x

Ilustrasi Tertawa. Karya gerd Altmann dai Pixabay.com

Iklan

Fabian Satya Rabani

Pelajar, model, dan atlet tinggal di Bandung, Jawa Barat. IG: @satya_rabani
Bergabung Sejak: 22 November 2023

Rabu, 29 November 2023 21:13 WIB

Laku Legowo

Orang yang legawa memiliki kepriabdian tangguh. Ia memiliki kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual yang tinggi. Ia adalah orang yang damai dan bahagia. Agar memiliki laku legawa, orang perlu berlatih. Latihan-latihan yang tertulis di sini bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kata legowo dalam bahasa baku ditulis ‘legawa’ adalah kata dari bahasa Jawa. Vokal a diucapkan o seperti dalam pengucapan kata tokoh. Dalam KBBI, legawa (kata sifat) berarti: dapat menerima keadaan atau sesuatu yang menimpa dengan tulus hati; ikhlas; atau rela. Kata ‘ikhlas’ (Inggris: sincere, wholehearted) dari bahasa Arab ‘akhlasa’. Menurut KBBI, ‘ikhlas’ berarti bersih hati atau tulus hati. Kata ‘rela’  bererti bersedia dengan ikhlas hati; izin (persetujuan); perkenan; dapat diterima dengan senang hati; atau tidak mengharap imbalan, dengan kehendak atau kemauan sendiri.

Dalam Bahasa Jawa, kata legawa tentu sudah digunakan sejak dahulu kala. Misalnya dalam kisah pewayangan Jawa, seperti dikemukakan oleh Rico Surya Putra Susila (2022),  kata legawa disampaikan oleh tokoh Dewa Ruci saat memberi nasihat kepada Bima bahwa untuk memperoleh air kehidupan (kesejatian hidup), orang harus memiliki laku legawa. Terkait hal ini,  Dewa Ruci mengajarkan hal-hal berikut.  (1) Tidak susah hati jika kekayaannya berkurang, tidak iri kepada orang lain. (2) Harus selalu bersikap baik dan benar. (3) Bersyukur menerima jalan hidup dengan sadar. (4) Rendah hati, jika ada orang yang berbuat jahat tak  perlu  membalas dan berusaha tetap sabar. (5) Tahu mana yang benar dan salah, senantiasa berpihak kepada kebaikan dan kebenaran, selalu waspada, dan menghindari perbuatan jahat.  (6) Merasa tenteram, melupakan kekecewaan dari kesalahan-kesalahan dan kerugian yang terjadi di masa lalu. Dan, (7) kehendak untuk senantiasa berbuat baik demi kepentingan bersama.

Sebagai kosa kata bahasa Indonesia, kata legawa muncul pada masa akhir Orde Baru. Lalu, kata ini, seperti disebut Parni Hadi (2014) semakin sering diserukan banyak orang menjelang detik-detik pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum terkait pemenang Pemilihan Presiden 2014. Sebelum kata legawa, KBBI 1991 memuat kata ‘lega’,  artinya 1) lapang, luas, tidak sempit, 2) tidak sesak, kosong, dan 3) berasa senang (tenteram), tidak gelisah (khawatir) lagi, dan 4) senggang, tidak sibuk.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Berlatih untuk Bisa Legawa

Legawa merupakan salah satu keterampilan atau kecakapan hidup (life skills). Wikipedia menjelaskan bahwa keterampilan hidup  adalah kemampuan untuk beradaptasi dan berperilaku positif yang memungkinkan manusia menghadapi tuntutan dan tantangan hidup secara efektif.  Konsep ini juga disebut kecakapan psikososial.  Orang tidak serta merta bisa  legawa. Sebagai keterampilan, orang perlu terus-menerus belajar dan berlatih.  Berikut ini beberapa latihan yang bisa meningkatkan kemampuan legawa.

  1. Berupaya secara maksimal dalam mencapai tujuan

Setiap orang tentu memiliki keinginan, cita-cita, dan tujuan hidup. Hal ini akan tercapai apabila diupayakan.  Rumusan yang jelas  dan realistis dari tujuan hidup hendaknya disertai motivasi dan upaya yang maksimal. Segala upaya yang dilakukan harus positif, tidak merugikan orang lain, dengan cara-cara yang benar, dan tidak melanggar kesepakatan atau aturan yang berlaku. Untuk mencapai hasil yang diinginkan, kita sebaiknya bekerja secara kreatif dan cerdas.

  1. Memahami dan menerima kenyataan

Ada pepatah, ‘usaha tidak akan mengkhianati hasil’, man jadda wa jadda. Namun demikian, tidak selalu upaya yang maksimal, mendapatkan hasil yang kita inginkan. Apa pun hasilnya  itu adalah kenyataan. Tiap orang hendaknya bisa memahami dan menerima kenyataan dengan lapang dada, terlebih kenyataan yang berada di luar kendali. Berlatih menenangkan diri, mengolah emosi saat gagal, kehilangan, kalah, atau dikhianati menjadi kunci untuk bisa legawa. Di sini, kita perlu berlatih mengendalikan kemarahan, kekecewaan, kecemasan, benci, dan dendam. Tidaklah perlu meawan hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Biarkan itu menjadi pelajaran hidup.  

Kta bisa belajar dari para tokoh. Bung Karno bisa saja melawan Soeharto waktu itu dan bisa menang karena banyaknya dukungan. Namun, beliau tidak melakukannya dan menerima kenyataan pahit yang dihadapi secara ikhlas. Saat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dilengserkan dari kursi presiden, beliau menerima dengan ikhlas dan masih bisa bergurau.

Kita juga bisa belajar dari tokoh fiksi, misalnya Tom dalam film drama “1. 500 Days of Summer”. Tom yang jatuh cinta kepada teman kerjanya bernama Summer ini selalu membujuk dan membuktikan cintanya.  Namun, Summer mengabaikan cinta Tom. Akhirnya, Tom menyadari bahwa dirinya harus menerima kenyataan ini dan merelakan  Summer memilih pria lain. Atau juga dalam film “Terbang: Menembus Langit”, kisah perjalanan Onggy Hianata untuk mencapai sukses itu sulit. Ia  ditipu saat bisnis kerupuk, harus keluar dari tempat kerja. Perjalanan Onggy dalam memberi inspirasi bahwa hidup itu proses menuju. Penerimaan terhadap kenyataan bisa jadi mengubah kegagalan menjadi awal sukses.

  1. Mengapresiasi dan menghibur diri sendiri

Kita bisa mengingat kemudahan, kebaikan, dan pencapaian diri kita selama ini. Sekecil apa pun, kita perlu bangga dan mensyukurinya.  Hal-hal kecil yang bisa kita lakukan belum tentu juga bisa dilakukan orang lain. Dengan ini, kita akan tahu seberapa kuat diri kita  dalam berusaha.

Untuk menghibur diri, kita perlu ‘memanjakan’ diri dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan menyehatkan. Misalnya bermain atau mendengarkan musik kesukaan, kuliner, traveling, olah raga, nonton film, membaca buku humor, bercanda dengan teman, tidur secara cukup, dan senam pernafasan.

  1. Berpikir positif

Berpikir positif bisa mengatasi datangnya stress dan depresi. Kegagalan yang kita hadapi selalu memiliki sisi positif. Tidak semuanya buruk. Kita membangun persepsi optimistis. Berlatih untuk lebih sering tersenyum. Tersenyum bisa mengubah perasaan menjadi lebih baik. Perhatikan atau catat hal-hal yang bisa membuat kita selamat, sehat, dan bergembira. Evaluasi juga hal-hal yang bisa menimbulkan emosi negatif dan berusaha menghindarinya.

Berpikir positif menjadikan kita mudah  bergembira dalam hal-hal kecil dan sederhana. Kita akan lebih cenderung melihat sisi baik dari segala hal dan mensyukurinya. Hendaknya fokus pada apa yang kita miliki dan mengabaikkan hal yang berada di luar kendali. Kita sebaiknya mudah  berterima kasih, tidak mudah mengeluh, mengumpat, marah, atau bahkan menyalahkan orang lain. Kita berlatih untuk menghadapi segala sesuatu dengan santai, sabar, dan tenang.

  1. Rela berbagi secara ikhlas

Benar bahwa orang yang ikhlas tidak memiliki kecintaan berlebih terhadap hal-hal  duniawi. Hidupnya  tidak dikendalikan oleh ambisi, serakah, dan iri hati. Jika kita ikhlas, akan mudah berbagi hal yang baik pada orang lain. Kita ini selalu memiliki kesempatan  untuk berbagi tanpa perlu khawatir rugi. Sebab, yakin apa yang ada adalah titipan Tuhan. Jika ikhlas berbagi, kita akan mudah bahagia, hidup tenang, dan nyaman. Berbagi  bisa menyehatkan jiwa dan raga.

  1. Memaafkan dengan hati

Karena terampil memahami dan menerima kenyataan, kita akan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Kita hendaknya berlatih mengontrol emosi sehingga tidak mudah menghakimi orang lain. Mudah memaafkan merupakan bukti bahwa kita  murah hati dan bijak. Sikap bijak menunjukkan  level kedewasaan yang lebih tinggi. Orang dewasa lebih memilih kedamaian dari pada keributan.

Nelson Mandela asal Afrika Selatan ketika di dalam penjara, sipir sering menyiksanya.   Pernah Mandela digantung terbalik sambil dikencingi oleh sipir itu. Mandela mengingat peristiwa ini dengan baik.  Namun, ketika bebas dan dipilih menjadi Presiden,  beliau  dengan sepenuh hati memaafkan sipir penjara itu. Mandela memeluk sipir itu lalu berkata, “Hal pertama yang kulakukan ketika menjadi presiden adalah memaafkanmu.” Memang tidak gampang memaafkan orang yang menyakiti kita, tetapi kita bisa berlatih untuk terbiasa melakukannya.

  1. Tekun beribadah

Segala hal baik yang ada pada diri kita berasal dari kasih karunia Tuhan. Ia juga tidak akan memberikan beban hidup di luar batas kemampuan kita. Tuhan Maha Pengampun dan Maha Baik bagi kita. Oleh karena itu, menjalin komunikasi dengan Tuhan wajib kita lakukan, salah satu caranya adalah dengan beribadah kepada-Nya. Kita harus mempunyai waktu khusus untuk berdoa secara teratur.

Demikianlah, orang yang legawa memiliki kepriabdian tangguh. Ia memiliki kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual yang tinggi.  Laku legawa merupakan life skill, untuk bisa memilikinya perlu berlatih sejak usia muda.   Jika sebagian besar orang di negeri ini memiliki laku legawa, kita akan hidup damai dan sejahtera.

Fabian Satya Rabani, siswa SMA Talenta Bandung

Ikuti tulisan menarik Fabian Satya Rabani lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu