Apakah Agama Masih Memberi Makna Hidup?

Kamis, 28 Desember 2023 06:57 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Peran tradisional agama mengalami perubahan. Kehadiran anak muda di kegiatan keagamaan mulai menurun bersamaan meningkatnya sekularisme dan pluralisme budaya.

Kita hidup di era di mana masyarakat mengalami perubahan sosial dan budaya yang signifikan. Perubahan ini termasuk globalisasi, digitalisasi, dan pergeseran nilai-nilai tradisional. Masa dewasa muda, rentang usia 18-25 tahun, merupakan fase penting dalam kehidupan manusia, di mana individu sering kali mencari identitas dan makna hidup.

Di banyak masyarakat, peran tradisional agama mengalami perubahan. Kita melihat penurunan kehadiran di kegiatan keagamaan, terutama di kalangan generasi muda. Hal ini dapat dikaitkan dengan peningkatan sekularisme dan pluralisme budaya, serta akses yang lebih luas terhadap informasi dan perspektif beragam melalui internet.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Masa dewasa muda sering dikaitkan dengan eksplorasi diri dan pencarian makna hidup. Dalam konteks ini, peran agama dan spiritualitas bisa berubah, dari yang tadinya lebih institusional menjadi lebih pribadi dan individualistik. Masyarakat modern menawarkan banyak pilihan dalam hal keyakinan dan praktik spiritual, memungkinkan individu untuk menjelajahi berbagai bentuk spiritualitas yang sesuai dengan pencarian pribadi mereka.

Era digital telah mengubah cara kita berinteraksi dan membangun komunitas. Media sosial dan teknologi digital memungkinkan individu untuk terhubung dengan komunitas kepercayaan yang lebih luas dan beragam, yang bisa mempengaruhi pandangan dan praktik keagamaan mereka.

Dalam konteks kekinian ini, artikel oleh Laura Upenieks menjadi relevan karena membahas hubungan antara religiositas dan pencarian makna hidup selama masa dewasa muda. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana perubahan dalam keterlibatan agama dan persepsi kedekatan dengan Tuhan dapat mempengaruhi tujuan hidup di tengah perubahan sosial-budaya yang sedang terjadi.

Penelitian ini memberikan wawasan penting mengenai dinamika religiositas di masa modern dan bagaimana hal tersebut berkaitan dengan proses pencarian identitas dan makna hidup yang umum di kalangan generasi muda saat ini.

Artikel yang  berjudul "Searching for meaning: religious transitions as correlates of life meaning and purpose in emerging adulthood" membahas hubungan antara dimensi religiositas dengan tujuan hidup selama masa dewasa muda. 

Penelitian ini didasarkan pada pemikiran bahwa pencarian makna hidup merupakan kebutuhan dasar manusia dan bisa berhubungan erat dengan aspek religiositas. Masa dewasa muda, yang umumnya berusia 18-25 tahun, dianggap kritis karena seringkali diwarnai dengan penurunan keterlibatan dalam kegiatan keagamaan dan pencarian identitas serta tujuan hidup

Studi ini mengeksplorasi bagaimana berbagai dimensi religiositas, seperti kehadiran di kegiatan keagamaan dan persepsi kedekatan dengan Tuhan, berhubungan dengan tujuan hidup di masa dewasa muda. Masa dewasa muda sering diiringi dengan perubahan dalam keterlibatan agama, termasuk penurunan kehadiran kegiatan keagamaan dan perubahan dalam persepsi kedekatan dengan Tuhan. 

Studi ini mengusulkan empat hipotesis utama yang berkaitan dengan keterlibatan keagamaan dan persepsi kedekatan dengan Tuhan, serta hubungannya dengan makna dan tujuan hidup.

Penelitiannya menggunakan data dari "National Study of Youth and Religion (NSYR)" yang melibatkan responden usia 18-23 tahun. Analisis difokuskan pada bagaimana perubahan dalam keterlibatan agama dan persepsi kedekatan dengan Tuhan antara dua gelombang survei berhubungan dengan perubahan dalam makna dan tujuan hidup.

Hasil menunjukkan bahwa keterlibatan agama yang konsisten atau meningkat berkaitan dengan peningkatan makna dan tujuan hidup, sedangkan penurunan keterlibatan agama berkorelasi dengan penurunan tujuan hidup. Persepsi kedekatan yang stabil atau meningkat dengan Tuhan juga dikaitkan dengan peningkatan makna dan tujuan hidup. 

Temuan ini menegaskan peran penting religiositas, baik dalam bentuk keterlibatan agama maupun hubungan personal dengan Tuhan, dalam membentuk dan mempertahankan makna dan tujuan hidup selama masa dewasa muda.

Studi ini menunjukkan bahwa religiositas, dalam bentuk kehadiran di kegiatan keagamaan dan persepsi kedekatan dengan Tuhan, memiliki peranan penting dalam membantu individu mencapai dan mempertahankan tujuan hidup di masa dewasa muda. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya memahami bagaimana dinamika religiositas berkontribusi terhadap pembentukan identitas dan tujuan hidup di masa kritis ini.

Penelitian ini mengakui beberapa keterbatasan, seperti batasan data longitudinal dan perluasan sampel untuk mencakup keanekaragaman tradisi religius. Penelitian masa depan disarankan untuk mengeksplorasi lebih lanjut bagaimana perubahan religiositas di masa dewasa muda berhubungan dengan tujuan hidup, khususnya dalam konteks keberagaman sosial dan budaya.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Yan Okhtavianus Kalampung

Narablog dan Akademisi

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua