x

ilustrasi orientasi seksual

Iklan

Riva Ramadhani Maulana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 Desember 2023

Selasa, 26 Desember 2023 20:33 WIB

Menyikapi Tantangan Orientasi Seksual akibat Pengaruh Budaya Eksternal

Psikologi sosial mampu menyikapi tantangan orientasi seksual akibat pengaruh budaya eksternal. Tantangan ini tidak hanya berasal dari pertentangan internal, tetapi juga eksternal.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

“Dalam perjalanan menghadapi tantangan orientasi seksual, kita tidak hanya melangkah maju untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk generasi mendatang yang pantas hidup dalam dunia yang lebih inklusif dan berdikari”.

Apakah kamu pernah mendengar mengenai kampanye Pride Month yang dilakukan pada bulan Juni lalu? Atau mungkin apakah kamu pernah menonton tayangan televisi Modern Family dengan tokohnya yang cukup terkenal, yaitu pasangan Mitchell dan Cam?

Hal-hal yang baru saja ditanyakan berkaitan erat dengan representasi kelompok LGBTQ+ dalam karya-karya seni. Adanya representasi inilah yang kemudian mendorong semakin tingginya isu LGBTQ+ dan saat ini, tidak sedikit kita temukan kasus penyimpangan orientasi seksual tersebut.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Orientasi seksual adalah bagian dari identitas seseorang yang didasarkan pada ketertarikan seksual seseorang terhadap orang lain. Dalam rangka memperjuangkan identitas tersebut, kelompok dengan orientasi seksual berbeda yang seringkali dianggap menyimpang, cenderung memiliki perjuangan yang berbeda untuk dapat diterima dan diakui. Tantangan ini tidak hanya berasal dari pertentangan internal, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama budaya yang mengelilingi kita. Dalam konteks psikologi sosial, sangat penting untuk memahami bagaimana individu merespons dan menghadapi pengaruh budaya eksternal terhadap orientasi seksual mereka.

Pandangan Masyarakat Terhadap Pelaku Penyimpangan Seksual

Faktor eksternal paling penting yang membentuk pandangan masyarakat terhadap orientasi seksual adalah budaya. Budaya dapat memberikan dukungan atau menimbulkan tekanan terhadap individu dengan orientasi seksual tertentu. Tekanan itu dapat berupa, stereotip dan prasangka terhadap kelompok LGBTQ+ sehingga berdampak pada lingkungan yang tidak mendukung perkembangan positif individu.

Ramadan, dkk (2022) menemukan bahwa di Indonesia, pandangan masyarakat terhadap kelompok LGBTQ+ terbagi menjadi dua, pro dan kontra. Bagi mereka yang kontra menganggap bahwa penyimpangan orientasi seksual tidak termasuk dalam HAM. Keberadaannya juga tidak bisa dibiarkan karena dianggap memberikan dampak negatif berupa penyebaran penyakit seksual dan penyakit kelamin.

Hal yang berbeda menurut kelompok pro yang justru menganggap bahwa orientasi seksual merupakan pilihan individu dan bagian dari HAM yang harus dilindungi dan tidak boleh diperlakukan secara diskriminatif.

Dalam konteks ini, psikologi sosial menyelidiki cara individu menanggapi norma sosial dan bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungan yang mungkin tidak selalu mendukung.

Upaya Psikologi Sosial dalam Mengatasi Pengaruh Budaya Eksternal

Menurut Yudiyanto (2017), penerimaan diri merupakan langkah awal yang penting dalam mengatasi pengaruh budaya eksternal terhadap orientasi seksual. Psikologi sosial menunjukkan bahwa individu yang mampu menerima dan memahami identitas seksual akan memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi. Oleh karena itu, dukungan sosial dan pengembangan keterampilan coping menjadi penting dalam membantu individu melangkah maju dalam menerima diri mereka sendiri.

Psikologi sosial juga menunjukkan bahwa kontak positif dengan individu LGBTQ+ dapat mengubah sikap dan pandangan orang terhadap kelompok tersebut, termasuk di dalamnya prasangka dan stereotip. Oleh karena itu, pendidikan masyarakat dan dialog terbuka dapat dilakukan untuk membantu mengatasi ketidakpahaman dan ketakutan yang mungkin muncul sebagai hasil dari kurangnya informasi atau paparan yang tepat mengenai kelompok LGBTQ+.

Dukungan keluarga juga sama pentingnya. Psikologi sosial menyoroti peran keluarga dalam membentuk persepsi dan sikap individu terhadap orientasi seksual mereka. Keluarga yang mendukung dan menerima dapat menjadi benteng pertahanan terhadap tekanan budaya eksternal yang mungkin merugikan kesejahteraan emosional individu.

Selain itu, penciptaan ruang aman dan dukungan komunitas yang membentuk jaringan sosial yang solid dan positif juga dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis. Komunitas yang memahami dan menerima perbedaan dapat memberikan dukungan yang sangat dibutuhkan bagi individu yang mungkin merasa terisolasi atau tidak dipahami oleh budaya umum.

Peran Psikologi Sosial dalam Menghadapi Tantangan Penyimpangan Seksual

Dalam menghadapi tantangan orientasi seksual, individu juga dapat memanfaatkan sumber daya profesional, seperti konseling psikologis atau dukungan kelompok. Psikologi sosial mendukung ide bahwa membuka diri terhadap bantuan profesional dapat menjadi langkah proaktif dalam mengatasi ketidaknyamanan atau konflik internal yang mungkin muncul sebagai dampak budaya eksternal.

Psikologi sosial berperan dalam menghadapi tantangan orientasi seksual akibat pengaruh budaya eksternal melalui penerimaan diri, penolakan prasangka dan stereotip, dukungan keluarga, pembentukan komunitas yang inklusif, dan pemanfaatan sumber daya profesional. Dengan memahami dinamika psikologi sosial di balik tantangan ini, kita dapat bersama-sama membangun masyarakat yang lebih inklusif, penuh pengertian, dan mendukung bagi semua individu, tanpa memandang orientasi seksual mereka

Ikuti tulisan menarik Riva Ramadhani Maulana lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu