x

Supporter yang tidak bersikap netral. Sumber gambar: Tembela Bohle dari Pexels via Canva.

Iklan

Liliek Purwanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Mei 2022

Senin, 1 Januari 2024 15:24 WIB

Ternyata, Bersikap Netral Tak Semudah Membalik Bantal

Aparat negara yang sulit bersikap netral dalam Pemilu kembali dipersoalkan. Ternyata, Piala Dunia U-17 yang belum lama tuntas menyisakan pelajaran berharga terkait urusan netralitas.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Aparat negara yang sulit bersikap netral dalam Pemilu kembali dipersoalkan. Ternyata, Piala Dunia U-17 yang belum lama tuntas menyisakan pelajaran berharga terkait urusan netralitas.

Tampilnya Jerman sebagai kampiun menandai akhir kejuaraan sepak bola tingkat dunia yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia. Meskipun sudah usai, turnamen sepak bola usia muda itu meninggalkan kenangan bagi banyak kalangan. Saya pun beroleh pelajaran dari pergelaran yang kabarnya menyedot atensi rata-rata 11 ribu penonton per pertandingan.

Ada perasaan tidak nyaman melingkupi hati saya sepanjang mengikuti jalannya kejuaraan. Sejak kick off laga pembuka hingga hampir kelarnya kejuaraan, saya nyaris tak mampu bersikap netral dalam setiap partai yang dimainkan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ketika Timnas Indonesia U-17 masih punya asa, tentu saja dukungan saya persembahkan bagi tim nasional Indonesia tercinta. Sesuatu yang wajar tentunya, seseorang mendukung tim yang berasal dari tanah air yang sama.

Mudahnya Mengelak dari Sikap Tidak Memihak

Namun, urusan dukung-mendukung ini menjelma sebagai malapetaka. Bukan hanya pada pertandingan yang melibatkan Timnas Indonesia hati saya terlibat di dalamnya.

Pada partai-partai lain yang berpeluang memengaruhi langkah Garuda ke babak selanjutnya,  sepertinya diri saya tak benar-benar menonton pertandingan sepak bola. Saya lebih sibuk berharap-harap cemas memikirkan peluang Timnas.

Perasaan tak nyaman semacam itu terus menderu hingga partai terakhir grup F yang mempertemukan Meksiko dan Selandia Baru. Pertandingan ini, selain partai Burkina Faso melawan Korea Selatan di grup E, menjadi harapan pemungkas bagi pasukan yang dilatih Bima Sakti lolos ke fase gugur.

Dan, persoalan mulai muncul sesaat setelah Juarez melesakkan bola ke gawang Selandia Baru. Gol pemain Meksiko itu menandai secara sah pupusnya harapan Indonesia. Asa setipis kartu ATM untuk menjadi salah satu peringkat ketiga terbaik melayang diterpa angin yang bertiup tak cukup kencang.

Saat itu pula saya kehilangan “pegangan”. Pasukan Garuda Belia harus menyudahi kiprah mereka di ajang bergengsi kejuaraan tingkat dunia.

Setelah “masa berkabung” oleh tersingkirnya Indonesia usai, saya “berjuang mati-matian” untuk tidak lagi memihak dan berusaha keras untuk dapat menikmati pertandingan-pertandingan selanjutnya. Namun, sungguh sayang, kenikmatan menyaksikan tarian-tarian yang diperagakan anak-anak remaja Spanyol, Brazil, Maroko, dan lain-lain tak pernah saya dapatkan.

Penyebabnya tiada lain, kecenderungan mendukung salah satu tim yang sedang bertanding dengan pelbagai alasan. Mulai kebijakan politik yang dianut pemerintah masing-masing negara hingga alasan-alasan ngasal menjadi dasar pertimbangan yang acapkali tak masuk akal.

1001 Alasan Melabuhkan Dukungan

Setelah Indonesia masuk kotak, fanatisme kawasan mendorong saya berharap Jepang, Iran, atau Uzbekistan terus melaju ke babak selanjutnya. Rasanya ikut bangga melihat tim “sedaerah” berjaya di Piala Dunia.

Namun, harapan itu tak berumur panjang dan harus pupus saat Uzbekistan gugur di perempat final.

Lantas, apakah keberpihakan saya berakhir sampai di sini saja? Oh, tidak secepat itu, Saudara-Saudara.

Ketika benua Asia tak menyisakan satu pun wakil yang mampu melangkah ke semifinal, saya mengalihkan dukungan kepada tim lain dengan alasan yang berbeda. Sayangnya, alasan yang mendasari dukungan saya bukan faktor kemampuan pemain atau tim, melainkan urusan-urusan lain yang hampir tak berhubungan dengan urusan sepak bola.

Sewaktu Argentina bersua Jerman, saya memihak Argentina. Lagi-lagi alasannya bukan permainan ciamik yang ditunjukkan Echeverri dan kawan-kawannya para penggawa Tim Tango.

Barangkali, pertimbangan yang mendasari keberpihakan saya teramat konyol. Baayangkan saja, saya mendukung Argentina hanya karena timnas (senior) mereka pernah berlaga melawan Timnas Indonesia dalam FIFA Matchday yang digelar 19 Juni 2023 silam. Bingung, kan?

Lalu, di semifinal lainnya, Mali menghadapi Prancis, saya berharap satu-satunya wakil Afrika yang tersisa itu bisa menapakkan kaki-kaki kokoh mereka di partai puncak. Saya harus mengakui bahwa permainan Mali amat memikat hati.

Namun, sayangnya, bukan itu alasan utama saya mendukung mereka. Pendorong keberpihakan saya adalah rasa “senasib sepenanggungan” dengan sesama saudara yang berasal dari benua terbelakang dalam urusan sepak bola. Makin ajaib, bukan?

Bersikap Netral Enyahkan Rasa Kesal

Dan, partai final pun tiba. Pertemuan Jerman dan Prancis di pertandingan terakhir inilah yang “memaksa” saya tak melabuhkan dukungan pada salah satu tim yang berlaga. Saya telah kehabisan alasan untuk berpihak kepada satu di antara kedua negara Eropa itu. Bagi saya, keduanya sama saja.

Justru pada momen inilah saya merasakan asyiknya nonton bola. Akhirnya, saya bisa duduk nyaman, ongkang-ongkang kaki sembari menyeruput kopi di depan televisi. Kali ini, saya rehat sejenak dari hasrat untuk selalu berpihak.

Ketika Paul Argney tampil gemilang, menyelamatkan gawang Prancis dari serbuan para penyerang Jerman, saya bersorak girang. Sebaliknya, saat Paris Brunner—yang akhirnya beroleh gelar pemain terbaik--meliuk-liuk memasuki area penalti dan mengancam gawang Prancis, saya pun melonjak-lonjak histeris.

Sungguh sebuah perjalanan panjang harus saya lakoni hingga dapat bersua dengan makna netralitas yang sebenarnya. Seandainya Indonesia (atau negara-negara lain yang ada “pertalian” dengan saya) tampil di partai final, apakah saya benar-benar tak berkesempatan menikmati pertandingan sepak bola indah yang sekian lama dinanti-nanti? Kondisi semacam itu sangat mungkin terjadi.

Pengalaman menyangkut sulitnya bersikap netral telah mengingatkan saya pada satu hal penting memasuki tahun “panas” 2024. Kini, tingkat keheranan saya akan sulitnya menegakkan aturan bagi ASN, TNI, dan Polri untuk bersikap netral dalam pilpres 2024 mendatang sedikit berkurang.

Ternyata, sikap tidak memihak bukan perkara yang gampang untuk dijalankan. Selama manusia masih diburu kepentingan, berharap orang bersikap netral itu bagai pungguk merindukan bulan.

Namun, di lain pihak, terdapat seulas kenikmatan yang bisa kita rasakan manakala sikap memihak bisa sejenaak kita tinggalkan. Setidaknya dapat dikurangi hingga tak masuk kategori dukungan yang membabi buta. Sayangnya, keadaan ini hanya mungkin terjadi saat kita tidak memiliki keterkaitan pribadi dengan para kontestan yang sedang berlaga.

Nah, gimana para aparat negara? Sudah (belajar) bersikap netral?

Ikuti tulisan menarik Liliek Purwanto lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler