x

Iklan

Selvia Parwati Putri

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Senin, 27 Maret 2023 11:03 WIB

Isu Feminis dan Realitas Sosial dalam Pertunjukan “Sebagaimana Bilamana Adanya” dalam Pentas Teater Syahid UIN Jakarta

Teater Syahid UIN Jakarta, menyelenggarakan pementasan dengan tajuk “Sebagaimana Bilamana Adanya”. Pertunjukan ini ditampilkan pada tanggal 10, 11, dan 12 Maret 2023 di Hall Student Center UIN Jakarta.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Teater Syahid UIN Jakarta, menyelenggarakan pementasan dengan tajuk Sebagaimana Bilamana Adanya, pada 10, 11, dan 12 Maret 2023 di Hall Student Center UIN Jakarta. Naskah yang digarap Said Riyadi Abdii ini mempunyai daya tarik tersendiri.  Hal itu terlihat mulai dari simbol-simbol dengan makna tersembunyi, dialog satir, hingga peran atau tokoh yang absurd menjadi kekhasan pertunjukan ini.

Said diketahui dalam proses penulisannya, menyerap berbagai realitas yang ia tangkap dari bola matanya sendiri, Ia melihat bahwa saat ini dunia sedang kacau dan segalanya tidak beraturan.

Chaos, kacau, dunia kita hari ini nggak tau gitu. Kacau sekali kalau menurutku gitu. Aku selalu berefleksi seperti itu. Banyak hal yang terjadi di luar nalar dan itu sangat chaos. Seperti perubahan iklim dan segala macam, sedangkan kita merasa tidak papa. Kayaknya aku perlu untuk mengomunikasikan itu ke beberapa orang,” kata pria yang sudah aktif di Koridor Miring sejak tahun 2020 itu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Saat menulis naskah pun, ia tidak mau terikat dengan teori-teori yang ada. Dengan pembebasan dalam berpikir dan mencipta, ia berhasil menuliskan naskah “Sebagaimana Bilamana Adanya” dengan elegan dan sesuai ekspektasi yang ia rumuskan sebelumnya.

Dijelaskan pula bahwa isu feminis dan kemanusiaan menjadi dua unsur penting dari terciptanya naskah tersebut. Ia memasukkan unsur-unsur tersebut ke dalam dialog, perilaku tokoh, artistik, hingga detail-detail kecil yang ditampilkan dalam pertunjukan.

“Sedikit banyak iya, bahkan tebal kayaknya. Karena dari awal, selalu ngomongin perempuan. Ibu, ibu, ibu, ibu, anak, ibu dan anak. Dan otomatis itu udah masuk ke dalam feminisme dan segala macamnya. Hari ini kan kita belum bisa secara sempurna perempuan itu mengekspresikan diri. Bahkan, masih ada hal-hal yang masih tabu. Padahal, sebenarnya biasa aja gitu,” terang Said.

Pria yang pernah mendapatkan Juara Tiga Lomba Naskah Monolog Pestarama #4 UIN Jakarta itu mengungkapkan bahwa ketabuan perlu dihapuskan perlahan-lahan.

Simbol itik dan podium kejuaraan juga menjadi daya pikat tersendiri saat ditampilkan. Keduanya cukup sering tampak dalam setiap adegan.

Diketahui bahwa simbol itik dimunculkan Said untuk mengungkapkan bahwa saat ini orang kebanyakan mudah terombang-ambing dan jarang untuk mempunyai visi. Masyarakat menurut Said, mudah untuk terbawa dengan arus yang ada.

Lain dengan podium, ia menerangkan bahwa simbol tersebut ditunjukkannya dengan maksud untuk menjelaskan bahwa saat ini, semuanya selalu diukur dengan angka. Selalu diukur dengan tingkatan-tingkatan atas sebab suatu hal.

Said mengaku puas atas pertunjukan ini. Bahkan, ia tidak menyangka bahwa naskah ciptaannya berhasil ditampilkan dengan maksimal seperti yang ia saksikan sendiri. Evaluasi-evaluasi saat latihan dengan pemain pun menjadi faktor atas kematangan naskah yang ia garap.

Instagram: @teatersyahid

Ikuti tulisan menarik Selvia Parwati Putri lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu