Cara Nadiem Makarim agar Kurikulum Merdeka Belajar Tak Diputar Balik Penerusnya

Jumat, 24 Maret 2023 06:09 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Nadiem Makarim menjalankan sejumlah terobosan kebijakan dalam bidang pendidikan, sehingga kebijakan tersebut tidak dapat diputar balik oleh penerusnya kelak. Tampaknya ia mempraktikan apa yang diajarkan dalam Teori Path Dependence dan Teori Pemain Veto. 

Mendengar ucapan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Nadiem Makarim saat berbicara dengan Gita Wirjawan terdapat sebuah pernyataan menarik ketika Gita memberikan apresiasi terhadap beberapa terobosan program-program di Kemdikbud-Ristekdikti. Gita saat itu bertanya: Jika anda tidak ada, bagaimana program ini terus berjalan? Nadiem menjawab dengan tenang bahwa ketika memikirkan terobosan dengan timnya, pertanyaan awalnya kepada tim adalah: Apakah program ini bisa diputar balik oleh pemangku kebijakan berikutnya?

Ketika Nadiem berbicara demikian, saya coba memahami apa yang beliau sampaikan mengenai ketidakberdayaan pimpinan selanjutnya untuk memutar balik program itu apakah benar adanya? Lalu pemikiran siapa yang dianut oleh Pak Nadiem? Setelah mencoba berselancar di google, saya menemukan ada beberapa kecocokan teori dari apa yang pak Nadiem sampaikan, yaitu Teori Path Dependence dan Teori Pemain Veto. 

Hari Guru Nasional 2022 kemarin terdapat sesi dimana Nadiem menjawab pertanyaan dari guru-guru. Seorang guru bertanya mengenai episode program Merdeka Belajar mana yang disukai oleh Nadiem. Jawaban Nadiem adalah: Guru Penggerak, PMM (Platform Merdeka Mengajar), Kurikulum Merdeka, dan rekrutmen PPPK Guru. Dari ketiga hal tersebut untuk mengurai Teori Path Dependence dan Teori Pemain Veto kita coba untuk memilih salah satu program yaitu Guru Penggerak. 

Guru Penggerak adalah sebuah program inisiatif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Indonesia yang diluncurkan pada tahun 2019. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan cara meningkatkan kompetensi dan kinerja guru-guru di seluruh Indonesia. Guru Penggerak merupakan guru yang dipilih dari setiap kabupaten/kota di seluruh Indonesia, yang memiliki kompetensi dan kinerja yang baik dan dianggap mampu memberikan inspirasi dan memimpin guru-guru lain di wilayahnya. Para Guru Penggerak ini diberikan pelatihan dan dukungan oleh Kemendikbud untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan mereka dalam mengajar, memimpin, dan mengelola pendidikan di daerahnya masing-masing.

Konsep path dependence pertama kali diperkenalkan oleh ahli ekonomi Prancis, Pierre Wargnye dalam disertasinya yang berjudul Essai sur les éléments de la conjoncture en agriculture pada 1936. Namun, istilah path dependence baru diperkenalkan oleh ahli ekonomi dan ilmuwan politik Amerika, Paul David pada tahun 1985 dalam tulisannya yang berjudul Clio and the Economics of QWERTY.  

Path dependence terjadi ketika keputusan-keputusan yang dibuat di masa lalu membentuk suatu jalan atau jalur yang sulit untuk diubah atau ditinggalkan di masa depan. Contohnya adalah ketika suatu teknologi atau produk menjadi standar di pasar dan sulit digantikan oleh teknologi atau produk yang baru dan lebih baik. Hal ini terjadi karena adanya efek jaringan, di mana semakin banyak orang yang menggunakan teknologi atau produk tertentu, semakin sulit untuk beralih ke teknologi atau produk yang berbeda.

Jika kita sintesakan teori tersebut dengan Program Guru Penggerak, ada kesamaan yaitu kepada peningkatan kuantitas guru penggerak yang direkrut oleh Kemdikbud Ristek. Guru Penggerak angkatan 1-3 terdapat kuota rekrutmen sebanyak 2800 guru. Guru Penggerak angkatan 4-5 kuota rekrutmen sebanyak 8000 guru, Guru Penggerak angkatan 6-9 terdapat kuota rekrutmen 20.000 guru. Guru Penggerak angkatan 10 kuota rekrutmen terbanyak dengan 55.000 guru, dan akan terus bertambah hingga nanti angkatan 13. Dengan memperbanyak orang yang mengikuti program ini, tentu akan sulit untuk menghentikan program ini karena sudah banyak yang mendapatkan dampak dan manfaatnya.

Selain dengan menambah terus kuota guru penggerak dari angkatan 1-10. Nadiem memberikan sebuah inovasi baru bahwa guru penggerak adalah guru plus, yang bisa diangkat menjadi Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, atau penugasan lain di bidang pendidikan dilingkungan  Dinas Pendidikan/ Kementrian yang dikuatkan dengan Permendikbud Ristek No. 26 Tahun 2022 Tentang Guru Penggerak dan Permendikbud Ristek Nomor 40 Tahun 2021 tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah.

Nadiem sudah membuat jalur melalui kuantitas guru yang dilatih dan output yang dihasilkan oleh program tersebut yaitu menjadi pemimpin dalam pembelajaran yang kini sudah mulai diimplementasikan di beberapa wilayah. Sehingga ucapan beliau mengenai sulitnya kebijakan ini bisa diputar balik adalah suatu keniscayaan karena sudah mengandung prinsipil dari teori path dependence yaitu banyak orang yang terdampak sehingga akan kesulitan jika ingin beralih kepada program lain yang belum ada perencanaan atau output seperti Program Guru Penggerak. . 

Selain Path Dependence, Nadiem menganut Teori Pemain Veto dalam mengembangkan kebijakannya. Teori ini dikembangkan oleh George Tsebelis, seorang ilmuwan politik asal Yunani. Menurut teori ini, kebijakan publik yang sulit untuk dibatalkan atau diubah setelah pergantian penguasa dapat terjadi ketika ada lebih dari satu pemain veto atau pemain yang memiliki kemampuan untuk mencegah perubahan kebijakan. Pemain veto dapat berupa lembaga, kelompok kepentingan, atau individu yang memiliki kekuatan politik untuk mempengaruhi atau menghentikan proses keputusan. 

Dalam teori ini Nadiem mencoba mengubah lembaga internalnya lebih efektif dan efisien serta menambahkan frasa Guru Penggerak di dalamnya, seperti Revitalisasi pada UPT yang berada di bawah Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, yaitu dengan mengubah Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah (LPPKSPS) menjadi Balai Besar Guru Penggerak (BBGP). Kemudian jika belum ada BBGP, akan ada BGP (Balai Guru Penggerak) yang akan hadir di setiap provinsi. 

Selain itu ketika pengumuman program guru penggerak setiap video yang dilihat terdapat banyak sekali endorsement dari kepala daerah, atau pemimpin bidang pendidikan di daerah, serta organisasi profesi. Dari pengamatan saya Nadiem sudah mencoba mengambil tiga elemen dari konsep pemain veto yaitu lembaga dan individu yang berafiliasi pada politik yang dapat mempengaruhi dan kelompok kepentingan seperti organisasi profesi.

Benar adanya ketika dia berkelakar bahwa setiap program yang akan dibuat selalu memikirkan bagaimana program tersebut tidak dapat diputar balik. Mari bermain bapak-ibu, dapatkah anda menemukan celah "putar balik" dari program merdeka belajar lainnya? 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Reszky Fajarmahendra Riadi

Guru Sekolah Dasar & Pecandu Belajar

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua