x

Iklan

Roni Ali Rahman

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 September 2021

Senin, 16 Oktober 2023 12:14 WIB

Distingsi Mahasiswa Reformasi dan Mahasiswa Hari Ini

Pemikiran itu tidak terlepas dari gaya mereka yang menarik dan berlebih-lebihan. Rambut panjang, kacamata hitam, celana komprang, jaket jins, tubuh cungkring. Mungkin mirip gaya Rhoma Irama kala itu. Menjadi gaya yang mewah dan berlebih lebihan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mahasiswa selalu memiliki gaya tersendiri, tren serta gaya yang sering berubah-rubah dalam kultur mahasiswa. Coba bedakan dalam style mahasiswa reformasi kebelakang dan mahasiswa generasi hari ini. Tentu saja memiliki ciri berbeda. Begitu juga pemikirannya ada pergeseran gerakan dan role model baru pada mahasiswa kekinian.

Dalam kultur mahasiswa era reformasi gerakan ekstrim, gerakan demonstran, pemikir- pemikir hadir dalam gerak merebut reformasi dari rezim matinya demokrasi menjadi latar belakang mahasiswa-mahasiswa kala itu bergejolak.

Pemikiran itu tidak terlepas dari gaya mereka yang menarik dan berlebih lebihan. Rambut panjang, kacamata hitam, celana komprang, jaket jeans, tubuh cungkring. Mungkin mirip gaya Rhoma irama kala itu. Menjadi gaya yang mewah dan berlebih lebihan. Namun itu semua seirama dengan pemikiran dan gerakan yang keluar pada masa itu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sedangkan tren gaya mahasiswa hari ini tidak seirama dengan pikiran-pikirannya. Kasus-kasus mahasiswa demonstran, yang seolah-olah mau mengulang reformasi Bahakan kalau bisa jadi revolusi hanya sepertinya halusinasi. Gaya kekinian yang ditampilkan, keren-kerenan menjadikan mahasiswa menjadi sorotan berbeda ketika gerak dan pikirannya tidak sama.

Kasus demo RKUHP, demo di berbagai universitas misalkan. Bukan menolak adanya demo. Tapi bagaimana jika demonya tidak akurat, kekurang data dan kajian dapat kita terima? Ya jadinya mahasiswa hanya menjadi bulan-bulan masyarakat Indonesia. 

Terjadinya hal ini imbas dari perubahan culture. Sebab mahasiswa hari ini hanya dapat meniru style dan gayanya yang berlebih-lebihan sehingga pikiran-pikirannya terbengkalaikan, baca-bacaannya sangat ketinggalan.

Maka dari itu kesadar kritis dari mahasiswa perlu terhadap kesesuaian style dan gayanya yang hanya dapat ditiru tetapi juga kesesuaian pikiran, bacaan dan gerakan juga harus serupa. Agar mahasiswa memiliki martabat tersendiri di masyarakat luas ini.

Ikuti tulisan menarik Roni Ali Rahman lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu