x

Iklan

Lentera Pustaka

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Agustus 2019

Selasa, 12 September 2023 10:21 WIB

Bahagia Itu Pilihan, di Balik Kisah Sunmori ke Taman Bacaan

Di balik kisah Sunday Morning Ride (Sunmori) ke taman bacaan, bahagia itu pilihan awal dan tidak terpengaruh orang lain

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Seorang pria bersama kawan-kawan komunitasnya, tiba-tiba meminta dijemput di daerah Ciapus. Untuk menuju Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Saya pun meluncur dan menemui mereka di warung kopi. Ternyata mereka para karyawan suatu perusahaan yang gemar touring pakai motor. Sebut saja komunitas Sunmori akronim dari Sunday Morning Ride.

Setelah saya tiba, mereka bertanya. Berapa lama lagi dari sini Pak? Saya pun menjawab, sekitar lima menit saja bila pakai motor. Kebetulan di TBM Lentera Pustaka hari ini lagi ada antivitas literasi. Seperti biasa, tiap harinya Minggu pagi, seluruh anak dan warga serta relawan TBM Lentera Pustaka memang berada di taman bacaan. Membaca bersama, bermain games, hingga dimotivasi akan pentingnya jadi manusia yang literat.

Sesaat sebelum berangkat menuju TBM Lentera Pustaka. Pimpinan rombongan pun mengajak kawan-kawannya untuk bersiap-siap berangkat. “Ayo bro, kita berangkat. Kita pasti suka ke taman bacaan ini. Menarik dan asyik” ujarnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Saya pun menyanggahnya. “Loh, Pak, kan belum sampai di TBM Lentera Pustaka. Kita baru mau ke lokasi, kok sudah bilang menarik dan asyik? Kan belum lihat aslinya taman bacaan kami” kata saya.

“Wah itu, tidak ada hubungannya. Menarik dan asyik itu ada di pikiran kita. Bahagia pun sesuatu yang kita putuskan dari awal. Apapun, suka atau tidaknya tergantung kita. Tidak ada pengaruh orang lain, tidak tergantung dari keadaannya. Tapi dari bagaimana kita menata pikiran sendiri. Untuk menyenangi apapun yang kita kerjakan. Bapak ini tidak lagi ngomong tapi praktik. Aksi nyata di taman bacaan, itu saya suka,” ujar si pimpinan rombongan.

Saya pun hanya terdiam dan berpikir. Hebat sekali pikiran dari si pimpinan rombongan itu, batin saya. Bahwa rasa senang dan bahagia itu harus diputuskan dari awal, ada pada diri sendiri. Pantas, sekarang banyak orang menyesal karena gagal melihat sisi baik dan positif dari yang dikerjakannya. Kerja merasa jadi beban, tiap hari mengeluh dan nelongso di media sosial.

Apa hikmahnya? Ternyata benar, hidup itu pilihan. Mau melakukan sesuatu yang membahagiakan atau berdiam diri meratapi keadaan. Mau optimis atau pesimis, itu terserah diri kita. Gagal mengubah niat baik jadi aksi nyata. Hari ini, tidak sedikit orang yang gagal berpikir positif. Gampang berkeluh kesah, mudah isi dan benci. Tapi cita-citanya, ingin sukses dan berhasil. Kok bisa?

Jadi teringat seorang yang buta. Selalu bersyukur karena datangnya hari-hari dianggap “hadiah” dari Tuhan. Untuk selalu ikhtiar dan berdoa yang baik. Tanpa mengeluhkan keadaan matanya yang buta. Buta yang melihat dengan batinnya, bukan mata fisiknya. Kurangi mengeluh, jauhkan iri dan benci. Berpikir yang positif dan selalu optimis. Itulah modal penting untuk mencapai kebahagiaan. Bahagia itu tindakan, bukan omongan. Teruslah berbuat baik dan menebar manfaat. Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

 

Ikuti tulisan menarik Lentera Pustaka lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu