x

Pengolahan biji sorgum menjadi sereal

Iklan

Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Oktober 2022

Senin, 27 Februari 2023 09:35 WIB

Kepala Desa Gara Unjuk Keberpihakan kepada Kelompok Rentan agar Mereka Mandiri secara Ekonomi

Yayasan Ayo Indonesia-Missionprokur SVD Swiss, Jumaat (24/2/2023), bertempat di aula kantor Desa Gara menyelenggarakan satu pelatihan keterampilan bagi 13 orang anggota kelompok usaha wanita tentang cara memproduksi sereal sorgum, mempraktekkan cara membuat sereal sorgum untuk dikonsumsi, dan menjelaskan manfaat sorgum sebagai pangan bergizi yang cocok dikonsumsi oleh keluarga-keluarga guna mencegah atau mengatasi stunting.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya


Kepala Desa Gara unjuk Keberpihakan Kepada Kelompok Rentan agar Mereka Mandiri secara Ekonomi


Yayasan Ayo Indonesia-Missionprokur SVD Swiss dengan Pemerintah Desa Gara, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai-NTT, Jumaat (24/2/2023) menyelenggarakan pelatihan pengolahan paska panen sorgum. Mengolah biji sorgum menjadi sereal.



Desa Gara, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, berada pada ketinggian 340 meter dari permukaan laut, topogarfi berbukit, hawa udara cukup sejuk. Masyarakatnya sangat ramah kepada tamu yang datang, jumlah penduduk desa Gara saat ini adalah 1,345 jiwa, sebanyak 97 persen dari mereka bermatapencaharian bertani subsisten.

 
Jalan menuju desa Gara beraspal dengan kondisi terawat baik, mulai dari Desa Paka sampai di Kantor Desa Gara. Di bagian kiri kanan ,sepanjang jalan kita bisa melihat berbagai jenis tanaman umur panjang, seperti kemiri, pohon mahoni, mete, pinang, dan kelapa, ada juga pohon jenis lokal yang usianya lebih dari 40 tahun. Tanaman-tanaman khas dataran sedang ini tumbuh subur, tampak hijau dan jumlah populasinya cukup banyak, sehingga tak heran jika hawa udara di sekitarnya terasa sejuk. Selain tanaman umur panjang, masyarakat desa gara juga menanam pisang dan jagung sebagai sumber pangan dan pendapatan. Menanam dengan pola campur (mix cropping) antara tanaman pisang dan pohon pada satu lahan yang sama merupakan model pola tanam wanatani (agroforestry), kearifan lokal ini sudah dipraktekkan sejak lama. Jadi wanatani telah menjadi budaya pola tanam warga desa Gara dan sangat bernilai ekologis.

 
Di pintu masuk ke desa gara ada portal terbuat dari kayu dan di situ berdiri satu bangunan sederhana yang dijadikan pos jaga. Ada 1 orang petugas dari kantor desa yang setiap hari stand by di pos jaga itu, dia bertugas mencatat identitas, serta maksud dan tujuan dari setiap tamu yang berkunjungan ke desa Gara. Setiap tamu yang datang ke sana wajib mengisi buku register yang kelihatannya sangat rapih, tercatat ada ratusan tamu yang telah datang ke sana dengan berbagai latar belakang dan kepentingannya.

 
Keasrian desa Gara yang asli tentu menjadi satu potensi untuk pengembangan agroekowisata ke depannya, para tamu dapat menikmati keindahan alamnya yang sangat mungkin memicu decak kagum, dan juga dari ketinggian 340 meter para pengunjung bisa menyaksikan dari kejauhan hamparan persawahan Iteng, birunya laut pantai selatan dan pulau mules. Daya pikatnya itu bukan tidak mungkin bisa mendatangkan rejeki dan menjadi lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa Gara suatu waktu, tentu harus dirancang dengan baik, misalnya dimulai dengan membuat peta jalan untuk pariwisata berbasis masyarakat. Yang pasti dari segi keindahan bentangan alamnya dan keramatamahan orang Gara sangat masuk akal, jika kedua kekuatan itu dijual sebagai destinasi disaat Flores sedang geliat dengan pembangunan pariwisatanya.

 
Selain hal itu, daya tarik yang luar biasa lainya dari Desa Gara, adalah satu program pembangunan desa yang memberi perhatian khusus kepada upaya pemberdayaan kelompok wanita. Ditinjau dari aspek pendidikan dan pendapatan, para anggota kelompok wanita ini dinilai relatif rendah sehingga mereka termasuk ke dalam kelompok masyarakat rentan.

 
Program yang sungguh berpihak kepada perempuan ini, digagas sendiri oleh Yohanes Mario Nombo, S.Pd, Kepala Desa yang masih berusia muda. Kepala desa yang berlatar belakang sarjana pendidikan ini, sangat visioner, sejak terpilih atau dipercayakan oleh sebagian besar masyarakat Gara, dia membuat satu terobosan dengan melakukan pemberdayaan sosial ekonomi kepada 2 kelompok wanita untuk meningkatkan taraf hidup keluarga mereka. Kedua kelompok wanita ini menjadi kelompok usaha, kemudian dibiayai oleh dana desa mereka dilatih tentang cara membangun usaha tempe, pengembangan ternak babi, hortikultura, budidaya sorgum dan pengolahan paska panen sorgum. Usaha tempe yang sudah lama berjalan dan setiap hari mereka memproduksi 230 lempeng tempe untuk dijual ke wilayah kecamatan Satar Mese, omset penjualan mencapai 12 juta rupiah per bulan. Usaha ini telah membawa perubahan ekonomi anggotanya, walaupun dari segi nilai relatif kecil, ibu-ibu ini telah berhasil mengumpulkan rupiah untuk menghidupkan keluarga mereka.

 
Upaya pendampingan motivatif, jelas Yohanes Mario Nombo, Kepala Desa Gara yang telah dilaksanakan, guna meningkatkan keyakinan dan motivasi dari para anggota kelompok tentang prospek usaha tempe dan hortikultura, adalah Pemerintah Desa Gara bekerjasama dengan Yayasan Ayo Indonesia-Missionprokur SVD, memfasilitasi kelompok usaha wanita ini belajar tentang bisnis kepada peserta program dari Yayasan Ayo Indonesia di Kampung Null, Manggarai Timur (terkait binis tempe) dan di Kampung Rai/Ketang, Manggarai untuk pengembangan usaha hortikultura. Berbekal dari pengalaman belajar ini, kelompok usaha wanita Gara sudah konsisten memproduksi tempe dan tomat meski dalam skala kecil.

 
“Kelompok usaha wanita ini dibentuk dengan tujuan meningkatkan ekonomi keluarga mereka masing-masing dan juga mendorong perempuan untuk berperan ekonomis, tidak hanya mengurus dapur saja (domestik), sebab peluang ekonomi atau pasar saat ini cukup besar sehingga mereka harus menangkapnya agar mereka punya penghasilan tetap setiap bulan,”ungkap Yohanes.

 

Menanam Sorgum untuk pangan, gizi dan ekonomi.


Pada bulan oktober tahun 2022, Pemerintah Desa Gara bekerjasama dengan Yayasan Ayo Indonesia-Missionprokur SVD Swiss mengembangkan tanaman sorgum (lempang) di Desa Gara untuk mengidupkan kembali kearifan lokal terkait pangan, sebab sebelum masa revolusi hijau, sorgum merupakan jenis pangan yang dikonsumi setiap hari oleh keluarga-keluarga di desa Gara. Di atas lahan seluas 1,5 hektar ditanami sorgum varitas super 1 oleh 2 kelompok usaha wanita dan hasilnya luar biasa, meski tanpa pemberian pupuk kimia, sorgum tumbuh dengan baik, dan mampu berproduksi walaupun tidak mencapai 1 ton. Pelajaran penting dari pengembangan sorgum ini, adalah ternyata sorgum bisa tumbuh pada lahan kritis, sehingga lahan kritis atau tidur yang masih cukup luas di Manggarai bisa ditanami sorgum untuk menjamin ketahanan pangan masyarakat.
 

Kelompok Usaha Wanita Gara sedang memproduksi Sereal Sorgum


Yayasan Ayo Indonesia-Missionprokur SVD Swiss, Jumaat (24/2/2023), bertempat di aula kantor Desa Gara menyelenggarakan satu pelatihan keterampilan bagi 13 orang anggota kelompok usaha wanita tentang cara memproduksi sereal sorgum, mempraktekkan cara membuat sereal sorgum untuk dikonsumsi, dan menjelaskan manfaat sorgum sebagai pangan bergizi yang cocok dikonsumsi oleh keluarga-keluarga guna mencegah atau mengatasi stunting.



Kepada Tim pelatih pengolahan paska panen dari Yayasan Ayo Indonesia, Kades Yohanes, pada kata sambutannya, menjelaskan tentang kemajuan pengembangan sorgum di desanya. Dia mengatakan bahwa sorgum telah tumbuh baik dan berproduksi di Desa Gara, hal ini tentu menjadi pelajaran penting dan berharga, sebagai Pemerintah Desa yang memiliki kewenangan untuk mengelola dana desa, maka tananam pangan sorgum akan menjadi salah satu tanaman pangan alternatif yang dikembangkan terus di desanya, baik untuk tujuan pangan, ekonomi maupun ekologis. Berdasarkan pengalaman budidaya sorgum pertama ini yang berhasil tanpa penggunaan pupuk kimia, ungkapnya, maka ke depan tidak boleh lagi ada lahan tidur (lahan yang tidak dikerjakan karena kurang subur). Tanaman Sorgum akan dibudidaya pada lahan-lahan tersebut.

 
Pada tahun 2023, kata Yohanes, Pemerintah Desa Gara akan mengalokasi dana desa untuk penyediaan bahan pangan bergizi guna mengatasi dan mencegah stunting, sehingga 300 kg sorgum yang dipanen pada bulan Februari 2023 akan diolah menjadi beras dan sereal sorgum. Jumlah anak stunting di desa Gara, katanya, ada belasan anak sehingga sereal yang diproduksi dari 300 kg biji sorgum nanti prioritas diberikan kepada anak-anak stunting, ibu-ibu hamil (Bumil), ibu-ibu yang menyusui (Busui) dan juga saya mendorong setiap keluarga mengkonsumsi sorgum dan tempe untuk meningkatkan gizi keluarga.
 
Sereal sorgum yang diproduksi oleh Kelompo Usaha Wanita Gara


Lebih lanjut dia menjelaskan, tanaman sorgum wajib ditanam oleh setiap keluarga untuk menjamin ketahanan pangan, visi saya, adalah dDesa Gara menjadi desa mandiri pangan, sebab lahan cukup tersedia dan sorgum memang sejak lama cocok tumbuh di Desa Gara. Dana desa juga nanti akan dialokasikan untuk pengadaan bahan dan peralatan pengolahan paska panen, seperti mesin sosoh, mesin rontok, mesin untuk pembuatan tepung sorgun dan plastik packing. Dia menambahkan target ke depannya adalah membangun fasilitas pengolahan hasil sorgum semacam unit pengolahan hasil untuk menjadikan sorgum sebagi komoditi, baik dalam bentuk beras sorgum, sereal maupun produk olahan lain yang ada pasarnya (konsumen).

 
“Pada kesempatan ini, saya menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Ayo Indonesia-Missionprokur SVD Swiss yang telah berkonrtibusi mempromosikan tanaman sorgum, memfasilitasi kelompok usaha wanita untuk belajar tentang bisnis tempe dan hortikultura dan melatih 13 orang ibu-ibu anggota kelompok tentang cara membuat sereal sorgum,” pungkas Yohanes dikenal warga sebagai sosok pemimpin muda yang inovatif, motivatif dan pekerja keras.






Ikuti tulisan menarik Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu