x

https://nasional.tempo.co/read/1447769/platform-kedaireka-kemendikbud-jodohkan-kampus-dan-industri

Iklan

Ceng Pandi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 September 2023

Rabu, 20 September 2023 14:52 WIB

Kedaireka: Platform Perjodohan Modern

Artikel ditulis sebagai langkah lanjut dari kelas Kedaireka Academy Inspirasi Inovasi: Pelatihan Menulis Artikel Populer Kemdikbud dengan Tempo

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Platform Kedaireka berhasil menjadi alat perjodohan Insan Dikti dengan Mitra. Melalui laman ini, inovasi yang cenderung melangit ditarik turun membumi dan bisa dinikmati para pihak di seluruh pelosok negeri. Di laman ini jualah, masing-masing pihak, Insan Dikti ataupun Mitra, bisa dengan leluasa dan terbuka mendeskripsikan diri masing-masing.

Walaupun pada mulanya ini adalah sebuah perjodohan, tentu sangat jauh berbeda dengan perjodohan Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih. Perjodohan melalui lama Kedaireka ini adalah perjodohan modern, sarat dengan nilai keadilan, yang dilakukan oleh Pemerintah sebagai orang tua, Insan Dikti sebagai anak, dan Mitra sebagai calon pasangan.

Sebagai orang tua modern, kemerdekaan sang anak betul-betul menjadi prioritas dalam menentukan masa depannya, termasuk dalam memilih jodoh. Meski begitu orang tua tetap bertanggung jawab menghantarkan sang anak supaya lebih baik. Salah satu bentuk tanggung jawab tersebut yaitu memberikan kriteria yang bisa dipenuhi.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Seperti saran Rasulallah dalam hadisnya, bahwa kriteria jodoh atau pasangan hidup setidaknya memperhatikan empat hal yakni kemapanan (ekonomi), latar belakang keluarga (nasab), penampilan (performance), dan keyakinan (agama). Jika keempat hal tersebut didapat, maka akan bertemu dengan kesuksesan dan kebahagiaan. Sebagai orang tua, melalui platform Kedaireka-nya, Pemerintah berupaya menyediakan kriteria calon pasangan untuk para Insan Dikti -sebagai bala puteranya-. Siapa saja yang mendapati empat kriteria tersebut, maka orang tua akan sangat mendukung.

Kriteria yang pertama adalah soal ekonomi atau kemapanan. Di dalam program ini, para calon mitra dipastikan supaya siap berkontrobusi baik cash maupun inkind setengah dari biaya yang dibutuhkan. Kesediaan mitra dalam hal ini menunjukan tentang kecukupan atau kemapanan dalam sisi ekonomi -seorang calon pasangan-. Tanpa ada kesiapan ini, pemerintah menolak lamaran mitra. Tidak ada orang tua yang mau mengikhlaskan anaknya hidup bersama orang yang tidak siap dalam ekonomi.

Kedua, latar belakang keluarga (nasab) calon mitra. Dalam hal ini, Pemerintah menekankan (mewajibkan) bahwa salah satu syarat calon mitra yang bisa mengikuti perjodohan Kedaireka harus memiliki kejelasan legal formalnya. Hanya Lembaga berbadan hukum, yang terdaftar dan diakui oleh pemerintah, yang bisa mengikuti program ini. Tanpa kejelasan itu, sebagai orang tua, Kedaireka tidak merekomendasikan anaknya menjalin hubungan dengan pasangan yang tidak jelas asal usulnya.

Kriteria ketiga tentang penampilan. Kriteria ini diartikan sebagai daya tarik dan pemikat yang dihasilkan dari sebuah perjodohan. Pemerintah seakan berharap, perjodohan Insan Dikti dan Mitra harus melahirkan daya tarik dan performa inovasi yang keren, unik, orisinal, dan tentu saja sesuai dengan kebutuhan zaman. Di dalam menentukan kecocokan kriteria ini, Pemerintah melalui tim Kedaireka sangat selektif, mulai dari pemeriksaan administrasi, substansi, pemantauan pelakanaan, sampai evaluasi program. Lagi-lagi, upaya ini persis dilakukan para orang tua dalam mendampingi anak-anaknya berrumah tangga, supaya bisa melahirkan generasi penerus yang hebat dan lebih baik.

Keempat, kriteria yang harus dipenuhi adalah unsur keyakinan atau agama mitra. Unsur ini sangat penting, bahkan menjadi prioritas karena sangat berpengaruh pada ketiga kriteria sebelumnya. Jika keyakinannya bulat, tekad dan semangatnya baik, maka segala bentuk kebutuhan dan komitmen akan diikuti dengan baik. Program yang direncakan dengan baik akan berlangsung lancar tanpa kendala atau hambatan yang serius.

Tidak cukup dengan pemenuhan kriteria itu, sebagai orang tua yang baik, Pemerintah membekali hampir setengah dari modal yang disediakan Insan Dikti dan Mitra. Ia tidak ingin beban dipikul oleh kedua mempelai. Sebagai bentuk tanggung jawab terakhir orang tua yang menikahkan anak-nya, ia memberikan bekal yang sangat cukup untuk keberlangsungan program yang disepakati bersama.

Syahdan, Kedaireka adalah karpet merah yang disediakan pemerintah untuk para innovator yakni dosen di perguruan tinggi. Hasil tridarma perguruan tinggi tidak dibiarkan membeku di ruang-ruang kelas atau gedung yang menjulang, melainkan didorong supaya dibagikan melalui langkah kolaborasi. Segitiga kolaborasi ini menjadi model baru yang mampu merekatkan gap yang selama ini terjadi antara inovasi yang berbinar di atas menara gading pendidikan tinggi dengan kebutuhan atau permasalahan yang menimpa para stakeholder di atas bumi. [Sopandi]

Ikuti tulisan menarik Ceng Pandi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu