x

Iklan

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Minggu, 14 Januari 2024 16:15 WIB

Saat Debat Jangan Serang Pribadi, dong!

Gelaran Debat Capres Perdana yang disiarkan serentak di beberapa stasiun televisi swasta, membuat acara favorit sinetron tayangan unggulan prime time, terpaksa harus mienepi. Pemirsa pun disuguhkan ihwal bagaimana debat mestinya dilakukan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Debat mengagendakan pembahasan sebuah tema atau topik. Debat diperkenankan  melibatkan 2 atau lebih narasumber. Mereka boleh akademisi atau praktisi.  Hadirnya moderator sebagai pengendali alur pembahasan topik, membuat sebuah debat dapat disaut substansi pembahasan topik debat pemirsa atau peserta pasif.

Debat bisa dilakukan di warung-warung kopi pinggiran area perkampungan. Bisa pula dicafe-cafe di perkotaan. Ada pula yang menggelar di dunia persekolahan atau perkampusan. Nah, yang marak belakangan ya debat di layar kaca. Utamanya debat capres, debat cawapres.

Debat di warung kopi pinggiran, apa pun bentuknya sungguh mengasyikkan. Liar tak berujung, tanpa kendali (karena memang tidak ada: moderator), dan kalau sudah kepepet ya nyerang pribadi. Maka, yang dilontarkan adalah keburukan dari orang yang didebat.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kok mengasyikkan? Di warung kopi pinggiran, walau ada kalimat yang terlontar” Pale lo bau menyan” dan ditimpali dengan “Pale lo peyang”, tidak ada ekspresi ketersinggungan. Malah, yang ada cengengesan! Sambil terpingkal-pingkal mereka lanjutkan perdebatan tak berujung.

Debat disini, memang budaya obrolan pengisi senggang sambil menikmati segelas kopi. Merk kopinya  pun bukan seperti yang bersliweran di swalayan megah, toko-toko daring atau media sosial. Entah robusta atau arabica, yang penting kopi. Biasanya mereka adalah pejalan yang mungkin entah dari atau mau ke mana. Pun ada petani pelanggan yang walau dari rumah sudah mengopi, tapi belum sreg kalau belum ngopi di warung.

Debat di warung kopi pinggiran tanpa target, tanpa direncanakan. Begitu mereka ada lebih dari 2 orang langsung buka omongan cuma sekadar tanya tentang baliho yang dipasang di perempatan, sampai ada poster caleg yang dipasang di antara 2 pohon yang bikin celaka pengendara motor, karena tertiup angin.

Malah ada pula debat yang berujung bukan pada keberpihakan, tetapi lebih pada umpatan. Ceritanya begini. Kan banyak itu caleg yang bikin foto, logi partainya, dan imbauan agar orang mengenalnya dan memilih dirinya kelak saat Pemilu. Ini boro-boro mencermati,  karena memasang posternya yang kecil itu di tiang listrik di gang dan posisinya menghalangi orang yang lalu lalang. Jadilah, si pelalu lalang tersebut “tertampar” poster yang ada. Komentar tak penting keluar. “Waduh ini caleg belum apa-apa, belum jadi aja udah nyusahin.

Bagaimana memirsa debat di layar kaca? Tanpa gebyah uyah atau menggeneralisasi, dapat ditegaskan debat belum menjadi bagian budaya kita. Debat yang dimaksudkan adalah debat secara akademis yang lebih mengangkat muruah keilmiahan daripada yang non-ilmiah.

Pandangan atau pendapat pribadi yang disampaikan itu kudu. Namun, pendapat yang diikuti emosi justru hanya mempertontonkan kurangnya pengetahuan dan profesional sang narasumber. Apalagi jika kepepet, lantas menyerang pribadi dan keluar konteks topik debat. Ini yang kurang pas. Peserta aktif yang berperan sebagai penonton pun lantas dibuat kecewa.

Bertolak dari fakta, data, seperangkat teori yang menunjang adalah hal yang seharusnya dikedepankan sang narasumber. Bagaimana jika itu tidak dilakukan? Biasanya dengan kepanikannya, sang narasumber akan cuap-cuap tak tentu arah. Tindakan tersebut, sebenarnya malah membuatnya tampak tidak siap menghadapi sebuah debat.

Debat yang dipertontonkan para narasumber yang bergelar pakar: bisa politisi, akademisi, dan praktisi apabila seperti itu, justru hanya mempertontonkan kekonyolannya. Pemirsa yang berharap mendapatkan informasi terbaru dan terbaik, bisa langsung mengambil remote control dan menekan tombol merah off,  lalu melanjutkan menyeruput kopinya yang sepanas 100 derajat Celcius. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler