x

Sejarah perkembangan Internet di dunia dan Indonesia secara singkat\xd

Iklan

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Senin, 30 Januari 2023 10:59 WIB

Membongkar Pola Pikir Lama, Membangun Pola Pikir Baru

Pola pikir sangat penting dalam pengembangan diri. Kalau kita mau berkembang pola pikir lama harus dibongkar dan diganti dengan pola pikir baru.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Membongkar Pola Pikir Lama, Membangun Pola Pikir Baru

 

Bambang Udoyono

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Whenever they rebuild an old building, they must first of all destroy the old one  (Rumi)  Ketika mereka akan membangun kembali bangunan lama, pertama mereka harus menghancurkan yang lama dulu.  Kali ini lagi lagi Rumi menulis sebuah metafora.  Saya memperkirakan dia sedang berbicara tentang sikap mental.  Dia menganjurkan agar kita move on, kita meninggalkan sikap mental yang lama menuju sikap mental yang baru agar kita bisa berbuat sesuatu yang baru.

 

Dalam bahasa Jawa ada frasa owah gingsiring jaman, yang artinya perubahan dunia.  Maksudnya dunia ini sangat dinamis.  Selalu ada perubahan. We live in a changing world, kata orang Barat. Bung Karno dulu suka mensitir  kata kata Herakleitos, panta rei yang artinya senada.    Dalam dunia kerja bakal banyak perubahan.  Di masa depan yang dekat bakal banyak profesi yang hilang dan bakal banyak profesi yang muncul.  Artinya bakal banyak ketrampilan baru yang dibutuhkan.  Ketrampilan yang dulu tak terbayangkan.  Di dunia pariwisata sekarang muncul virtual tour.  Para pramuwisata ramai ramai mempelajarinya. Sepuluh tahun yang lalu orang tidak membayangkan pekerjaan sebagai vlogger.  Bahkan hari ini masih banyak yang tidak tahu, apalagi menguasai ketrampilannya.

 

Semua ketrampilan baru itu membutuhkan sikap mental yang baru juga. Tanpa sikap mental yang mendukung ketrampilan yang dicapai akan kurang maksimal efeknya.  Sikap mental bagaimana yang akan mampu mendukung ketrampilan baru nanti? 

 

Persaingan ketat dunia kekinian di segala sektor menuntut sikap mental melayani.  Hanya mereka yang memiliki sikap mental melayanilah yang akan mampu memaksimalkan ketrampilannya.  Hermawan Kertajaya pernah mengatakan bahwa semua bisnis sejatinya adalah bisnis jasa, meskipun yang dijual adalah benda.  Mereka harus mampu melayani dengan baik kalau tidak mau ditinggalkan konsumennya dan dilibas perkembangan jaman.

 

Dunia pendidikan juga bakal mengalami perubahan besar yang menuntut sikap mental dan ketrampilan baru.  Pendemi Covid 19 mempercepat proses ini.  Orang terkejut dan tidak siap ketika tiba tiba harus melaksanakan pemelajaran jarak jauh.  Tidak banyak yang tahu bedanya e learning dengan distant learning,  apalagi kiat melaksanakannya. Proses pemerolehan bahasa Inggris misalnya, juga akan mengalami perubahan pesat. Akan semangkin banyak sumber dan metoda pemelajaran sehingga lembaga kursus akan mendapatkan kompetisi yang semangkin berat.  Kalau tidak siap bisa dipastikan perannya akan surut, demikian juga pendapatannya.

 

Demikian juga sektor pemerintahan. Ke depan akan semangkin dituntut untuk mampu melaksanakan public service yang semangkin baik. Pemerintahan di negara maju, bahkan para tetangga di Asia sudah lama menerapkan prinsip ini.  Artinya mereka harus terus menerus memperbaiki sikap mentalnya, harus move on dari mentalitas menguasai menjadi mentalitas melayani.

 

Sadar atau tidak manusia dipengaruhi oleh budayanya. Sayangnya kita mewarisi budaya yang feodalistis.  Budaya semacam ini membentuk sikap mental yang feodalistis, sikap mental yang meminta dilayani, bukan melayani.  Jadi kita harus hijrah, harus meninggalkan budaya feodalistis menuju budaya yang egaliter, yang mementingkan amal, artinya melayani sesama.  Bukan mentalitas yang takabur, yang merasa lebih tinggi dari orang lain. Bagaimana melakukannya?  Tidak mudah memang.

 

Itulah sebabnya di level keluarga kita perlu merancang sistem nilai baru untuk keluarga.  Gagasan pokoknya adalah memilih dan memilah warisan budaya yang kita terapkan dalam keluarga agar anak anak kita memiliki sikap mental yang baik, yang tepat untuk mengantisipasi perkembangan jaman modern ini.  Hal ini sangat penting karena keluarga adalah pembentuk utama sikap mental.  Jadi sistem nilai keluarga dulu yang harus dibenahi. Mari kita hijrah ke sistem nilai baru yang egaliter, pekerja keras,  bertujuan memberi amal atau manfaat kepada masyarakat. Bukan sistem nilai yang feodalis, yang meminta keuntungan tanpa mau melayani.

Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu