x

Iklan

Elnado Legowo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 27 Desember 2023 13:53 WIB

Komunikasi Buruk Gibran Selama Debat Cawapres 2024

Penampilan Gibran Rakabuming Raka dalam debat cawapres pertama 2024 mendapat kritik para pakar karena dinilai tidak etis. Ia terlalu tendensius menjatuhkan dan merendahkan kandidat cawapres lainnya. Gibran dinilai kurang mempresentasikan ide dan solusi permasalahan bangsa.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Gibran Rakabuming Raka telah tampil dengan penuh percaya diri saat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari panelis, selama debat pertama cawapres 2024, Jumat, 22 Desember 2023 lalu. Alhasil, ia berhasil mendominasi panggung dan mendapat banjir pujian publik. Bahkan ia pun menjadi sorotan media asing. 

Salah satu media asing tersebut adalah Al Jazeera (DetikNews, 23/12/2023). Al Jazeera menilai Gibran berhasil melenyapkan stigma tidak berpengalaman dan nepotisme yang selama ini dilekatkan padanya, sehingga menimbulkan ketidakprofesionalannya dalam berargumen.

Walaupun begitu, terdapat pula masalah dalam penampilan Gibran selama debat yang sebetulnya terkesan sepele tapi krusial. Hal itu datang dari gaya komunikasinya yang terkesan menyudutkan dan merendahkan kandidat cawapres lainnya, hingga memakai istilah tidak umum yang membingungkan publik. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Salah satu kasus yang paling populer adalah pertanyaan tentang SGIE (State of the Global Islamic Economy) yang ditujukan kepada kandidat cawapres nomor urut 01, Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Namun, karena ia mengaku tidak paham dan belum pernah dengar SGIE, maka ia direspon sindir oleh Gibran, seolah pertanyaan yang dilontarkannya terlalu sulit. Akan tetapi, jika melihat reaksi di lapangan, banyak kalangan yang juga tidak paham dengan istilah tersebut, baik dari orang awam hingga akademisi ekonom. 

Menurut Direktur IDEAS, Yusuf Wibisono, singkatan tersebut sangat tidak umum meski ia paham maksud dari SGIE itu sendiri (Kanal YouTube Tempodotco, 23/12/2023). Selain itu, singkatan SGIE juga sangat menjebak, karena jika kita menelusuri Google maka SGIE juga memiliki akronim yang beragam, yakni Strategic Growth and Investment Engineering (allacronyms.com) dan Sustainable and Green Innovation Economy (ChatGPT). Terlebih lagi, Gibran juga tidak menjelaskan secara tuntas dalam pertanyaannya, sehingga jadi tidak jelas dan ambigu.

Kemudian pada kasus Carbon Capture and Storage (CCS), Gibran bertanya ke kandidat cawapres nomor urut 02 Mahfud MD, tentang cara mengatur regulasinya. Lantas Mahfud menjawab, hal paling mendasar dalam membuat regulasi adalah bagaimana menyusun naskah akademik. Namun, jawaban tersebut direspon sinis oleh Gibran, seakan Mahfud tidak menjawab pertanyaannya dan mengambang ke mana-mana. Padahal jawaban Mahfud tidak sepenuhnya salah.

Dilansir dari website dpr.go.id, naskah akademik adalah naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum, dan hasil penelitian lainnya terhadap suatu masalah tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, mengenai pengaturan masalah tersebut. Dengan kata lain, naskah akademik sangat bermanfaat dalam menganalisis dampak, riset berbasis bukti, memahami perspektif internasional, mengidentifikasi tantangan dan peluang, hingga memberi solusi alternatif. Bila disimpulkan, hal itu sangat diperlukan dalam pembuatan regulasi CCS, karena dapat menjadi sumber analisis dan informasi yang berharga. 

Berdasarkan pakar komunikasi politik Emrus Sihombing, Gibran dinilai over confident sehingga jawabannya cenderung menggurui dan mendikte kandidat cawapres lainnya (Wartakota.com, 23/12/2023). Sedangkan menurut Direktur Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia, Neni Nur Hayati, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Gibran, sesungguhnya adalah jebakan yang secara sengaja untuk mendiskreditkan kandidat lain (Tempo.co, 24/12/2023). Walhasil, Gibran telah mempertontonkan perilaku yang tidak etis selama acara debat berlangsung.

Selain dari kedua kasus di atas, terdapat kasus lainnya yang datang dari rasio pajak 23%. Di mana Mahfud mempertanyakan asal dari 23% untuk kenaikan rasio pajak, namun dijawab oleh Gibran dengan analogi kebun binatang (Antara Banten, 22/12/2023). Ia menjelaskan bahwa: “kita sedang tidak berburu di dalam kebun binatang, melainkan ingin memperluas kebunnya. Lalu akan kita ditanami dan binatangnya digemukkan”. Singkat kata, ingin membuka dunia usaha baru. 

Lagi-lagi, pernyataan tersebut juga mendapat respon negatif dari kalangan masyarakat, karena dinilai tidak etis dan terkesan kejam. Meskipun Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis, Yustinus Prastowo, meluruskan bahwa istilah tersebut lazim digunakan di dunia perpajakan (Bisnis.com, 24/12/2023), namun tanpa penjelasan yang jelas akan benang merahnya maka esensi dari kalimat itu bisa berubah. Sebab masyarakat awam menjadi salah memahami, sehingga merasa disamakan dengan binatang.

Menurut Ahli atau Pakar Public Relations, Muhammad Sufyan, sejak awal Gibran memiliki tendensi untuk menjatuhkan lawan bicaranya dalam debat semalam (Kumparan News, 23/12/2023). Ia menjelaskan, dampak dari tendensi tersebut membuatnya berada di level terendah dalam berkomunikasi.

Dalam hal politik, tidak ada larangan bagi setiap kandidat untuk memberi pertanyaan “menjebak” atau “menjatuhkan” pihak lawan mainnya di acara debat. Akan tetapi, hal tersebut harus dilakukan secara hati-hati dan elegan, tetap saling menghargai serta menghormati. Jika tidak, maka bisa menjadi bumerang di waktu mendatang. Sebab, semua pakar yang telah disebutkan sebelumnya telah sepakat, bahwa acara debat adalah ruang untuk memperdalam gagasan dan visi-misi. Bukan menjadikan debat sebagai ajang saling menjatuhkan, menghakimi, apalagi menyerang secara personal.

Selain itu, penampilan Gibran juga dinilai kurang mewakili pertanyaan atau keresahan masyarakat umum terhadap isu dalam tema debat. Hal ini dikarenakan Gibran tidak memberikan rincian operasional yang jelas, seperti yang telah dilontarkan oleh Emrus. Misalnya, ia tidak menyebutkan secara rinci operasional dalam mengurangi pengangguran (Wartakota.com, 23/12/2023). Ia juga memakai masalah stunting sebagai jawaban, ketika ditanya tentang cara pembangunan infrastruktur sosial tanpa membebani APBD (AntaraNews, 23/12/2023). Bahkan, ia juga tidak menjelaskan bagaimana ia bisa mendapatkan 400 triliun rupiah untuk program makan siang gratis saat debat berlangsung (DetikFinance, 23/12/2023). 

Karena kurangnya penjelasan yang rinci dan komprehensif, maka pernyataan dan jawaban tersebut menjadi terdengar tidak nyambung, tidak substantif, hingga tidak relevan. Sebagai kesimpulannya, penampilan Gibran selama debat cawapres pertama hanya mewakili dirinya sendiri ketimbang masyarakat Indonesia secara luas. 

Ia berhasil mematahkan keraguan publik tentang dirinya yang tidak mampu berdebat. Tetapi, ia tidak berhasil mempresentasikan ide dan gagasan, sekaligus menjawab permasalahan dan tantangan untuk bangsa ini ke depan secara substantif serta realistis. Didukung dengan penampilannya yang sangat tendensius untuk mendiskreditkan kandidat lain, ia semakin gagal untuk menunjukkan sikap teladan sebagai negarawan dan calon pemimpin bangsa dari kalangan anak muda.

Kita berharap agar dalam debat capres-cawapres mendatang, moderator lebih berani untuk memberi teguran terhadap suatu kandidat yang menanyakan hal yang tidak mudah dipahami oleh kandidat lain. Tujuannya agar dapat memberi kesan yang adil dan tidak diskriminatif, sekaligus menjaga marwah acara debat sebagai ajang adu ide dan gagasan.

Ikuti tulisan menarik Elnado Legowo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler