x

kemerdekaan belajar bersama

Iklan

Wahyu Umattulloh AL

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Maret 2022

Senin, 2 Oktober 2023 08:28 WIB

Merdeka Belajar; Merdeka di Balik Meja Sekolah dan Budaya Jujur.

Pendidikan budi pekerti harus sesuai dengan ruh kebangsaan untuk menuju kesucian hidup batin dan ketertiban hidup serta kedamaian hidup. Cerminan merdeka belajar yang sesuai dengan kebudayaan bangsa kaitannya yakni tentang prinsip kejujuran.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Otak-Atik Gathuk Dunia pendidikan ku,
semoga kali ini benar-benar merdeka kodrat pesert didik,
bukan selogan kurikulum semata
”.

Pendidikan menjadi cara penyadaran terhadap manusia untuk mampu mengenal, memahami, dan mengetahui realitas yang ada. Dunia pendidikan tidak lepas dari salah satu tokoh sentral dalam perkembangan dunia pendidikan, tokoh tersebut yakni Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara memberikan pemahamannya terkait dunia pendidikan yang ada di Indonesia. Menurutnya pendidikan merupakan usaha untuk menuntun segenap kekuatan kodrat atau dasar pada anak sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Konsep pendidikan yang di ungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara yakni pendidikan yang memerdekakan dengan tujuannya adalah kemerdekaan. Merdeka berarti setaip orang dapat memilih untuk menjadi apa. Falsafah terkandung di dalamnya yakni ing ngarasa sung talada, ing madya mangun karya, tut wuri handayani. Artinya, di depan memberikan contoh, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberikan dorongan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pandangan –pandangan Ki Hadjar Dewantara tentang pembelajaran tidak hanya berada di ruang lingkup sektor sekolah, tetapi juga berada di ruang lingkup keluarga dan masyarakat. Ruang lingkup tersebut memiliki segala unsur peradaban dan kebudayaan yang dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya. Dan mampu kita teruskan kepada anak cucu kita yang akan datang. Berdirinya Tamansiswa yang membawa kemerdekaan nusa dan bangsa untuk mengejar keselamatan dan kebahagiaan rakyat, tidak mungkin tercapai hanya dengan jalan politik.

Taman siswa berdiri  pada tanggal 3 Juli 1922 dengan tujuan sebagai bentuk perjuangan dalam menentang kolonialisme di Indonesia. Taman siswa didirikan untuk menentang penjajahan melalui jalur pendidikan dan kebudayaan. Dalam hal ini para penguasa bangsa Belanda di Indonesia sebenarnya sama sekali tidak memperhatikan soal pendidikan dan kebudayaan .Latar belakang itu menjadi alasan tersendiri bagi Ki Hadjar Dewantara untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan semua masyarakat Indonesia.

Pendidikan Zaman Kolonial Di Era VOC Dan Hindia Belanda.

Seperti diketahui zaman OIC (Oost Indische Compagnie) bangsa Belanda menganggap Indonesia semata-mata sebagai objek perdagangan. Pendidikan dan pengajaran diserahkan kepada para pendeta kristen. Instruksi yang menegaskan terkait hal itu yakni pihak rakyat hanya diberikan pengajaran membaca, menulis, dan berhitung. Akan tetapi hanya seperlunya saja dan melulu untuk mendidik orang-orang pembantu dalam beberapa usahanya. Jadi maksud dari tujuan pembelajaran yang ada waktu itu hanya untuk memperkuat bagi kalangan-kalangan rakyat yang ada diperusahaan-perusahaan miliki belanda.  Lebih dari itu anak-anak bangsa eropa harus mendapatkan pendidikan tanpa terkecuali. Maksud dan tujuan dari sekolah saat itu adalah untuk mendidik calon-calon pegawai negeri dan pembantu-pembantu perusahan kepunyaan Belanda.

Pendidikan Saat Ini Selepas Kemerdekaan Indonesia.

Selepas kemerdekaan yakni pada saat ini pendidikan mengalami berbagai macam tranformatif dengan bongkar pasang kurikulum yang berjarak hanya hitungan tahun, atau secara lugas setiap Menteri Pendidikan ganti di situ pula kurikulum pendidikan akan diganti pula. Sisi lain dari perubahan tersebut memiliki maksud untuk mencoba mengintegrasikan gagasan Ki Hadjar Dewantara dengan pola pendidikan yang konkret. Salah satunya yakni Kurikulum Merdeka yang digembor-gemborkan sebagai merdeka belajar.

Pendidikan yang memerdekakan mencakup tiga hal yakni menekankan kemandirian siswa, menekankan kemerdekaan lahir dan batin, serta menekankan keterlibatan peserta didik. Saat ini guru harus wajib memilih dan merancang pembelajaran yang inovatif agar peserta didik merasa merdeka, tanpa harus menghilangkan kodrat dari setiap murid, sebab kodrat adalah ciri khas atau keistimewaan yang mereka miliki bahkan mungkin tidak dimiliki oleh orang lain.

Kesesuaian di ruang lingkup pembelajaran sekolah yakni masih terdapat beberapa aktor pendidik yang masih mencampur adukan siswa satu dengan kodrat yang berbeda, dipaksa untuk membaur dengan lainnya. Selebihnya masih terdapat fenomena Argument ad Verecundiam yang berlandasakan benar tidaknya sesuatu ditentukan oleh orang yang memiliki status lebih tinggi.  Sebagai gambaran guru yang merasa selalu benar akibat dirinya memiliki status lebih tinggi ketimbang muridnya, sehingga guru membutakan akan adanya kodrat alam di dalam muridnya.  Bahkan ditambah dengan kesukaran peserta didik untuk belajar dengan tentram, karena dihantui oleh ujian yang sangat keras dalam tuntutannya.Mereka dipaksa menghafal tanpa memahami, mereka di kendalikan oleh batasan-batasan untuk berlogika menggunakan kodrat yang mereka miliki masing-masing.

Kembali apabila kita merujuk terhadap pernyataan Ki Hadjar Dewantara bahwasannya pendidikan budi pekerti harus sesuai dengan ruh kebangsaan untuk menuju kesucian hidup batin dan ketertiban hidup serta kedamaian hidup. Ruh kebangsaan yang dilenggangkan dengan 5 sila pancasila dan ditambah oleh semboyan bangsa, seharusnya menjadi cerminan dalam merdeka belajar yang komprehensif. Cerminan merdeka belajar yang sesuai dengan kebudayaan bangsa kaitannya yakni tentang prinsip kejujuran. Hal ini apabila sekolah masih membatasi para siswa hanya berada dikoridor perebutan nilai bagus seperti saat ini, maka secara perlahan membuka pintu-pintu ketidak jujuran demi menggapai sesuatu. 

Sebagai refleksi banyak peserta didik di Sekolah berburu nilai-nilai dan pujian parsial dari guru dengan berbagai macam cara curang, seperti mencontek, mengcopy karya orang lain, dan mengintimidasi mereka yang mencoba mengembangkan kemampuan di dalam sekolah.  Hal itu masih terjadi sampai saat ini yang katanya merdeka belajar dengan berlandaskan kebudayaan bangsa, lalu tindakan seperti itu apakah sesuai dengan kebudayaan yang luhur dan berbudi?.

Kesadaran untuk menanamkan berbudaya jujur dengan pendidikan berpikir kritis baik dilakukan oleh pendidikan in formal (keluarga) atau pendidikan formal (Sekolah), Anak didik akan menyadari kerugian dari tindakan tidak jujur bagi masa depan mereka sendiri sehingga mereka tidak melakukan kecurangan dalam kegiatan pendidikan.

Surabaya, 26 September 2023.

Biodata Penulis :

Wahyu Umattulloh AL
Alumni Sosiologi FISIP

Ikuti tulisan menarik Wahyu Umattulloh AL lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu