x

Iklan

Joseph Hiwakari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 Maret 2023

Senin, 22 Mei 2023 14:42 WIB

Pahlawan Bangsa yang Namanya Jarang Terbesit, Dr. R. Suharto

Artikel ini akan membahas mengenai Dr. R. Suharto, seorang tokoh nasional asal Surakarta yang banyak berkontribusi terhadap kemajuan tanah air dalam berbagai posisi kementerian yang dipercayakan kepadanya hingga didapuk menjadi pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Nama beliau mungkin boleh lugu di telinga kita, namun kontribusi yang ia telah berikan di dalam bidang kesehatan patut kita acungi jempol. Ia adalah Soeharto Sastroesoeyoso, atau yang lebih dikenal sebagai Dr. R. Suharto. Pria kelahiran Tegalgondo, Surakarta ini lahir pada 24 December 1908. Suami dari Ibu Sinta Lente Tejasukmana ini telah dikaruniai beberapa orang anak dan cucu dan semasa hidup berdomisili di  Pakubowono, Jakarta Selatan. 

Dr. R. Suharto terbilang merupakan seorang anak berdarah Jawa yang berkecukupan sehingga dapat menempuh berbagai pendidikan secara lengkap. Ia berkesempatan untuk mendapatkan pendidikan di European Lagere School (ELS), kini setara dengan SD di tanah air, di Surakarta dan Madiun. Setelah itu, ia melanjutkan bersekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MILO) di Madiun dan lulus pada 1925.

Setiap langkah di dalam pendidikan yang dikatakan sebagai “pendidikan lengkap 12 tahun” ia tempuh, hingga pada akhirnya ia mendapatkan gelar Dokter Arts di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta (STK) pada 1935 dan gelar ilmiah Medicine Doctorem (Doctor) di Medica Bataviensis pada 1937. Sebagai tambahan informasi, gelar yang ia peroleh dari Medica Bataviensis merupakan gelar pertama yang pernah diberikan di institusi tersebut dan tidak pernah didapatkan oleh satu pun alumnusnya. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Selama menjalankan pendidikan tersebut, Dokter Suharto ingin mendapatkan pengalaman dan mempersiapkan diri terhadap tantangan kehidupan, baik suka maupun duka, seiring dirinya yang akan segera lulus.  Oleh karena itu, pada pertengahan 1935 sampai dengan 01 Januari 1937, Suharto menawarkan diri untuk magang di Poliklinik Umum dan Klinik Bersalin Pasar Senen, yang pada kala itu berada di bawah kepemimpinan Dr. Tumbekala dan dokter-dokter senior keluarga lainnya. Karena ia bekerja sepenuh hati, maksimal, dan terus melandaskan kesabaran, secara perlahan namun pasti, ia menjadi lebih berkesempatan untuk melaksanakan pekerjaan di berbagai Institusi kesehatan ternama di tanah air. Nama dirinya pun tersohor hingga ke institusi pemerintah pada era itu. 

Pada tahun 1937 hingga 1945, Dokter Suharto menjalankan praktik Kedokteran keluarga (huisarts) dan melaksanakan pengelolaan klinik bersalin kecil di suatu bangunan yang terletak di Jalan Kramat 128. Namun , pada 09 Agustus 1945, Suharto mendapatkan amanat untuk menyertai Sukarno dan Muhammad Hatta, presiden dan wakil presiden pertama Indonesia, di dalam penerbangan darurat ke Dalat.

Di dalam buku Dr. R. Soeharto : Saksi Sejarah yang ditulis oleh dirinya sendiri, ia mengungkapkan bahwa ia hanya membawa sebuah koper dan obat-obatan pribadi, dan kala itu penerbangan hanya memiliki objektif utama agar Indonesia dapat segera merdeka secara penuh dan mendapatkan hak yang setara dengan negara-negara lain di dunia. Setelah perjalanan itu pula, sejak proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat, Dokter Suharto dipercaya menjadi dokter pribadi untuk memberikan pelayanan di dalam pemerintahan Presiden Sukarno.

Selain itu, berangkat dari sejarah yang padat dari Boedi Oetomo, Indische Partij, maupun Sumpah Pemuda beberapa tahun sebelumnya, ia mendapatkan kepercayaan dari Presiden Sukarno menjabat sebagai kepala bagian kesehatan di Poesat Tenaga Rakjat (POETERA) yang berada di bawah kepemimpinan Empat Serangkai, termasuk di dalamnya Ki Hajar Dewantara dan K. H. Mansyur. 

Beberapa tahun kemudian Dokter Suharto memperoleh kesempatan untuk menjabat di berbagai posisi nomenklatur kementerian. Pada periode Juli 1959 hingga Oktober 1966, ia menjabat sebagai Menteri Koordinator (dikenal juga sebagai Menteri Muda), Menteri Perindustrian Rakyat, Menteri Perdagangan, Menteri Urusan Perencanaan Pembangunan Nasional merangkap Urusan Penertiban Bank dan Modal Swasta, hingga Menteri Koordinator Keuangan. Dokter Suharto dipensiunkan sebagai menteri dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 56/Pens/1966 pada 03 Oktober 1966.

Dokter Suharto kemudian menjabat sebagai Anggota MPRS pada 1962 hingga 1967, pengarah pembuatan film Indonesia Builds, Wakil Bendahara Panitia Monumen Nasional dan Masjid Istiqlal, hingga akhirnya mendapatkan pemberhentian secara normal sebagai anggota dokter pribadi Presiden melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 127/1967 pada tanggal 23 Agustus 1967.

Setelah pemberhentian tersebut, Dokter Suharto diketahui kembali menjalankan praktik dokter sampai dengan tahun 1978. Selain itu, beliau menjabat sebagai anggota pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk periode 1980 hingga 1982. Selama menjadi anggota pengurus besar IDI, Dokter Suharto telah berperan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan   dalam lingkup pendidikan kedokteran dan kesejahteraan seluruh tenaga kesehatan yang terlibat di dalam aktivitas pelayanan kesehatan masyarakat dalam skala yang sangat signifikan. 
Selama masa kepemimpinan beliau sebagai pengurus besar IDI, ada beberapa jasa yang telah ia berikan untuk Indonesia.

Dokter Suharto  bergerak untuk memajukan kualitas pendidikan kedokteran di tanah air. Selain itu, Dokter Suharto juga memperbaiki kualitas pelayanan dan sistem peralatan di seluruh rumah sakit tanah air. Tidak sampai di situ, Dokter Suharto juga pada masa jabatannya diketahui melakukan beberapa langkah penyuluhan dan edukasi mengenai protokol kesehatan dan definisi, dampak, dan mitigasi penyakit yang merebak, mematikan, atau berpotensi menjadi wabah pada kala itu dalam skala yang besar. 


Dokter Suharto wafat di Jakarta pada 30 November 2000. Untuk mengenang perjuangan dan berbagai jabatan yang tidak mudah dan mendapatkan banyak perselisihan bersama Presiden Sukarno pada masa awal kemerdekaan, ia dianugerahkan gelar pahlawan di dalam Hari Pahlawan Nasional tahun 2022. Hal ini telah diumumkan oleh Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia, Mahfud MD, beberapa hari sebelum pelaksanaan seremonial resmi, tepatnya pada Kamis (03/11/2022).

Ikuti tulisan menarik Joseph Hiwakari lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler