hal ini membuat Alex Manuputti menggunakan bendera lama RMS untuk memajukan FKM. Sementara itu, RMS merupakan organisasi yang dikenal didominasi oleh Kristen dan mendorong Maluku untuk berpisah dari Republik Indonesia. Pada akhirnya, orang Maluku menyadari bahwa mereka telah lelah bertempur.

Hal ini yang mendorong Pemerintah pusat memulai perundingan damai antara komunitas Kristen dan Muslim yang memuncak pada perjanjian perdamaian Malino II pada Februari 2002. Sebelum Pemerintah memulai perundingan damai Malino II, ada beberapa upaya pemerintah daerah yang tidak berhasil dalam resolusi konflik. Contohnya, Gubernur Maluku membentuk sebuah tim informal pemimpin agama, ‘Tim 6’, pada akhir Januari 1999. Tim tersebut terdiri atas enam pemimpin agama dari komunitas Muslim, Katolik dan Protestan. Tugas mereka adalah untuk mencegah penghancuran gereja-gereja, mesjid-mesjid dan rumah–rumah, dan untuk menghentikan menyebarnya kekerasan di kota Ambon. Namun, pemimpin yang dipilih oleh Gubernur tidak serius berkomitmen untuk perdamaian, bahkan sebaliknya, mereka justru diduga terlibat dalam kekerasan. Tim 6 tidak memiliki pengaruh dalam resolusi atau pengelolaan konflik. 27 RMS dibentuk 1950 dan mengadvokasi kaum separatis dari negara yang didominasi Muslim. RMS kemudian dianggap sebagai gerakan Kristen yang memperburuk dinamika konflik antar agama. 28 Perjanjian Perdamaian Malino II adalah sebuah titik balik yang signifikan ditandai dengan pengalihan ke pendekatan pemulihan dan pembangunan. Setelah proses perdamaian Malino II, pemerintah pusat dan daerah menggunakan perangkat hukum untuk menangkap dan menuntut mereka yang memegang senjata dan melakukan serangan.  

Pada konflik Ambon tahun 1999-2002, akibat besarnya konflik, Pemerintah pusat akhirnya memimpin proses perdamaian, yang sangat singkat dalam standar komparatif untuk penandatanganan perjanjian damai Malino II pada 11 Februari 2002 di pegunungan Malino di Sulawesi Selatan. Dua tokoh dari Pemerintah pusat yang berperan dalam melaksanakannya adalah: Menteri Kordinator Urusan Politik, Hukum dan Susilo Bambang Yudhoyono, dan Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Saat itu, Jusuf Kalla meminta Gubernur Maluku untuk memilih satu perwakilan masing-masing dari komunitas Muslim dan Kristen. Kedua perwakilan kemudian memilih kelompok yang lebih besar dari komunitas mereka yaitu 35 orang Muslim dan 34 orang Kristen, ke-69 orang tersebut berkumpul di Malino selama tiga hari. Proses yang kilat tersebut sebenarnya tidak memungkinkan adanya keterlibatan antara perwakilan komunitas Muslim maupun Kristen. Bahkan, pemimpin agama pun tidak menjadi bagian dari konsultasi publik. Hal ini membuat beberapa komunitas merasa perwakilan mereka tidak mewakili pandangan mereka.33 Oleh sebab itu, walaupun pemerintah pusat dan lokal memperhatikan untuk mendapatkan perwakilan yang seimbang, mereka tidak memberikan perhatian yang memadai terhadap siapa yang menjadi perwakilan dari masing– masing pihak dan apakah mereka memiliki kapasitas dan wewenang untuk menegakkan perjanjian. Namun bagaimanapun juga, Malino II merupakan sebuah pernyataan politik bahwa konflik dianggap telah selesai secara formal dan adanya keinginan politik yang kuat untuk mengurangi kekerasan pada saat itu, karena Malino II adalah perjanjian perdamaian dan bukan deklarasi seperti Malino I34. “Perjanjian Malino II terdiri atas 11 poin, yaitu:
1. Mengakhiri semua bentuk konflik dan perselisihan.
2. Menegakkan supremasi hukum secara adil dan tidak memihak. Karena itu, aparat harus bertindak profesional dalam menjalankan tugasnya.
3. Menolak segala bentuk gerakan separatis termasuk Republik Maluku Selatan.
4. Sebagai bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka bagi semua orang berhak untuk berada dan berusaha di wilayah Maluku dengan memperhatikan budaya setempat.  
5. Segala bentuk organisasi, satuan kelompok atau laskar bersenjata tanpa ijin di Maluku dilarang dan harus menyerahkan senjata atau dilucuti dan diambil tindakan sesuai hukum yang berlaku. Bagi pihak-pihak luar yang mengacaukan Maluku, wajib meninggalkan Maluku.
6. Untuk melaksanakan seluruh ketentuan hukum, maka perlu dibentuk tim investigasi independen nasional untuk mengusut tuntas peristiwa 19 Januari 1999, Front Kedaulatan Maluku, Kristen RMS, Laskar Jihad, Laskar Kristus, dan pengalihan agama secara paksa.
7. Mengembalikan pengungsi secara bertahap ke tempat semula sebelum konflik.
8. Pemerintah akan membantu masyarakat merehabilitasi sarana ekonomi dan sarana umum seperti fasilitas pendidikan, kesehatan dan agama serta perumahan rakyat agar masa depan seluruh rakyat Maluku dapat maju kembali dan keluar dari kesulitan. Sejalan dengan itu, segala bentuk pembatasan ruang gerak penduduk dibuka sehingga kehidupan ekonomi dan sosial berjalan dengan baik.
9. Dalam upaya menjaga ketertiban dan keamanan seluruh wilayah dan masyarakat diharapkan adanya kekompakan dan ketegasan untuk TNI/ Polri sesuai fungsi dan tugasnya. Sejalan dengan itu, segala fasilitas TNI segera dibangun kembali dan dikembalikan fungsinya.
10. Untuk menjaga hubungan dan harmonisasi seluruh masyarakat, pemeluk agama Islam dan Kristen maka segala upaya dan usaha dakwah harus tetap menjunjung tinggi undang-undang dan ketentuan lain tanpa pemaksaan.
11. Mendukung rehabilitasi khususnya Universitas Pattimura dengan prinsip untuk kemajuan bersama. Karena itu, rekruitmen dan kebijakan lainnya dijalankan secara terbuka dengan prinsip keadilan dan tetap memenuhi syarat keadilan.

* * *

Peran Aparat Keamanan Selama fase awal konflik, antara bulan Januari sampai Maret 1999, Pemerintah mengirimkan 5.300 petugas keamanan, baik dari Brimob dari kepolisian dan dari militer, ke Maluku. Pada 15 Mei 1999, Komando Resort Militer (Korem) Maluku ditingkatkan menjadi Komando Daerah Militer (Kodam) dibawah kepemimpinan seorang Brigadir Jenderal, sebuah tindakan yang memberikan baik status maupun anggaran yang lebih besar bagi militer di Maluku. Pada November 1999, jumlah personel keamanan meningkat menjadi 6.000 personel, termasuk petugas dari Kodam yang baru. Pada Januari 2000, pasukan militer dan Brimob meningkat menjadi 5 Batalyon (11.250 personel). Namun, peningkatan ini tidak mengakibatkan penurunan konflik, karena militer tidak punya pengalaman dalam menangani konflik komunal. Militer tidak dilatih untuk konflik di mana konsep musuhnya tidak jelas dan tidak tahu tindakan apa yang harus diambil ketika dua komunitas agama terlibat dalam pertempuran.  

Anggapan adanya keberpihakan petugas keamanan dalam beberapa kejadian, seperti serangan desa Soya, menimbulkan ketidakpercayaaan masyarakat walaupun keterlibatan tersebut disangkal secara formal baik oleh militer maupun polisi, namun hasil beberapa penyelidikan membuktikan sebaliknya. Polisi yang ditempatkan di Maluku sebagian besar direkrut dari penduduk lokal dan oleh sebab itu, tidak mengherankan bila mereka akhirnya menjadi turut terlibat menjadi sesama Muslim atau sesama Kristen. Sedangkan bagi militer, walaupun mereka telah sengaja dicampur dan secara berkala dipindah dari satu daerah ke daerah lain, para tentara menjadi berteman dengan para penduduk desa yang mereka bela, bahkan sering kali tentara diberikan makanan, minuman dan rokok oleh penduduk desa. Jadi, seolah wajar saja, jika terjadi bentrokan, para tentara juga akan memihak kepada mereka yang sering ditemui setiap hari. Sehingga, terkadang tentara Muslim membela desa Muslim terhadap serangan Kristen dan tentara Kristen membela temannya terhadap serangan Muslim. Pada fase kedua konflik Maluku, beberapa personel militer bahkan menyediakan senapan dan amunisi kepada pihak yang bertikai. Tentara seperti membeli makanan mereka dengan “menjual” peluru. Pemerasan oleh oknum petugas keamanan mencoreng reputasi mereka di Maluku. Pada puncak konflik, tidak ada kelompok agama maupun perwakilan pemerintahan dapat melewati daerah yang didominasi oleh sebuah kelompok agama tanpa perlindungan oleh petugas keamanan. Petugas keamanan mengeksploitasi situasi tersebut, meminta uang perlindungan sebagai imbalan keamanan perjalanan.

* * *

Kini setelah lama tenang, pada September 2011 Ambon kembali mengalami bentrokan disebabkan oleh kematian salah satu tukang ojek beragama Muslim di wilayah komunitas Kristen. Masyarakat begitu mudahnya terprovokasi oleh SMS yang beredar bahwa korban dibunuh oleh orang Kristen. bentrokan yang terjadi selama 2 hari tersebut juga menjadi pertanda bahwa penyelesaian konflik antar agama di Ambon belum sepenuhnya tuntas. Bahkan menurut saya segregasi Agama dan aspek sosiologis yang menyebabkan percikan konflik masih ada, ditambah lagi pemerintah lebih mengedepankan pendekatan keamanan.

 

Penutup

Tulisan ini saya maksudakan untuk kita dengan mudah mempelajari dan memahami sejarah Kota Ambon dengan metode Time Line, membaca dan mengetahui rangkaian peristiwa sejarah adalah aktivitas yang menyenangkan. Berangkat dari kegelisahan saya ketika mengikuti diskusi-diskusi yang membahas tokoh dan peristiwa sejarah. Saya merasa tidak cukup banyak tulisan atau bacaan yang tersusun menjadi sebuah struktur time line arsip sejarah Kota Ambon. Kalau kata Maman suherman dalam podcast Beginu (kompas.com) dia  mengatakan, “Kalau sampai para pejuang dan tokoh atau orang-orang hebat lambat laun tidak ada dalam catatan sejarah, jangan salahkan orang luar melainkan salahkan diri kita yang tidak mau telaten untuk menulis  itu semua.” motivasi ini yang membuat saya kembali harus membuka arsip-arsip dan menyusunya menjadi sebuah rangkaian sejarah. Namun saya sadari betul banyak peristiwa yang masih saya lewatkan untuk ditulis, maka dengan itu saya harapkan para pembaca juga bisa turut partisipasi dalam tulisan ini.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Muhammad Arya Wandi

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Sejarah Singkat Amboina

Selasa, 10 Januari 2023 19:43 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua