x

Rumah buku firza

Iklan

Nabila Febrianti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Mei 2023

Minggu, 9 Juli 2023 12:18 WIB

The Story of An Hour; Bagaimana Patriarki Membuat Perempuan Mati Sia-sia

Ia membayangkan dirinya akan menangis terisak melihat mayat suaminya yang tidak berdaya, namun batinya berbicara lebih kencang bahwa mulai hari ini ia tidak akan hidup demi orang lain. Rasa bahagia mulai menjalar dalam dirinya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

The Story Of An Hour adalah salah satu cerita pendek yang ditulis Kate Chopin pada 1984. Cerita tersebut pertama kali diterbitkan di Vogue pada 6 Desember 1894 dengan judul The Dream Of An Hour, yang kemudian di cetak ulang di St. Louis Life pada Januari 1895.

Pada dasarnya, cerita tersebut memuat padangan Kate Chopin mengenai kehidupan pernikahan tokoh utama, yaitu Nyonya Mallard yang berharap merasakan kebebasan hanya jika suaminya meninggal. Cerita ini merupakan sebuah tragedi yang menampilkan bentuk kesedihan atas kehilangan seseorang yang dicintai dan kehilangan kebebasan yang sangat diinginkan.

Dalam satu cerpen yang sangat singkat tersebut, Kate berhasil menyuguhkan penggambaran konflik, problematika, dan situasi dengan sangat detail bahkan tanpa memuat alur mundur dari kehidupan yang dijalani Nyonya Mallard bersama suaminya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Membedah isi cerita dalam cerpen The Story Of An Hours, setelah kabar meninggalnya sang suami dalam kecelakaan kereta, Nyonya Mallard mengalami konflik batin yang begitu hebat. Mulanya ia menangis histeris dan mengunci diri dalam kamar, perasaannya berkecamuk bahkan ia sendiri sulit mengerti apa yang sedang dirasakan. Nyonya Mallard berdiam diri di sebuah kursi dalam kamarnya di depan jendela kaca yang menghadap keluar.

Di luar terdapat keindahan alam dengan bunga-bunga, tumbuhan hijau, dan burung-burung yang berkicau, seolah ia bisa menjangkau semua itu sesegera mungkin. Dalam kebingungan dan rasa terkejut itu, ia mulai menenangkan diri, dengan lirih suara batinya berubah menjadi bisikan “Aku bebas! Aku bebas!” 

Ia membayangkan dirinya akan menangis terisak melihat mayat suaminya yang tidak berdaya, namun batinya berbicara lebih kencang bahwa mulai hari ini ia tidak akan hidup demi orang lain. Rasa bahagia mulai menjalar dalam dirinya, ia merasa tak terlalu berdosa memiliki rasa bahagia setelah mengingat hari-hari yang dilalui bersama Brently Mallard. Tidak ada lagi yang dapat melarangnya, mengatur hidupnya dan membuat ia tunduk sebagai seorang perempuan.

Ia membayangkan hari-harinya yang begitu indah sebagai perempuan dengan tubuh dan jiwa yang bebas. Ia berdoa agar mendapat umur panjang, wajahnya berseri dan matanya berkilat-kilat. Nyonya Mallard mempersiapkan diri dengan baik, tidak membiarkan perasaan bahagianya terlihat begitu kentara.

Ia turun dari kamarnya untuk membersamai adik dan sahabat suaminya. Sampai pada akhirnya ia melihat Brently Mallard tanpa luka sedikitpun berjalan dari pintu masuk. Kebahagiaan yang mati-matian ia sembunyikan berubah menjadi keterkejutan yang amat sangat, seketika serangan jantung menimpanya dan Nyonya Mallard dinyatakan meninggal. Keberuntungan yang menghampirinya seketika berubah menjadi kengerian yang merenggut nyawa.

Cerpen tersebut bukanlah sebuah roman, melainkan tragedi dari kesedihan dan kesengsaraan seorang perempuan yang hidup terpenjara bersama suaminya. Kebebasannya sebagai seorang perempuan muda terenggut melalui aturan-aturan yang mengharuskannya tunduk dan patuh tanpa membantah.

Pernikahan dimaknai oleh Brently Mallard sebagai kepemilikan mutlak atas tubuh dan jiwa perempuan. Baginya, kesetiaan seorang perempuan dinilai melalui kepatuhannya atas perintah dan kehendak suaminya. Kebahagiaan yang dirasakan Nyonya Mallard setelah mendengar suaminya meninggal adalah harapan terbesar yang ia kubur selama ini, bahwa ia mendambakan kehidupan yang bebas dan berdaya sebagai manusia sekaligus seorang perempuan.

The Story of An Hours secara singkat berhasil memvisualisasikan penderitaan perempuan akibat kultur patriarkis yang merenggut hak-haknya sebagai manusia. Bahwa penguasaan atas tubuh dan jiwa seseorang dapat secara nyata merusak kehidupan orang tersebut. Relasi kuasa yang terjalin antara Nyonya Mallard dan suaminya sangatlah timpang akibat penguasaan yang dilakukan. Cerita ini menjadi gambaran nyata yang masih banyak ditemukan dimana-mana. Bahwa pernikahan seringkali menjebak perempuan dalam kepatuhan mutlak sebagai syarat dasar terjalinnya rumah tangga yang baik dan harmonis.

Kenyataannya penguasaan terhadap tubuh, jiwa dan pikiran manusia terutama dalam ranah domestik rentan menimbulkan berbagai macam masalah seperti kekerasan fisik, mental maupun verbal, penindasan dan dehumanisasi. Selain itu, relasi yang timpang dalam hubungan romantis menimbulkan kesengsaraan yang dapat memanipulasi korban, dengan menganggapnya sebagai sebuah pengorbanan atas nama cinta. Korban yang terjebak dalam relasi toksik juga cenderung lebih sulit untuk keluar dari situasi, dikarenakan tekanan dan kepercayaan diri yang hilang, serta efek dari manipulasi yang diberikan.

Pernikahan sebagai ikatan yang diharapkan sehidup semati antara dua orang, seharusnya menjadi relasi yang dapat memberikan ruang aman dan keterbukaan. Bahwa sebagai manusia yang memiliki kedudukan sama dimata hukum dan agama, penguasaan dan penindasan antara satu orang terhadap yang lainnya adalah hal yang sangat tidak dibenarkan. Secara umum kesadaran mengenai hak atas tubuh, pikiran dan jiwa manusia masih berada dalam ambang batas mengkhawatirkan. Bahwa, kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga tidak seharunya dimaknai sebagai alat kendali.

Hal ini juga dibenturkan dengan kultur patriarkis yang masih tumbuh subur dengan stigma-stigma yang melekat dalam diri perempuan, bahwa perempuan adalah mahluk lemah yang memerlukan penjagaan penuh, dan tidak seharusnya melakukan aktivitas-aktivitas sosial sebagaimana yang dilakukan oleh kaum laki-laki. Kultur patriarkis dalam pernikahan memberikan ruang penuh bagi perempuan sebatas kerja-kerja domestik, seolah-olah, pernikahan adalah garis akhir yang menandai selesainya masa kejayaan seorang perempuan. Penguasaan atas tubuh, jiwa dan pikiran bukanlah ekspresi dari perasaan cinta, ekspresi cinta tidak seharusnya membatasi, memenjarakan bahkan menyakiti.

Seperti yang dikatakan Nyonya Mallard dalam penggalan cerita The Strory Of An Hours “cinta sama sekali tidak dapat melakukan apapun untuk menahan sifat penonjolan diri yang merupakan sifat terbesar yang mendominasi diri” asumsi tersebut adalah efek dari manipulasi yang dilakukan Brently Mallard kepada Nyonya Mallard yang membuat Nyonya Mallard percaya bahwa suaminya mencintainya meski menempatkanya pada kesengsaraan.

Sehingga pada ledakan rasa bahagianya atas kebebasan yang akan segera ia dapatkan, Nyonya Mallard menganggap bahwa cinta yang dimiliki suaminya tidak dapat menahan dominasi diri, melainkan hanya kematian suaminyalah yang berhasil menyelesaikan penderitaannya. Sayangnya, Nyonya Mallard lah yang akhirnya harus meninggal akibat serangan jantung karena kebahagiaan yang didambakannya lenyap seketika.

Ikuti tulisan menarik Nabila Febrianti lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB