x

Iklan

Atia Mutiara

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah A.R. Fachruddin
Bergabung Sejak: 5 Januari 2024

Jumat, 5 Januari 2024 10:17 WIB

Perempuan Pengarang dalam Sejarah Kesusastraan Indonesia Pasca-reformasi

Pada periode pasca-reformasi ini, mulai banyak muncul perempuan pengarang yang bebas mengeksplorasi bahasa dalam menulis karya-karyanya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Menjadi perempuan di Indonesia yang didominasi oleh paham patriarki ini memang cukup sulit. Mereka dipandang lemah, kasta kedua setelah laki-laki, dianggap sebagai aib, hingga dikerdilkan atas hak-hak politik, pendidikan, dan ekonominya. Hal tersebut seperti sudah menjadi suratan takdir y bagi perempuan di dunia ini. Akan tetapi, kondisi tersebut mulai berubah seiring berkembangnya zaman, termasuk dalam perkembangan kesusastraan Indonesia.

Kesusastraan Indonesia memiliki sejarah yang sangat panjang sehingga perlu adanya  periodisasi dari tahun ke tahun. Salah satu periodisasi sastra yang berkembang pesat seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah periodisasi pasca-reformasi. Pada periode ini, mulai banyak muncul perempuan pengarang yang bebas mengeksplorasi bahasa dalam menulis karyanya. Mereka bahkan tidak terkungkung dalam menabukan seks dalam tulisannya untuk memberikan kritikan tajam pada kehidupan patriarkis yang mereka alami. Di antara banyaknya pengarang tersebut ialah sebagai berikut.

Djenar Mahesa Ayu. Beliau lahir pada 14 Januari 1973 di Jakarta. Ia terkenal dengan karyanya berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet. Kumpulan cerita pendek (cerpen) yang memuat 11 cerpen ini ditulis oleh Djenar pada 2001-2002. Selain itu, novel pertamanya adalah Nayla (2005) yang mengangkat secara ringan berbagai persoalan penyimpangan seks. Kemudian, beliau menulis kumpulan cerpen Jangan Main-main dengan Kelaminmu (2004) yang juga mengangkat persoalan seks.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ayu Utami. Beliau lahir pada 21 November 1968 di Bogor.  Ia dikenal dengan novel Saman yang meraih penghargaaan Dewan Kesenian Jakarta 1997 dan dicetak ulang 22 kali. Novel ini pada awalnya direncanakan sebagai fragmen dari novel pertamanya yang berjudul Laila Tak Mampir di New York. Novel Saman (1998) mengambil latar Indonesia pada tahun 80-90-an. Para tokohnya saling berinteraksi di tengah kondisi sosial, politik, dan budaya Indonesia pada masa itu.

Dewi “dee” Lestari. Beliau lahir pada 20 Januari   dikenal dengan novelnya yang berjudul Supernova: Ksatria Putri dan Bintang Jatuh (2001). Karya tersebutmerupakan novel Indonesia pertama yang memanfaat sains dalam sebuah karya fiksi.

Pengarang perempuan yang penting pada periode ini adalah Oka Rusmini. Beliau lahir pada 11 Juli 1967 di Jakarta. Melalui novel Tarian Bumi (2000) dan Kenanga (2003), Oka menggugat tradisi adat, budaya, dan agama yang selalu memojokan posisi perempuan. Dalam Tarian Bumi, tokoh utamanya yang bernama Ida Ayu Telaga Pidada, perempuan bangsawan yang kerap dituding sebagai biang kesialan keluarga karena menikah dengan seorang Wayan, lelaki dari kasta yang lebih rendah. Telaga akhirnya iklas menanggalkan kasta kebangsawanannya dan memilih menjadi perempuan sudra yang utuh.

Dalam novel Kenanga, permasalahannya disajikan secara lebih rumit. Tokoh utama yang bernama Kenanga harus berhadapan dengan cinta terlarang. Adiknya menikah  dengan Bhuana, lelaki yang justru pernah memperkosanya. Di sana, Ciata terpaksa tunduk pada norma agama, citra kasta Brahmana, dan sejumlah aturan yang justru memasung kebebasan perempuan. Permasalahan ini diperumit dengan  perselingkuhan yang harus disembunyikan dengan rapi semata-mata demi menjaga kasta.

Selain kedua novel tersebut, Oka juga menggugat tradisi Bali yang dianggap merugikan perempuan dalam kumpulan cerpen Sagra (2001). Kumpulan cerpen ini memang nampak jelas menggambarkan "pemberontakan" dan "penggugatan" perempuan Bali yang dilakukan atau diwakili oleh tokoh-tokoh dalam kumpulan cerpen tersebut. Mulai dari soal adat, kebangsawanan atau kasta, dominasi gender, hingga perjuangan atas peningkatan atau penempatan sosok perempuan ideal dalam kehidupan masyarakat Bali. Selain itu, sistem stratifikasi sosial yang berwujud dalam bentuk kebangsawanan dan kasta-kasta tersebut dikritisi sedemikian rupa melalui alur cerita yang menarik.

Selain tokoh-tokoh di atas, ada beberapa penulis perempuan hebat lainnya yang telah menulis banyak karya sastra, baik dalam bentuk novel, puisi, atau cerpen, seperti Asma Nadia, Abidah el-Khalieqy, Maya Wulan, Ucu Agustin, Evi Idawati, dan lain-lain.

 

Daftar Pustaka

Erowati, R & Bahtiar, A. (2011). Sejarah Sastra Indonesia. Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ikuti tulisan menarik Atia Mutiara lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan