x

Iklan

Ilham Pasawa

Penulis
Bergabung Sejak: 8 November 2021

Senin, 23 Oktober 2023 22:26 WIB

Serupa Hubungan Marcos - Duterte dalam Pemilu Filipina, Prabowo Diuntungkan Jokowi Dirugikan

Fenomena politik tanah air yang menggelitik ini mengingatkan pada persekongkolan politik keluarga Marcos dan Duterte dalam Pemilu Filipina 2021 silam. Saat itu Duterte dan Marcos memiliki partai yang berbeda. 

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Minggu malam tanggal 22 Oktober 2023 akhirnya Prabowo mengumumkan nama yang akan mendampinginya dalam perhelatan Pemilu 2024 mendatang. Seperti yang sudah diprediksi beberapa pengamat dan masyarakat, nama Gibran Rakabuming resmi diumumkan sebagai bakal cawapres Prabowo Subianto.

Fenomena politik yang syarat drama dan skandal ini memang tak ada habisnya. Sebelumnya Gibran terhalanhgbatas usia capres-cawapres, namun kemudian berkat tangan cantik dan lobi manis ketua MK Anwar Usman yang tak lain adalah pamannya (Adik Ipar Jokowi) MK mengabulkan gugatan batas usia capres dengan penambahan kalimat norma di akhir batas usia yang mesti 40 tahun. 

Namun, fenomena politk yang menggelitik ini mengingatkan saya pada sebuah aliansi politik yang terbilang cukup mirip dengan kejadian yang tengah terjadi di Indonesia saat ini, yaitu persekongkolan politik keluarga Marcos dan Duterte dalam pemilu Filipina 2021 silam. Dimana yang notabenenya Duterte dan Marcos memiliki partai yang berbeda. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pada pemilu 2022 silam, hubungan Marcos dan Duterte agak mirip dengan hubungan Prabowo dan Jokowi saat ini. Dimana para pendukung Duterte diarahkan untuk memilih Marcos Jr yang akan didampingi oleh Puteri Duterte sebagai Wakilnya. Di Indonesia sendiri, kita saksikan bersama, setelah nama Gibran muncul dalam pilihan bacawapres Prabowo Subianto, ramai relawan yang sejak 2014 lalu bersama Jokowi bermanuver untuk memilih Prabowo. Tentu manuver politik yang dilakukan relawan yang terjadi cukup masif ini tak mungkin dilakukan secara spontan atau kebetulan. Gerakan manuver ini seakan memiliki satu komando yang dengan sengaja mengarahkan dukungan atau suara Jokowi untuk Prabowo. 

Marcos Jr pun akhirnya terpilih menjadi presiden Filipina. Namun, ada hal yang mesti dikhawatirkan jika ada dua keluarga kuat dalam politik bilamana bersatu, akan menghadirkan suatu sistem politik dinasti yang akan menggerogoti kesucian Demokrasi. Kekhawatiran itu tentu bukan tanpa alasan, karena bila hal itu terjadi, maka di pemilu yang akan datang akan terjadi pengulangan belaka. 

Keputusan Koalisi Prabowo memilih Gibran sebagai Cawapres memang seperti pertaruhan Jokowi. Hal ini juga semakin menguatkan bagaimana hubungan Jokowi dengan PDIP. 

Dukungan Jokowi kepada Prabowo akan sangat menguntungkan koalisi. Dengan hadirnya Gibran sebagai Cawapres, maka itu menjadi titik temu partai koalisi untuk semakin solid. Pengaruh Jokowi Effect juga akan sangat terasa, karena loyalis Jokowi sudah akan dipastikan akan memberikan suaranya pada Pasangan Prabowo-Gibran, namun hal sebaliknya akan dirasakan Jokowi. Stigma buruk akan menghantui Jokowi di masa-masa akhir jabatannya sebagai Presiden, karena ia dianggap memanfaatkan kekuasaan untuk membangun dinasti politiknya. 

Dibalik itu semua, mari kita saksikan bersama apakah pasangan Prabowo-Gibran akan mampu mengulang kesuksesan pasangan Marcos Jr-Sara Duterte pada pemilu Mei 2022 silam? 

Ikuti tulisan menarik Ilham Pasawa lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu