x

Ilustrasi Humanisme. Gambar oleh \x15eahin Sezer Din\xe7er dari Pixabay

Iklan

Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)

Hamba Allah dan Umat Muhammad Saw. Semakin besar harapan kepada Allah melebihi harapan kepada makhluk-Nya, semakin besar pula potensi dan kekuatan yang kita miliki.
Bergabung Sejak: 28 Mei 2022

Senin, 4 Desember 2023 06:58 WIB

Teori Piramida Kebutuhan Maslow dan Ekspansinya dari Sisi Pengetahuan Islami

Menggali esensi lebih dalam dua Teori yang berkaitan dengan kebutuhan manusia. Dan ini bisa dikembangkan melalui sudut pandang Islami melalui kacamata fenomena yang terjadi saat ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Piramida Kebutuhan Abraham Maslow

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Apabila seorang mampu mengulik teori lawas yang satu ini lebih dalam, maka ia bisa mengendalikan situasi dan kondisi kehidupannya.

Kebutuhan Fisiologi

Pada kebutuhan fisiologi, ini mencakup daya survival/bertahan hidup seseorang, mulai dari sandang, pangan, papan dan kebutuhan untuk berketurunan. Apabila seorang dapat memenuhi kebutuhan ini kepada orang yang sangat memerl;ukan, ia naik derajat sosialnya di mata yang ditolong. Tentu selama yang ditolong masih mengingat kebaikan itu, karena pada dasarnya sifat manusia itu pelupa.

Apabila seorang yang kita tolong merasa bahagia dan terpuaskan keinginan kecilnya dalam bertahan hidup, tentu ia akan mengingat-ngingat kebaikan kita. Ia berharap suatu saat mampu membalas kebaikan kita. Inilah yang dinamakan balas budi.

Tapi, stop! Berbuat kebaikan sebaiknya jangan berharap balasan manusia, karena ini kurang etis. Kebaikan mesti murni dari ketulusan hati, bukan untuk mengeksploitasi kelemahan seseorang. 

Kebaikan seseorang yang mampu memenuhi kebutuhan paling dasar ini kepada orang yang membutuhkan, sejatinya dicatat secara kekal oleh para malaikat. Kesaksian malaikat inilah yang kelak menjadi penolong kita untuk kehidupan selanjutnya yang kekal. Kebaikan itu menjadi pembela kita saat kita menghadapi hari dimana segala amal perbuatan kita dimintai pertanggungjawaban.

Kebutuhan Rasa Aman

Kebutuhan ini sejatinya sudah difasilitasi oleh aparat berwenang dalam hidup bernegara. Namun ada oknum yang paham kebutuhan ini, lalu menjadikannya sebagai senjata tekanan psikologis yang dapat menimbulkan krisis, kekacauan dan huru-hara.

Rasa takut manusia dapat menimbulkan kecemasan, kegelisahan hingga keputusaasaan. Dan orang-orang tak bertanggungjawab memanfaatkan momentum ini untuk mengeksploitasi situasi demi kepentingan pribadi dan golongannya. Seperti untuk menumbangkan kekuasaan rezim tertentu.

Kita menyaksikan sendiri saudara kita di Palestina mengalami eksploitasi akan kebutuhan ini yang disebabkan agresi brutal zionis. Kaum zionis telah melanggar hukum humaniter internasional dengan menyerang rumah sakit dan rumah ibadah. Itu bentuk tidak langsung Zionis yang ingin menyatakan, "Tidak ada tempat aman di Gaza". Ini memberi tekanan psikologis dan menyurutkan motivasi warga Gaza untuk perjuangan kemerdekaannya.

Cara yang dilakukan Zionis tentunya sangat menentang kemanusiaan dan keadilan. Padahal dalam perang sendiri ada aturan hukumnya. Mereka melakukan provokasi untuk kemudian mencari pembenaran alasan menyerang warga Gaza tak berdosa.

Sebuah strategi yang memang ada dampak diawal, tapi diakhir penjajahan Zionis lakukan, konsekuensi dorongan moral untuk alasan mereka hidup makin tergerus, dan akhirnya orang orang yang mengekploitasi kebutuhan rasa aman, akan dihantui oleh perbuatannya sendiri di masa lampau yang menjebak mereka dengan perasaan malu dan terhinakan.

Kebutuhan Memiliki dan Kasih Sayang

Setelah kebutuhan fisiologis dan rasa aman terpenuhi, kebutuhan manusia mulai naik kepada kebutuhan untuk memiliki dan berkasih sayang dengan sesamanya. Perasaan untuk merasakan kasih dari orang-orang tercinta, membuat alasan kita untuk tetap hidup semakin menguat.

Lain halnya apabila kita hidup terjebak dibenci oleh banyak orang, mengalami perundungan, hingga mengalami tindakan diskriminatif, hal ini menyebabkan seakan alasan kita untuk hidup hilang, karena kita merasa keberhargaan diri kita lenyap. Akibat fatal bisa menyebabkan depresi, dan berujung pada penghilangan nyawa diri sendiri.

Seorang dapat memotivasi seorang untuk bangkit dari keterpurukan, jika kita memberikan kasih sayang kita kepadanya baik berupa doa terucap, maupun tindakan nyata yang melambangkan kasih sayang kita kepada mereka. 

Jadikan orang-orang yang anda cintai untuk tetap hidup, dengan kata-kata anda yang penuh kesejukan dan penuh dukungan moral melaui aksi nyata anda, karena moralitas dan doa tulus adalah sumber kehidupan manusia untuk mereka memiliki alasan untuk tetap hidup mendampingi anda.

Kebutuhan Penghargaan

Penghargaan, pujian/apresiasi dan pengakuan memberikan dorongan seorang untuk maju dan berkembang. Dengan diberikannya penghargaan, ada harapan orang-orang kepada kita yang telah dipercaya untuk mengemban penghargaan tersebut.

Semakin besar kepercayaan masyarakat berikan kepada seorang, maka semakin besar pula motivasi seseorang untuk menjadi besar dan kuat. 

Namun perlu kita ketahui, bahwa tidak selamanya penghargaan dari manusia itu kekal adanya. Pasang surut hidup kita, apabila kita melakukan suatu hal yang dianggap salah dan buruk di mata masyarakat, maka penghargaan itu lenyap menjadi cacian dan hinaan. Dan tentu kepercayaan yang sudah dipupuk sudah lama bisa sirna begitu saja.

Semakin tinggi kepercayaan yang kita genggam, semakin besar pula badai yang menerjang. Karena dibalik kepercayaan masyarakat berikan kepada kita, ada pengharapan. Kalau apa yang kita perbuat, menghempaskan harapan masyarakat, sementara posisi kita sudah teratas dan terpuncak. Maka jatuhnya akan sakit sekali, dan sulit untuk meyakinkan kembali masyarakat yang terlanjur kecewa, namun jika masyarakat termasuk orang-orang yang berhati lapang dan pemaaf, kesempatan kita yang sudah terlanjur jatuh, masih dapat bangkit kembali.

Sejatinya ada penghargaan dari penduduk langit (malaikat) bagi orang orang yang gemar berbuat kebaikan dengan tulus, tanpa berharap penghargaan dari manusia, yang berupa energi kuat membuat kita penuh semangat dalam hidup, energi ini dinamakan pahala.

Ini termasuk ilmu tingkat tinggi. Karena pada dasarnya manusia itu pelupa, sementara malaikat memiliki catatan kekal akan kebaikan yang kita dermakan. Maka benarlah apa yang tertulis dalam Al-Qur'an yakni fastabiqul khairat atau berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Kebaikan tertinggi adalah kebaikan yang dilakukan hanya demi mendapat rida Allah semata, tanpa berharap penghargaan dari masyarakat dan imbal balik lainnya. Karena ini berhubungan dengan kehidupan kita setelah kematian. Amalan perbuatan baik kita akan menemani kita sampai hari penentuan kita pantas untuk hidup bersama Allah di surga-Nya yang kekal. 

Oleh karena itu dalam persoalan kebaikan, kita tidak perlu berharap penghargaan dari masyarakat. Biar nanti setelah kita menjadi jenazah, Allah membukakan riwayat hidup kita, dan saksi saksi yang tak kita sadari mengungkapkan segala kebaikan kita yang tak pernah kita sebutkan selama bermasyarakat.

Sehingga saat kita meninggalkan alam dunia, kewafatan kita dielu-elukan dengan kerinduan berharap masyarakat dapat bertemu kembali dengan kita di kehidupan kekal setelah kehidupan dunia yang fana ini. Maka apabila sesorang saat kematiannya mencapai kondisi ini, ini dinamakan akhir yang baik atau husnul khotimah.

Kebutuhan Aktualisasi Diri

Setelah masyarakat mempercayakan kita untuk maju dan berkembang, kita berkesempatan untuk beraktualiasi diri untuk menjadi orang besar, orang hebat, dan orang kuat. Melalui kepercayaan yang telah diberikan kepada kita, kita memiliki kemampuan untuk maju berkerja, berkarya dan berkontribusi untuk kehidupan.

Pondasi dari Aktualiasi Diri sendiri adalah kepercayaan. Maka jangan sia-siakan kepercayaan yang telah diberikan kepada kita dengan hal-hal yang kurang etis dan bertentangan dengan moral, seperti menipu, korupsi, dan menyalahgunakan kekuasaan.

Saatnya diri menjadi besar, hebat dan kuat, karena semakin kuat kepercayaan masyarakat yang kita terima, semakin melejit pula lah kesempatan potensi kecerdasan, kapabilitas dan kapasitas kita untuk terus berkembang.

Belajar dari kesalahan, dan mencari kebenaran yang menyelamatkan, wajib menjadi pegangan hidup, agar kita tetap dapat beraktualisasi diri dengan penuh kelancaran dan kesuksesan.

Ekspansi dari Piramida Kebutuhan

7 Level Kesadaran Manusia dari Richard Barrett

Pada penjelasan sebelumnya kita sudah membahas piramida awal, dan kini kita mulai membahas piramida kebutuhan terbalik keatas dari Richard Barrett.

Ada tiga poin yang kita dapatkan setelah proses transformasi diri melalui aktualisasi diri, yakni:

Menemukan makna hidup; Membuat hidup lebih bermakna; dan Pelayanan bagi Kehidupan Alam dunia.

3 poin bertahap diatas ialah dimensi baru bagi kehidupan manusia sebelumnya yang dibahas pada teori awal. Kita sedang menuju dimensi dimana sebuah harmoni hidup mulai kita raih dan genggam untuk mencipta kedamaian kehidupan di alam dunia ini.

Pada proses pencarian makna hidup, kita mulai merenungkan “Apa alasan terbesar aku dilahirkan di kehidupan muka bumi ini?” Kita mulai menjadi seorang yang penuh rasionalitas dan penuh pertimbangan logis untuk mendapati apa visi, misi dan tujuan hidup.

Pada proses membuat hidup lebih bermakna, kita mulai belajar untuk mencintai siapapun tanpa syarat. Dengan cinta tak bersyarat ini, kita dapat memberikan orang-orang yang kita cintai semangat hidup untuk terus dan tetap hidup dalam kebersamaan yang penuh kasih, sayang, dan kelembutan. Kita tak lagi memikirkan alasan untuk mencintai, namun lebih cenderung "merasa" atau "feel" saat mencintai.

Pada tahap akhir yakni Pelayanan bagi kehidupan alam dunia, adalah tentang Bagaimana kita dapat melayani tanpa pamrih sesuai bakat dan karunia yang kita miliki, dan pekerjaan menurut kita pantas lakukan dari sejak lahir. Seolah-olah Allah membimbing kita dalam pelayanan ini, melalui petunjuk dan hidayah yang diberikan-Nya. Kontemplasi diri menjadi kebutuhan untuk menggali kesadaran dalam berkehidupan agar semakin mengenal diri. Dan kita menjadi makin mengetahui kapan kita dapat beroperasi pada tingkat kesadaran ini.

Wasana Kata

Teori piramida awal adalah pondasi kita untuk berkehidupan, kemudian ditengahi oleh transformasi diri melalui proses aktualisasi, dan ekspansi dari piramida tersebut adalah dampak yang kita berikan pada kehidupan.

Kreasi saya dalam pengetahuan diatas, tentu menjadi perenungan kita semua, bahwa manusia begitu memiliki potensi yang luar biasa untuk terus diasah dan dikembangkan. Berbagai kesempatan yang kita terima untuk maju, sebaiknya kita gali ilmunya terlebih dahulu agar kesuksesan dapat kita raih dan dinikmati hasilnya.

Namun jangan sampai hal-hal buruk yang dapat dieksploitasi, menjadi strategi kita untuk meraih kemenangan semu. Karena hal-hal yang bertentangan dengan norma dan moral, itu hanya akan melemahkan kita pada akhir hidup kita.

Cimahi, 3 Desember 2023.

Ikuti tulisan menarik Indrian Safka Fauzi (Aa Rian) lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu