x

Digital Phorography by Tasch 2023

Iklan

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Jumat, 24 Maret 2023 13:04 WIB

Cermin Kebun Iman

Cermin Kebun Iman. Artikel berbagi kisah perjalanan sederhana, misalnya, Mas Cakep, kalau koruptor kelas gajah, gimana? Apakah dimaafkan? Waduh, kalau itu biarlah di urus negara.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Barangkali terkadang sulit berpikir jernih. Mendadak terasa hati ini, bagai bandulan bergerak kian kemari. Mondar-mandir balapan dengan pikiran. Entah, kenapa sulit mencari sumber penyebabnya. Kemudian kesadaran empiris, bagai menuang kuah sayur asem segar kepiring makan siang. 

Wow, begitu beragam kesalahan kepada sesama insan kamil, sengaja atau tidak sengaja. Apakah sudah memaafkan, atau, apakah sudah memberi maaf. Mendadak, bagai rumit. Tapi janganlah kalut. Tafakur, sederhana, murah, melihat kembali kaleidoskopis perjalanan.

Persoalan sekitar, dalam hati ataupun di luar hati hadir setiap hari. Semua tahu itu, lantas kalau semua sudah tahu? Ya oke deh. Tak lagi perlu ragu untuk memberi maaf, pada sesama insan kamil, konon kebenaran ataupun kesalahan melekat pada diri manusia, siapapun itu, barangkali.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kalau sudah seperti itu, kembali ke hati masing-masing. Apakah mau ikhlas memberi maaf, pada sesama? Kembali lagi kepada diri masing-masing. Kata awan-awan nih, memberi maaf itu baik loh, bahkan indah untuk meditasi diri, ya serupa self-healing, mungkin loh.

Maka konon perjalanan hidup berikutnya bakal lebih enteng, setelah saling memaafkan. Bukan karena, hanya, di Bulan Suci Ramadan saja, mau memberi maaf, lantas setelahnya musuhan lagi, karena banyak sebab belum terjawab oleh diri sendiri. 

Sulit memang ingin menjadi orang baik paripurna, ada aja deh, gangguan frekuensi interior maupun eksterior, nah itu dia kadang sebab salah paham sedikit jadi kesal tujuh keliling, mulai deh peredaran darah terganggu, pencernaan terganggu, ataupun gangguan fisik atau nonfisik bolak-balik, kadang tak tahu apa penyebabnya gangguan kesehatan datang semena-mena. 

Bolak-balik kedokter atau keluar masuk rumah sakit, jadilah melar biaya hidup, datang lagi gangguan kantong, serba salah, kadang serba merasa benar, meski sesungguhnya berawal dari kata sederhana, kesal, tersimpan, berkembang di laci-laci kesehatan jasmani, sementara rohani baik-baik saja. Konon sih kata bulan purnama, jasmani rentan merasa sakit, kalau ruh, senantiasa baik-baik saja, tak pernah sakit.

Ada pula kata angin sepoi-sepoi nih, selalu gembira itu baik untuk kesehatan, ada juga kata mata air, tertawa itu sehat. Nah, pilihan ada pada masing-masing manusia tentunya. Mau sehat seperti apa. Apakah senantiasa memberi maaf, ataukah selalu gembira. Ringan menyelesaikan masalah, sekalipun beban seberat rudal nuklir. 

Mas Cakep, kalau koruptor kelas gajah, gimana? Apakah dimaafkan? Waduh, kalau itu biarlah di urus negara.

Negeri ini banyak punya hutan tropis ataupun hutan hujan, seratus persen masih indah juita mawar mengembang, utuh, prima spekta, konon. Hutan, pemberi oksigen bagi kesehatan wilayah seluas negeri kepulauan, lautan nan indah, flora-fauna, spesies langka, tetumbuhan perdu huma-huma, cuaca apik panorama keren bak Taman Surga di langit, mungkin loh, hamba sendiri belum pernah sih liat surga ataupun neraka, paling ketika menulis artikel, sembari berimajinasi, sebagaimana kisah akan tertulis. 

Kalau mau menulis cerita tentang neraka atau surga, misalnya, tak perlu riset ke-dua tempat itu kan? Mungkin ya cukup sebatas imaji pengarangnya saja. Kecuali ada kisah nyata sebagaimana terkisahkan oleh sang waktu, maka jadilah cerita berdasarkan kenyataan peristiwanya, bahasa sononya, based on a true story, barangkali loh.

Menurut matahari tunggang gunung, menulis, senantiasa bermanfaat alami. Sejak di kelas TK, sampai dengan remaja akil balig, kalau ibu membacakan buku cerita, hamba menyimak sampai ketiduran. Esoknya hamba tanya lagi, minta diceritakan lagi. Dari cerita ibu, hamba semakin tahu, sebelum makan wajib cuci tangan dulu. Salam kasih sayang saudaraku.

*** 

Jakarta Indonesiana, Maret 24, 2023.

Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler