Mengucapkan Terima Kasih pada Hari Terima Kasih Sedunia - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Media Sosial. Image dari Gerd Alatman dari Pixabay

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Rabu, 11 Januari 2023 12:30 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Mengucapkan Terima Kasih pada Hari Terima Kasih Sedunia

    Mengucapkan terima kasih, nggak perlu bayar. Cuma perlu niat dan membiasakan dalam keseharian. Lalu membudaya melalui ranah keluarga, sekolah, dan masyarakat.

    Dibaca : 726 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Salah satu budaya yang diterapkan sekolah adalah ketika para peserta didik akan mengakhiri jam belajar. Seperti biasa, mereka berdoa. Usai itu, guru yang mengajar pada jam terakhir mengatur tertib, agar mereka tidak berebut keluar kelas.

    Ini mengingat, bahwa sekolah tersebut berlantai 4. Saat keluar adalah saat yang rawan bagi mereka untuk saling mendahului. Mereka bisa jadi antre di sepanjang depan ruang kelas, sementara yang lainnya karena tak sabar, menerobos agar bisa sampai di lantai 1.

    Kembali tentang usai mereka berdoa. Seorang sahabat guru bercerita, selalu mengagumi seorang peserta didiknya karena sikapnya. Selalu usai mendapat giliran untuk keluar kelas dan bersalaman, sambal mencium tangan gurunya ia mengucapkan terima kasih.

    Padahal, pserta didik yang lainnya, walau bersalaman kesannya cuma basabasi. Setelah bersalaman, mereka langsung lari. Tanpa ada ucapan seperti anak yang satu itu.

     

    Hari Terima Kasih

    Tahukah Anda, bahwa 11 Januari ini, kita merayakan Hari Terima Kasih Internasional atau International Thank-You Day. Ini adalah hari yang berfungsi sebagai pengingat bahwa kita seharusnya mengungkapkan rasa terima kasih kita kepada mereka yang telah membuat hidup kita lebih baik.

     

    Kita sering abai mengatakan, "Terima kasih", karena kita menerima begitu saja atau menganggap orang lain mengetahui perasaan kita. Hari ini Rabu, 11 Januari 2023, dunia merayakan International Thank-You Day  untuk menyadari pentingnya selalu mengucapkan terima kasih.

     

    Mengutip dari laman https://nationaltoday.com/international-thank-you-day/ ucapan terima kasih menjadi bagian dari tradisi pada zaman kuno, saat masyarakat sudah sibuk berkomunikasi satu sama lain. Orang Mesir akan menulis di lembaran papirus dan orang Cina akan menulis di atas kertas.

    Mereka mengirim pesan ke teman-teman seperti salam atau berharap mereka beruntung untuk tahun baru. Ada beberapa gulungan yang berisi ucapan terima dalam manuskrip tersebut.

     

    Praktik mengirim pesan ke teman mulai populer pada tahun 1400-an ketika orang Eropa bertukar kartu ucapan dengan anggota keluarga dan teman. Mereka merangkul bentuk ekspresi sosial baru ini termasuk mengantarkan catatan dengan tangan.

     

    Beberapa ungkapan “terima kasih” tulisan tangan yang dikirimkan di sana-sini juga ditemukan. Lama setelah orang Eropa mulai menggunakan kartu ucapan, Louis Prang dari Jerman berimigrasi ke AS. Pada tahun 1873 dan tahun berikutnya, dia memproduksi dan menjual kartu ucapan ke pasar Eropa dari markasnya di Boston, Massachusetts.

     

    Ungkapan syukur tidak hanya datang dari kata-kata tertulis. Kebiasaan untuk selalu mengucapkan “terima kasih” dimulai pada masa revolusi komersial abad ke-16 dan ke-17. Itu populer di kalangan kelas menengah yang sering menggunakannya,  karena merupakan jenis bahasa yang didengar serta digunakan di kantor dan toko. Selama 500 tahun terakhir, penggunaannya telah menyebar ke seluruh dunia.

     

    Mentradisikan Terima Kasih

    Mentradisikan terima kasih harus dimulai dari bayi. Diteruskan secara terus-menerus saat si bayi beranjak ke usai sekolah. Ini pangkal utama.

     

    Selanjutnya, Lembaga Pendidikan bernama sekolah hendaknya membiasakan pula. Anak-anak hendaknya melakukan pembiasaan dengan meneledani guru, saat mereka belajar di kelas. Itu tidak saja seperti paparan pada awal tulisan ini, namun justru saat guru mengakhiri jam-jam pertama dengan menyatakan: ”Anak-anak, Bapak/Ibu berterima kasih kepada kalian, karena  telah mengikuti pelajaran pagi ini dengan luar biasa. Semangat dan penuh keseriusan.”

     

    Di masyarakat, anak-anak yang beranjak tumbuh dewasa, pun akan mengalami dan melihat bagaimana ucapan terima kasih menjadi ciri khas warga tempat anak-anak tersebut tinggal.

     

    Ketika anak membeli pulpen di took kecil, si pelayan mengucapkan terima kasih usai transaksi. Warung-warung kelontong, penjual gaado-gado, penjual tanaman, dan tukang ojek online pun selalu berterima kasih.

     

    Maka, kepada Anda yang sampai tuntas membaca artikel ini, saya pun wajib mengucapkan terima kasih. Salam takzim.

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.