x

Iklan

Violeta Pandiangan

Penulis Indonesiana. ~Hupomone~ May you be healed from things no one ever apologized for.
Bergabung Sejak: 29 Desember 2023

Rabu, 3 Januari 2024 14:08 WIB

Fenomena Bunuh Diri: Problem Kesehatan Mental atau Budaya?

Fenomena bunuh diri masuk sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi (negara Lesotho) dan semakin marak secara global. Sebenanrnya integrasi sosial bisa membantu mengurangi tingkat stress dan depresi yang terjadi di dalam anggota masyarakat. Support-system ini harus direncanakan serius oleh pemerintah sebagai salah satu target dari pembangunan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Berapa sering kita mendengar kata Suicide?

Ketika kamu mendengar kata Suicide atau bunuh diri, apa yang terlintas dalam pikiran kamu? Pasti orang ini over-stress, putus asa, tidak ada support system, patah hati, terlilit hutang, mengalami pelecehan berat, atau banyak lagi alasan lain yang mungkin terlintas dalam pikiran kamu.

Pertama sekali saya mendengar kata bunuh diri adalah sewaktu kecil dari Sekolah Minggu tentang Yudas Iskariot yang didalam Alkitab diceritakan bahwa dia mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri setelah mengkhianati Kristus.

Saat berkuliah di Fakultas Sastra  jurusan Bahasa Jepang di Universitas Sumatera Utara, saya menemukan fakta  ada dua jenis bunuh diri yang  menjadi tradisi dalam masyarakat Jepang. Harakiri dan Seppuku adalah bunuh diri cara Jepang dengan memotong perut dari kiri ke kanan. Harakiri dilakukan secara privasi.

Kita mendengar beberapa peristiwa bunuh diri harakiri dalam kasus korupsi oleh pegawai pemerintah di Jepang. Mereka menyesal dan malu sehingga melakukan harakiri. Tidak seperti para koruptor di lembaga pemerintahan Indonesia yang masih bisa dengan pongah tanpa malu tanpa rasa bersalah menyelewengkan dana peruntukan pembangunan rakyat dan negri agar bisa berorgasme dengan keinginan-keinginan yang tidak dapat dia penuhi secara jantan dan halal.

Seppuku memiliki ritual dan disaksikan oleh orang lain serta isi perutnya harus dikeluarkan. Bagi masyarakat Jepang kematian seperti ini adalah suatu kehormatan dan ekspresi dari keberanian. Bagi masyarakat non-Jepang kemungkinan besar melihat hal ini sebagai tindakan yang ekstrim.

Saya kembali mendengar fenomena bunuh diri melalui analisa sosiologis saat melanjutkan kuliah di FHSIP dengan jurusan Sosiologi bersama Universitas Terbuka. Orang yang pertama dan mungkin satu-satunya ilmuwan yang membahas tentang fenomena bunuh diri adalah Emille Durkheim, seorang Sosiolog dari Perancis (1858-1917).

Penelitian Terkait Suicide

Emile Durkheim dalam buku ilmiahnya berjudul “Suicide: A Study in Sociology” yang terbit pada tahun 1897, mengkaji alasan bunuh diri dengan data-data yang dikumpulkannya dari tahun 1856-1878. Durkheim mengkatagorikan alasan-alasan tersebut berdasarkan jenis kelamin dengan kepadatan per 100 orang dari lokasi yang berbeda. Mungkin Durkheim ingin mengaitkan kejadian bunuh diri dengan ragam peristiwa yang terjadi pada tahun-tahun tertentu yang berpotensi menjadi pemicu.

Saat mengikuti program sebagai Volunteer untuk salah satu Suicide Prevention Helpline di Bali, saya mendengar dari satu narasumber yang mengatakan bahwa banyak masyarakat yang depresi akut karena kesulitan ekonomi yang disebabkan pandemi Covid19 yang berlangsung selama 2 tahun. Pembatasan gerak secara masif dan ketat itu memutus paksa kegiatan ekonomi. Dari beberapa sumber yang kebetulan punya akses di pengadilan negri turut mengatakan bawah angka perceraian pun meningkat tinggi semasa pandemic Covid19.

Assessment Emile Durkheim menyaring bahwa alasan suicide yang paling tinggi di Perancis adalah seputar percintaan, berbagai stress dan penyakit mental. Yang lain adalah faktor kemiskinan dan masalah keluarga. Sementara untuk Saxony (Jerman), dimulai dari alasan tertinggi adalah masalah mental, faktor religi (terbanyak pada perempuan), unknown factor, perjudian, benci akan kehidupan, kemarahan, kesehatan, kemiskinan, masalah keluarga. Kedua lokasi tersebut memiliki tingkat tertinggi terhadap alasan bunuh diri yang berbeda. (Emile Durkheim, Suicide: A Study in Sociology, Page 150, Translated by John A. Spaulding and George Simpson, The Free Press)

Dari keseluruhan motif bunuh diri tersebut, dapat disimpulkan bahwa semuanya adalah tentang keputus-asaan pada tingkat maksimum dalam meresponi masalah yang harus dihadapi.

Suicide Prevention Awareness

Saya teringat pada Season 5 Episode 6 berjudul Not Another Monday dalam serial drama yang sangat booming pada masanya bahkan hingga sekarang, The Golden Girls (1985-1991). Episode itu mengangkat topik terkait suicide yang ingin dilakukan oleh Martha Lamont, salah satu circle of close friends dari Sophia Petrillo. Mereka berumur sama, sekitar 80-an.

The Golden Girls menceritakan pertemanan empat orang wanita usia paruh baya (Sophia Petrillo, Dorothy Zbornak, Blanche Devereaux, Rose Nylund) yang menyewa dan tinggal satu atap dengan pemilik rumah bernama Blanche Devereaux.

Perbedaan karakter mereka justru menjadi kekuatan untuk saling melindungi dan menyemangati hidup satu dengan yang lain. Martha Lamont merasakan fisiknya kian melemah karena faktor usia dan menderita kesepian.

Setelah melayati satu teman mereka yang meninggal, Martha menyimpulkan bahwa penderitaannya akan selesai saat dia mati. Martha mengundang Sophia untuk makan malam dan mengutarakan keinginannya agar Sophia hadir menemaninya pada hari dia melakukan suicide dengan cara minum pil. Sophia tidak bisa meresponi situasi yang sensitif itu kecuali mengiyakan. Sophia pulang dan ber-sharing kepada tiga roommate-nya dimana salah satunya adalah anaknya, Dorothy Zbornak.

Mereka semua kuatir akan dampak mental dikemudian hari sehingga melarang Sophia. Karena sudah berjanji, Sophia datang pada hari yang diminta. Ketika Martha hendak menaruh pil kedalam mulutnya, Sophia tiba-tiba mengajaknya berbicara tentang awal mereka berkenalan. Keceriaan dan semangat menghadapi hidup dalam masa senioritas mereka. Sophia mencoba mengalihkan keinginan Martha untuk mengakhiri hidup sebelum waktunya.

Martha akhirnya berterus-terang mengeluarkan kekuatirannya dengan mengatakan kira-kira, “But you have friends who are living with you, and holidays. I saw her so peaceful in her death”. Sophia menanggapi dengan, “Remember life! We are not in this life for peace”.  

Sophia mengajak Martha untuk kembali menikmati hidup sampai waktunya benar-benar tiba secara natural. Sophia menyilahkan Martha untuk datang kapan saja ke rumah Sophia agar bisa sharing serta ngobrol bersama roommate-nya yang lain.

The Golden Girls sudah melakukan Suicide Prevention Awareness pada tahun 1989, 34 tahun yang lalu. Durkheim adalah pioneer lewat assessment sosiologis-nya 126 tahun yang lalu.

Data dan Fakta Tentang Suicide

Untuk membuka wawasan tentang bagaimana kondisi suicide yang sedang terjadi di dunia, tentu menggunakan data sebagai fakta.

Data Angka Kematian Karena Bunuh Diri di Dunia

Negara dengan peringkat kematian bunuh diri tertinggi didunia.

10 Negara dengan angka kematian bunuh diri tertinggi di dunia

10 negara dengan kasus bunuh diri tertinggi di dunia pada tahun 2019 diderita oleh 3 dari Afrika, 2 dari Amerika Selatan, 1 dari Asia, 2 dari wilayah Pasifik dan 2 dari Eropa Timur.

Bagaimana dengan Suicide Rate pada negara yang direkatkan sebagai negara berperingkat bahagia tertinggi pada tahun 2019.

Angka Kematian Akibat Bunuh Diri pada 10 Negara Paling Bahagia Di Dunia 2019-versi Forbes

Ternyata angka kematian karena suicide turut diderita oleh 10 negara paling bahagia di dunia. Ironi sekali bahwa Finlandia, pada tahun yang sama (2019) memegang rekor sebagai negara paling bahagia sedunia sekaligus memegang rekor angka suicide tertinggi diantara negara paling berbahagia itu.

Kalau begitu, bagaimana angka kematian suicide pada negara-negara yang berpenduduk kecil.

Tingkat Angka Kematian Bunuh Diri Pada Negara Berpenduduk Kecil 2019

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bagaimana dengan negara-negara di Asia Tenggara?

Angka Kematian Bunuh Diri di Asia Tenggara 2019

Terkejutkah kamu ketika melihat bahwa Singapura menjadi negara dengan tingkat bunuh diri tertingi di Asia Tenggara? Jika populasi Singapura di tahun 2019 adalah 5,600,000, maka angka kematian bunuh diri Singapura menurut data WHO pada tahun yang sama adalah 627 orang. 9.6% dari total 6,470 angka kematian bunuh diri di Indonesia yang berpenduduk 269,600,000 pada tahun 2019.

Grafik-grafik diatas, menyimpulkan apa?

Suicide, bisa terjadi dimana saja. Dia tidak mengenal apakah dia berada dinegara paling bahagia di seluruh dunia seperti Finlandia. Atau negara yang dianggap paling terstruktur di Asia Tenggara seperti Singapura. Atau negara kecil dengan penduduk sangat sedikit sekalipun yang rasanya semua pasti saling mengenal satu dengan lain dan sangat memungkinan untuk terjadinya integrasi sosial yang terpantau. Apakah dia di Eropa Timur atau Eropa Barat, di Afrika atau negri kepulauan indah seperti Caribbean.

Bagaimana fenomena bunuh diri di Indonesia? Berikut adalah grafik dengan data yang diambil dari Databoks.

10 Provinsi dengan angka kematian bunuh diri tertinggi October 2023

Bagaimana Memutus Angka Kematian Karena Suicide?

Emile Durkheim mengamati bahwa angka kematian karena bunuh diri pada lingkungan Katolik lebih kecil bila dibanding dengan Protestan. Perlu dingat bahwa pasca Revolusi Industri (1760-1850) lalu kemudian diikuti oleh Revolusi Perancis (1789-1799) berpengaruh besar pada kondisi survey yang diamati oleh Emile Durkheim pada masyarakat Eropa. Fenomena Reformasi Martin Luther lewat 95 Thesis yang mengakibat penterjemahan Alkitab dari hanya bahasa Latin ke bahasa lain berpengaruh besar pada sistem keagamaan di Eropa meski peristiwa pemakuan 95 Thesis dipintu Castle Church di Wittenberg itu terjadi jauh sebelumnya yaitu 31 Oktober 1517.

Assessment Emile Durkheim memberikan titik terang akan penanggulangan atau pencegahan terhadap suicide. Pada komunitas Katolik, Durkheim menemukan bahwa angka suicide itu relatif lebih kecil daripada angka kematian akibat suicide yang dia temui pada komunitas Protestan. Durkheim mendapati bahwa ada sistem integrasi yang terjalin dalam komunitas Katolik.

Berangkat dari assessment Durkheim, apa yang bisa manusia lakukan?

MENGELOLA KRISIS

Krisis tidak dapat dihindari. Setiap manusia memiliki level ketahanan atau coping mechanism yang berbeda saat harus berhadapan dengan krisis. Akumulasi krisis dapat terjadi jika tidak diselesaikan sehingga mengakibatkan manusia putus asa pada level paling tinggi sehingga terjadi rationalization bahwa mengakhiri hidup adalah satu-satunya jalan keluar.

Pahami terlebih dahulu apakah penyebab manusia berada pada level krisis. Rencanakan bagaimana merespon.

Karena manusia pada dasarnya adalah makluk sosial, manusia membutuhkan support system dari manusia lain. Penyediaan support system itu tentunya harus didapat dari jiwa-jiwa yang terpercaya seperti keluarga, teman, saudara, ataupun komunitas-komunitas seperti dari kerohanian, hobi, atau komunitas lain yang bisa mendukung dan meng-intervensi dengan tepat.

JIKA PERLU, jangan ragu dan malu untuk berkonsultasi kepada tenaga ahli seperti psikolog dan psikiater. Atau hubungi Suicide Prevention Hotlines yang tersedia di Indonesia atau di Bali yang free dan dapat diakses dari seluruh penjuru Indonesia.

Alangkah baiknya jika WHO (World Health Organization) sudah mulai bergerak untuk meng-update terkini data World Suicide Rate yang saya terjemahkan ke dalam 4 grafik pertama diatas. Fungsinya untuk melakukan intervensi yang tepat bagi Global Suicide Preventive Action. Mulai menjalin kerjasama dengan CSOs dan Kantor-Kantor pemerintah yang terkait untuk mendapatkan dan meng-update data secara detail (Gender, Age, Location, Trigger/Reason, Date/Year). Leave No One Behind adalah target dari Inclusiveness.

Tetap semangat! Jangan lupa bahwa kita ada di dunia ini dengan tujuan tertentu. Temukan tujuan kamu dan menjadi pribadi yang membawa pembaharuan.

Be strong yet never lose tenderness-Che Guevara

Ikuti tulisan menarik Violeta Pandiangan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan