x

Sumber foto: Deutsche Welle.

Iklan

Farida Indriastuti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 Oktober 2023

Kamis, 26 Oktober 2023 13:56 WIB

Melirik Kerja Media-media Independen dalam Liputan Perang Israel-Palestina

Banyak sudut pandang yang tak akan kita temukan di media-media mainstream barat seperti CNN, ABC News, Fox News, MNSBC, Wall Street Journal, New York Post dan lainnya. Tentu ada kepentingan kebijakan, politik redaksional, modal pengusaha, kontrol penguasa dan lainnya. Sedangkan media-media independen berbasis dana publik, bersumber dari dana keanggotaan, langganan dan donasi publik. Tentu tanggung jawab menyajikan kebenaran lebih besar di media-media independen dan jauh dari kepentingan penguasa.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh Farida Indriastuti

 

Saya bayangkan semua jurnalis yang meliput di wilayah perang Israel-Palestina memilih berpihak kepada suara hati nurani, warga sipil, kode etik jurnalistik, kode perilaku jurnalis dan international humanitarian law. Sayangnya, ada sebagian jurnalis yang memilih bekerja dengan  bias dan sangat tidak fair. Seorang reporter TV asing Digi24 seolah-olah melaporkan live report situasi bahaya di Tel Aviv, Israel, dengan ancaman rudal pihak musuh. Sedangkan di samping reporter TV yang tengkurap dengan menggunakan rompi anti peluru itu, warga sipil berjalan kaki lalu lalang, duduk di bangku taman, naik sepeda onthel dan aktivitas santai lainnya. Sungguh tak terlihat dramatis, namun sangat drama yang penuh kebohongan sebagai jurnalis.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kebohongan dalam kerja jurnalistik, hanya akan menghancurkan kredibilitas profesi dan media. Saya berteman baik dengan para jurnalis asal Palestina dan Israel. Di saat media-media mainstream barat pada posisi bias. Teman-teman inilah yang membuat laporan lebih fair dengan menekankan pada nilai kemanusiaan, menyuarakan terbunuhnya jurnalis, dokter, staf PBB, relawan kemanusiaan, lansia, perempuan, anak-anak, balita dan kelompok rentan lainnya.

Apalagi sebagai jurnalis di Indonesia yang tidak melakukan reportase di wilayah perang Israel – Palestina, tidak seharusnya hanya menulis berita dari sumber media-media mainstream yang bias, perlu gunakan metode double check secara berlapis seperti visual investigation, forensic architecture, fact checking, jurnalisme data dan lainnya.

Saya memilih baca media-media yang independen seperti The Intercept, DemocracyNow, Propublica, Geopolitical Economy, The Correspondent dan lainnya. Bagi saya, news value tak seharga nyawa. Meski satu nyawa ponakan kecilnya Ahmed Alnaouq, jurnalis Palestina yang kehilangan 30 anggota keluarganya saat mereka tertidur lelap di rumah mereka, akibat ledakan rudal Israel. Baru-baru ini junalis Palestina, Mohammed Farra, kehilangan istri dan semua anaknya. Begitu juga jurnalis Palestina lainnya, Wael Al-Dahdouh juga kehilangan istri dan anak-anaknya. Setidaknya 25 jurnalis peliput perang Israel-Palestina tewas menjadi target pembunuhan oleh Israel.

Saya tidak menonton TV News Channel yang sifatnya breaking news atau straight news cukup lama, hingga hari ini. Saya lebih membaca media-media online yang bergenre slow journalism dengan kedalaman; in depth atau investigatif. TV pun saya memilih feature atau long documentary melalui perangkat smartphone. Media-media independen mencari sisi lain dari konflik Israel – Palestina, tidak melulu kematian dan kehancuran akibat ledakan rudal dari kedua pihak yang berseteru. Semisal, media Mondoweiss yang berbasis di Amerika Serikat dan fokus pada isu-isu kebijakan Israel, Palestina dan Amerika Serikat, media ini didanai oleh dana publik dan selalu menyajikan critical coverage.

 Jurnalis Jonathan Ofir menulis artikel di Mondoweiss yang berjudul “Israeli think tank lays out a blueprint for the complete ethnic cleansing of Gaza” pada 23 Oktober 2023, dia menuliskan, “The Hamas attack on Israeli towns surrounding Gaza on October 7 has provided a pretext for anprecedented, genocidal revenge campaign by Israel involving the massacre of now nearly 5,000 Palestinians, including over 2,000 children – and that may only the beginning. Now, an Israeli think tank with ties to Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu is promoting plans for the complete ethnic cleaning of Gaza.”

 Pada 17 Oktober, the Misgav Institute for National Security & Zionist Strategy    menerbitkan sebuah makalah yang menganjurkan relokasi dan penyelesaian akhir seluruh penduduk Gaza, laporan tersebut menganjurkan pemanfaatan tujuan lama Zionis, yaitu memindahkan warga Palestina dari tanah bersejarah mereka.

Bahkan Jonathan menelusuri jejak genosida sudah sejak 2014, ada 7 poin dalam proposal yang diajukan Moshe Feiglin (sekarang libertarian politician) kepada Netanyahu untuk the ethnic cleaning of Gaza. Jonathan menelusuri banyak arsip-arsip dalam bahasa Ibrani. Dalam wawancara Channel 14, Feiglin menyerukan sandi “Dresden” untuk Gaza (mengacu pada pengeboman Dresden pada Perang Dunia ke 2  pada Februari 1945, yang menewaskan 25.000 orang).

Media Israel Calcalist melaporkan dalam bahasa Ibrani tentang rencana the ethnic cleaning of Gaza yang diedarkan oleh Kementerian Intelijen Israel yang dipimpin oleh  Gila Gamliel. Dokumen bocor terkait genocida tersebut dilaporkan oleh organisasi yang disebut “The Unit for Settlement – Gaza Strip.” Media independen lainnya, seperti Geopolitical Economy yang berbasis di Spanyol juga menuliskan sudut pandang yang serupa.

Jurnalis Ben Norton, penanggung jawab Geopolitical Economy menulis laporan jurnalistik berjudul, “US Opposes peace as Israel ethnically cleanses Palestinians, waging war on ‘entire nation’ of Gaza.” Israel tulis Ben,  telah melakukan the ethnic cleansing of Gaza, memaksa mereka keluar dari Gaza menuju Semenanjung Sinai di Mesir. Amerika Serikat dan Uni Eropa justru mendukung perang bumi hangus yang dilancarkan Netanyahu terhadap seluruh Palestina, dan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memerintahkan para diplomat untuk tidak menyerukan perdamaian atau gencatan senjata.

12 Oktober 2023, Israel memang memerintahkan 1,1 juta warga Palestina yang berada di wilayah utara untuk mengungsi ke wilayah selatan, media-media mainstream pun meliput itu. Israel mengabaikan himbauan PBB untuk membatalkan pengusiran ke selatan, karena PBB khawatir terjadi tragedi yang lebih buruk. Alhasil, kekhawatiran itu terjadi, BBC mengakui dan memverifikasi video IDF militer Israel yang menyerang konvoi warga Palestina menuju wilayah selatan yang membuat 70 warga sipil tewas. “Mayat-mayat, terpelintir dan hancur, berserakan di mana-mana, “jelas BBC, banyak korban serangan Israel adalah perempuan dan anak-anak berusia  2-5 tahun. 

 

Sumber foto: Deutsche Welle.

Banyak sudut pandang yang tak akan kita temukan di media-media mainstream barat seperti CNN, ABC News, Fox News, MNSBC, Wall Street Journal, New York Post dan lainnya. Tentu ada kepentingan kebijakan, politik redaksional, modal pengusaha, kontrol penguasa dan lainnya. Sedangkan media-media independen berbasis dana publik, bersumber dari dana keanggotaan, langganan dan donasi publik. Tentu tanggung jawab menyajikan kebenaran lebih besar di media-media independen dan jauh dari kepentingan penguasa.

Jika saya pada posisi meliput tragedi itu, saya lebih memihak kepada warga sipil yang menjadi korban, bukan kedua pihak yang berseteru; Israel dan Hamas. Banyak media-media mainstream fokus memberitakan kebijakan Israel, kehancuran di pusat kota Gaza, tapi pengusiran warga Palestina yang masif di wilayah pinggiran-pinggiran nyaris tak tersentuh oleh media-media mainstream.

Sesungguhnya saya lelah mengonsumsi media-media mainstream yang seolah-olah heroik memberitakan perang Israel–Palestina, tapi menutup mata pada tragedi yang lebih besar. Di media sosial sebaran hoax juga besar sekali, jika seseorang tak memiliki kemampuan fact checking untuk visual atau video. Jurnalis-jurnalis yang memilih jalur independen memiliki cara untuk meliput tragedi, tak selalu berdarah-darah seperti jurnalis senior Israel, Amira Hass yang menelusuri bagaimana pemerintah dan intelijen Israel memata-matai ibu-ibu hamil Palestina dan melakukan kontrol atas kelahiran bayi-bayi tanpa dosa di West Bank, Palestina. Bagi Amira Hass, perbuatan pemerintah dan intelijen Isreal itu sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia yang sangat luar biasa.

 

Penulis: Farida Indriastuti, video jurnalis yang bekerja untuk TV asing

Ikuti tulisan menarik Farida Indriastuti lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu