x

Rumah milik Michiel Romp (Sumber: Georg Friedrich Johannes, Bley/ Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen).

Iklan

Harrist Riansyah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 April 2023

Selasa, 23 Januari 2024 07:26 WIB

Asal Mula Nama Cengkareng

Ada juga yang mengatakan nama Cengkareng berasal dari tanaman Tjengkarang yang banyak berada di daerah ini. Lalu ada teori yang mengatakan nama Cengkareng diambil dari bahasa Sunda, Cingkangkareng.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kecematan Cengkarang yang terletak di Kota Jakarta Barat merupakan wilayah yang identik dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Padahal secara administratif Bandara Soekarno-Hatta tidak terletak di Kecamatan Cengkareng tetapi berada di Tangerang, Banten.

Kecamatan Cengkareng berbatasan dengan Kecamatan Penjaringan di Utara, lalu Kecamatan Grogol Petamburan dan Kecamatan Kebon Jeruk di bagian Timur. Di Selatan berbatasan dengan Kecamatan Kembangan. Dan dibagian Barat berbatasan dengan Kecamatan Kalideres dan Kecamatan Cipondoh.

Penamaan Cengkareng

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sebenarnya tidak ada keterangan yang pasti mengenai penamaan daerah ini dengan nama Cengkareng. Ada teori yang mengatakan nama Cengkareng berasal dari bahasa Belanda, Tjankaar yang artinya terkekeh. Kemudian berkembang menjadi Tjankarang bergeser menjadi Tjankareng dan menjadi Tjengkareng.

Ada juga yang mengatakan nama Cengkareng berasal dari tanaman Tjengkarang yang banyak berada di daerah ini. Lalu ada teori yang mengatakan nama Cengkareng diambil dari bahasa Sunda, Cingkangkareng. Ci yang berarti sungai dan Karangkeng yang merupakan semacam burung enggang, buruh paruhnya bercula. Teori beralasan karena sampai akhir abad ke 19 menurut peta Holle penduduk daerah ini menggunakan bahasa Sunda dalam kegiatan sehari-hari.

Pada paruh kedua abad ke-18 tanah di Cengkareng dimiliki Michiel Romp seorang pejabat tinggi VOC di Batavia. Lalu 1762 ia membangun rumah peristirahatan bertingkat kedua dengan gaya indis yang dikenal dengan nama Landhuis Tjengkareng yang hancur pada masa revolusi September 1945.

Menurut Regerings Almanak 1881 tanah Cengkareng dimiliki oleh sebuah perusahaan Belanda, Firma Brijnst een Vinju yang disewakan kepada Tan Oen Tjong. Hasil bumi dari wilayah Cengkareng ketika itu berupa padi, kelapa, dan rumput.

Ikuti tulisan menarik Harrist Riansyah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler