x

Iklan

Lisa Huberta

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 Juni 2023

Kamis, 29 Juni 2023 10:11 WIB

Catcalling: yang Diubah Pikiran Pelaku atau Gaya Pakaian Korban?

Catcalling adalah penggunaan kata-kata tidak senonoh, ekspresi verbal dan non-verbal yang terjadi di tempat publik, contohnya: di jalan raya, di trotoar, dan perhentian bus. Secara verbal, catcalling biasanya dilakukan melalui siulan atau komentar mengenai penampilan seorang wanita.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mengenal Istilah Catcalling

Di zaman sekarang siapa yang tidak tau tentang catcalling? Ini adalah kegiatan yang melibatkan berbagai perilaku, termasuk komentar seksual yang kasar atau sangat tidak pantas, penilaian fisik yang merendahkan, ancaman, serta suara suara seksual yang sangat tidak pantas untuk dilontarkan. Perilaku itu membuat lingkungan seseorang menjadi tidak aman dan nyaman.  Selain itu juga bisa membuat orang lain merasakan kecemasan, stres, depresi, terintimidasi, serta penurunan harga diri.

Catcalling dapat diartikan penggunaan kata-kata yang tidak senonoh, ekspresi secara verbal dan juga ekspresi non-verbal di tempat publik, contohnya: di jalan raya, trotoar, perhentian bus dan lain-lain. Secara verbal, catcalling biasanya dilakukan melalui siulan atau komentar mengenai penampilan seorang wanita. Hal itu juga bisa muncul dari ekspresi nonverbal, misalnya lirikan atau gestur fisik yang bertindak untuk memberikan penilaian terhadap penampilan seorang wanita (Chhun, 2011).

Pikiran Pelaku Yang Perlu Diubah atau Gaya Pakaian Korban Yang Perlu Diubah?

Catcalling adalah perilaku yang tidak dapat dibenarkan. Apa pun pakaian yang dikenakan korban, seharusnya tidak perlu jadi masalah. Tidak ada alasan untuk melecehkan mereka. Kesalahan dalam catcalling adalah pada pelaku, bukan pada korban yang mengenakan pakaian tertentu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Catcalling tidak berhubungan dengan korban karena pakaiannya, tetapi lebih berkaitan dengan pikiran dan sikap pelaku. Karena ini mencerminkan budaya patriarki, di mana wanita dianggap sebagai objek seksual dan tidak dihormati sebagai individu yang memiliki hak-hak dan martabat yang sama.

Jadi cara berpakaian seseorang tidak seharusnya menjadi alasan orang lain melakukan catcalling. Tidak ada pakaian atau penampilan yang dapat membenarkan perlakuan catcalling . Mengubah cara berpakaian tidak akan mengatasi masalah catcalling, karena masalah tersebut terletak pada perilaku orang yang melakukan catcalling. Korban berhak merasa aman dan nyaman di lingkungan publik tanpa menjadi sasaran pelecehan verbal atau seksual.

Penting untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap perilaku catcalling dan memberikan dukungan moral kepada korban. Kesadaran tentang masalah ini, edukasi mengenai hak-hak individu, serta penegakan norma-norma sosial yang menghormati dan menjaga keamanan semua orang dapat membantu mengurangi masalah catcalling dan menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi semua orang.

Ikuti tulisan menarik Lisa Huberta lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler