x

Hati-hati berinternet agar tak ada kebocoran data pribadi (freepik.com)

Iklan

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Selasa, 5 September 2023 13:10 WIB

Bagaimana Statistika Berbohong Kepada Kita

Apakah anda pernah berpikir bahwa statistika membohongi kita di kehidupan sehari-hari?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ilmu statistika telah memudahkan pembuatan keputusan dalam kehidupan kita. Statistika mempelajari bagaimana cara merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasikan, dan akhirnya mempresentasikan data tersebut. Intinya, statistika adalah ilmu yang bersangkutan dengan suatu data.

Namun, ada hal yang membuat statistika terkesan mencurigakan atau menyembunyikan sesuatu. Pasti dari kita banyak berpikir, mengapa ilmu yang telah membantu kita dalam merencanakan sesuatu untuk ke depannya dapat membohongi? Tentu saja tidak separah itu. Pembohongan yang dilakukan statistika tidak akan menyebabkan kehancuran dunia atau sistem tatanan kehidupan, namun bisa jadi memengaruhi keputusan kita dalam kehidupan sehari-hari.

Statistika justru merupakan sebuah alat untuk membuktikan kebenaran suatu dugaan atau hipotesis, baik dalam keilmuan maupun kehidupan sehari-hari. Dia membuktikan penyebab utama tingginya tingkat kriminalitas adalah endahnya kemakmuran atau kondisi ekonomi masyarakat, misalnya. Namun, statistika juga bisa berbohong kepada, lebih tepatnya mereka yang menggunakan ilmu ini yang bisa saja membohongi kita dalam pembuatan keputusan. Apa maksudnya? Mari kita dalami contoh sederhana berikut ini.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Engkau sedang santai di kafe dengan kopi yang biasa saja namun dengan harga yang sedikit luar biasa. Kau tiba-tiba didatangi seorang sales yang menawarkan produk. Dia menyampaikan kelebihan produk tersebut. Anda lama-lama tertarik dengan produk tersebut dan sales mengeluarkan jurus andalannya. Kata dia, “Sembilan dari 10 orang di daerah ini memakai produk kami, pak, dan sudah percaya dengan produk ini,” ujarnya.

Mari kita anggap dia menawarkan produk pasta gigi. Beberapa dari anda mungkin hanya berpikir, “Oh, mengapa saya tidak memakainya dari dulu ya? Baru sadar sekarang,” dan semakin tertarik dengan produknya. Dan bisa jadi ada dari anda yang berpikir, “Mengapa saya tidak tahu produknya? Padahal saya juga sudah lama tinggal di daerah ini dan baru dengar ada produk dengan merek ini.” Dan muncul pertanyaan krusial, “Apakah saya termasuk ke dalam 1 dari 10 orang tersebut? Atau saya tidak termasuk ke dalam populasi yang diwawancarai oleh perusahaan dari produk tersebut?”

Tentu saja jarang dari kita untuk berpikir sampai ke sana, namun pernyataan sales tersebut mengenai 9 dari 10 orang memakai produk tersebtu ini dapat kita bantah tergantung jawaban pertanyaan kita: Apakah saya termasuk ke dalam 1 dari 10 orang tersebut? Atau saya tidak termasuk ke dalam populasi yang diwawancarai oleh perusahaan dari produk tersebut?

Jika kita termasuk ke dalam 1 dari 10 orang tersebut tetapi kita tidak pernah memakai atau bahkan membeli produk tersebut, maka pernyataan ini tidak benar. Jika kita tidak termasuk dalam populasi yang diwawancarai oleh perusahaan dari produk tersebut dan kita tidak pernah memakai atau bahkan membeli produk tersebut, maka pernyataan ini benar.

Pernyataan mengenai 9 dari 10 orang yang diwawancarai di atas juga harus kita perhatikan. Apakah yang dimaksud adalah surveyor atau petugas yang melakukan survei mewawancarai seluruh kalangan masyarakat atau hanya dari golongan masyarakat tertentu saja? Jika dari seluruh masyarakat sekitar, maka 9 dari 10 orang yang diwawancarai tersebut sudah dapat mewakili pernyataan dari sales tersebut. Namun, jika yang diwawancarai hanya pada golongan tertentu saja yang bertujuan untuk memudahkan survei (yang terlihat memiliki duit atau yang terlihat lebih sejahtera), maka pernyataan 9 dari 10 orang di daerah ini memakai produk kami belum pasti kebenarannya.

Hal ini memang tidak harus kita lakukan atau terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini merupakan sekadar pengetahuan saja, apalagi jika kita sudah pernah mempelajari ilmu statistika, tidak ada salahnya untuk membuktikan hal-hal yang berbau statistika tersebut. Hanya sebagai penelitian kecil-kecil saja.

Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini