x

Bahan baku alam dari Indonesia

Iklan

yelfi anwar

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 September 2023

Minggu, 17 September 2023 14:55 WIB

Dampak Nyata Kolaborasi Inovasi antara Insan Perguruan Tinggi dengan Mitra Industri Melalui Kedaireka

Bonus demografi adalah pedang bermata dua, yang bisa menjadi bencana jika tidak dikelola dengan baik, dengan kualitas SDM yang rendah dan ketidakseimbangan antara pekerja dan lapangan kerja.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi Negara-Negara Maju, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), memperkirakan bahwa pada tahun 2045 ekonomi Indonesia akan mencapai U$Rp8,89 triliun dan menjadi ekonomi terbesar ke-4 di dunia. Prediksi tersebut dilatarbelakangi, pada tahun 2030-2040, Indonesia akan mengalami bonus demografi. Jumlah penduduk Indonesia usia produktif akan mencapai 64 persen dari total penduduk, sekitar 297 juta jiwa. Indonesia akan memiliki potensi antara lain salah satu pasar terbesar di dunia, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang menguasai teknologi, inovatif, dan produktif; serta kemampuan mentransformasikan ekonominya.

Bonus demografi ibarat pedang bermata dua. Satu sisi merupakan keuntungan jika Indonesia berhasil mengkapitalisasikannya. Sebaliknya akan menjadi “bencana” apabila kualitas manusia Indonesia tidak disiapkan dengan baik, misalnya penduduk yang tidak berkualitas dan produktivitas rendah; serta rasio pekerja dan lapangan pekerjaan yang timpang.

Potensi tersebut harus diwujudkan antara lain dengan meningkatkan nasionalisme, kualitas SDM, membangun infrastruktur, dan transformasi ekonomi. Di samping itu, seluruh komponen bangsa (Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan dan masyarakat) harus bersinergi dan berkomitmen untuk menjadikan Indonesia Maju.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dalam mewujudkan Indonesia Maju, segenap komponen bangsa harus meningkatkan nasionalisme dan berpegang teguh kepada 4 pilar kebangsaan dan melawan paham yang bertentangan dengan pondasi negara.

Banyak negara di dunia ini, yang tertinggal bahkan berantakan karena mengabaikan ketetapan yang telah disepakati dan lunturnya nasionalisme.  Oleh sebab itu, kebersamaan dan nasionalisme harus selalu ditingkatkan; dan memfokuskan energi bangsa ini untuk membangun Indonesia.Salah satu penggerak utama kemajuan bangsa adalah kualitas SDM. Oleh sebab itu, sejak 2019, fokus utama APBN adalah pembangunan SDM. Pembangunan SDM Indonesia seyogyanya memfokuskan kepada karakter, pendidikan yang berorientasi kepada keahlian dan penguasaan teknologi.

Dunia pendidikan Indonesia harus mampu mencetak SDM yang mempunyai nasionalisme dan integritas tinggi. Lulusan pendidikan termasuk pendidikan tinggi diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja; terkoneksi dengan industri (link and macth); serta mengembangkan inovasi dan kreatifitas dengan menguasai teknologi. Non scholae sed vitae discimus (pendidikan harus memberi bekal untuk menjalani kehidupan, bukan hanya menghasilkan ijazah).

Untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Indonesia harus melakukan transformasi ekonomi yang dapat meningkatkan produktivitas dan nilai tambah yang tinggi di berbagai sektor. Transformasi ekonomi seharusnya dilakukan antara lain dengan memperkuat sektor-sektor ekonomi prioritas, memperkuat industri manufaktur yang berorientasi eksport, memanfaatkan teknologi informasi, meningkatkan kapasitas ekonomi rakyat dan meningkatkan industri kreatif. Produk dalam negeri harus mempunyai nilai tambah dan daya saing sehingga kompetitif di pasar domestik maupun internasional. Disamping itu, seluruh komponen bangsa harus membangun cinta produk dalam negeri.

Kebijakan menuju Indonesia Maju harus direncanakan dengan baik. Jika bangsa Indonesia gagal dalam merencanakannya dengan baik, sama dengan merencanakan kegagalan. Oleh sebab itu dibutuhkan komitmen yang kuat untuk membuat perencanaan yang baik tersebut. Di samping itu, kebijakan yang telah direncanakan dengan baik harus dilaksanakan secara konsisten, terstruktur, sistematis dan masif. Siapapun pemimpin bangsa ini, harus mempunyai komitmen untuk melaksanakan kebijakan Indonesia Maju 2045, bersama-sama dengan seluruh bangsa Indonesia. Tiada keberhasilan tanpa kerja keras, cerdas serta kebersamaan. Dengan demikian Indonesia Maju 2045 akan menjadi kenyataan bukan fatamorgana, ketika semakin dekat, harapan/keindahannya akan lenyap.

Ada 3 cara untuk mencapai Indonesia maju yaitu inovasi, kolaborasi dan adaptasi antara lain antara insan perguruan tinggi dan industry.

Menurut Barnet (1992:35), ada empat pengertian atau konsep tentang hakikat perguruan tinggi yaitu Perguruan tinggi sebagai penghasil tenaga kerja yang bermutu (qualified manpower). Perguruan tinggi sebagai lembaga pelatihan bagi karier peneliti. Mutu perguruan tinggi ditentukan oleh penampilan/ prestasi penelitian anggota staf. Perguruan tinggi sebagai organisasi pengelola pendidikan yang efisien. Perguruan tinggi sebagai upaya memperluas dan mempertinggi pengkayaan kehidupan.

Dalam UU No. 12 Tahun 2012 pasal 5 disebutkan 4 (empat) tujuan pendidikan tinggi, yaitu sebagai berikut: Berkembangnya potensi Mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa, dihasilkannya lulusan yang menguasai cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa, dihasilkannya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui Penelitian yang memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa, serta kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia, terwujudnya Pengabdian kepada Masyarakat berbasis penalaran dan karya Penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan Tinggi memiliki beberapa fungsi, sebagaimana disebutkan dalam UU No. 12 Tahun 2012 Pasal 4 bahwa pendidikan tinggi memiliki 3 (tiga) fungsi sebagai berikut: mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan Sivitas Akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma, dan mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora.

Tri Dharma Perguruan Tinggi terdiri dari 3 poin , yaitu: Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, Pengabdian kepada Masyarakat. Tri Dharma Perguruan Tinggi bukan hanya menjadi tanggung jawab mahasiswa. Seluruh dosen (pendidik), serta orang – orang yang terlibat dalam proses pembelajaran ( sivitas akademika) memiliki tanggung jawab yang sama.

Pendidikan dan pengajaran adalah point pertama dan utama dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pendidikan danpengajaran memiliki peranan yang sangat penting dalam suatu proses pembelajaran. Pendidikan dan pengajaran yang baik akan menghasilkan bibit unggul dari suatu perguruan tinggi yang akan mampu membawa bangsa ini kearah bangsa yang lebih maju .

Dari penelitian dan pengembangan maka mahasiswa mampu mengembangkan ilmu dan teknologi. pada penelitian dan pengembangan mahasiswa harus lebih cerdas, kritis dan kreatif dalam mejalankan perannya sebagai agent of change. Mahasiswa harus mampu memanfaatkan penelitian dan pengembangan ini dalam suatu proses pembelajaran untuk memporoleh suatu perubahan – perubahan yang akan membawa Indonesia kearah yang lebih maju dan terdepan.

Pengabdian kepada masyarakan dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan positif. Pada hal ini mahasiswa harus mampu bersosialisasi dengan masyarakatdan mampu berkontribusi nyata. Seperti yang kita ketahui selama ini bahwasannya mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat, agent of change dan lainya. Maka dari itu mahasiwa haru mengetahui porsi dari tugas meraka masing – masing dalam mengabdi kepada masyarakat.

Ekosistem Kedaireka hadir untuk mendorong kemitraan yang konkrit dan berkelanjutan antara Industri dan Perguruan Tinggi demi pengembangan inovasi yang kolaboratif. Ekosistem ini dibuat sebagai wadah bagi para Insan Perguruan Tinggi agar dapat berpartisipasi dalam riset yang sesuai kebutuhan Industri dan penyelesaian permasalahan yang ada di masyarakat.

Rekatalks; Kegiatan dengan konsep talk show yang akan menyajikan kisah – kisah inspiratif dari Insan Perguruan Tinggi dan mitra industri yang telah saling berkolaborasi di Kedaireka, serta public figure inovatif yang bertujuan memberikan inspirasi dan menjadi pemicu awal untuk hadirnya inovasi dan kolaborasi yang lebih masif di masa depan.

Rekapods; Kegiatan podcast yang menyebarkan inspirasi inovasi melalui obrolan ringan untuk membahas perihal inovasi yang telah terimplementasikan, success story, dan manfaat lainnya dari program Kedaireka. Selain itu, RekaPods juga akan menghadirkan Mitra DUDI untuk memberikan insights seputar tren terkini dan peluang kolaborasi inovasi.

Rekapreneur; Program yang memberikan pelatihan kepada Insan Perguruan Tinggi untuk mengembangkan potensi mereka dalam melakukan proses pitching, penyusunan proposal inovasi, dan negosiasi yang akan dipandu langsung oleh ahli akademisi dan praktisi yang sudah berpengalaman di bidangnya masing – masing.

CEO Mentorship; Program CEO Mentorship bertujuan untuk meningkatkan minat Insan Perguruan Tinggi, umum dan industri dalam berkolaborasi serta berinovasi melalui cerita pengalaman para pemimpin dan ahli di bidangnya. Melalui program ini, Insan Perguruan Tinggi dan industri diharapkan dapat terinspirasi mengambil aksi nyata dan berinovasi untuk menyelesaikan permasalahan – permasalahan yang ada.

Matchmaking; Sebuah program sharing knowledge dan speed networking yang mempertemukan ide-ide inovasi baru dari Insan Perguruan Tinggi dan Inovasi yang sudah dilakukan industri dengan tujuan untuk mengakselerasi terjadinya proses kolaborasi antar Insan Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).

Matchmaking Innovation Forum; Sebuah program sharing knowledge dan speed networking yang mempertemukan ide-ide inovasi baru dari Insan Perguruan Tinggi dan Inovasi yang sudah dilakukan industri dengan tujuan untuk mengakselerasi terjadinya proses kolaborasi antar Insan Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri telah menjadi salah satu pendorong utama perkembangan ekonomi dan inovasi di berbagai negara. Kedaireka, atau kerja sama dalam bidang riset dan pengembangan antara institusi pendidikan tinggi dengan mitra industri, telah membuka peluang untuk menciptakan dampak nyata di berbagai sektor. Artikel ini akan membahas dampak nyata dari kolaborasi inovasi ini melalui beberapa contoh konkrit.

Inovasi dalam Produk dan Layanan; Satu hal yang menonjol dari kolaborasi antara industri dan dosen/peneliti adalah komitmen mereka terhadap pengembangan produk dan layanan. Misalnya, untuk mengembangkan perangkat medis yang lebih fleksibel, dosen/peneliti berkolaborasi dengan bisnis teknologi. Kolaborasi tersebut menghasilkan sistem medis yang lebih andal, efisien, dan kuat yang, pada gilirannya, meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat.

Pendidikan dan Pelatihan yang Lebih Relevan; Kolaborasi dengan industri memungkinkan dosen/peneliti untuk mengembangkan kurikulum yang lebih relevan dengan tuntutan pasar kerja. Dengan berpartisipasi dalam proyek bersama, mahasiswa dapat memperoleh instruksi dan pemahaman berkelanjutan tentang praktik saat ini di industri sasaran. Hal ini memudahkan lulusan untuk memahami informasi tentang dunia kerja.

Penelitian dan pengembangan baru; Kolaborasi ini juga memfasilitasi penelitian dan pengembangan baru. Ketika ilmuwan dan peneliti akademis berkolaborasi dengan praktisi industri, mereka dapat mengakses sumber daya tambahan dan pengetahuan  berharga. Salah satu contohnya adalah pengembangan teknologi energi terbarukan yang didorong oleh kolaborasi antara universitas dan perusahaan energi.

Daya Saing Global; Kedaireka membantu meningkatkan aktivitas ekonomi daya saing di sekitar. Negara-negara yang mendorong kolaborasi antara akademisi papan atas dan industri terus memiliki sistem ekonomi yang lebih maju. Hal ini membuat mereka lebih mampu menghasilkan investasi asing secara langsung dan meningkatkan bisnis internasional.

Solusi untuk Jejaring Sosial; Dalam beberapa kasus, kolaborasi ini dapat menghasilkan solusi komprehensif untuk tantangan sosial. Misalnya, universitas bekerja sama dengan pemerintah dan industri untuk memecahkan masalah lingkungan seperti polusi udara atau perubahan iklim. Hasil akhirnya adalah inovasi teknologi dengan aplikasi luas dan ekosistem yang sehat.

Penciptaan Lapangan Kerja Baru; Kolaborasi inovasi dapat mengarah pada pertumbuhan ekonomi yang signifikan dan munculnya lapangan kerja baru. Ketika sebuah organisasi melibatkan seorang mahasiswa atau dosen tingkat senior dalam sebuah proyek inovatif, itu tidak hanya menawarkan mereka keuntungan finansial tetapi juga membantu mereka menurunkan angka pengangguran.

Akses Sumber Daya Tambahan; Universitas dapat mengakses sumber daya tambahan seperti pendanaan, fasilitas dan peralatan yang diperlukan untuk penelitian dan pengembangan. Mitra industri sering kali memberikan dukungan finansial untuk proyek inovasi ini, yang dapat meningkatkan kapasitas universitas untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam.

Kolaborasi inovatif antara dosen dan mitra industri melalui kedaireka mempunyai dampak nyata dan luas, mulai dari pengembangan produk dan layanan hingga peningkatan daya saing global dan penyelesaian permasalahan masyarakat. Penting untuk mendorong dan mendukung kolaborasi semacam ini untuk mencapai kemajuan jangka panjang dan memberi manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan.

 

 

 

Ikuti tulisan menarik yelfi anwar lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu