x

Iklan

Rusdi Ngarpan

Penulis Indonesiana/ Alumnus UNNES Semarang, berkarya di SMP
Bergabung Sejak: 26 September 2023

Kamis, 30 November 2023 06:31 WIB

Dari Obrolan Warung Kopi, 10 Hal yang Membuat Prabowo-Gibran Bisa Menang Pilpres 2024

Setelah mengamati dan mendengarkan obrolan warga saat sedang ngopi di warung dekat rumah, berikut 10 alasan mengapa pasangan capres-cawapres Prabowo-Gibran yang memenangkan Pilpres di tahun 2024

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pemilihan presiden dan wakil presiden sudah di depan mata. Ada tiga pasangan capres dan cawapres yang ikut serta dalam pemilihan tersebut  di tahun 2024. Pasangan nomor urut 1 ialah pasangan Anies Baswedan dan Muhamimin Iskandar, nomor urut 2 pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dan nomor urut 3 pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD.

Ternyata ketiga pasangan calon tersebut sesuai dengan nomor urut partai pengusungnya. Sebut saja paslon 1 sesuai nomor PKB, paslon 2 sesuai nomor Partai Gerindra dan paslon 3 sesuai PDIP.  Sehingga muncul istilah Satu Jari vs Finger Heart atau Victory vs Salam Metal. Tulisan ini bukan mendukung salah satu paslon, hanya otak atik penulis sebagai orang awam.

Menurut penulis, pemenang dalam pilpres tahun 2024 adalah paslon nomor 2 yaitu pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Lho kok malah mendukung pasangan calon? Tidak. Ini otak atik saya ketika mengikuti perkembangan politik di lapisan akar rumput dan tentu saja sambil mendengarkan obrolan kaum awam di warung kopi. Sebab di warung kopi, kita bebas berdebat dan berpendapat. Katakan saja debat kusir. Hanya angin lalu saja. Apalagi diliputi dengan sedikit klenik dan otak atik asal cocok saja.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Namun, apapun itu semua ada alasannya. Setelah mengamati dan mendengarkan obrolan warga saat sedang ngopi di warung dekat rumah, berikut 10 alasan mengapa pasangan capres-cawapres Prabowo-Gibran yang memenangkan pilpres di tahun 2024.

Pertama, Prabowo sudah mencalonkan diri tiga kali sebagai capres dan cawapres. Awalnya Prabowo maju sebagai cawapres dari Megawati yang diusung PDIP-Gerindra tahun 2009.  Namun, sayang kalah oleh pasangan SBY-Boediono. Menurut obrolan warga di warung kopi, Prabowo maju sebagai cawapresnya Megawati dan di pilpres berikutnya ganti Prabowo yang maju sebagai capres dan Megawati sebagai cawapres tapi PDIP justru mencalonkan Joko Widodo yang sebelumnya didukung Gerindra sebagai cagub DKI Jakarta berpasangan dengan Ahok dan menang. Itu obrolan yang saya dengar di warung kopi dulu.

Tahun 2014 Prabowo maju sebagai capres berpasangan dengan Hatta Rajasa dan bersaing dengan Joko Widodo – Jusuf Kalla. Kita pun tahu pemenangnya adalah Joko Widodo. Tahun 2019 Prabowo maju lagi berpasangan dengan Sandiaga Uno bersaing dengan Joko Widodo – Ma’ruf Amin. Lagi-lagi Prabowo kalah.

Nah, tahun 2024 ini adalah pencalonan Prabowo sebagai capres yang ketiga kalinya. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, biasanya pencalonan yang ketiga ini tujuan calon akan tercapai. Benar tidaknya, kita lihat saja nanti hasil pilpres 2024.

Kedua,  pemilih muda cenderung memilih calon yang muda. Apa benar alasan itu. Golongan muda ingin mengekspresikan diri dan menunjukkan jati dirinya. Gibran yang masuh berusia muda jadi pilihan anak muda. Dengan memilih tokoh muda mereka mengekspresikan suaranya.

Ingat negara tetangga kita, Thailand. Dalam pemilu beberapa waktu lalu, partai anak muda yang dipimpin Pita memenangkan pemilu Thailand. Sayangnya, dijegal lawan politik dan tidak menjadi perdana menteri Thailand. Walau demikian, kemenangan parta anak muda di Thailand saya rasa menginspirasi anak-anak muda Indonesia untuk menunjukkan diri dan mengespresikan diri mereka dengan memilih calon muda. Siapa lagi kalau bukan Gibran Rakabuming Raka, pasangan Prabowo Subianto.

Ketiga, faktor nama dengan jumlah huruf  O lebih banyak. Nah, ini otak atik asal cocok saja. Selama pilpres sejak 2004 hingga 2019, pemenangnya ialah capres yang memiliki jumlah huruf O di namanya paling banyak. Pilpres 2004, Susilo Bambang Yudhoyono menang sebab huruf O paling banyak yaitu 4.  Bandingkan dengan Wiranto, Megawati Soekarno Putri,  Amien Rais dan Hamzah Haz.

Pilpres 2009, SBY juga menang  pilpres dari capres Megawati dan Jusuf Kalla. Pilpres 2014 dan 2019, capres yang bersaing adalah Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Kita tahu pemenangnya, Joko Widodo  dengan huruf O berjumlah 4. Bandingkan dengan Prabowo yang hanya memiliki 3 huruf O.

Nah, pada pilpres 2024 ini, Prabowo dengan huruf O berjumlah 3 akan bersaing dengan Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Anies namanya tidak memiliki huruf O, sementara Ganjar hanya memiliki 2 huruf O. Berdasarkan otak atik asal cocok masyarakat awan saat mengobrol di warung kopi, ya jelas Prabowo menang.

Keempat, melanjutkan program presiden sebelumnya, salah satunya membangun IKN di Kalimantan. Jika kita memperhatikan apa yang disampaikan capres-cawapres, kita menemukan capres Prabowo yang akan meneruskan pembangunan IKN. Coba kita bayangkan saja. Hanya membayangkan.

Negara sudah mengeluarkan anggaran yang besar untuk survei lokasi, amdal dan pembebasan lahan. Jika tidak dilanjutkan, berarti membuang uang, tenaga dan pikiran saja. Sayang kan, uang habis banyak dan energi terkuras untuk membangun IKN kok tidak dilanjutkan. Dengan program melanjutkan apa yang telah dilakukan Joko Widodo, berarti capres Prabowo berusaha memberdayakan apa yang sudah dikerjakan pemimpin sebelumnya. Sehingga ada keberlanjutan program. Ini keunggulan Prabowo dalam program ke depannya dibandingkan capres lain.

Kelima, pendukung Prabowo dan Joko Widodo bersatu. Alasan kelima ini sangat masuk akal. Kok bisa ya? Tentu saja bisa. Tidak ada lawan yang abadi. Tidak ada kawan yang lestari. Dinamika politik terjadi kapan saja. Perubahan pandangan dan pikiran bisa terjadi setiap saat. Pendukung Prabowo ada yang gak mau lagi dukung dia sebab Prabowo merangkul anak lawannya. Nah, inilah kehebatannya. Sudah saya tulis, tidak ada lawan yang abadi dan tidak ada kawan yang lestari.

Justru pendukung Prabowo dan Joko Widodo bersatu untuk memenangkan pasangan Prabowo - Gibran. Ini dikarenakan Gibran adalah putra sulung Joko Widodo. Hebat kan. Lawan menjadi kawan. Tidak ada hil yang mustahal, kata Asmuni-pelawak  Srimulat.

Keenam, pasangan tua dan muda. Ini keunggulan pasangannya. Golongan tua dan muda bersatu. Mereka yang merasa dewasa dan tua akan memilih siapa yang disukai. Sebab capres dan cawapres selain Gibran usianya sudah 50 tahunan. Bandingkan dengan Gibran yang masih muda. Berarti anak-anak muda ada kecenderungan memilih Gibran. Alasannya sudah saya jelaskan di poin kedua.

Ketujuh, lebih santun, tidak menyerang pihak lawan. Justru sering diberitakan bohong dan diserang lawan. Ini dia keunggulan paslon Prabowo – Gibran. Bagaimana Prabowo dijelek-jelekkan. Bagaimana Gibran diisukan berijasah palsu seperti ayahnya. Bagaimana pasangan ini diberitakan menggunakan kekuasaan untuk memenangkannya.

 Tetap santun dan tidak balas menyerang mereka yang menyerang adalah cara berpolitik yang kalem. Diberitakan bohong, diamkan saja. Toh ada yang menjawab sendiri. Ibarat kata, anjing menggonggong kafilah berlalu. Biarkan saja. Biasa mau pemilu. Apa pun yang tidka pernah disampaikan akan diucapkan dan dikeluarkan. Untuk apa? Menjatuhkan lawan demi keuntungan sesaat. Yang penting menang. Justru kasihan mereka itu. Dengan santun, justru akan dapat simpati pemilih. Ingat peribahasa tong kosong nyaring bunyinya. Air tenang menghanyutkan. Itulah yang terjadi saat ini.

Kedelapan, nomor urut 2, identik dengan kemenangan . ini mengingatkan saya pada pilpres 2009 lalu. Paslonnya juga 3 dan pemenangnya adalah nomor 2 yaitu SBY – Boediono. Lihat bagaimana paslon capres dan cawapres menggunakan jari-jari tangannya.  Mereka memunculkan istilah Satu Jari vs Finger Heart atau Victory vs Salam Metal. Nah, nomor urut 2 menggunakan Finger Heart atau Victory. Victory dilakukan dengan mengacungkan dua jari membentuk huruf V dari kata Victory yang artinya kemenangan. Berdasarkan pengalaman tahun 2019 dan lambang 2 jari tersebut, saya berkeyakinan paslon yang menang adalah nomor 2, Prabowo – Gibran. Percaya silakan, tidak percaya juga tidak apa-apa.

Kesembilan, program yang coba ditawarkan lebih realistis.  Saat deklarasi pencalonan, pasangan Prabowo –Gibran menawarkan program yang sederhana dan menurut saya realistis. Tidak muluk-muluk dan banyak teori. Sebab kebanyakan teori hanya akan membuat pusing dan berakhir dengan teori saja tanpa ada praktik.

Program yang ditawarkan juga tidak banyak. Semakin banyak apakah mampu melaksanakannya sebab waktu yang digunakan hanya 5 tahun. Dengan program realistis dan bukan angan-angan justru menyakinkan masyarakat bawah untuk memilih. Ingat pemilih indonesia kebanyakan masih awan. Jadi, realistis saja. Cukup  untuk meraih suara dan menang pilpres.

Kesepuluh, pengalaman sebagai menteri pertahanan. Prabowo dengan pengalamannya baik sebagai ketua umum Gerindra dan menteri pertahanan RI, saya pikir layak memimpin negeri ini. Apalagi ditambah pasangannya, Gibran yang menjadi walikota Solo. Pas dan cocok. Sementara saingannya adalah Anies Baswedan, mantan gubernur DKI dan Ganjar Pranowo, mantan gubernur Jateng. Saya tidak menafikan kemampuan mereka, sebab ini hanyalah pendapat orang awam yang suka ngobrol sambil ngopi.

Demikian 10 alasan pasangan Prabowo – Gibran memenangkan pilpres 2024. Entah bagaimana hasilnya nanti, kita tunggu saja. Terima kasih.

Ikuti tulisan menarik Rusdi Ngarpan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu