x

Iklan

Agus Sutisna

Penulis Indonesiana | Dosen | Pegiat Sosial
Bergabung Sejak: 6 September 2023

Minggu, 12 November 2023 18:13 WIB

Metamorfosis Jokowi, Syahwat Kuasa Telah Mengubah Segalanya

Jokowi adalah Kita. Tapi itu dulu. Sekarang Jokowi sudah berubah. Ia telah bermetamorfosis. Syahwat kuasa yang telah mengubah segalanya, dari sosok yang populis, bersahaja, dan low profile menjadi sosok ambisius secara politik dan cenderung menggunakan cara-cara Machiavellian untuk mewujudkan ambisinya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Di tahun penghujung masa jabatannya Jokowi benar-benar berubah. Perubahan yang tidak pernah dibayangkan terutama oleh para pendukung setianya sejak Pemilu 2014 silam. Jokowi yang dulu adalah “Kita” sekarang bukan lagi. Jokowi yang pernah disematkan kepada dirinya sebagai “harapan baru Indonesia” seperti pernah ditulis majalah Time, sekarang memantik kecemasan baru bagi masa depan demokrasi Indonesia.

Tahun 2014, kala Jokowi memenangi Pilpres bersama Jusuf Kalla dari rivalnya Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, ia disambut meriah seperti “ratu piningit” yang ditunggu-tunggu publik untuk membawa Indonesia ke era baru. Era dimana negara dan bangsa ini dinakhodai oleh seorang pemimpin otentik dan diyakini bakal menghadirkan kesetaraan, kesejahteraan dan keadilan.

Fakta sosiopolitik, Jokowi memang beda. Ia datang dari keluarga biasa, rakyat kebanyakan. Tidak berdarah biru, sipil sejak kelahirannya, dan tidak memiliki trah tokoh republik di era perjuangan kemerdekaan, yang biasanya menjadi sandaran sejarah bagi siapapun yang kemudian berambisi menjadi pemimpin. Jokowi adalah Kita.  

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Walikota Terbaik

Namun yang lebih penting, di awal mula perjalanan kepemimpinan politiknya sebagai Walikota Solo, Jokowi memang hadir menawarkan sejumlah perubahan yang tadi itu: membawa harapan baru. Jokowi mengubah Solo yang sebelumnya dikenal sebagai daerah dengan tindak kriminalitas tinggi menjadi kota seni dan budaya.

Jokowi juga berhasil mengubah cara-cara kekerasan dalam menangani ungkapan rasa ketidakpuasan publik dengan dialog-dialog yang humanis. Ia juga sukses dengan program Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta (PKMS), sebuah program kesehatan gratis bagi rakyat miskin. Dan di Solo pula Jokowi mengawali tradisi “blusukan” sebagai salah satu karakteristik manajemen kepemimpinannya.

Melalui pendekatan “blususkan”, Jokowi melakukan dua hal sekaligus. Pertama memantau langsung ragam persoalan yang dihadapi rakyatnya sekaligus menyerap aspirasi dari mereka. Kedua mengawasi langsung kinerja bawahannya di lapangan. Cara kerja ini dinilai telah memutus kebiasaan buruk “asal bapak senang” yang biasa dilakukan aparat birokrasi sebelumnya.

Karena sejumlah prestasi itu Jokowi mendapat penghargaan sebagai wali kota terbaik ketiga se-dunia versi World Mayor Project dan penghargaan antikorupsi.

 

Mr. Fix

Saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, semua best practises di Solo dibawa dan direplikasikan Jokowi di Ibukota. Di Jakarta program (PKMS) disempurnakan menjadi program dengan nama Kartu Jakarta Sehat (KJS). Selain itu, selama menjabat Gubernur DKI yang hanya dua tahun (2012-2014), Jokowi dinilai berhasil antara lain mereformasi birokrasi, membenahi dan menertibkan Pasar Tanah Abang, merelokasi warga sekaligus melakukan perbaikan Waduk Pluit, serta membangun rumah kampung deret untuk rakyat.

Sementara itu cara kerja blusukan juga makin rajin dilakukannya. Jokowi datang ke kampung-kampung marjinal, pasar-pasar kumuh, bahkan turun dan masuk selokan dan gorong-gorong. Jokowi benar-benar “Kita” kala itu. Dan tak pelak lagi, Jokowi kemudian menjadi media darling, “kesayangan media”. Apapun tentang dan segala hal yang berasal dari Jokowi selalu menjadi perhatian media.

Bahkan sejumlah media asing menjulukinya sebagai “Mir Fix” (Orang yang bisa memperbaiki semua hal, tuntas) dan “The man in the Madras Shirt” (pria dengan kemeja kotak-kotak) sebagai bentuk apresiasi terhadap model kepemimpinan dan manajemen kerja-kerjanya.

Dengan modalitas politik itulah bintang Jokowi moncer. Ia naik ke puncak karir politik sebagai Presiden pertama yang berasal dari sipil dan warga negara biasa. Jokowi bukan saja memecundangi Prabowo dan Hatta Rajasa yang “bukan warga negara biasa” dalam kontestasi Pilpres. Tetapi bahkan menyisihkan Megawati dan Puan Maharani, dua elit utama sekaligus pemilik saham terbesar di PDIP, yang juga “bukan warga negara biasa” sebelum maju ke gelanggang Pilpres 2014.

Kemenangannya di Pilpres 2014 disambut meriah luar biasa. Jokowi dielu-elukan, bahkan diglorifikasi demikian rupa oleh para pendukungnya yang berasal dari lintas elemen : ideologi politik, agama, ras dan etnik, profesi serta ragam sosiokultural lainnya. Jokowi makin “mengKita”, dan kepadanyalah harapan mayoritas rakyat (berdasarkan hasil Pemilu) disandarkan.

 

Syahwat kuasa mengubah segalanya

Jokowi adalah Kita. Begitula situasi dalam hampir satu dekade terakhir lanskap kepemimpinan politik nasional. Sekarang situasi sudah berubah. Jokowi sudah berubah. Syahwat kuasa yang telah mengubah segalanya, dari sosok yang populis, bersahaja, dan low profile menjadi sosok ambisius secara politik dan cenderung menggunakan cara-cara Machiavellian untuk mewujudkan ambisinya. 

Perubahan-perubahan mencolok itu dimulai dari isu perpanjangan masa jabatan Presiden dan penundaan Pemilu yang cenderung tidak tegas, isu  cawe-cawe dalam Pilpres yang nampak sekali tidak konsisten, sikapnya terkait pencalonan Gibran, anaknya sebagai bakal Cawapres yang “pagi kedelai sore tempe”, hingga ke dugaan kuat mengkooptasi Mahkamah Konstitusi (MK) melalui iparnya, Anwar Usman yang tak lain adalah Ketua MK sebelum dicopot oleh MKMK untuk memuluskan langkah Gibran mendampingi Prabowo sebagai bakal Cawapres.

Kesemua langkah tak sehat itu diduga dilakukan Jokowi karena dorongan ambisinya untuk terus bisa mengendalikan kekuasaan pasca dirinya pensiun nanti. Demi ambisi ini, Jokowi (dan keluarganya) bahkan secara terbuka akhirnya berani berseberangan dengan PDIP.  Partai yang telah membesarkan dan memberikan banyak privilege (meminjam istilah Sekjen DPIP, Hasto Kristyanto) kepada Jokowi dan keluarganya.

Maka tak heran jika deretan relawan politik dari lintas elemen yang dulu menjadi pendukung, penyokong dan pembelanya dengan penuh militansi sejak sebelum perhelatan Pilpres hingga Jokowi dilantik dan menjalankan kekuasaan pemerintahannya kini kecewa dan marah. Beberapa diantaranya Andi Widjayanto (mantan Gubernur Lemhanas), Butet Kartaredjasa (budayawan), Prof. Henry Subiakto (akademisi), sejumlah tokoh masyarakat dan relawan penyokongnya dulu.

Salah satu bentuk ekspresi kekecewaan dan kemarahan itu diungkapkan Goenawan Muhammad, jurnalis senior papan atas sekaligus cendekiawan dan budayawan par excellent melalui sebuah pesan di whatsapp group yang beredar luas berikut ini :

“Saya dulu memilih Jokowi dan bekerja agar dia menang, tetapi kini saya merasa dibodohi. Jika nanti Prabowo-Gibran/Jokowi menang, kita dan generasi anak kita akan mewarisi kehidupan politik yang terbiasa culas, nepotisme yang menghina kepatutan, lembaga hukum yang melayani kekuasaan. Tadinya saya mau pasif, hanya melukis dan menulis, golput, tetapi yang dipertaruhkan Pilpres 2024 begitu besar, sebuah tanah air, sejumlah nilai-nilai kebajikan, sebuah generasi baru yang berjuta-juta. Saya putuskan untuk dalam usia lanjut ini, ikut mereka yang melawan untuk perbaikan. Mudah-mudahan teman-teman bersama saya.” (www.rmoljatim.id, 13 Oktober 2023).

Ikuti tulisan menarik Agus Sutisna lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu